Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Sweet Saturday


__ADS_3

Usai mendapatkan jawaban atas semua perkataan Belva, tidak dipungkiri bahwa hati Sara begitu sesak rasanya. Benarkah Belva telah lama mencintainya? Benarkah selama ini bukannya Belva tidak mencarinya, tetapi memang Belva fokus untuk mengasuh Evan? Benarkah bahwa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan?


Seolah semua pertanyaan ini berputar-putar dan memenuhi isi kepala Sara. Wanita itu masih terisak dengan membaca setiap pesan yang sudah Belva kirimkan kepadanya. Terasa begitu pilu, tetapi ada setitik kelegaan juga di sana. Sara lantas mengingat bahwa besok adalah hari di mana Belva akan datang untuk menjemput Evan dan meminta jawaban dari Sara.


Wanita itu memejamkan matanya dan menimbang-nimbang dalam hatinya, jawaban apa yang hendak dia berikan kepada Belva esok hari. Haruskah dia menerima perasaan dan permintaan Belva kali ini. Masih dengan terisak, Sara memejamkan matanya mencoba mencari apa yang diingini hatinya sekarang ini.


Hingga pada akhirnya, Sara memilih membaringkan dirinya di samping Evan. Memeluk putranya yang telah terlelap dan menunggu hari esok akan segera tiba.


***


Keesokan Harinya …


Dari siang, agaknya Evan sudah cukup menantikan kedatangan Papanya itu. Hal itu dikarenakan ini menjadi pengalaman pertamanya berjauhan dengan Papanya bahkan sampai tiga hari. Sehingga Evan mulai terus bertanya kepada Sara kapan Papanya akan tiba.


“Mama, hari ini Papa akan datang kan? Papa datang jam berapa Ma?” tanya Evan kecil kepada Mamanya.


“Kita tunggu saja ya Evan … nanti Papa pasti datang kok,” jawab Sara.


Sejujurnya, Sara sendiri juga tidak tahu kapan Belva akan datang. Hanya saja, dirinya tidak bisa memberi jawaban yang pasti kepada Evan. Sara hanya meminta Evan untuk menunggu saja kedatangan Papanya nanti.


“Ma, apa kita akan berpisah lagi?” tanya Evan kini dengan wajahnya yang sendu.


Sara lantas memangku putranya itu dan memeluknya erat. “Evan, Mama apakah boleh tahu keinginan Evan sekarang ini?” tanyanya perlahan.


“Evan sayang Mama … Evan mau tinggal bersama Papa dan Mama,” jawab Evan dengan lesu.


Sara pun menganggukkan kepalanya, itu karena bukan hanya keinginan Evan saja. Sara pun rasanya begitu berat berpisah jauh dari Evan. Dirinya sangat menyayangi putranya itu.


Hingga selang satu jam, akhirnya Evan yang semula menonton film kartun di kamar Sara, sekarang berlari menemui Mamanya itu.


“Mama, ikut Evan sebentar yuk,” pinta Evan kepada Sara.

__ADS_1


“Ke mana Van?” tanya Sara.


“Ayo Ma … ikut Evan. Mama pakai baju yang cantik yah … nanti Evan kasih tahu jalannya,” ucap Evan dengan yakin.


Sara lantas mengernyitkan keningnya, beberapa jam yang lalu putranya itu terlihat muram dan wajahnya begitu sendu. Akan tetapi, sekarang justru Evan terlihat begitu excited. Sebenarnya apa yang terjadi? Akan tetapi, Sara menganggukkan kepalanya. Memilih mengikuti permintaan Evan.


“Pakai dress yang cantik Ma,” teriak Evan kini.


Sara pun berbalik dan menatap wajah putranya itu, “Apa kalau pakai celana seperti ini, Mama tidak cantik Van?” tanya Sara.


“Tidak Ma … Mama tetap cantik kok,” balas Evan dengan menundukkan wajahnya.


Sara tertawa melihat reaksi dan raut muka Evan yang terlihat begitu lucu. Setelahnya, Sara memilih masuk ke dalam kamarnya dan mengganti pakaiannya dengan mengenakan sebuah midi dress berwarna putih dengan motif floral. Sara hanya merapikan rambutnya, dan sedikit memoleskan make up di wajahnya.


Hanya sepuluh menit, kemudian Sara mencari Evan yang sudah berganti pakaian yang rapi dan menunggunya di ruang tamu.


“Are you ready, Ma?” tanyanya.


“Ya, i am ready,” jawab Sara.


“Kamu yakin tahu jalannya, Evan?” tanya Sara.


“Tahu dong … ayo, Ma!” ajak Evan yang sudah menggandeng tangan Sara dan menuntunnya untuk masuk ke dalam mobil.


Sara pun mulai mengemudikan mobilnya dan mengikuti instruksi yang diberikan oleh Evan. Akan tetapi, Sara begitu terkejut ketika mobilnya kini berhenti di sebuah villa dengan model bangunan yang begitu indah, didonimasi kayu, dan terdapat sebuah kolam renang di sisi villa. Di kanan dan kiri kolam renang itu juga ditanami beberapa pohon cemara. Menjelang sore itu, kota Bogor cukup berkabut sehingga menimbulkan cuaca yang cukup dingin.


“Di sini, Evan? Kamu yakin?” tanya Sara memastikan.


“Iya dong Ma … Evan yakin,” balasnya.


Evan lantas mengajak Sara turun dari mobilnya, menggandeng tangan Mamanya itu dan memasuki Villa yang begitu indah itu. Sara cukup tertegun dengan keindahan Villa itu dengan lampu-lampunya yang sudah dinyalakan. Evan lantas menuntun Sara menuju ke taman yang menyatu dengan kolam renang, di sana sudah terpasang beberapa lilin, meja berbentuk bundar berwarna putih, dan dari jauh ada seorang pria yang sudah berdiri memunggunginya.

__ADS_1


“Evan,” ucap Sara dengan lirih.


Sementara Evan tersenyum dan terus mengajak Mamanya itu untuk berjalan dan mendekat ke arah pria yang memunggungi mereka berdua itu.


“Papa, we are coming,” ucap Evan dengan tiba-tiba.


Perlahan Belva pun berbalik. Pria itu menghela nafas dan melemparkan senyuman kepada Sara dan juga Evan. Lantas, Belva mengambil dua langkah ke depan untuk mengikis jaraknya dengan Sara.


“Sara … kali ini aku datang di hadapanmu sebagai seorang Belva Agastya. Pria bodoh yang tidak bisa pernah mengungkapkan perasaannya ini, sekarang berdiri di hadapanmu, meminta kepadamu. Sara, aku … cinta kamu. Semuanya jawabannya pasti sudah kamu baca, karena semua pesanku sudah kamu terima dan terbaca. Aku sungguh mencintaimu Sara … will you marry me?” tanya Belva kali ini.


Usai mengatakan semuanya itu, Belva menundukkan kepalanya. Sang CEO yang sudah terbiasa memimpin rapat dan memenangkan tender projek besar, kali ini berdiri hanya sebagai pria biasa dan meminta kepada Sara untuk mau menikah dengannya.


Tampak di sana, wajah Sara memerah. Kedua mata wanita itu pun berkaca-kaca. Sungguh, Sara tidak mengira bahwa Belva dan putranya sudah merencanakan semuanya itu.


“Mama … will you marry my Papa? Will you stay with me everyday?” pinta Evan kali ini.


Air mata Sara kian berderai di sana. Bahkan wanita itu pun terisak. Kini di hadapannya ada dua pria yang sama-sama memintanya. Belva memintanya untuk menikah dengannya, dan Evan memintanya untuk terus tinggal bersamanya. Matanya menatap wajah Belva dan Evan bergantian.


Di tengah isakan tangisannya, bibir Sara yang bergetar pun perlahan terbuka.


“Ya … aku mau,” jawab Sara dengan tangis yang kian pecah.


Tampak Belva memejamkan matanya dan menghela nafas lega. Sementara Evan melompat dan memeluk pinggang Sara dengan begitu erat.


“Are you promise, Ma?” tanya Evan kali ini.


Sara menunduk, mensejajarkan tingginya dengan Evan kali ini. “Mama janji, Evan … Mama akan stay with you everyday,” balas Sara dengan yakin.


Sara lantas memeluk Evan dengan begitu eratnya, sementara di hadapannya Belva tampak menitikkan air matanya. Tidak mengira bahwa akhirnya Sara akan menerima perasaannya kali ini.


Setelah memeluk Evan, Belva tampak membuka kedua tangannya, Sara pun menghambur dan masuk dalam pelukan pria itu. Sara terisak dengan mencerukkan wajahnya di dada pria itu.

__ADS_1


“I Love U, Sara …” ucap Belva dengan lirih.


Sementara Evan memeluk pinggang kedua orang tuanya yang sedang berpelukan itu. Lantaran teringat Evan, Belva kemudian menggendong putranya itu. Begitu bahagia rasanya saat mendapati bahwa Sara akan akhirnya menerima cinta dan lamarannya. Sungguh ini menjadi malam minggu yang begitu manis karena hari ini Belva mendapatkan cintanya kembali.


__ADS_2