Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Dua Garis Merah?


__ADS_3

Rupanya rasa mual yang dirasakan Belva tidak menyurutkan pria itu untuk bekerja. Walaupun Sara sudah meminta kepada pria itu untuk beristirahat sehari, tetapi Belva tetap memilih untuk masuk ke kantor karena banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan di kantor Agastya Property.


“Yakin Mas, mau bekerja?” tanya Sara memastikan kepada suaminya itu.


“Iya, harus cek beberapa laporan soalnya. Tenang saja, suamimu ini akan baik-baik saja kok. Khawatir banget sih,” ucap Belva yang masih mendekap tubuh Sara dari belakang. Pria itu tampak mengciumi tengkuk Sara, dan menghirupi aroma Jeruk Pomelo yang begitu segar dari tubuh Sara.


“Jangan cium-cium dong Mas, geli,” ucap Sara sembari beringsut dan seakan ingin melepaskan diri dari dekapan suaminya itu.


“Cuma peluk dan cium saja, Sayang. Aku suka banget aroma parfum kamu ini,” jawab Belva lagi. Bahkan kini tangan Belva menyibak untaian rambut Sara, supaya pria itu bisa mencium dan menghirupi leher hingga tengkuk Sara yang begitu harum. “Boleh enggak Sayang, aku buat tanda cinta di sini,” ucap Belva sembari menyentuh sisi leher Sara.


Dengan cepat Sara menggelengkan kepalanya, “No, jangan. Jangan membuat tanda merah di leher. Malu kalau dilihat orang lain, termasuk Evan,” balas Sara.


Bagi orang dewasa, mereka pasti akan mengerti bahwa tanda merah di permukaan kulit itu bukan hanya sekadar sebuah tanda, melainkan itu adalah jejak cinta yang memang sengaja di buat di leher dan beberapa area tubuh yang lain.


“Ya sudah deh, tapi di sini yah,” ucap Belva yang kini justru meraba area dada Sara.


“Ya ampun Mas … kamu ini baru enggak enak badan, kok malahan nakal kayak gini sih,” sahut Sara.


“Mendadak pengen bikin tanda cinta saja Sayang. Enggak lebih kok,” balas Belva. Seakan pria itu beralibi bahwa dirinya hanya akan membuat tanda cinta berwarna merah saja di permukaan kulit Sara. Tidak akan melakukan lebih.


Belva kemudian mendorong sedikit tubuh Sara hingga tubuh itu bersandar di dinding, kemudian pria itu membuka kancing kemeja Sara. Melihat sembulan buah persik milik Sara saja rasanya sudah membuat Belva begitu bergairah, tetapi seperti janjinya bahwa dirinya hanya akan membuat tanda cinta saja. Mulailah Belva memberikan kecupan demi kecupan di sembulan buah persik yang begitu halus itu, kemudian, tangan Belva mengeluarkan satu buah persik milik Sara dan kemudian, pria itu segera memberikan gigitan kecil demi gigitan kecil dan lu-matan di puncak buah persik istri.


Ya Tuhan, seluruh tubuh Sara rasanya merinding saat suaminya itu nyatanya justru bertingkah nakal pagi hari itu. Sara terengah-engah, wanita itu memejamkan matanya, dan tangannya bergerak meremas rambut Belva. Hingga sampai pada akhirnya, Sara merasakan rasa perih berbalut kenikmatan tentunya saat Belva mulai menggigit sembulan buah persik miliknya, mengatupkan bibirnya di sana dan kemudian menyesapnya hingga meninggalkan warna merah menyala di sana.

__ADS_1


Sepenuh dada Sara menghela nafas, seolah Sara benar-benar tak bisa lagi berkata-kata. Belva menarik wajahnya dan kemudian menatap nakal puncak dada milik Sara yang mengkilap, sedikit bengkak, dan melihat tanda merah di sana. Kemudian Belva merapikan kembali pakaian Sara dan mengecup bibir Sara.


“Thanks Sayang … aku jadi semangat bekerja. Mualnya sudah hilang sekarang. Sudah dapat obatnya,” ucap Belva kali ini.


Sementara Sara masih menetralkan degup jantungnya dan kemudian memeluk suaminya itu. “Ingat loh Mas, kamu boleh nakal, tapi hanya boleh nakal sama aku. Awas kalau nakal-nakal sama wanita lain,” ucap Sara kali ini.


Belva pun tersenyum dan mengecup pipi Sara, “Iya … janji. Ya sudah, yuk antar aku ke depan. Aku berangkat kerja dulu ya Sayang. Jangan kecapekan, makasih buat susunya pagi ini,” kata Belva yang memang frontal itu.


***


Keesokan paginya …


Pagi-pagi buta, Belva kembali terbangun karena rasa menyeruak di organ pencernaannya mulai terganggu. Rasa menyeruak di perut hingga ke kerongkongan, membuat Belva lagi-lagi terbangun. Pria itu menutupi mulutnya dengan satu tangannya kemudian bergegas memuntahkan isi perutnya ke kamar mandi. Beberapa saat lamanya Belva berada di kamar mandi, sampai pada akhirnya Sara menyusul dan memijit tengkuk suaminya itu dengan tujuan supaya bisa lebih lega dan mengurangi mual yang sangat mengganggu itu.


Sara bahkan kini membantu menyeka bibir Belva dengan menggunakan tissue dan memapah tubuh suaminya itu. “Pelan-pelan saja jalannya Mas … mau ke tempat tidur lagi?” tanya Sara.


Rupanya Belva menggelengkan kepalanya, pria itu berjalan sesaat ke nakas dan menyerahkan test pack dari beberapa merek kepada Sara.


“Kamu tes sekalian ya Sayang … ambil beberapa,” ucap Belva.


“Satu saja cukup, Mas,” sahut Sara.


“Ya sudah, kamu cek sekarang yah. Ini sekaligus gelas takarnya untuk urine. Aku tungguin yah,” ucap Belva kali ini.

__ADS_1


Sara menganggukkan kepalanya dan wanita itu masuk ke dalam kamar mandi. Mulailah Sara menampung urine dalam gelas takar, kemudian masukkan tes pack itu ke dalam gelas urine itu. Sembari menunggu hasil dari uji reaksi kimia itu, Sara mengelusi perutnya yang masih rata, “Mungkinkah kamu sudah berada di sini Nak? Mungkinkah Mama akan memiliki anak lagi dan Evan akan menjadi seorang Kakak?” ucap Sara dengan lirih.


Detik demi detik menunggu hasil tes itu, membuat Sara gelisah. Sampai Sara berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi. Bahkan Sara terkadang memejamkan matanya karena dirinya juga cukup gelisah dengan hasil dari tes prediksi kehamilan itu.


Sementara Belva sendiri juga cemas menunggu di luar kamar mandi. Merasa begitu cemas, Belva mengetuk pintu kamar mandi.


“Sayang, gimana? Ini sudah lebih dari lima menit. Kalau sudah keluarlah,” ucap Belva.


“Sebentar Mas,” sahut Sara.


Di dalam sana, sebenarnya hasil dari tes prediksi kehamilan itu sudah muncul. Sara berlinangan air mata melihat dua garis terang yang terpampang nyata di alat pipih itu. Sara mencucinya terlebih dahulu, wanita itu keluar dengan menangis.


“Kok menangis … kenapa?” tanya Belva.


Dengan terisak, Sara mengeluarkan test pack dari sakunya dan menyerahkannya kepada Belva.


“Dua garis merah, Mas … kita akan punya baby lagi,” ucap Sara.


Belva mengusap wajahnya, pria itu juga berkaca-kaca sekarang ini. Dengan cepat Belva merengkuh tubuh Sara dan memeluknya erat.


“Selamat Sayang … selamat untuk kita berdua. Terima kasih untuk kebahagiaan ini,” balas Belva.


Tidak dipungkiri bahwa dirinya sangat bahagia mendapati bahwa istrinya tengah hamil saat ini. Dalam hatinya, Belva berjanji akan memperhatikan dan menjaga Sara. Terlebih sekarang tidak ada lagi cerita rahim sewaan. Rahim Sara adalah miliknya seutuhnya, semua yang ada di tubuh Sara adalah miliknya. Untuk itu, Belva akan memastikan keselamatan dan kenyamanan Sara yang saat ini akan memberikan buah hati lagi untuknya.

__ADS_1


Pasangan yang berbahagia itu berpelukan dan menangis satu sama lain. Tentu ini adalah air mata bahagia. Air mata yang melukiskan kebahagiaan dalam hati keduanya karena secepat ini harapan mereka untuk memiliki buah hati dan memberikan adik buat Evan terwujud. Hati keduanya benar-benar melimpah dengan syukur.


__ADS_2