Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Menuntaskan Misi


__ADS_3

Sudah seminggu menjadi istri Belva, tetapi baru kali ini Sara benar-benar menghabiskan waktu hanya bersama dengan Belva. Biasanya ada Evan yang turut bersama dengannya dan sekarang hanya bersama dengan Belva tentu saja membuatnya begitu canggung. 


Kendati demikian, Sara sudah tidak bisa bersembunyi atau mengelak lagi. Menolak suami sendiri rasanya juga tidak enak hati.


“Kamu kenapa bengong?” tanya Belva kali ini kepada Sara.


Wanita yang tengah berdiri di depan jendela kaca berukuran besar sedang menatap lautan biru dan pasir putih dengan matahari yang mulai kembali ke peraduannya.


“Lihat sunset,” balas Sara dengan singkat.


Perlahan Belva mengikis jaraknya dan mendekap erat tubuh Sara dengan memeluknya dari belakang.


“Lihat sunset sambil berpelukan seperti ini justru lebih indah,” ucap Belva kali ini.


Sara mengulas senyuman secara samar di sudut bibirnya, kemudian keduanya tangannya berada di atas tangan Belva yang melingkari pinggangnya.


“Kenapa sekarang kamu sekarang berbeda dengan Mas Belva yang dulu?” tanya Sara kali ini.


“Iya … bukankah sudah kukatakan bahwa Evan mengubah hidupku 180 derajat. Aku bisa menjadi banyak berbicara seperti ini karena banyak berbicara dengan Evan,” sahut Belva kali ini.


Sara pun terkekeh geli mendengar jawaban dari suaminya itu. Wanita itu lantas menghela nafasnya, dengan pandangan mata yang terfokus dengan menikmati keindah matahari terbenam di tepi pantai seperti ini.


“Dulu kamu begitu dingin, perkataan kamu terdengar ambigu. Sekarang, kamu bisa mengutarakan isi hatimu seperti ini aku sangat suka,” ucap Sara.


Belva pun tersenyum, pria itu menggerak-gerakkan dagunya ke kiri dan kanan, bahkan Belva menyibak untaian rambut Sara dan mendaratkan kecupan di tengkuk Sara. Satu kecupan yang menimbulkan reaksi dengan begitu meremangnya tubuh Sara saat ini.


Dengan cepat Belva mengurai dekapan tangannya di tubuh Sara, pria itu berbalik dan kini bisa menatap Sara dengan kedua matanya. Tanpa menunggu waktu, Belva mencapit dagu Sara dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Sedikit mengangkat dagu itu, dan Belva segera mencium bibir Sara. Jika biasanya, pria itu mencium Sara dengan lembut yang ada kali ini adalah ciuman yang memburu dan deru nafas yang seolah begitu berat terdengar dari hembusan nafasnya.


Pertama Belva menyesap kedua belah lipatan bibir Sara. Memagutnya bergantian lipatan atas dan lipatan bawahnya, lidahnya menelusup untuk masuk merasai rasa manis dan hangat dari kedalaman rongga Sara. Ciuman yang memburu, tidak mempedulikan bagaimana susahnya keduanya untuk kembali menghirup oksigen.


Sara memejamkan matanya, berupaya mengimbangi ciuman Belva yang benar-benar dalam dan memburu, tetapi kali ini tangan Sara mengusapi perlahan dada Belva, sebagai tanda bahwa pria itu harus mengurangi ritmenya. Sebab dicium dengan begitu intens dan cepat seperti ini membuat dada Sara menjadi kembang kempis. Rongga paru-parunya seakan kekurang suplai oksigen.

__ADS_1


Menyadari bahwa Sara membutuhkan kelembutan, bibir pria itu kini bergerak dengan lembut. Sara kini bisa menerima dan menikmati bagaimana pria itu membuainya dengan lebih lembut dan penuh perasaan. Pergerakan bibir Sara benar-benar sensual dan melenakan. Semua usapan, belaian, bahkan lu-matan yang ada justru membuat keduanya sama-sama tersulut.


Belva kembali memagut bibir Sara, bergantian lipatan atas dan bawahnya dalam tekanan yang serupa. Berulang kali hingga terdengar erangan yang samar dari tenggorokan istrinya. Itu adalah alunan yang merdu, sebuah alunan yang membuat Belva kian gencar menghisap, memagut, dan membuai bibir Sara yang manis layaknya nektar yang bersarang di kelopak bunga.


Belva sedikit mendorong tubuh Sara untuk bergerak mundur, hingga sebuah ranjang yang empuk dan lembut menyambut mereka. Belva mengurai ciuman sejenak, dia kemudian menempatkan Sara dengan perlahan di atas tempat tidur itu. Tanpa permisi Belva menindih tubuh Sara, pria itu lantas mendaratkan kecupannya yang hangat dan basah di leher Sara. Kecupan yang membuat Sara menengadahkan lehernya, dan membiarkan Belva meninggalkan jejak-jejak basah di sana. Rupanya bukan sekadar kecupan, Belva membuka sedikit mulutnya, dan menggigit kecil di leher Sara menghisapnya dalam-dalam, rasa perih berpadu dengan gelenyar asing membuat Sara mendekap erat tubuh Belva.


“Ah, Mas Belva …,” ucapnya dengan nafas yang terasa sesak. 


Belva lantas menarik kembali wajahnya, “Sara,” ucapnya dengan suaranya yang parau dan dalam.


“Boleh aku meminta hakku sekarang?” tanya Belva kali ini.


Terlihat anggukan samar dari kepala Sara. Sontak saja Belva tersenyum, pria itu lantas kembali melabuhkan ciumannya di bibir Sara, tangannya mulai bergerilya meraba lekuk-lekuk feminitas di tubuh Sara. Hingga jari-jari Belva dengan berani melepaskan setiap kancing dari piyama tidur yang dikenakan Sara. Pria itu menahan nafas melihat bongkahan buah persik yang masih terbungkus kain berenda berwarna hitam, tanpa bisa menunggu lama Belva melepaskan pengait di balik punggung Sara. Meremas buah persik itu perlahan dan tekanan yang membuat Sara menahan nafasnya, rasa gelenyar yang seolah membakar dirinya membuat Sara meremas rambut Belva.


“Astaga, ah,” de-sahan pun turut mengalun dari bibir Sara.


Belva memilih diam, pria itu mulai membuka mulutnya dan membawa satu buah persik yang begitu menggoda untuk masuk dalam kehangatan rongga mulutnya. Menghisapnya perlahan, mencumbunya, dan memberikan gigitan-gigitan kecil di sana. Sementara tangan yang satu lagi meloloskan pakaian Sara yang tersisa, membuat wanita itu kini polos mutlak di hadapannya.


Wanita itu kian terengah-engah. Rasa yang menyelimutinya sekarang ini membuat lembah di bawah sana seketika basah, membuat Sara menelungkungkan sepuluh jari kakinya. Merasa Sara sudah siap, Belva kemudian menatap Sara.


“Aku cinta kamu, Sara….”


Maka tak ada lagi yang Sara ragukan, dia memberikan dirinya sepenuhnya pada pria itu. Dada Sara bergemuruh riuh. Setidaknya ini adalah pengalaman pertama bagi Sara dan Belva setelah waktu empat tahun berlalu.


“Mas!”


Rasanya seluruh tubuh Sara menegang saat Belva mulai memasukinya. Mata Sara perlahan terbuka, dibarengi dengan cengkeramannya di punggung Belva. Rasanya begitu asing, sedikit sakit, dan penuh sesak di bawah sana. Ini memang bukan pengalaman pertama bagi Sara, hanya saja kembali memasrahkan dirinya untuk Belva, bulir air mata berlinang begitu saja di wajah Sara.


“Lihat aku, Sara” pinta Belva kali ini.


Sara meneguk salivanya, rasa asing dan sedikit sakit yang menjalari dirinya membuat wanita itu beberapa kali menghela nafas dan merengkuh tubuh Belva.

__ADS_1


“Ssstts, lihat aku, Sara … aku cinta kamu,” ucap Belva sembari mengecup puncak kepala Sara.


Pria itu lantas mendobrak masuk, menghentak dengan memegangi kedua pinggang Sara. Belva kemudian membawa kedua tangan Sara yang lemas untuk memegangi pundaknya, membiarkan tangan itu meremas pundaknya. Dia kembali memasuki Sara dengan satu dorongan kuat, maju, dan mundur berirama. Hingga des-ah berbalut kenikmati benar-benar melingkupi kamar itu.


Merasakan bahwa Sara sudah rileks, Belva kembali bergerak. Menghentak dalam menciptakan luapan penuh yang keduanya rasakan. Kian lama Belva bergerak seakan menabur candu yang membuat Sara kian mencengkeram punggung Belva. Mungkin saja goresan kuku Sara melukai punggung Belva kali ini.


“Mas Belva, ah,”


Rengkuhan Sara menguat, saat dia merasakan sengatan di dalam inti tubuhnya. Seakan keduanya kehilangan kata-kata yang tercipta hanya alunan berupa des-ahan yang begitu kuat.


“Astaga, Sara,” racau Belva kali ini.


Gerakan seduktif yang Belva lakukan kian menghujam dalam, menusuk kuat-kuat di dalam sana. Setelah dua tahun tidak merasakan kenikmati berbalut candu membuat Belva seakan tidak kehabisan tenaga untuk menghujam dan melesakkan pusakanya.


Berkali-kali Belva memejamkan matanya dengan tangan yang sibuk meremas buah persik milik Sara. Keduanya seakan berpacu, menggapai puncak asmara yang menggelora jiwa raga. Hingga di ambang batas pertahanannya, Belva menggeram. Terasa luapan cairan yang hangat dan basah di bawah. Pria itu kemudian rubuh dengan tubuh yang bergetar di atas Sara.


“I Love U, Sara … I Love U,” ucap Belva kali ini.


Hanya ada tiga ungkapan perasaan yang dirasakan Belva setelah menikmati cawan surgawi milik Sara.


Erat.


Hangat.


Basah.


Tiga kata yang membuat tubuh pria itu benar-benar bergetar hingga rubuh berpeluh di atas tubuh Sara.


Inilah ungkapan cinta yang sudah sekian lama Sara nantikan. Bukan sekadar terima kasih, tetapi ungkapan cinta sudah kegiatan panas yang mereka lakukan membuat Sara benar-benar merasa menjadi wanita yang benar-benar berbahagia. Wanita itu nyatanya kembali menitikkan air matanya begitu terharu saat Belva mengatakan ungkapan cinta usai melanjutkan misi dan ritual mereka yang tertunda.


“I Love U too … aku cinta kamu, Mas Belva,” balas Sara kali ini.

__ADS_1


__ADS_2