
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Belva Agastya untuk mengguyur badannya. Lagipula, musim dingin, mandi semakin cepat, semakin bagus. Sekarang, Belva sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar, dan aroma woody yang menguar di kamar itu.
Pria itu tersenyum saat melihat Sara yang masih duduk di sofa dan melihat ke luar, jalanan bersalju berpadu dengan lampu-lampu yang eksotik dari beberapa bangunan yang berada di sekitar hotel. Perlahan, Belva pun berjalan dan turut mengambil tempat duduk di samping Sara.
“Bengong saja sih Mama Sara,” ucapnya.
Wanita itu tersenyum, mengamati wajah suaminya, dan begitu Belva sudah duduk di sampingnya, Sara segera menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya itu.
“Sudah selesai mandinya Mas?” tanyanya.
“Sudah, enggak perlu lama-lama. Yang penting sudah bersih, segar, dan wangi,” balas Belva dengan merangkul bahu istrinya itu.
Sara pun merespons dengan mengangguk setuju, “Benar … wangi banget sih. Kalau kamu sewangi ini, aku jadinya pengen pelukin kamu terus,” balas Sara dengan tertawa.
Belva pun tertawa, “Peluk saja, Sayang … gratis kok buat kamu,” balas Belva.
Keduanya kini sama-sama memandangi panorama yang begitu indah di sana. Hari sudah malam, dan keindahan yang tersaji di depan mata justru membuat keduanya ingin menikmati musim salju yang tentunya istimewa ini.
“Kamu belum pernah lihat salju?” tanya Belva kepada istrinya itu.
__ADS_1
“Belum … di Seoul dulu musim dingin, tapi salju kan tidak sampai turun. Padahal aku pengen melihat salju dari Namsan Tower … biar kayak scene di drama Korea,” balas Sara dengan terkekeh geli.
Belva yang mendengarkan perkataan istrinya itu tersenyum dan mengusapi rambut istrinya dengan begitu lembut, “Kamu Drakor addict banget sih. Kita menikmati salju di London saja, sama Mamas … lebih indah, lebih mantap, lebih puas,” balas Belva dengan penuh percaya diri.
Tawa Sara pun meledak, wanita itu wajahnya dingin memerah mendengar perkataan yang begitu percaya diri dari suaminya itu. “Perkataan kamu kayak iklan mie instant saja sih Mas,” balas Sara dengan masih tertawa.
Namun, saat Sara masih tertawa, tiba-tiba Belva menyatukan bibirnya dengan bibir Sara. Sehingga tawa itu pun seketika terhenti. Kedua mata yang saling pandang, kedua bibir yang sama-sama bertempelan satu sama lain. Suasana yang semula semarak dengan tawa Sara perlahan hanya keheningan saja yang terasa.
Belva sedikit tersenyum, kemudian pria itu memiringkan kepalanya dan mulai memagut lembut bibir Sara. Menyapa bibir yang begitu manis layaknya cotton candy itu. Pria itu baru melepaskan bibirnya saat Sara terasa terengah-engah.
Usai ciumannya usai, Belva dengan cepat membalik badan Sara hingga sekarang keduanya berhadap-hadapan. Pria itu menatap Sara dengan menampilkan senyuman di wajahnya, kemudian perlahan dia mengangkat pinggang Sara, menggendongnya di depan dan mulai menyapa kembali bibir Sara. Bila sebelumnya dia mencium bibir Sara dengan ciuman yang begitu lembut, tetapi kali ini ciumannya lebih menggebu.
“Balas ciumanku, Sayang.” ucapnya yang kali ini seolah meminta Sara untuk membalas ciumannya.
Mendengar permintaan suaminya itu, Sara semula membuka matanya, wanita itu berusaha memiringkan kepalanya, kemudian membuka bibirnya sedikit kemudian memberikan ciuman di bibir suaminya. Menciumnya dengan begitu lembut, merasakan bibir suaminya dengan memejamkan kedua matanya, dan dia seolah mengulang bagaimana cara suaminya menciumnya itulah yang dia lakukan.
Menerima ciuman, tanpa basa-basi Belva menyantap bibir istrinya dengan hasrat yang memburu. Berawal dari bibir, pria itu lantas menciumi area leher jenjang istrinya, meninggalkan jejak basah dan hangat di sana. Sapuannya lidah benar-benar membuat Sara meremang dan mendesis. Bahkan tangan pria itu yang semula berada di pinggang, kini dengan berani menyusuri lekuk tubuh istrinya. Memegang, meraba, dan menyentuh halusnya epidermis kulit istrinya yang membuat Sara menarik rambutnya, meremasnya sembari menghela napas.
Belva lantas membuka matanya dan menelisipkan untaian rambut Sara ke belakang telinga, “Cantik …” ucapnya dengan suaranya yang parau dan dalam. Pria itu menatap wajah Sara dengan tatapan yang memuja, bersemu merahlah wajah Sara saat itu.
__ADS_1
“Boleh malam ini Sayang?” tanyanya sembari membelai sisi wajah Sara.
Satu anggukan yang diberikan oleh Sara cukup untuk Belva melanjutkan aktivitasnya. Satu anggukan yang selayaknya sebuah lampu hijau bagi Belva, maka karena lampu hijau itu sudah menyala, yang harus Belva lakukan sekarang ini adalah dengan menuntaskan misinya.
Entah apa lantaran bobot badan Sara yang seringan kapas, atau memang Belva yang terlampau kuat sehingga pria itu kembali mengangkat pinggang Sara guna mengangkatnya kembali, kali ini pria itu berjalan bergerak menuju tempat tidur yang berada di kamar itu. Seolah geloranya sedang membara, karena Belva membawa Sara sembari melabuhkan ciuman yang memburu di bibir istrinya itu. Bukan sebatas sapaan yang lembut, tetapi Belva menggigit, hingga menghisap lidah istrinya itu. Ciuman yang begitu memburu hingga membuat keduanya terengah-engah.
Begitu telah sampai di tempat tidur mereka, Belva lantas mendudukan Sara dengan begitu hati-hati. Pria itu kemudian membuka polo shirt yang dia kenakan, menampilkan pahatan dengan otot-otot liat di sana. Penampilan yang membuat Sara tertunduk, seolah dirinya sesak napas melihat suaminya saat ini. Belva tersenyum, kemudian bergerak dengan cepat dia mengukung Sara di bawahnya.Belva berniat untuk menyapa dua lipatan bibir yang seolah telah menjadi candunya itu dengan perlahan. Menciumnya dengan sepenuh hati, menyapu perlahan dengan ujung lidahnya, dan menggerakkan bibirnya seirama. Membiarkan bibirnya membuai istrinya itu.
Dari leher, ciuman itu perlahan turun ke tulang belikat wanita itu, hingga tanpa Sara sadari bahwa Belva telah melepaskan kancing baju Sara dari tempatnya, keduanya dia meloloskan baju yang dikenakan Sara begitu saja. Lantas, dia melepaskan pengait dari punggung Sara, pemandangan buah persik yang begitu ranum tampak menggoda matanya, karena itu dengan cepat Belva membawa satu buah persik untuk dia cicipi, masuk dalam rongga mulutnya yang hangat.
Semua yang dilakukan suaminya itu benar-benar membuat Sara menutup matanya dengan begitu dramatis. Tak mampu melihat dengan mata terbuka apa saja yang sudah dilakukan suaminya itu atas tubuhnya, gelenyar yang asing kembali menyapa dirinya. Membuatnya menekuk kesepuluh jari kakinya dan menelungkungkan badannya ke atas. Ya Tuhan, Sara sungguh tidak mengira bahwa dirinya akan kembali merasakan rasa yang begitu asing, tetapi sekaligus nikmat di saat yang bersamaan.
Hingga lantas, pria itu meloloskan semua benang yang menempel pada tubuh keduanya, pria itu mengecup pusar Sara, sebuah kecupan yang membuat Sara bergerak gelisah. Seolah-olah ribuan kupu-kupu menghinggapi perutnya. Tidak berhenti, nyatanya Belva justru semakin menjelajahi tubuh istrinya itu dengan bibirnya. Tidak peduli bagaimana istrinya memekik, tetapi Belva justru merasa inilah caranya untuk memuja satu-satunya wanita yang dicintainya itu.
Merasa bahwa Sara telah siap, perlahan pria itu merapatkan dirinya dengan istrinya dengan kedua tangannya yang memegangi pinggang Sara. Memasukkan miliknya perlahan, sudah begitu pelan, nyatanya Sara masih saja kaget dengan rasa yang dia alami. Belva menunggu sebentar, membiarkan istrinya siap dan tenang, barulah dia mulai bergerak perlahan. Cawan surgawi milik istrinya yang benar-benar memabuknya. Baru beberapa kali dia menghujam dan bergerak seirama, pria itu sudah memejamkan matanya dan menggeram.
“Astaga, Sayang …,” ucapnya disertai dengan geraman yang begitu dalam dan parau.
Sementara Sara hanya mencengkeram sprei di bawahnya. Gerakan seduktif suaminya benar-benar membuatnya limbung, seolah nyawa tercabut dari dirinya. Rasa asing yang memang berganti dengan rasa nikmat, hingga peluh keduanya mulai keluar. Disertai dengan semakin dalamnya hujaman dan hentakan, hingga seolah Belva tak mampu lagi bertahan. Pria itu dengan cepat menjatuhkan badannya di atas tubuh istrinya. Tubuh keduanya sama-sama bergetar saat keduanya sama-sama merasakan pelepasannya.
__ADS_1
“Kamu membuatku benar-benar gila Sayang, aku cinta kamu,” ucap pria itu sembari memeluk istrinya dengan begitu erat kemudian mengecup kening istrinya dengan penuh cinta.