Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Menyemai Bibit Unggul


__ADS_3

Sore yang begitu menggelora. Sore yang dilalui Belva dan Sara untuk mereguk manis nektar cinta. Seakan kali ini Belva tidak ingin kehilangan waktu berkualitas ini. Mumpung dirinya tengah berdua dengan Sara, maka Belva benar-benar memanfaatkan waktu yang ada untuk menikmati sore panas dan bergelora.


Pria yang baru saja merasakan sensasi nikmat itu masih memeluk Sara di atas tempat tidur. Selimut bermotif floral di kamar milik Sara itu menutupi tubuh polos keduanya. Tubuh Sara seakan lemas dan tanpa daya, wanita itu menikmati pelukan yang diberikan Belva. Sementara kini tangan Belva tampak meraba perut Sara.


“Aku berharap … bibit unggul terbaik akan bersemi di sini,” ucap Belva.


“Aku lemas,” jawab Sara.


Respons yang begitu lucu, saat suaminya mengatakan bahwa dirinya berharap bibit unggul terbaik akan bersemi di dalam rahim Sara. Sementara Sara sendiri justru mengeluh lemas. Mendengar jawaban Sara, Belva nyatanya justru tersenyum dan mengusapkan dagunya di puncak kepala Sara.


“Kamu lucu banget sih Sayang … aku yang bekerja keras, kamu yang lemas. Lain kali, kamu yang bergerak yah,” goda Belva kali ini.


Sara nyatanya justru mencerukkan wajahnya di dada suaminya, “Serius … kalau udah jadi lemes deh, Mas … mungkin kamu terlalu bersemangat. Jadi, aku lemes kayak gini deh,” balas Sara.


“Aku sedang menyemai bibit unggul, Sayang … aku beneran pengen punya baby lagi dari kamu. Mumpung kita masih sama-sama masih muda. Kamu jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab sepenuhnya kepadamu dan anak-anak kita nanti,” ucap Belva.


Seakan pria itu menegaskan bahwa dirinya memang benar-benar menginginkan memiliki buah hati lagi. Lagipula, Evan juga sudah meminta adik, jadi tidak ada salahnya jika Belva berusaha keras untuk menyemai bibit unggul dengan Sara yang merupakan istrinya, ladang halal dan penuh keberkahan baginya.


“Terserah kamu aja, Mas … cuma kalau bisa sih, kayak waktu hamil Evan dulu. Aku yang hamil, kamu yang ngidam,” balas Sara.


Mendengar perkataan Sara, Belva kian memeluk tubuh Sara dengan begitu eratnya, “Tidak masalah. Kalaupun aku mengalami couvade syndrom lagi, aku sudah punya penawarnya. Aku punya kamu yang bisa mengobati pusing, mual, dan lemesnya aku,” jawab Belva.

__ADS_1


Sara hanya tersenyum dan menaikan selimutnya supaya tidak mengekspose tubuhnya yang memang masih polos di sana. Pun sama halnya dengan Belva. Keduanya tengah menikmati waktu berdua, mengobrol bersama, membagi harapan. Hanya sekadar berdua di dalam rumah membuat Belva dan Sara justru layaknya pengantin baru.


“Mau program hamil?” tanya Belva kemudian kepada Sara.


“Enggak … enggak perlu. Sedikasihnya Tuhan saja, Mas. Nanti kalau dikasih, pasti ada benih-benih kamu yang bersemi di dalam rahimku,” balas Sara.


Ada senyuman yang terbit dari sudut bibir Belva. “Iya … baiklah. Cuma kayaknya kita harus sering punya waktu berdua seperti ini deh, Sayang. Bisa menikmati quality time berdua. Terkadang suami dan istri membutuhkan waktu seperti ini,” ucap Belva.


Sebenarnya apa yang dilakukan Sara dan Belva saat ini disebut dengan ‘After Play’, kegiatan yang dilakukan suami dan istri usai melakukan hubungan intim. Dengan melakukan after play, suami dan istri bisa melakukan bounding, berbicara dari hati ke hati. Bahkan disinyalir bahwa pasangan suami istri yang melakukan after play usai bercinta bisa meningkatkan keharmonisan rumah tangga mereka. Memberikan perhatian, memberikan sentuhan, dan mengungkapkan cinta.


“Sebenarnya iya … cuma kan kita sudah punya anak, Mas. Jadi ya, waktu kita disesuaikan dengan Evan. Tidak masalah kok Mas … malam hari kita manfaatkan untuk quality time seperti ini,” balas Sara.


Memang jika menginginkan waktu khusus berdua layaknya pengantin baru akan susah. Akan tetapi, mereka bisa memanfaatkan waktu-waktu yang tersisa untuk membangun keharmonisan suami dan istri.


Jikalah dulu, Belva yakin pasti Sara merasa gamang karena Sara harus mengandung dan melahirkan bayi, tetapi dia harus menyerahkan bayinya kepada Belva dan mendiang Anin. Namun, sekarang kisah rahim sewaan sudah berakhir. Sepenuhnya hak asuh bayinya nanti akan jatuh ke tangan Sara. Bahkan sekarang pun, Sara memiliki hak asuh penuh atas Evan.


Suratan takdir yang digoreskan sang Pencipta, kendati harus menunggu waktu empat tahun lamanya. Namun, Sara mendapatkan keberkahan sendiri. Dia kini memiliki Belva sebagai suaminya, dan memiliki Evan sebagai putranya. Rasanya Sara menjadi kian beruntung, karena dirinya menjadi wanita satu-satunya di dalam hidup Belva Agastya.


“Iya … aku siap kapanpun untuk hamil. Yang penting terus dampingi aku ya Mas. Jujur saja, dulu waktu aku hamil, aku seneng banget. Merasakan pengalaman ada kehidupan baru yang tumbuh di dalam rahimku, mengetahui proses tumbuh kembang bayi kita setiap bulannya, terus kamu juga yang perhatian sama aku. Sekalipun, kamu begitu sibuk, tetapi kamu berusaha untuk memberikan perhatian ke aku dan Evan,” cerita Sara kali ini.


“Tentu dong Sayang … aku bukan pria yang menghamilimu begitu saja dan meminta anakmu setelah kamu melahirkannya. Aku tahu bahwa sejak di dalam kandungan, anak-anak membutuhkan kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya. Aku juga ingin baby Evan dulu sudah bisa merasakan kasih sayang dan perhatian dari Papanya. Hanya saja, aku sangat terluka saat kamu meminta talak. Di saat aku begitu mencintaimu dan berharap kamu mau tinggal di sisiku, justru kamu mengucapkan kalimat itu dan pergi dariku,” balas Belva.

__ADS_1


Mendengarkan ucapan Belva, Sara pun menengadahkan wajahnya. Tanpa permisi, Sara mengecup bibir Belva.


Chup!


“Maafkan aku … aku melakukan semuanya karena aku begitu mencintaimu dan Evan,” balas Sara.


Ada anggukan samar yang diberikan Belva. Pria itu kian mengeratkan pelukannya di tubuh Sara. “Iya … jangan pernah lakukan itu lagi. Selamanya, tinggallah di sisiku,” balas Belva.


Belva pun menarik tangannya dari bawah kepala Sara, pria itu mengubah posisinya dan kini Belva kembali menindih Sara. Mata Sara tampak berkedip-kedip melihat Belva yang sudah kembali menindihnya.


“Mau ngapain lagi Mas?” tanya Sara.


“Mau menyemai bibit unggul lagi,” sahut Belva.


Sara hanya tersenyum. Mengapa suaminya itu jadi begitu gemar menyemai bibit unggul dan memiliki semangat 45 untuk melakukan kegiatan panas sore hari itu. Belum ada jeda selama satu jam, rupanya Belva kembali melancarkan aksinya untuk menyemai kembali ladang milik Sara. Seakan kali ini, Belva tak ingin kehilangan waktu berharga hanya berdua saja dengan Sara.


Hanya membutuhkan waktu singkat, suara de-sahan, dan lenguhan Sara sudah memenuhi kamar itu. Rengkuhan tangan Sara di leher suaminya menguatkan, dan kedua kakinya yang melingkari pinggang Belva saat pria itu kembali memberikan hujaman demi hujaman, menusukkan pusakanya di dalam cawan surgawi milik Sara, de-sahan dari bibir Sara nyatanya justru membuat Belva kian gencar menginvansi lembah di bawah sana.


Sampai pada akhirnya, untuk kali kedua Belva kembali menyemai benih-benih bibit unggul di ladang milik istrinya. Hingga akhirnya, Belva menurunkan wajahnya dan memberikan kecupan di perut Sara.


“Semoga ada benih-benih Papa yang bersemi di sini yah … tumbuh dan berkembang di dalam rahim Mama,” ucap Belva.

__ADS_1


Sara rasanya kian lemas. Dia kembali mencerukkan wajahnya di dada Belva, dengan kedua tangan dan melingkari pinggang suaminya itu. Aksi panas dan nakal suaminya membuat setiap sendi tubuhnya rasanya terlepas, tubuhnya seolah kehilangan dayanya. Tidak membutuhkan waktu lama, Sara pun tertidur dalam pelukan Belva. Sementara Belva sendiri masih menunggu waktu sampai Sara benar-benar terlelap. Pria itu melabuhkan beberapa kecupan di kening Sara dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Sara.


“Tidurlah Sayang … aku benar-benar berharap tidak lama lagi kita akan memberikan adik bagi Evan. I Love U,” balas Belva yang kian mengeratkan pelukannya di tubuh Sara.


__ADS_2