Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Pertanyaan Paling Mendebarkan


__ADS_3

“Boleh lanjut kan?” tanya Belva kali ini.


Rasanya Sara ingin mendorong dada Belva yang berjarak hanya sejengkal saja dari tubuhnya kali ini. Dalam posisi sedekat ini, tanpa ada busana, dan selimut putih yang mencover tubuh keduanya benar-benar membuat debaran jantung Sara kian dag-dig-dug rasanya.


Sementara Belva masih tampak menjeda pergerakannya dan menunggu jawaban yang hendak diberikan Sara.


“Boleh lanjut?” tanyanya lagi kali ini.


Belva sedikit menunduk dan berkata tepat di telinga Sara dengan lirih, “Kamu sudah membangunkan pusakaku, Sayang … so?” tanya Belva.


Benar bahwa Sara pun merasakan sesuatu di bawah sana yang sudah menegang. Dengan helaan nafas yang terasa berat, Sara pun menganggukkan kepalanya secara samar.


Merasa mendapatkan lampu hijau dari Sara. Belva pun kali ini benar-benar akan melakukan eksekusi dengan sepenuh hati. Tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas yang diberikan istrinya itu. Terlebih dalam keadaan tubuh yang sama-sama polos mutlak, agaknya suhu tubuh keduanya meningkat secara drastis. Hawa panas yang justru membuat Belva dan Sara seakan sulut-menyulut percikan api yang membara.


Ya Tuhan, kegiatan panas yang terjeda kali ini justru membuat Sara benar-benar kebat-kebit. Sorot mata Belva yang kali ini terselimuti kabuh gairah, sesuatu yang berdenyut dan mengeras di bawah sana benar-benar membuat membuat Sara sesak nafas.


Perlahan tetapi pasti, Belva kembali tersenyum. Pria itu kini justru beranjak dari tempat tidur tanpa malu menyibuk selimut putih yang mengcover keduanya. Tangan pria itu terulur kepada Sara.


"Yuk," ajaknya kali ini kepada Sara.


"Kemana?" tanya Sara.


Belva tersenyum, "Kamar mandi," balasnya.


Merasa tidak ada reaksi dari Sara, Belva pun menundukkan tubuhnya, tangan menelisip di bawah leher dan pantat Sara. Membopong wanita itu dan berjalan melangkah pasti menuju ke kamar mandi.


Sara hanya bisa melingkarkan tangannya di leher Belva. Tanpa berbicara sama sekali. Dirinya terlalu berdebar dengan perilaku suaminya itu kali ini.


Belva mendudukkan Sara di kamar mandi, lantas pria itu segera mengisi bath up dengan air hangat dan memberikan bath bomb beraroma floral yang begitu lembut. Tidak membutuhkan waktu lama, bath up itu sudah penuh dengan busa. Belva memasuki bath up itu terlebih dahulu, lantas membawa Sara untuk turut mengikutinya masuk ke dalam bath up itu.


"Rileks saja," ucap Belva kali ini.

__ADS_1


Bagaimana bisa rileks, jika mandi malam ini akan berubah menjadi mandi panas. Lagi-lagi menggigit bibirnya, wanita itu memposisikan diri duduk di pangkuan Belva dengan mata yang saling berpandangan. Sara berpegangan di bahu Belva yang begitu kokoh.


Tangan Belva sibuk memercikkan air bercampur busa itu di tubuh Sara. Bahkan Belva mengusap-usapi lengan Sara dengan air, membuat lengan itu kian licin saja jadinya.


Pria itu menarik pinggang Sara, hingga kedua dada mereka bersentuhan satu sama lain. Belva meraih dagu Sara dan segera mencium bibir yang begitu lembut dan kenyal itu, menciptakan sensasi manis dan hangat. Bibir Sara agaknya menjadi candu tersendiri bagi Belva hingga pria itu seakan tidak pernah puas untuk mencium, memagut, bahkan melu-mat bibir Sara dengan begitu dalamnya.


Sekadar mendapatkan ciuman dari Belva saja, Sara tampak mengerang saat lidah pria itu menelusup masuk. Memberi usapan dan godaan dengan ujung lidah di dalam rongga mulutnya.


"Ah, Mas," de-sahan Sara tak lagi tertahankan.


Satu tangan Belva menahan tengkuk Sara untuk memperdalam ciumannya. Setelahnya Belva mengurai bibirnya sejenak, pria itu kini memberikan kecupan yang basah dan hangat di garis leher Sara yang jenjang. Bahkan tangan Belva kini sibuk memberikan remasan di salah satu puncak dada Sara. Kegiatan yang direspons Sara dengan meremas rambut pria itu.


"Cantik," balas Belva kali ini dengan kedua mata yang terbuka sembari memperhatikan Sara dengan kedua sorot mata yang begitu dalam.


Wajah Belva kian turuh dan kini pria itu menyapa dengan bibirnya memberikan kecupan dan gigitan-gigitan kecil di puncak buah persik milik Sara. Memainkannya dengan lidah dan bibirnya, membuat Sara terkadang merengkuh tubuh Belva, dan terkadang seakan ingin menjerit merasakan terpaan badai kenikmatan yang menghantamnya.


"Enak?" tanya Belva kali ini.


Kini Belva sedikit mengangkat pinggul Sara, menyatukan dirinya dengan cawan surgawi milik Sara dengan posisi Sara masih di atas pangkuannya.


"Gerakkan pinggulmu, Sayang," ucap Belva kali ini.


Wajah pria itu benar-benar diselimuti kabar gairah. Beberapa kali Belva memejamkan matanya dengan tangan yang masih merayap dengan nakal di tubuh Sara yang licin dan juga basah.


"Ah, Mas … aku," ucap Sara dengan terengah-engah.


Pertama kali mencoba dalam posisi seperti ini membuat dirinya merasakan tusukan yang begitu dalam hingga mengenai dinding rahimnya. Tusukan pusaka yang membuat dirinya berkali-kali mendesah dan menjerit keenakan malam itu.


"Enak, Sayang … mantap," balas Belva kali ini dengan tangan-tangan nakalnya yang memberikan remasan dan pilinan di buah persik milik Sara. Bahkan Belva juga meninggalkan jejak cinta berwarna merah di leher dan area dada Sara. Seakan pria itu ingin mengklaim bahwa Sara adalah miliknya.


Berlama-lama bergerak, dan menghentakkan pinggulnya membuat Sara benar-benar lemas rasanya. Ditambah racauan yang tiada henti membuat tenggorokan terasa begitu kering.

__ADS_1


Menyadari bahwa Sara telah mengalami pelepasan berkali-kali bahkan terlihat lemas, Belva kali ini yang menggerakkan pinggulnya, menghujam dari bawah. Gerakan sedikit kasar dan penuh tenaga itu benar-benar mengoyak air berbalut busa di dalam bath up itu.


Sampai di batas akhir, Belva menggeram tubuhnya kembali bergetar saat merasakan dirinya menyemburkan air penuh cinta miliknya ke dalam cawan surgawi milik Sara.


Pria itu merengkuh tubuh Sara, mendekapnya dengan erat sembari memejamkan matanya.


"Oh, Ya Tuhan, ini mantap jiwa," ucapnya kali ini.


Wajah pria itu bersinar dengan begitu cerahnya, sembari memeluk Sara yang justru terlihat begitu lemas. Belva lantas melepaskan penyumbat air yang berada di dalam bath up tentu untuk membuang air bersama sisa-sisa sabun di sana. Setelahnya, Belva membawa Sara untuk membilas tubuhnya di bawah shower dengan menggunakan air hangat. Setelahnya, Belva pun mengambilkan handuk dan mengeringkan tubuh istrinya itu dengan hati-hati.


Belva membawa Sara menghadap ke cermin ke tubuh yang masih sama-sama polos sekarang, Sara membelalak melihat banyaknya tanda merah di leher hingga dadanya, pria itu benar-benar brutal malam ini dalam membuat begitu banyaknya jejak percintaan di tubuhnya.


“Banyak banget sih,” balas Sara dengan sisa-sisa tenaganya.


“Ini bukti hak milik, Sayang … kamu sepenuhnya milik aku,” ucap Belva kali ini.


Dengan satu kali sentakan tangan, Belva kembali membopong Sara ala bridal style dan membantu wanita itu untuk mengenakan piyamanya. Lantas membaringkan Sara di atas ranjang mereka. Sara duduk dengan menstabilkan deru nafasnya, sementara Belva tampak mengambili pakaian mereka berdua yang berserakan. Pria itu kembali tersenyum saat mengambil kain berenda milik Sara.


Setelah membersihkan kamarnya, Belva lantas turut bergabung dengan Sara di atas ranjang dan merangkul tubuh istrinya itu.


“Capek?” tanyanya.


“Iya,” balas Sara.


“Ya sudah … malam ini dua ronde saja. Besok lagi yah? Aku punya akses free tiga hari,” ucap Belva kali ini.


Dengan cepat tangan Sara terulur dan memberikan pukulan di lengan suaminya yang begitu nakal itu.


“Nakal banget sih,” balas Sara.


“Nakalnya cuma sama kamu,” balas Belva dengan cepat. “Ya sudah, yuk bobok … aku akan peluk kamu,” ucap Belva lagi yang membawa Sara untuk tidur di pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2