Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Menginjakkan Kaki di Kediaman Belva


__ADS_3

Usai Belva mengatakan perasaannya, dan kejadian ciuman dadakan di dalam mobil. Sara dan Belva sama-sama diam. Seolah keduanya justru menjadi begitu canggung, hingga sampai di Jakarta hanya beberapa kali mereka berbicara, selebihnya mereka memilih diam. Bahkan saat Belva menawarkan kepada Sara untuk makan terlebih dahulu pun, Sara menolaknya dan memilih untuk segera tiba di Jakarta, lebih tepatnya di kediaman Belva Agastya.


Perlahan-lahan mobil yang dikendarai Belva telah memasuki cluster perumahan mewah di Ibukota. Tentu Sara ingat dengan lingkungan perumahan mewah ini. Dulu, dirinya pernah tinggal selama 12 bulan di kediaman Belva. Menjadi wanita yang menyewakan rahimnya bagi Belva dan Anin. Sekarang, semua kenangan di masa lalu, agaknya mulai bermunculan dengan sendirinya.


“Tidak ada yang berubah di sini Sara,” ucap Belva dengan tiba-tiba.


“Hmm, iya Pak,” sahut Sara pada akhirnya.


Hingga perlahan-lahan, mobil Belva telah sampai di depan rumahnya dan seorang sekuriti membukakan gerbang untuk mereka. Melihat mobil Papanya yang sudah datang, rupanya dari dalam rumah Evan berlarian untuk menyambut kedatangan Papa dan Mamanya itu.


“Papa, mana Mama, Pa?” teriak Evan seakan tidak sabar.


Selang beberapa detik, barulah Sara keluar dari mobil. Wanita tersenyum menatap Evan yang masih sakit dan mengenakan piyama untuk anak-anak bermotif mobil-mobilan itu.


Melihat kedatangan Sara, Evan rupanya langsung berlari dan menghambur dalam pelukan Mamanya itu.


“Mama, Evan kangen Mama,” ucapnya sembari memeluk Sara.


“Mama juga kangen kamu, Sayang,” balas Sara.


Kemudian Sara menggendong Evan dan berjalan mengikuti Belva memasuki rumahnya. Hati Sara rasanya berdebar-debar, kembali ke rumah ini, dan akan kembali bertemu dengan Anin sudah pasti membuat Sara benar-benar gugup. Akan tetapi, karena sudah sampai di kediaman Belva, jadi ya Sara akan menghadapi semuanya.


“Mbak Sara kan? Ya ampun Mbak Sara … Bibi kangen sama Mbak Sara,” sapa Bibi Wati yang tergopoh-gopoh datang dari dapur dan menyambut Sara. Wanita paruh baya itu tampak berkaca-kaca bisa melihat Sara kembali.


“Iya Bi … Bibi apa kabar? Sehat kan?” tanya Sara.


“Alhamdulillah sehat, Mbak Sara. ya ampun … Mbak Sara malahan makin cantik seperti ini. Saya kangen sama Mbak Sara, dulu waktu bikin sarapan sering mengobrol sama Mbak Sara,” cerita Bibi Wanita seakan membawa kembali ingatan di masa lalu ketika mereka sering mengobrol saat membuat sarapan.


“Den Evan cepat sehat ya … udah ada Mama Sara. Sejak sakit nyariin Mbak Sara terus,” ungkap Bibi Wati.


Sara yang masih menggendong Evan pun perlahan tersenyum dan menatap wajah putranya itu. “Kamu beneran nyariin Mama ya Nak? Maafkan Mama yah?” ucap Sara kali ini.


Perlahan Evan pun menganggukkan kepalanya, “Iya Ma … no problem,” jawab Evan.


Setelahnya Sara kemudian duduk di ruang tamu. Mengamati ke setiap sudut di rumah Belva yang terlihat tidak berubah sama sekali. Akan tetapi, ada satu yang berubah yaitu Anin. Di manakah Anin, kenapa Anin tidak terlihat sama sekali.

__ADS_1


“Evan, di mana Mama Anin?” tanya Sara perlahan kepada Evan.


“Ada Ma … tapi tidak di sini. Nanti Evan ajak ke tempatnya Mama Anin yah,” jelas Evan.


Sara pun mengangguk, sekarang lebih baik dirinya fokus kepada Evan yang masih sakit terlebih dahulu. “Evan sudah makan?” tanya Sara perlahan.


“Belum … Evan nungguin Mama, mau disuapin Mama,” ucap Evan.


“Mau Mama suapin sekarang?” tanya Sara kemudian.


“Iya, mau,” jawab Evan.


Untuk itu, Sara kemudian menuju ke dapur dan mengambilkan makanan untuk Evan. Bibi Wati pun menunjukkan nasi putih dan sayuran sehat organik yang diolah untuk makanan Evan setiap harinya. Sara membawa piring yang sudah terisi dengan nasi putih dan sayur itu, kemudian kembali ke ruang tamu dan menyuapi Evan.


“Yuk Nak, Mama suapin … buka mulutnya aakkh,” instruksi Sara kali ini.


Belva pun terdiam dan mengamati interaksi Sara dengan Evan. Sekalipun dirinya begitu senang, tetapi Belva cukup diam dan mengamati. Justru Belva merasa bersyukur karena putranya itu mau makan, setelah beberapa hari selalu terjadi drama tiap kali makan. Akan tetapi, sekarang justru Evan terlihat makan dengan lahapnya.


“Makan yang banyak, Van … biar cepat sehat dan sembuh,” ucap Belva.


Belva pun mengusapi puncak kepala Evan. Akhirnya putranya itu sudah mau makan dan tidak ada lagi drama. Kemudian, Sara pun mengambilkan segelas air putih bagi Evan dan membantu Evan untuk meminum obatnya.


"Good job ... sudah makan dan minum obat, semoga Evan akan segera sembuh yah," ucap Sara kali ini.


"Mama, sekarang ke tempat nonton itu yuk, temenin Evan nonton kartun lagi seperti di rumah Mama dulu. Evan mau nonton sambil dipeluk Mama," pinta Evan kini.


Rupanya Evan dengan cepat berdiri dan menggandeng tangan Sara untuk mengikutinya menuju ke tempat menonton film. Sara pun hanya mengikuti Evan saja.


"Papa, ayo ikut juga. Papa tidak bekerja hari ini kan?" tanya Evan.


Belva pun menganggukkan kepalanya dan mengikuti Evan juga menuju ke tempat nonton film. Mereka menonton film kartun anak-anak. Evan begitu menempel pada Sara seolah tak mau lepas dari Mamanya itu. Sementara Belva memilih duduk di samping Evan, jika duduk di samping Sara yang ada justru Belva akan kehilangan fokus nanti.


"Filmnya keren kan Ma," ucap Evan sembari menunjuk televisi super besar yang menempel di dinding.


"Iya, Evan senang nonton kartun yah?" tanya Sara.

__ADS_1


"Iya ... cuma enggak boleh nonton film lama-lama, karena Evan harus belajar biar pintar seperti Papa," jawab Evan.


Sara pun menganggukkan kepala, refleks wanita itu memeluk Evan, tetapi justru tangannya mengenai Belva yang memang duduk menempel pada Evan.


"Sorry Pak Belva," ucap Sara.


"Tidak apa-apa," sahut Belva.


"Papa, di film itu orang tuanya berpelukan kok Papa dan Mama tidak pernah berpelukan sih?" tanya Evan dengan tiba-tiba.


Sara pun lantas memalingkan wajahnya, mengantisipasi jika Evan akan meminta dirinya dan Belva saling berpelukan. Bagaimana juga dia harus menolaknya.


"Pelukan itu tanda sayang loh Papa ... bahasa kasih sayang kan kata Papa dulu. Sekarang Papa dan Mama pelukan dong," pinta Evan kali ini.


Belva lantas mengusapi puncak kepala Evan, "Begini saja, Van... yang pasti Papa sayang sama Mama kamu," ucap Belva dengan spontan sembari melirik Sara.


"Mama juga sayang Papa?" tanya Evan kini kepada Mamanya.


Sara hanya tersenyum dan tak memberikan jawaban. Tidak ingin mengeluarkan jawaban yang pada akhirnya akan mendapatkan respons yang berbeda dari Belva Agastya.


Hingga akhirnya Evan kembali fokus dengan filmnya. Anak itu memilih menyandarkan kepalanya di dada Mamanya, seolah begitu menempel dengan Sara. Mungkin lantaran efek obat, Evan pun tertidur.


Barulah Belva bersuara dan mengajak Sara untuk berbicara.


"Evan sudah lebih membaik setelah melihat Mamanya," ucapnya.


"Syukurlah, sudah berapa lama Evan sakit?" tanya Sara.


"Empat hari ... aku sempat panik saat Dokter mengatakan dia terkena Flu Singapura," jawab Belva.


"Lalu, di mana Kak Anin, Pak? Tadi aku bertanya kepada Evan katanya Mama Anin ada di mana dia?" tanya Sara kali ini kepada Belva.


Pria itu tampak menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Sara.


"Kamu ingin menemui Anin kan? Begitu Evan sudah bangun, aku akan mengantarmu," jawab Belva.

__ADS_1


Sara pun menganggukkan kepalanya, dia pun ingin bertemu dengan Anin. Lagipula sejak dulu hubungannya dengan Anin selalu baik, jadi mumpung dirinya sudah berada di Jakarta, Sara pun ingin bertemu dengan Anin.


__ADS_2