
Hampir sore, Evan baru saja bangun. Anak berusia 4 tahun itu bangun dengan tersenyum lebar di wajahnya. Kembali tidur bersama Mama dan Papanya membuat Evan begitu bahagia rasanya. Akan tetapi, rupanya Evan tidak langsung bangun. Nyatanya Evan justru kembali masuk ke dalam pelukan Mamanya. Pergerakan Evan pun membuat Sara terkesiap, wanita itu perlahan mengerjap. Rupanya ada Evan yang masih memeluknya.
Tangan Sara perlahan bergerak dan mengusapi kepala Evan, “Kamu sudah bangun Van?” tanyanya.
“Hmm, iya … sudah Ma,” balas Evan.
“Tadi gimana penerbangannya, Evan suka enggak?” tanya Sara lagi.
“Suka dong Ma … Evan tuh suka naik pesawat. Kadang Evan ikut Papa kalau ada pekerjaan di luar kota. Itu karena dulu Evan belum ketemu Mama. Kalau Evan sudah ketemu Mama, jadi Evan di rumah saja sama Mama,” cerita Evan dengan matanya yang berbinar.
Ada rasa terharu yang dirasakan Sara kali ini. Mungkin karena Belva harus sendiri selama 2 tahun terakhir, membuat Belva harus membawa Evan setiap kali pergi itu pergi ke luar kota. Kini, Sara akan berjanji bahwa dia akan selalu menjaga Evan. Mengasuh putranya itu, dan memberikan perhatian untuk Evan.
“Mulai sekarang, kalau Papa ada pekerjaan di luar kota. Biarkan saja ya … Evan di rumah sama Mama. Mama akan selalu menjaga dan mengasuh Evan. Gimana, Evan mau kan?” respons Sara kepada putranya.
“Iya Ma … mau,” balas Evan.
Rupanya pria lain yang berbaring di belakang punggung Sara, diam-diam mendengarkan perbincangan Sara dengan Evan. Sembari masih memejamkan matanya, Belva tersenyum karena Sara memang Ibu yang perhatian untuk Evan. Belva yang sebenarnya tadi sudah bangun pun, kini bisa mendengarkan percakapan antara istri dan putranya itu. Pria itu mengeratkan pelukannya di pinggang Sara dengan kepala yang menempel di punggung Sara.
“Papa jadi tidak pengen kerja sampai ke luar kota karena sudah ada kalian berdua.” Belva berbicara dengan tiba-tiba, membuat Sara dan Evan menoleh ke Belva yang masih memejamkan matanya itu.
Ketiganya pun lantas tertawa, Evan sungguh bahagia bisa memiliki orang tua yang utuh seperti ini. Impiannya untuk memiliki Papa dan Mama pun terkabul.
“Pa, Evan mau makan Pizza, Pa,” pinta Evan tiba-tiba.
“Sudah malam Van, besok siang saja ya kita makan Pizza,” balas Belva.
“Oke deh Pa,” sahut Evan dengan cepat.
Belva pun mengangguk, esok dia akan membawa keluarga kecilnya untuk mengunjungi sensasi menikmati Pizza khas Italia di tepi pantai. Tentu Evan akan sangat suka, bisa sembari bermain-main air di tepi Pantai Trikora yang sejuk dan tenang. Liburan bulan madu memang sudah usai, tetapi mereka akan melanjutkan untuk melakukan liburan keluarga.
__ADS_1
***
Keesokan harinya ….
Keluarga Belva dan Keluarga Amara kini mendatangi sebuah tempat yang bernama Pizza Casa de Italia. Tempat ini adalah sebuah tempat untuk menikmati Pizza khas Italia di mana chef nya adalah asli orang Italia. Tempat yang berada di tepi Pantai Trikora itu menyuguhkan sensasi menikmati Pizza khas Italia di tepi pantai. Menikmati pantai yang begitu tenang, angin yang bertiup dengan sepoi-sepoi. Panorama outdoor yang menyata dengan pantai itu bisa dimanfaatkan pengunjung untuk sekalian bermain air atau berjalan-jalan di bibir pantai.
Beberapa jenis Pizza mereka pesan saat itu mulai dari Tuna Melt, hingga Chessy untuk Evan dan juga Jerome. Yang unik karena sekarang mereka menikmati Pizza sembari menikmati kelapa segar.
Selang lima belas menit, semua Pizza yang mereka sudah tersaji di hadapan mereka.
“Mama, Evan yang Pizza keju, Ma,” pinta Evan.
Sara pun menganggukkan kepalanya dan mengambilkan sepotong Pizza untuk Evan.
“Ini Sayang, dimakan pelan-pelan yah,” ucap Sara.
Kemudian, Sara menatap ke suaminya yang duduk di hadapannya kali ini. “Papanya Evan mau Pizza yang mana? Biar aku ambilkan,” ucap Sara kepada Belva.
Belum sempat Sara mengambilkan Pizza untuk Belva ternyata Amara dan Rizal tertawa mengamati Belva dan Sara. Pengantin baru memang beda. Amara pun tidak segan untuk berkomentar.
“Dipanggil Sayang rasanya gimana Kak Sara?” tanya Amara.
Sara hanya tersenyum dan menundukkan wajahnya, begitu malu rasanya. Akan tetapi, bagaimana lagi suaminya itu memang memanggilnya Sayang.
“Berarti kamu bener-bener spesial untuk Kak Belva loh Kak … dipanggilnya saja Sayang. Dibalas Kak, pasti Kak Belva suka juga tuh kamu panggil Sayang,” balas Amara.
Belva hanya berwajah datar seperti biasanya, sementara Sara terlihat malu-malu. Belva yang tadi duduk di hadapan Sara, kini justru berpindah tempat di samping istrinya itu.
“Mana Pizzanya, aku gak jadi kamu ambilkan?” tanya Belva.
__ADS_1
“Eh, iya … sampai lupa. Papa mau yang mana?” tanya Sara.
“Tuna melt saja … minta sausnya sedikit yah,” balas Belva.
Sara segera mengambilkan Pizza sesuai dengan Belva minta. Mengambilkannya di sebuah piring kecil dan memberikan sedikit saus pedas di atasnya.
“Silakan,” balas Sara.
Saat Sara dan Belva menikmati Pizza, rupanya Jerome mengajak Papanya untuk jalan-jalan di pantai. Evan pun rupanya juga ingin ikut. Sehingga Evan, Jerome, Amara, dan Rizal sekarang jalan-jalan di pantai.
“Kalian berdua saja Kak … biar Evan sama aku. Menikmati momen romantis makan Pizza di tepi pantai,” ucap Amara sembari meninggalkan Kakaknya itu.
“Hmm, iya,” sahut Belva dengan singkat.
Sepeninggal Amara dan yang lainnya, Belva pun segera menaruh tangannya untuk melingkari pinggang Sara. Membawa kepala wanita itu untuk bersandar di bahunya.
“Mas, malu … nanti kalau ada yang lihat gimana?” tanya Sara.
“Enggak usah malu … yang ada di sini cuma keluarga kita saja kok. Sebentar saja … lima menit,” balas Belva.
Sara pun akhirnya menganggukkan kepalanya, menikmati waktu berdua di tepi pantai yang teduh dengan angin sepoi-sepoi yang membuat suasana menjadi begitu romantis. Belva lantas membelai sisi wajah Sara, dan sedikit menundukkan kepalanya, melabuhkan sebuah kecupan di bibir Sara.
Chup!
“Mas,” ucap Sara terdengar memekik dan menengadahkan wajahnya melihat wajah suaminya itu.
“Curi-curi dikit, lihat bibir kamu kalau enggak dikecup itu, rasanya ada yang kurang Sayang,” balas Belva dengan santainya.
“Nakal banget sih … Mas, kita mau di Bintan sampai kapan?” tanya Sara kali ini.
__ADS_1
“Besok kita ke Singapura, Sayang … aku akan mengenalkanmu kepada Mama dan Papaku. Kita berangkat dari Tanjung Pinang,” balas Belva.
Sara hanya menganggukkan kepalanya, gugup sebenarnya lagipula dirinya belum pernah bertemu Mama dan Papanya Belva sebelumnya. Tidak tahu bagaimana karakter mertuanya itu dan apakah mertuanya Belva bisa menerimanya? Kendati demikian, Sara memilih tenang dan menghadapi semuanya. Lagipula dia memiliki Belva, sehingga dia akan menghadapi semuanya bahkan kemungkinan yang buruk akan Sara hadapi.