Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Kecemburuan?


__ADS_3

Rasanya aneh, tetapi sikap Belva kali ini menunjukkan bahwa pria itu seolah tengah cemburu dengan Sara. Bahkan dari setiap gerakan tangannya yang menyemprotkan hand sanitizer ke tangan Sara, hingga mengusapnya perlahan, terlihat jelas sebenarnya jika seorang Belva tengah cemburu. Akan tetapi, pria itu tetap tidak mengucapkan perasaannya. Sehingga, Sara pun hanya diam dan hanya mengamati tangan besar Belva yang masih mengusapi telapak tangannya.


Lagi, Belva menyemprotkan hand sanitizer beraroma lemon ke tangan Sara. Merasa bahwa tangan Sara sudah bersih, Belva lantas menghela nafasnya.


“Sudah bersih sekarang,” ucapnya sembari menyimpan kembali hand sanitizer.


“Memangnya aku abis memegang kuman atau virus gitu ya Pak? Sampai banyak banget menyemprotkan hand sanitizernya,” sahut Sara. Jelas bahwa wanita itu tengah menggerutu lantaran banyaknya hand sanitizer yang Belva semprotkan ke tangannya.


Nyatanya Belva hanya diam dan tidak ingin menjawab ucapan Sara. Pria itu lantas mulai melajukan mobilnya. Menyisir jalanan ibukota dengan hujannya yang cukup lebat. Lantaran hujan dengan begitu derasnya dan juga jarak pandang tidak jelas, sehingga Belva memilih menepikan mobilnya terlebih dahulu. Pikirnya sembari menunggu hujan agak reda.


“Kok berhenti di sini Pak?” tanya Sara yang bingung karena Belva menghentikan mobilnya.


“Hujannya deras banget Sara, jarak pandang di depan tidak kelihatan. Kita berteduh di sini dulu saja. Tungguh sampai hujan agak reda,” sahutnya.


Sara pun mengangguk. Wanita itu kemudian memilih memalingkan wajahnya, melihat pemandangan di luar sana dengan hujan yang begitu deras. Beberapa pepohonan tampak bergoyang tertiup angin, jalanan pun juga tergenang dengan air hujan, sementara di dalam mobil Belva dan Sara hanya sama-sama diam.


Akan tetapi, saat Sara diam dan mengingat tentang hujan begitu deras, Sara tiba-tiba saja teringat dengan kali pertama dia hujan-hujan dengan Belva di Pulau Jeju beberapa bulan yang lalu. Dari hujan-hujan itulah menimbulkan efek yang tak terkira, hingga bersemilah kehidupan baru yang kini sedang bertumbuh di dalam rahimnya. Mengingat semua itu, rasanya hati Sara begitu berdesir. Namun, Sara harus segera menyingkirkan itu jauh-jauh. Perlahan tangan Sara bergerak untuk mengusapi perutnya.


Belva pun melihat tangan telapak tangan Sara tengah mengusapi perutnya, refleks tangan Belva turut mengusapi perutnya Sara dengan gerakan naik turun.


“Kenapa, apa perutmu sakit?” tanya Belva sembari melirik kepada Sara.


“Tidak, hanya saja Ibu Hamil disarankan untuk mengusapi perutnya karena gerakan seperti ini bisa menstimulasi bayi sejak mereka di dalam kandungan,” jawab Sara.


Belva pun mengangguk, “Oh … begitu ya, aku kira kamu merasa perutmu sakit kencang atau lapar mungkin,” ucap Belva dengan telapak tangannya yang masih mengusapi perut Sara.

__ADS_1


“Tidak, aku tidak lapar kok … hanya tiba-tiba jadi ingin tahu saja, si Baby di dalam sini sedang ngapain,” jawab Sara.


Sebenarnya, wanita itu tengah menyembunyikan sesuatu sekarang ini. Yang dipikirkannya sekarang ini adalah bagaimana hujan yang lebat saat dirinya pergi bersama ke Korea Selatan beberapa bulan yang lalu menghasilkan benih yang sudah bersemi di dalam ladangnya. Bahkan tidak terasa sudah empat bulan berlalu, hanya menyisakan lima bulan lagi dan putranya akan segera lahir.


Setelahnya, Belva kembali melirik kepada Sara, “Sara, boleh aku meminta sesuatu?” tanya Belva.


Sara kemudian mengangguk, “Iya, ada apa Pak?” tanyanya.


“Begini, aku tidak melarangmu untuk mengikuti kelas di Kopi Lab itu. Hanya saja, tolong jangan terlalu dekat dengan pria itu. Aku merasa, pria itu menyukaimu,” ucap Belva.


Ya, ucapan Belva bukan sekadar ucapan semata. Dalam hatinya, Belva merasa bahwa pria yang tadi menunggu bersama Sara itu seolah menaruh hati kepada Sara. Ada rasa bahwa Belva tidak ingin ada pria lain yang dekat dengan Sara.


“Apa Pak Belva cemburu?” tanya Sara dengan lirih.


Perkataan yang baru saja diucapkan Belva itu terdengar begitu posesif. Hingga Sara pun tersenyum,


“Kenapa kamu tersenyum?” tanya Belva usai melihat Sara yang duduk di sebelahnya justru tersenyum.


“Ah, tidak … tidak ada apa-apa. Hanya saja, aku pikir Pak Belva sedang cemburu,” jawab Sara dengan lirih.


Belva pun lantas terdiam, pria itu tengah berpikir benarkah dirinya sedang cemburu saat ini? Benarkah dirinya merasa tidak suka jika ada pria lain yang mendekati Sara? Rasa ini terasa asing, tetapi nyatanya memang itulah yang dirasakan Belva.


“Sara, kalau nyatanya aku cemburu bagaimana?” tanya Belva kemudian.


Ada dorongan dalam hatinya yang membuat pria itu untuk berani menanyakan sesuatu seperti itu kepada Sara.

__ADS_1


Sara pun diam, wanita itu tampak mengusapi jemarinya yang saling bertaut. Resah sebenarnya. Akan tetapi, Sara juga tidak ingin terlalu percaya diri. Lagipula, ada jurang yang begitu dalam antara dirinya dan Belva. Untuk itu, Sara segera membuang jauh-jauh pikirannya sendiri.


Wanita itu kemudian tersenyum hambar, “Hemm, rasanya Pak Belva tidak mungkin cemburu padaku,” jawabnya lirih.


Namun, di sampingnya Belva tampak menyorot tajam penuh makna pada diri Sara. Pria itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Sara hingga hembusan nafas pria itu seolah membelai wajah Sara. Hanya diam, saling menatap tanpa bersuara, hingga akhirnya Belva mengikis sejengkal jarak wajahnya dan kemudian pria itu melabuhkan kecupan di bibir Sara yang merekah layaknya kelopak bunga itu. Mengecupnya sekian lama.


Mmphh!


“Selama bersamaku, jangan biarkan pria lain untuk menyentuhmu, Sara. Aku tidak menyukai itu,” suara pria itu terdengar begitu dalam di indera pendengaran Sara.


Rasanya Sara terpaku pada satu sosok dan itu adalah Belva. Perkataan yang terdengar begitu posesif. Pria itu mengatakan bahwa dia tidak menyukai jika ada pria lain yang mendekatinya. Sara tampak menerka-nerka mungkinkah Belva sudah memiliki perasaan lain kepadanya? Akan tetapi, sebagai seorang wanita dirinya membutuhkan pengakuan, membutuhkan pernyataan. Sebab, perasaan yang tidak pernah diucapkan juga tidak akan berbalas. Hanya sekadar mengetahui isi hati juga tidak ada gunanya tanpa mengucapkannya.


Setelahnya, Belva masih menatap Sara dengan dalam. Pria itu lantas sedikit mengangkat dagu Sara, kembali melabuhkan ciumannya kepada wanita yang duduk di sampingnya itu. Kali ini bukan hanya sekadar kecupan seperti sebelumnya, tetapi Belva meraih tengkuk Sara, menyesap kedua belah lipatan bibir Sara atas dan bawah. Mencumbunya dengan begitu dalam, seolah bibir dan lidahnya bergerak begitu seirama untuk merasai semua pesona yang ada di dalam bibir Sara. Membiarkan dentingan hujan di luar sana turut mengalun bagai simfoni yang mengiringi bagaimana pria itu membuai bibir Sara dengan begitu dalamnya.


Belva lantas sedikit menelengkan kepala, bibirnya seolah menekan bibir Sara dan memagutnya dengan begitu dalam. Hingga tanpa terasa decakan memenuhi mobil itu.


Merasa bahwa oksigen yang mereka hirup kian menepis, Belva lantas melepas tautan bibirnya. Pria itu menyatukan keningnya dengan kening Sara, “Selama bersamaku, kamu milikku Sara. Sebab, di dalam rahimmu ada anakku. Jadi, jangan membuka celah bagi pria manapun,” ucap Belva dengan suaranya yang dalam.


Ya Tuhan, rasanya kegelisahan melingkupi hati Sara sekarang ini. Saat dirinya tengah berupaya menekan jauh-jauh perasaannya sendiri, dan kini yang terjadi Belva justru menciumnya, mengatakan perasaan yang begitu ambigu.


Jangan mempermainkan aku seperti ini, Pak Belva.


Sikap dan perkataanmu ini sangat meresahkan bagiku …


Sara berteriak begitu kencang dalam hatinya dan berharap Belva mengambil keputusan terkait dengan perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2