
Hari sudah berganti dengan hari, Belva pun sudah kembali ke kantornya untuk bekerja. Sementara Mama Diana dan Papa Agastya masih berada di rumah Sara. Masih ingin berkumpul dengan anak cucu, sebelum nanti kembali ke Singapura.
“Mama mau dimasakin apa hari ini?” tanya Sara kepada Mama mertuanya yang sedang meminum secangkir Teh herbal di dekat taman.
“Apa ya Sara … apa saja boleh deh. Cuma Mama pengen yang seger-seger berkuah gitu,” ucap Mama Diana.
“Mau Sara masakin Timlo, Ma?” tawar Sara kepada Mama mertuanya.
“Timlo Solo?” tanya Mama Diana lagi.
“Iya, Ma … kelihatannya Sara bisa deh,” jawab Sara kepada Mamanya.
“Boleh deh … itu kesukaan Papamu. Dulu kalau ada projek di Solo, pasti kamu mampir ke salah satu rumah makan yang menjual Timlo Solo paling enak,” kenang Mama Diana.
“Mama dulu kalau Papa ke luar kota gitu ikut ya Ma?” tanya Sara lagi.
“Iya … terlebih setelah Belva dan Amara sudah dewasa. Belva sudah kuliah dan menikah, begitu juga Amara. Jadi, Mama suka ikut Papa kamu ke luar kota. Sebatas menunggu di hotel saja dan jalan-jalan menikmati kota-kota yang kami kunjungi,” balas Mama Diana.
Sara menganggukkan kepalanya, terbayang mungkin di masa tua nanti, jika putra-putranya sudah besar-besar, dia bisa mengikuti suaminya jika ada pekerjaan ke luar kota. Ide yang menyenangkan, bisa mengikuti suami, istirahat di hotel, dan juga jalan-jalan di waktu senggang.
“Ya sudah, Sara masakin dulu buat Mama dan Papa. Sore-sore makan Timlo yang seger kan enak nanti kalau Mas Belva pulang bisa sekali makan,” balas Sara.
Mama Diana pun menganggukkan kepalanya, dan kemudian melihat punggung Sara yang menjauh. Sungguh, di mata Mama Diana, Sara adalah wanita yang baik. Sepanjang hari mengurus anak dan rumah tanpa mengeluh. Suaminya menawarkan untuk menggunakan babysitter, Sara juga menolaknya. Sara ingin mengurus anak-anaknya dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
Walau terlihat sederhana dan tipe istri rumahan, tetapi Mama Diana justru kepribadian Sara yang seperti inilah yang membuat Belva begitu mencintai istrinya itu. Wanita yang sederhana, lembut, dan tidak pernah neko-neko. Mama Diana menjadi berpikir, mungkinkah wanita seperti Sara yang memang cocok untuk putranya. Bisa mengimbangi Belva, saat suami bekerja ada istri yang di rumah, anak-anak terurus dengan baik, rumah bisa dirawat dengan bantuan beberapa asisten rumah tangga tentunya.
Hampir setengah jam sudah tercium aroma kuah Timlo yang begitu harum, Mama Diana sampai masuk ke dalam rumah dan menemui Sara yang ada di dapur.
“Aroma kuahnya enak banget,” ucap Mama Diana.
“Iya Ma … cuma Ayam dan rempah-rempah saja,” balas Sara.
“Sara, kamu tidak ingin mengambil kuliah atau kursus untuk mengembangkan kemampuan kamu. Maaf, hanya saja mungkin kamu bisa mengambil sedikit waktu di sela-sela mengasuh anak,” ucap Mama Diana dengan lembut.
“Ya, pengen sih Ma … cuma sekarang masih punya baby. Jadi, mungkin nunggu kalau Elkan besar dulu,” balasnya. Tidak merasa tersinggung dengan ucapan Mama mertuanya, tetapi justru memandang itu sebagai bentuk kasih sayang mertuanya.
“Ya sudah … kalau mau mengembangkan diri tidak apa-apa. Habiskan saja uangnya Belva … toh dia bekerja kan buat istri dan anak-anaknya. Meraih pencapaian diri sendiri tidak masalah,” balas Mama Diana.
“Sara juga punya uang kok, Ma … walau tidak sebanyak Mas Belva,” akunya. Sebab, Sara juga memiliki bisnis coffee shop yang sudah tersebar di beberapa kota. Income yang dia dapatkan perbulan pun cukup banyak.
“Iya Sara … lihatlah, kamu itu hebat … kamu cantik, baik, sederhana, dan kamu memiliki bisnis coffee shop sendiri. Jangan termakan dengan ucapan orang lain. Kamu memiliki sesuatu yang istimewa dalam dirimu yang tidak dimiliki oleh orang lain,” balas Mama Diana membesarkan hati menantunya itu.
Mama Diana tahu bahwa latar belakang dan juga peristiwa di masa lalu yang membuat Sara merasa rendah diri. Mudah tersakiti dengan ucapan orang lain. Kali ini Mama Diana ingin membesarkan hati Sara. Bahwa Sara adalah wanita yang hebat. Wanita yang sederhana, tetapi justru berhasil dalam keluarga dan juga bisnis yang sekarang dia kelola.
Manusia memang terkadang hanya melihat yang ada di mata mereka, tanpa melihat bagaimana Sara berjuang dari nol, meninggalkan Evan yang masih bayi untuk memberikan kesempatan baru bagi Belva dan juga Anin. Bagaimana melawan babyblues yang menyerangnya, melawan mastitis yang dia alami saat menyapih Evan. Bagaimana Sara berjuang mempertahankan produksi ASI-nya dan mengirimkannya setiap dua minggu sekali bagi Evan supaya putranya bisa terus minum ASI eksklusif. Bagi Mama Diana, justru dia melihat betapa tegar dan juga luar biasanya Sara.
“Makasih Mama … Sara juga bisa menerima semuanya. Lagipula, memang semuanya terjadi dan begitulah adanya. Hanya saja, sebenarnya Sara sudah suka Pak Belva sih, Ma … bagaimana bisa bermain tanpa menggunakan perasaan. Terlebih Pak Belva adalah pria pertama untuk Sara,” aku Sara dengan jujur.
__ADS_1
“Tidak pernah punya pacar sebelumnya?” tanya Mama Diana.
“Tidak Ma … dulu manggilnya Pak Belva, sekarang jadi Mas … ya Mas Belva pria pertama untuk Sara,” ceritanya dengan menunduk malu.
“Doa Mama … kamu dan Belva bisa sama-sama menjalani rumah tangga dengan baik. Semua omongan orang tidak harus dimasukkan ke dalam hati. Manusia menilai apa yang baik menurut kacamatanya. Yang penting, kami adalah keluarga kamu. Kamu putri Mama dan Papa, kamu adalah istrinya Belva. Jadi, biarkan saja … nanti akan ada orang lain yang memandang kamu sebagai istrinya Belva. Jadi, kuatkan hati kamu yah.” Mama Diana memberikan nasihat kepada Sara.
“Makasih Mama … wah, Sara jadi terharu … baru masak kayak gini, bisa sambil curhat sama Mama. Makasih banget Ma,” balas Sara dengan tersenyum.
“Sama-sama Sayang … kalau mau curhat, boleh saja. Sering-sering telepon Mama. Mama selalu punya waktu untuk kamu,” balas Mama Diana.
Sara menghela nafas, penuh syukur rasanya. Yang dikatakan Mama Diana sepenuhnya benar bahwa di luar nanti orang-orang mungkin saja akan memandang bahkan membicarakannya karena dia adalah istri seorang CEO perusahaan besar di Ibukota, yaitu Belva Agastya. Sara agaknya harus mempersiapkan diri dan mental untuk bisa menghadapi setiap omongan orang yang bukan hanya baik, tetapi buruknya.
“Mau cobain enggak Ma? Kurang apa,” balas Sara kini.
Mama Diana pun menganggukkan kepalanya, dan mengambil sendok untuk mencoba kuah dari kaldu ayam yang dibuat Sara itu.
“Hmm, enak … persis dengan Timlo yang pernah Mama makan di kota Solo dulu,” balas Mama Diana.
“Tuh, masakan kamu aja enak … pasti Belva makin cinta sama kamu. Kamu istri yang baik Sara, dan Ibu yang baik juga buat Dua Jagoan kamu, Evan dan Elkan,” balas Mama Diana lagi.
“Ah, Mama berlebihan deh … kalau dipuji terus nanti kepala Sara jadi makin besar loh, Ma,” sahutnya dengan tertawa.
Keduanya tertawa bersama. Dengan memasak, dan berada di dapur justru terjadi obrolan yang seru antara mertua dan menantu. Memang ada kalanya dapur justru menjadi tempat yang seru untuk mengobrol, bercanda, dan juga curhat.
__ADS_1