
Semua kata yang baru saja diucapkan oleh Belva seakan membuat hati Sara kian sesak. Dirinya begitu rindu, tetapi masih ada ragu di dalam hatinya. Di lain itu, Sara pun kasihan dengan Belva yang rela kedinginan dan kehujanan di luar rumahnya. Rasanya Sara tidak ingin jika suaminya itu harus sakit karena terlalu lama di luar.
Hari kian malam, hujan pun kian turun dengan begitu derasnya. Sementara Belva masih menunggu di depan pintu rumah Sara. Memang badannya tidak lagi kehujanan, tetapi udara dingin yang menusuk sampai ke tulang tetap dirasakan oleh Belva. Kendati demikian, pria itu masih menunggu di tempatnya. Memberi Sara waktu untuk berpikir dan dia akan menunggu sebanyak waktu yang dibutuhkan oleh Sara.
Wanita yang tengah kalut itu, sebenarnya juga resah memikirkan Belva. Menjelang pukul 20.00, barulah Sara membukakan pintu untuk Belva. Wanita itu berlinangan air mata melihat wajah Belva yang menunduk, dan masih setia berada di depan rumahnya.
“Sayang,” ucap Belva begitu melihat Sara membukakan pintu.
Pria itu segera mengambil langkah, berjalan dengan pasti, dan menghambur untuk memeluk Sara.
“Aku kangen kamu, Sara … sangat merindukanmu,” ucap Belva dengan sungguh-sungguh.
Berjam-jam menunggu di luar saja sudah membuat Belva begitu rindu, bagaimana jika dirinya harus berpisah selama seminggu dari istrinya itu. Membayangkannya saja, Belva tidak bisa. Lebih baik, Belva berjuang dan menunggu Sara hingga wanita itu melembutkan hatinya dan membukakan pintu untuknya.
Kedua tangan Sara luruh begitu saja, tidak membalas pelukan Belva. Akan tetapi, wanita itu masih terisak-isak dalam tangisannya.
“Hei, kenapa kamu justru menangis,” tanya Belva dengan lirih.
Tak ada jawaban dari Sara. Yang ada hanyalah isakan yang disertai dengan air mata yang terus berlinang. Air mata yang sedari tadi membasahi wajahnya. Air mata yang menganak sungai dan tidak pernah habis.
“Masuk dulu Mas,” ucap Sara sembari mendorong dada Belva untuk mengikis jarak darinya.
Belva pun mengurai pelukannya dan segera memasuki rumah Sara. Pria itu mengekori Sara, dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Sara bukannya menutup mata, Sara juga menyediakan handuk dan menyerahkannya kepada suaminya itu.
“Keringkan dulu,” ucapnya.
Melihat Sara yang masih memperhatikannya, Belva pun tersenyum. Dia sangat tahu bahwa perasaan rindunya tidak satu pihak. Sara juga sangat merindukannya, hanya saja rasa sakit dan cemburu di hatinya yang lebih mendominasi.
__ADS_1
“Kamu habis ujan-ujan, mandi dulu saja,” ucap Sara lagi.
Belva menganggukkan kepalanya, pria itu lebih baik mengikuti saja apa yang diperintahkan Sara kepadanya. Pria itu bahkan dengan sengaja melucuti satu per satu pakaiannya di hadapan Sara, sebuah tindakan yang membuat Sara menundukkan wajahnya.
“Aku mandi yah,” pamit Belva kepada istrinya itu.
Akan tetapi, Sara justru memalingkan wajahnya. Malu melihat Belva yang dengan percaya diri membuka pakaian di hadapannya. Begitu Belva sudah masuk ke dalam kamar mandi, kemudian Sara menyiapkan baju ganti untuk suaminya itu.
Hanya membutuhkan waktu lima belas menit, Belva keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggangnya. Dada bidang pria itu terekspos begitu saja, menunjukkan otot-otot yang liat di sana.
Sara melihat suaminya, memilih untuk keluar dari kamar. Bagaimana pun perasaan sebal masih mendominasi, sehingga Sara tidak akan membuka celah untuk suaminya itu. Biarlah semua permasalahan akan diselesaikan terlebih dahulu.
Belva yang memahami reaksi Sara memilih untuk memakai pakaiannya, setelahnya pria itu menyusul Sara yang tengah menyiapkan Teh di dapur. Tanpa permisi pria itu segera mendekap tubuh Sara, memeluknya dari belakang.
“Aku kangen,” ucapnya sembari menggerakkan dagunya ke kanan dan ke kiri di bahu Sara.
Sara masih diam dan tidak merespons ucapan Belva. Sara masih memilih untuk fokus menyelesaikan kegiatannya menyeduh Teh hangat untuk suaminya itu. Bahkan kini, Sara seakan bergerak dan ingin melepaskan diri dari dekapan suaminya itu.
Belva mengurai tangannya dari tubuh Sara, dan kemudian menyesap Teh yang masih hangat itu. Pria itu lantas mengucapkan terima kasih kepada Sara.
“Makasih Sayang,” ucapnya.
Setelahnya, Belva menaruh cangkir keramik berwarna putih itu di atas meja dan kemudian membawa Sara untuk duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
“Kamu sebel? Kamu cemburu? Kamu tidak percaya sama aku?” tanya Belva kepada istrinya itu.
“Hmm,” sahut Sara dengan singkat. Terlihat seperti para wanita pada umumnya yang ketika marah hanya bisa memberi jawaban singkat.
__ADS_1
“Kamu kalau marah, sebel, dan sebagainya bilang sama aku. Aku kan sudah memberikan penjelasan. Aku bahkan akan memecat Annisa dari perusahaanku,” ucap Belva dengan yakin.
Merasa bahwa sekretaris barunya adalah sumber masalah baginya dan mengguncang keharmonisan rumah tangganya, maka Belva memang berencana untuk memecat sekretaris barunya tersebut.
“Kenapa?” tanya Sara.
“Aku lebih baik bekerja hanya dengan Ridwan, dan memastikan kamu baik-baik saja. Kamu dan situasi hatimu sangat penting buatku,” jelas Belva kali ini kepada Sara.
“Bohong … lalu foto-foto itu?” tanya Sara.
Belva menghela nafas dan kemudian kembali berbicara, “Itu ada orang yang sengaja melakukannya. Aku sudah menyelidikinya. Dia ingin kita bertengkar dan akhirnya rumah tangga kita tak terselamatkan,” jawab Belva.
Rasanya Sara begitu tercekat saat mendengarkan ucapan Belva. Sara bertanya-tanya dalam hati, siapakah orang yang sengaja melakukan semua itu kepadanya dan kepada keluarga kecilnya.
“Aku minta maaf … jangan marah dan ngambek lagi. Sebel boleh, tetapi jangan menghukumku dengan pergi dari sisiku,” ucap Belva lagi.
“Habis aku sebel,” jawab Sara.
Sebagai wanita dan dalam kondisi hamil, memang tidak dipungkiri bahwa Sara begitu sebal dan perasaan hatinya yang jauh lebih mendominasi. Akan tetapi, apa yang disampaikan Belva pun benar bahwa tidak seharusnya dia pergi dari sisi suaminya.
“Maafkan aku,” ucap Sara lagi. Ya, Sara pun menyadari kesalahannya. Tidak semestinya dia pergi dari sisi Belva dan Evan.
Seharusnya Sara menjadi wanita yang dewasa dan memikirkan perasaan Belva dan juga Evan. Akan tetapi, kali ini justru perasaannya yang lebih mendominasi.
Belva pun tersenyum dan membelai sisi wajah Sara, “Di hadapanmu aku berjanji bahwa di dalam hati dan hidupku hanya ada kamu. Jangan terpengaruh dengan kabar-kabar miring di luar sana. Yang pasti aku akan memastikan bahwa aku akan selalu setia kepadamu,” ucap Belva dengan sungguh-sungguh.
Ucapan Belva yang terasa tulus dan sungguh-sungguh nyatanya mampu menggetarkan hati Sara. Wanita itu pun berlinangan air mata, dan menghambur dalam pelukan Belva, mencerukkan wajahnya di sana.
__ADS_1
“Janji?” tanya Sara.
“Janji, Sayang. Belva hanya untuk Sara, selamanya.” Belva membalas dengan sepenuh hati dan keyakinan bahwa Belva sudah berketetapan hati bahwa dirinya hanya untuk Sara seorang.