Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Partner Bisnis


__ADS_3

Sebelum makan siang itu usai, Sara hendak berdiri dan ingin membayar makan siangnya. Akan tetapi, Zaid terlebih dahulu berdiri dan mengeluarkan uang untuk membayar makanan mereka berdua.


“Biar aku saja, Sara,” ucapnya.


“Eh, gak usah … aku bayar sendiri saja,” jawab Sara yang merasa tidak enak.


Akan tetapi, rupanya Zaid yang terlebih dahulu mengeluarkan dompetnya dan membayar dua porsi Nasi Padang yang dimakannya dan Sara. Setelahnya itu, Zaid kembali duduk dan memasukkan dompetnya ke dalam kantong sakunya.


“Kamu mau pulang? Mau aku antar?” tawar Zaid kepada Sara. Ya, pikirnya dia bisa mengantar Sara terlebih dahulu, sebelum mensurvei lokasi kafe terbarunya nanti.


Akan tetapi, Sara dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak … tidak perlu. Aku sendiri saja,” balasnya.


“Tunggu Sara … jadi gimana kamu mau membuka bisnis Coffee shop?” tanya Zaid lagi.


“Iya … cuma aku harus persiapkan semua dengan matang. Sekaligus memanfaatkan ilmu yang didapatkan di Kopi Lab dulu,” balas Sara.


Pria itu pun tertawa, tidak mengira jika mengikuti kelas di Kopi Lab dulu, sekarang Sara justru terpikir untuk mengaplikasikan ilmu yang didapatkan sewaktu mengikuti kelas dulu. Di hadapan Zaid sekarang ini, tentu saja bahwa Sara adalah wanita yang unik.


“Maukah kamu jika kita bisa berpartner. Ya, seperti partner bisnis gitu. Aku kan sudah memulainya terlebih dahulu, mungkin saja bisa membantumu dan menolongmu untuk membuka usaha baru,” jelas pria itu.


Tentu saja Zaid mengatakan semuanya itu bukan tanpa alasan. Sebab, usai selesai di Kopi Lab, buktinya Zaid berhasil mendirikan sebuah kafe dan menu yang dia miliki pun terbilang unik dan juga bisnisnya cukup berkembang. Untuk itulah, Zaid menawarkan kepada Sara untuk bisa menjadi rekan bisnis bagi wanita yang unik di matanya itu.


"Maksudnya bagaimana?" tanya Sara.


"Simpel saja Sara. Kamu kan ingin memiliki coffee shop, aku yang akan mengajari kamu dari awal. Lakukan semuanya step by step. Terus berusaha, aku yakin kamu pasti bisa. Jadi gimana mau enggak?" tawar Zaid lagi.

__ADS_1


Sara masih diam dan mencoba berpikir. Setidaknya jangan sampai dia salah jalan dan salah langkah. Sekalipun ada Zaid yang siap menolongnya dan menawarkan menjadi partner bisnis, tentu saja Sara memiliki berbagai pertimbangan lain.


"Kalau aku, memilih membeli rukonya bagaimana?" tanya Sara pada akhirnya.


Zaid pun mengernyitkan keningnya, pasalnya harga beli sebuah ruko tentu sudah berkisar ratusan juta rupiah. Jika Sara mampu membelinya, sudah pasti juga Sara memiliki modal yang cukup untuk membuka coffee shop atau katakan kafe dengan uang yang dimiliki Sara. Tak bermaksud merendahkan Sara, hanya saja di mata Zaid, Sara adalah wanita yang sederhana. Tidak terlihat mencolok, justru sikapnya terkesan santun. Zaid justru tidak mengira bahwa Sara akan berniat membeli sebuah ruko.


"Itu ide bagus, Sara ... jika bisa membeli, beli saja. Menurutku kamu justru akan lebih berhemat karena tidak memikirkan lagi biaya sewa nantinya. Selain itu, biaya sewa ruko itu bisa dipastikan akan naik setiap tahunnya, jika sudah membelinya kamu bisa lebih berhemat," balas Zaid.


Mendengar penjelasan Zaid, Sara pun kemudian menganggukkan kepalanya. Yang ada di kepalanya sekarang ini, memang dengan membeli ruko atas namanya sendiri, Sara tidak perlu terlalu pusing memikirkan harga sewa yang bisa naik setiap tahunnya.


"Oke ... karena aku sudah berniat membeli sebuah ruko," ucap Sara pada akhirnya.


"Di mana?" tanya Zaid.


"Iya, itu benar. Jadi, kapan kamu akan bersiap membukanya?" tanya Zaid kemudian.


"Satu bulan lagi. Aku harus menyiapkan soft openingnya dan melakukan branding, hingga promosi," balas Sara lagi.


"Kamu sudah melakukan persiapan yang matang Sara. Jangan ragu lagi, semakin cepat kamu memulainya justru akan semakin bagus. Pikirkan juga signature dish di tempatmu. Itu yang akan menjadi salah satu menu paling recommended di tempatmu," imbuh Zaid.


Memikirkan signature dish atau menu istimewa yang dia miliki, Sara teringat dengan satu minuman yang enak menurutnya yaitu Frappuccino. Ya, Sara akan menjadikan Frappuccino buatannya sebagai rekomendasi menu di coffee shop miliknya.


"Aku sudah punya," sahut Sara pada akhirnya. Pada kenyataannya Sara telah mengonsep apa saja yang hendak dia jual. Juga menu spesial apa yang dia miliki dan tidak dimiliki oleh coffee shop yang lain. Pikir Sara, semua itu akan menjadi nilai jual coffee shop miliknya nanti.


"Apa?" tanya Zaid. Pria itu pun menjadi penasaran dengan signature dish yang dimiliki Sara.

__ADS_1


"Frappuccino," balas Sara dengan cepat.


"Oh ... Frappuccino. Bisa juga. Sejauh ini banyak minuman kopi, cokelat, dan sejenisnya. Hanya saja Frappuccino tidak banyak orang yang menjualnya," balas Zaid.


Akan tetapi, kali ini hati Sara berdesir. Membicarakan Frappuccino justru wanita itu teringat kepada Belva. Bagaimana dulu, Sara membuatkan Frappuccino dingin untuk pria itu. Mengujicobakan setiap resep minuman yang dia dapatkan dari Kopi Lab dan menjadikan Belva layaknya kelinci percobaan. Kendati demikian, Belva juga mau-mau saja dan meminum semua minuman yang dibuatkan oleh Sara. Memikirkan Belva kembali, membuat Sara terasa sesak di dada.


Melihat air muka Sara yang berubah, Zaid pun menanyai Sara.


"Kenapa justru bengong?" tanyanya.


Dengan cepat Sara menggelengkan kepalanya, "Tidak. Tidak apa-apa," balas Sara.


Sara harus cepat-cepat mengalihkan pikirannya saat ini. Sudah berapa banyak waktu berlalu, hanya saja terdapat beberapa hal yang masih membuatnya teringat kepada Belva. Sara harus mengingatkan dirinya sendiri bahwa Belva adalah masa lalu baginya. Masa lalu yang akan di belakangnya, masa lalu yang seharusnya tidak dia ingat terus-menerus. Sayangnya, beberapa hal kecil justru membuat Sara lagi dan lagi mengingat sosok Belva.


“Oh, aku kira ada sesuatu hingga membuatmu terbengong seperti itu,” balas Zaid.


“Jadi bagaimana? Mau berpartner denganku?” tawar Zaid kepada Sara.


Lagi Sara tampak tengah berpikir. Memang mungkin dirinya memerlukan partner atau mentor yang akan menolong dan membantunya untuk mewujudkan Coffee shop keinginannya itu.


Hingga beberapa saat kemudian, Sara kemudian menganggukkan kepalanya, “Iya … baiklah. Aku mau,” balas Sara.


“Good job! Tenang Sara, aku akan membantumu dan membuatmu berhasil hingga memiliki cabang di kota-kota lain nantinya,” sahut Zaid.


Pria itu berbicara dengan sangat meyakinkan dan berjanji akan membuat Sara berhasil hingga bisa memiliki cabang-cabang di kota-kota lainnya. Dengan usaha maksimal dan telaten, Zaid yakin bahwa coffee shop yang akan didirikan Sara pada akhirnya akan begitu sukses hingga bisa membuka berbagai cabang di luar kota nanti.

__ADS_1


__ADS_2