
Setelah melewati pergulatan yang panjang dan panas tentunya, Anin pun memilih menyegarkan dirinya dan kemudian mengambil tempat tidur di sisi Evan. Memeluk putranya itu. Rasanya usai menikmati kegiatan panas dengan suaminya, mata Anin terasa berat sehingga dengan begitu cepatnya Anin pun tertidur.
Sementara Belva sendiri masih berdiri di balkon kamarnya. Matanya menerawang melihat lautan di bawah sana, dengan deburan ombak yang seolah-olah memekik malam. Pria itu justru terlihat gelisah usai menggumuli istrinya.
Ada ketakutan jika Anin hanya berusaha mengimbangi hasratnya. Jujur saja, Belva tidak ingin menyakiti istrinya. Sudah cukup melihat dan mendengar Anin yang tiap bulan mengeluh dengan menstruasinya. Sekadar mendengarnya saja, Belva tidak ingin menambah rasa sakit pada diri istrinya itu.
Perlahan Belva menoleh, melihat Anin yang sudah terlelap sembari memeluk Evan di atas ranjang. Pria itu menghela nafasnya perlahan,
"Kenapa aku justru merasa tidak nyaman dengan semuanya ini. Kenapa aku justru merasa ketakutan tiap kali menghampiri istriku sendiri. Apakah semua ini wajar? Bagaimana jika dia hanya berpura-pura mengimbangiku saja?" batin Belva.
Beberapa kali Belva menghela nafasnya, membiarkan angin dari lautan menerpanya. Berharap angin malam yang dingin itu bisa meredam semua pikiran yang berkecamuk di dalam otaknya itu.
Hampir tengah malam, barulah Belva melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam kamar. Tidur di sisi tempat yang kosong di sisi Evan. Belva lantas menundukkan wajahnya, mencium kening Evan.
"Sweet dream, putranya Papa," ucapnya lirih.
Kemudian tangan Belva bergerak dan mengusapi puncak kepala Anin.
"Tidurlah, semoga tadi tidak menyakitimu," balas Belva.
Pria itu pun kemudian terlelap dengan memeluk Evan di sisinya. Membiarkan malam membuainya dan dia akan terbangun esok pagi untuk kembali bermain bersama Evan.
***
Keesokan harinya ....
Belva bangun saat merasakan tangisan Evan di pagi hari. Kaki putranya itu tampak menendang-nendang beberapa kali dan mengenai dirinya. Hingga kemudian, Belva terbangun dan mulai menghangatkan ASIP, mengisi dodot ASI milik Evan dengan ASIP yang sudah dicairkan dan dihangatkan dengan alat penghangat ASIP itu. Kemudian Belva memberikan dodot ASIP itu kepada Evan.
Setelah terbangun, Belva tidak bisa lagi tidur. Pria itu memilih menyandarkan punggung dan kepalanya di head board sembari menepuk-nepuk kaki Evan. Memang begitulah rutinitas Belva hampir setiap pagi sejak memiliki Evan.
Hingga menjelang jam 08.00 Waktu Indonesia Tengah, barulah Anin terbangun. Wanita cantik itu terlihat tersenyum melihat Belva yang sudah duduk dan bersandar di head board ranjangnya.
__ADS_1
"Pagi, kamu sudah bangun?" tanya Anin.
Belva pun menganggukkan kepalanya, "Iya, tadi aku bikinkan ASIP buat Evan, seperti biasa," balasnya.
Anin pun tersenyum dan kemudian menatap Evan yang rupanya kembali tertidur dengan masih menghisap dodot ASIP miliknya.
"Evan lucu banget sih kalau tidur kayak gini," ucap Anin.
Belva tampak mengamati wajah Anin, berusaha mencari tahu dari wajah istrinya itu apakah istrinya itu kesakitan. Hingga akhirnya Belva memberanikan diri untuk bertanya kepada Anin.
"Kamu yakin tidak apa-apa? Maksudku pinggulmu tidak kesakitan?" tanya Belva kepada istrinya itu.
Dengan cepat Anin pun menggelengkan kepalanya, "Tidak ... tidak sakit kok. Aku tidak berbohong," akunya kali ini.
Mendengar jawaban Anin, Belva pun menganggukkan kepalanya. Pria itu segera turun dari ranjangnya dengan menaruh sebuah guling di sisi Evan, tentunya untuk menghalangi supaya anaknya itu tidak terjatuh. Setelahnya, Belva memilih untuk masuk ke kamar mandi, membersihkan badannya. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih lima belas menit, Belva kembali keluar dengan wajah yang segar.
Keluar dari kamar mandi, Belva mengernyitkan keningnya saat melihat Anin masih tertidur dan memeluk Evan. Kemudian, Belva memilih untuk sarapan keluar dari kamarnya dan nanti dia akan kembali ke dalam kamar dengan membawakan sarapan untuk Anin dan juga Evan.
Memasuki kamar, Belva melihat Anin yang sudah mandi. Sementara Evan masih tertidur. Belva memakluminya karena mungkin karena perbedaan zona waktu sehingga matahari sudah terik di pulau Dewata dan Evan masih tertidur.
"Aku tadi sarapan terlebih dahulu karena kamu kembali tertidur," ucap Belva.
"Iya, rasanya mataku masih berat. Jadi aku tertidur dengan sendirinya," jawab Anin.
Mendengar suara Belva dan Anin, rupanya Evan pun turut terbangun. Begitu Evan sudah bangun, Belva kemudian menyiapkan air hangat untuk memandikan Evan. Bahkan Belva yang berinisiatif memandikan Evan pagi ini.
"Mandi sama Papa ya, Van," ucapnya sembari melepaskan pakaian dan diapers yang dikenakan Evan.
Kemudian Belva menggendong Evan memasuki kamar mandi dan memandikan putranya itu dengan hati-hati. Mengeramasi rambut Evan dengan shampoo, menyabuni badan Evan dengan sabun baby, kemudian membilas tubuh Evan. Belva terlihat begitu telaten, dia seperti seorang Papa yang sempurna untuk Evan.
Setelahnya, Belva memakaikan handuk buat Evan dan membawanya keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Baju, baju," ucap Evan.
"Iya, Nak ... kita pakai baju yah. Supaya kamu tidak kedinginan dan masuk angin," jawab Belva.
Tampak Evan kecil menganggukkan kepalanya. Bocah berusia 2 tahun sedang dalam fase aktif-aktifnya. Sehingga saat dipakaikan diapers, nyatanya Evan justru berlarian di dalam kamar dan membuat Belva harus mengejar putranya itu.
"Stop dulu dong, Evan ... yuk, pakai diapersnya dulu," pinta Belva.
Anin pun tertawa melihat tingkah lucu Evan yang begitu menggemaskan itu, hingga akhirnya Anin pun turut turun tangan.
"Evan, anaknya Mama ... yuk, pakai diapers dulu ya. Nanti kalau enggak pakai diapers dan Evan buang air kecil sembarangan bisa berbahaya. Berhenti dulu yuk, Van ... kita pakai diapers. Angkat kakinya, yah ... lalu, angkat kaki kiri," ucap Anin memberikan instruksi kepada Evan.
Rupanya Evan pun mengikuti instruksi dari Anin. Bocah kecil itu bahkan diam saat dioleskan minyak telon ditubuhnya dan dipakaikan setelan baju dan celana. Usai mandi bersih, Anin kemudian menyuapi Evan.
Pagi pun berlalu, kemudian siang hari Evan tampak kembali menunjuk-nunjuk taman yang ada di sisi sebelah kanan resort. Mungkin Evan tengah memberikan isyarat untuk mengajak Papa dan Namanya bermain-main di taman itu.
"Evan mau main ke taman?" tanya Belva.
Rupanya dengan cepat Evan pun menganggukkan kepalanya.
"Ya, ya, ya," balasnya.
"Yuk main ke sana, Mama mau ikut?" tanya Belva kepada Anin.
Akan tetapi, Anin terlihat menggelengkan kepalanya. "Kalian main aja berdua yah, Mama istirahat dulu," jawabnya.
Belva pun menggendong Evan dan hendak mengajak putranya itu bermain di taman. Bermain outdoor untuk anak seusia Evan tentu menyenangkan. Sehingga Belva akan mengajak Evan bermain outdoor sepuasnya.
Sementara di dalam kamar, Anin memilih meringkuk di atas ranjangnya dan memegangi pinggulnya yang terasa sakit dan ngilu. Wanita itu memilih mengambil nafas perlahan dan mengeluarkannya dengan mulutnya. Melakukan relaksasi, berharap bisa menghilangkan rasa sakitnya.
"Aku lebih baik istirahat. Berharap saat bangun nanti pinggulku tidak nyeri lagi. Ya Tuhan, aku tak mengira pinggulku akan sesakit ini. Bahkan tulangku rasanya seperti dipatahkan," gumam Anin sendiri dengan lirih.
__ADS_1
Anin tak ingin terlihat rapuh dan kesakitan lagi di hadapan Belva. Sebab, saat melihatnya sakit, maka Belva akan benar-benar tidak akan mau lagi memaksakan hasratnya kepadanya. Lagipula, Anin ingin berusaha kali ini. Semoga saja kali ini, dirinya akan berhasil.