Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Kembali ke Jakarta


__ADS_3

Liburan seminggu di Bali nyatanya telah benar-benar berakhir, kini keluarga Belva dan juga Amara sama-sama untuk kembali ke Jakarta. Memulai lagi rutinitas yang sudah menantinya esok hari.


“Naik pesawat lagi kenceng enggak perutnya, Kak?” tanya Amara yang memperhatikan perut Sara yang kian hari kian membesar itu. Biasanya di kehamilan yang kian besar, para ibu hamil akan merasa kencang di perutnya, oleh karena itulah, Amara bertanya kepada Sara.


“Enggak sih … cuma kalau sudah turun, pinggangnya agak kenceng,” balas Sara.


Ya, memang pada kenyataannya Sara tidak merasakan perutnya yang kencang. Hanya saja jika sudah turun dari pesawat yang dia rasakan adalah pinggangnya yang kencang.


“Banyak minum air putih Kak … sama sebenarnya bawa bantal untuk menyangga pinggang, Kak. Soalnya kehamilan Kakak makin besar, jadi kemana-mana bawa bantal. Di mobil kasih juga bantal, biar pinggangnya Kakak enggak pegal,” jelas Amara kepada Kakak Iparnya itu.


Ah, barulah Sara ingat bahwa memang seharusnya dia membawa bantal yang bisa menyangga pinang, sehingga saat bersandar rasanya lebih enak. Kenapa justru Sara tidak terpikirkan hal ini sebelumnya.


“Kak Belva, beliin gih bantal untuk Kak Sara … biar pinggangnya enggak kencang. Asetnya milyaran, tapi gak tahu sih keperluan wanita hamil,” ucap Amara. Bahkan sekarang adiknya itu terlihat ketus.


“Iya, nanti aku belikan sepabriknya kalau perlu … maaf ya Sayang, suami kamu memang abai,” jawab Belva.


Akan tetapi, Sara justru menggelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa kok Mas … nanti kalau udah di Jakarta, beliin ya Mas,” pintanya kali ini.


“Iya Sayang … nanti Mamas beliin buat kamu,” jawab Belva.


Sontak saja wajah Sara bersemu merah mendengar jawaban dari suaminya itu. Hatinya begitu senang, Belva kian mencair. Kian terasa hangat, dan kian Sara bisa merasakan kasih Belva untuknya.


Sampai akhirnya mereka memulai penerbangan udara dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menuju Soekarno - Hatta. Sepanjang perjalanan udara itu, Belva pun turut memperhatikan Sara. Menggenggam tangan istrinya itu supaya istrinya tidak merasa takut.

__ADS_1


"Sakit enggak perutnya?" tanya Belva lagi.


Sebenarnya Belva khawatir mengajak Ibu hamil bepergian dengan menaiki pesawat, tetapi Sara juga membutuhkan liburan. Terlalu lama di rumah dan fokus mengasuh Evan dan menjalankan tugas sebagai seorang istri tentu membuat Sara merasa jenuh, karena itulah liburan kali ini memang diatur khusus oleh Belva untuk memberikan waktu relaksasi bagi Sada. Bersenang-senang sebelum tiba waktu bersalin nanti.


"Enggak, kan ada Mamas yang jagain. Jadi enggak merasa sakit kok. Tenang aja, Mas… aku baik-baik saja kok," balas Sara yang mencoba meyakinkan suaminya itu.


"Baiklah Sayang, pokoknya kalau merasa apa pun bilang ke aku yah. Aku berdiri di garda terdepan untuk nolongin kamu," ucap Belva.


"Bisa-bisanya sih gombalin Ibu hamil di dalam pesawat kayak gini. Gombalan dari kamu bikin aku melambung ke angkasa, efeknya melebihi naik pesawat ini," balas Belva.


Belva menahan tawa hingga tubuhnya bergetar, tidak mengira bahwa istrinya itu akan bisa membuatnya tertawa. Jika tidak di dalam pesawat mungkin saja tawa Belva sudah benar-benar pecah sekarang.


"Kamu bisa aja sih… istrinya siapa sih pinternya kayak gini?" tanyanya.


Belva kian mengeratkan genggamannya dan berharap istrinya itu tidak ketakutan. Kali ini Evan memilih duduk bersama Jerome yang berjarak beberapa deret darinya, sehingga Belva bisa fokus untuk memperhatikan dan mengurus istrinya itu.


"Akhirnya sampai juga," ucap Belva yang merasa lega karena pesawat telah mendarat dengan sempurna dan juga selamat.


"Udah di Jakarta lagi," balas Sara.


"Benar Sayang, kita mulai bersiap dengan baby boy kita yah. Liburannya udahan dulu, nanti kalau udah kita liburan lagi. Kamu ingin lihat Laut Bosphorus di Turki kan? Suatu hari nanti, aku akan mengajakmu ke sana, sampai ke Cappadocia pun akan aku antarkan, kita bisa mengelilingi dunia bersama kalau kamu sudah melahirkan dan si baby boy bisa diajak jalan-jalan nanti," ucap Belva.


Itu bukan hanya sekadar janji, tetapi dia akan mengajak Sara melihat dunia yang sebelumnya belum pernah dikunjungi oleh Sara. Dia ingin menjadi orang pertama yang memperlihatkan keindahan dunia ini kepada Sara. Asalkan Sara sehat dan bayinya nanti bisa diajak bepergian dengan menggunakan pesawat, sudah pasti Belva akan mengajak Sara melihat berbagai tempat-tempat indah di dunia.

__ADS_1


"Makasih Mamas … di rumah aja asal sama kamu, aku juga tidak masalah. Bersamamu kamu adalah tempat terindah dan ternyaman buatku," balas Sara.


Lagi-lagi Belva tertawa mendengar ucapan istrinya itu. Begitu pandainya Sara sampai membuat Belva begitu tersipu mendengar ucapan istrinya itu.


"Kalau enggak di dalam pesawat, udah aku kurung kamu di dalam kamar Sayang. Kamu bikin aku gemes banget sih," sahut Belva.


Liburan sekaligus acara babymoon memang telah usai, tetapi mereka bisa merasakan kebahagiaan yang justru kian meluap dalam hati keduanya. Kebahagiaan dalam hati yang terpancar di wajah mereka berdua.


...***...


Selang satu hari ...


Kini Belva telah bersiap untuk kembali berangkat ke perusahaannya. Kembali menjalani sebagai CEO Agastya Properti. Itu juga berarti, dia akan meninggalkan rumah selama dia bekerja.


"Sayang, aku berangkat kerja dulu yah. Ada yang dititip kalau aku pulang sore nanti enggak?" tanyanya kepada Sara.


"Penting Papa segera pulang aja, aku bakalan kangen," balas Sara.


Sara sendiri merasa bahwa kian bertambah usia kehamilannya membuatnya kian kangen dengan suaminya itu dan tidak bisa jauh-jauh dari Belva. Hanya sesaat berpisah saja sudah membuatnya begitu rindu. Memang dirinya sendiri yang rindu, atau memang keinginan babynya yang ingin selalu mendekat dengan Papanya.


Belva pun menganggukkan kepalanya, "Baiklah... nanti sore Mamas akan pulang kerja. Hati-hati yah di rumah sama Evan, jangan kecapekan. Kalau kangen, kirimin pesan sama aku aja," ucapnya. Sungguh Belva sama sekali tidak keberatan jika Istrinya berkirim pesan dengannya. Rasanya bekerja di pagi hari dan ada istri yang menunggu dan menyambut saat pulang kerja membuatnya begitu senang.


Ada Sara yang menunggunya seharian untuk pulang kerja, dan menyambutnya dengan senyuman manis di wajahnya. Seorang suami akan merasa bahagia jika di sore hari, istrinya menyambutnya dengan senyumannya yang manis. Seolah rasa lelah di tubuhnya hilang setelah melihat senyuman istrinya itu.

__ADS_1


Sara tersenyum dan mengantarkan suaminya itu sampai di depan pintu. Rutinitas kembali dijalani, tetapi keduanya tetap bersemangat dan menjalani semuanya dengan rasa cinta yang kian hari kian tumbuh dalam hatinya.


__ADS_2