
Selang beberapa hari kemudian. Belva dan Sara masih dalam fase saling menempel satu sama lain. Terlebih Belva, yang seolah-olah memang tidak bisa berjauhan dengan istrinya itu. Baru saja tiba di kantor, Belva sudah mengirimkan pesan untuk istrinya. Mulai dari mengingatkan Sara untuk tidak kecapekan, makan tepat waktu, dan juga mengingatkan berbagai hal lainnya. Belva benar-benar menunjukkan perhatiannya kepada Sara.
Memang ada rasa bersalah di hati Belva karena dulu dia tidak bisa memberikan perhatian lebih kepada Sara saat Sara mengandung Evan. Akan tetapi, kini kondisinya sudah sepenuhnya berubah. Sekarang, Belva seakan benar-benar menghujani Sara dengan cinta, kasih sayang, dan perhatian yang seakan tidak pernah ada habisnya. Seolah menebus waktu untuk peristiwa di masa lalu yang benar-benar tidak bisa diubah, dan sekarang ini di masa kini Belva benar-benar menunjukkan bahwa dirinya sangat mencintai Sara dan bayi yang masih di dalam rahim Sara.
Sama seperti hari ini. sebelum berangkat bekerja Belva berpesan begitu banyak hal kepada Sara.
“Aku berangkat kerja dulu ya Sayang … kamu baik-baik di rumah. Jangan kecapekan. Jangan lupa makan dan minum air putih, obatnya juga jangan lupa diminum,” pesan Belva saat itu. Dengarlah betapa banyaknya pesan yang diberikan Belva kepada Sara pagi itu, dan pesan tersebut seperti pesan wajib dari seorang Belva kepada Sara hampir setiap pagi di hari dirinya bekerja.
Sara yang mendengarkan setiap pesan dari suaminya hanya bisa menganggukkan kepalanya dan tersenyum menatap wajah tampan suaminya itu.
“Iya-iya Papa … semuanya nanti dilakukan kok. Tenang saja,” balas Sara.
Belva kemudian segera merengkuh tubuh Sara dan mendekapnya dengan erat. Pria itu mengusapkan dagunya mengenai puncak kepala Sara, menggerakkannya perlahan ke kanan dan ke kiri sembari berkata, “Aku tuh mau perhatian sama Bumilku ini. Dulu, waktu kamu hamil Evan, aku sadar bahwa aku tidak bisa memberikanmu banyak perhatian dan kasih sayang. Sekarang, waktu dan kondisi kita berdua sudah berubah. Jadi, biarkan suamimu ini memberikan kasih sayang dan perhatiannya. Kendati demikian, kan aku tetap memperhatikan Evan juga,” balas Belva.
Sara pun menaruh tangannya di atas tangan Belva yang melilit tubuhnya itu, memberi usapan di tangan yang kokoh itu.
“Iya Mas … terima kasih banyak untuk semuanya. Aku merasa sangat disayangi dan diperhatikan,” balas Sara. Kemudian Sara menoleh dan sedikit menengadah, guna menatap wajah Belva di belakangnya, “Sekarang … kerja dulu yuk. Takut terlambat nanti. Ingat dua anak berarti kebutuhan kan bertambah. Papa kerja yang rajin dan semangat buat beli diapers,” goda Sara kali ini.
__ADS_1
Mendengar ucapan Sara, Belva justru tertawa, “Aku bisa belikan satu pabrik diapers untuk baby kita,” sahut Belva.
“Aku percaya … hanya saja, beli secukupnya saja. Kalau seluruh diapers kamu borong, kasihan bayi dan anak-anak di luaran sana yang tidak bisa memakai diapers karena kamu borong diapersnya,” balas Sara.
Perlahan Belva mengurai pelukannya, kini pria itu membuat Sara berhadap-hadapan dengannya, “Ya sudah, aku akan bekerja lebih rajin dan memenangkan banyak tender. Biar bisa belikan diapers untuk baby kita dan belikan sebongkah berlian buat kamu,” sahut Belva.
Sara pun tertawa dan memukul dada suaminya dengan kepalan tangannya, “Gombal banget sih … aku gak butuh berlian dan segala kemewahan di dunia ini. Aku cukup butuh kamu, Evan, dan baby kita saja. Kalian sangat berharga untukku,” balas Sara.
Memang sebagai orang yang bertahun-tahun yatim piatu. Hidup sebatang kara, kini dia memiliki Belva, Evan, dan babynya yang masih berada di dalam kandungan saja sudah membuat Sara sangat bahagia. Ketiganya adalah harta yang paling berharga baginya. Sebagai orang yang terbiasa menjalani hidup sendiri, dan kini dia memiliki suami, anak, dan calon anak yang masih berada di dalam kandungannya tentu membuat Sara sangat bahagia. Di dalam hatinya ada satu kebahagiaan yang melebihi apa pun di dunia. Kasih sayang dari keluarga yang tak ternilai harganya.
Sementara itu di Agastya Property …
Hari ini adalah hari pertama bagi sekretaris baru yang terpilih untuk bekerja. Berdasarkan hasil wawancara, sekretaris yang dipilih oleh Belva Agastya adalah Anisa. Seorang sekretaris yang memiliki pengalaman sebagai sekretaris sebelumnya, sehingga memungkinkan Belva dan Ridwan tidak perlu memberikan masa orientasi untuk Anisa lebih lama karena dia sudah berpengalaman sebelumnya.
Pagi itu, rupanya sebagai seorang pekerja baru, Anisa pun datang lebih pagi. Untung saja Ridwan sudah datang di Agastya Property. Sehingga Ridwan bisa sekaligus berkenalan dan menjelaskan sebagian tugas sebagai seorang sekretaris.
“Pagi Pak Ridwan,” sapa Anisa yang baru saja datang.
__ADS_1
“Ya, pagi … selamat yah akhirnya kamu yang mendapatkan posisi sebagai sekretaris,” balas Ridwan.
Gadis itu pun tersenyum, “Terima kasih, Pak … saya tidak menyangka jika saya yang terpilih,” balas Anisa lagi.
Anisa memang tidak mengira bahwa dirinya yang terpilih menjadi sekretaris. Mempertimbangkan saat wawancara dulu Felly dan juga Gita memberikan jawaban yang bagus. Untuk itu, bisa menempati sekretaris CEO tentu membuat Anisa merasa sangat senang.
Kemudian Ridwan pun menganggukkan kepalanya, “Ya sudah, untuk hari ini sehari penuh akan diisi dengan orientasi yah. Untuk tugas-tugas sekretaris bisa langsung dengan saya. Lalu, nanti ada orientasi bagi per divisi supaya tahu bagaimana alur dan sistem kerja di perusahaan ini,” jelas Ridwan.
Anisa yang mendengarkan ucapan Ridwan pun menganggukkan kepalanya, “Baik Pak … kalau boleh saya tahu, perusahaan ini melakukan rekrutmen sekretaris apakah karena Pak Ridwan ingin resign?” tanya Anisa.
Sebuah pertanyaan yang logis karena biasanya perusahaan besar akan melakukan rekrutmen saat ada pegawai yang akan resign. Sehingga sebelum pegawai tersebut benar-benar keluar, bisa melakukan serah terima pekerjaan dan tidak ada lagi beban kerja karena pegawai baru akan siap untuk bekerja dan menggantikan posisi yang kosong. Sehingga dengan demikian semua job deskripsi dari orang yang resign telah bisa dikerjakan oleh orang yang baru. Tidak ada pekerjaan yang akhirnya menghambat tugas setiap divisi di Agastya Prperty.
“Tidak … jadi nanti kita akan berbagi tugas-tugas sekretaris karena ke depannya akan semakin banyak projek yang dikerjakan Agastya Property. Selain itu istri Bapak Belva sedang hamil, sehingga Pak Belva ingin memiliki waktu untuk istrinya,” jawab Ridwan.
Sebagai sekretaris yang cukup lama bekerja di Agastya Property tentu Ridwan tahu bahwa sekali pun Belva adalah orang yang dingin, tetapi Belva sangat mencintai keluarganya. Kali ini, terlihat sekali bagaimana Belva Agastya adalah sosok pria yang perhatian dan menyayangi istrinya.
Mendengar jawaban Ridwan, Anisa pun tersenyum dan kemudian mengambil tempat duduk di meja yang bersisian dengan Ridwan. Dalam benaknya, Anisa pun menerka bahwa CEO Agastya Property adalah pria yang sangat mencintai istrinya, sehingga bisa mengerjakan dua sekretaris sekaligus supaya sang CEO memiliki waktu khusus untuk istrinya.
__ADS_1