Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Bumil's Day Out


__ADS_3

Belva benar-benar membuktikan ucapannya. Tiga hari sebelum hari yang dipilih mereka untuk melahirkan putra kedua mereka, Belva mengajak Sara untuk jalan-jalan dulu. Membiarkan istrinya itu bersenang-senang dan menikmati kebebasan sebelum nanti memiliki bayi dan praktis akan membuat Sara lebih banyak berada di rumah.


Dengan membawa Evan turut serta, Belva mengajak Sara dan Evan jalan-jalan ke salah satu pusat perbelanjaan. Evan bisa bermain di playground dan Sara bisa jalan-jalan dan membeli sesuatu yang dia mau. Jadi, sekalian mendayung, dua tiga pulau terlampaui.


“Sudah siap Mama dan Evan?” tanya Belva kali ini.


“Sudah Papa,” sahut Sara dan Evan dengan serempak. Keduanya terlihat begitu kompak.


“Let’s go … kita jalan-jalan bersama,” balas Belva.


“Let’s go Captain!” seru keduanya lagi-lagi dengan begitu kompaknya.


Belva pun mengemudikan mobil miliknya dengan senyuman yang mengembang, begitu senang dan bahagia memiliki Sara dan Evan di sampingnya. Rasanya kebahagiaan Belva akan kian bertambah dengan hadirnya seorang bayi yang tidak lama lagi akan menambah semarak di hidupnya.


“Kita ke mana Pa?” tanya Evan kali ini.


“Ke Mall, Van … Mama biar bisa jalan-jalan. Kamu juga bisa bermain nanti,” balas Belva.


“Yes, hore … Evan mau bermain boleh Pa?” tanyanya.


“Boleh … nanti main sama Papa yah,” balasnya.


Sampai akhirnya mobil yang dikendarai Belva telah sampai di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Ibukota. Di sana, dia segera mengajak Sara dan juga Evan untuk jalan-jalan bersama. Lantaran Sara menginginkan jalan-jalan, jadi Belva pun tidak keberatan melihat-lihat beberapa outlet di sana.


“Beli saja Sayang … kartuku unlimited buat kamu,” ucap Belva kepada Sara.


“Nanti saja Mas … lagian mau beli apa lagi, di rumah apa-apa sudah ada. Beli sesuatu sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan,” balas Sara.


Sara memiliki background dari kelas menengah, sebelumnya hidup susah sudah menjadi kesehariannya. Sehingga, Sara berpandangan bahwa membeli sesuatu sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan. Alih-alih untuk berbelanja dan membeli barang-barang branded, Sara lebih suka menginvestasikan uangnya untuk membuka cabang baru Coffee Bay di kota-kota yang lain.


“Sesekali menyenangkan diri sendiri tidak masalah,” sahut Belva.


“Ke toko make up dulu ya Mas … aku baru ingat kalau lipstik aku habis,” balas Sara.


Belva dan Evan pun mengikuti Sara menuju konter make up, dan menunggu Sara yang melihat-lihat produk make up dari bedak, alas bedak, maskara, dan lipstik itu. Sara memutuskan untuk membeli bedak dan lipstik yang memang sudah habis.

__ADS_1


Perlahan, Belva mendekati Sara dan berbisik di telinga istrinya itu, “Beli lipstik yang kissproof dong Sayang,” ucapnya kali ini.


Mendengar ucapan dari suaminya itu, membuat kedua mata Sara membelalak. Bagaimana bisa suaminya itu bisa mengerti lipstik dengan jenis kissproof itu. Lipstik kissproof sendiri merupakan salah satu produk lipstik yang sangat digandrungi wanita. Lipstik yang memiliki tekstur matte yang memang disukai wanita karena cukup pigmented dan tidak mudah pudar.


“Enggak ada Mas … cuma Lipstik yang matte aja,” balas Sara.


“Matte yang bebas transfer … kalau aku mau kiss kamu, biar warnanya enggak menempel di bibir aku,” ucap Belva lagi dengan masih berbisik di telinga Sara.


Mendengar kata-kata ‘kiss’ membuat Sara tertunduk malu, kemudian dia berjalan menjauh dari suaminya itu. Sebelum dia ingin merasakan ‘kiss’ dari suaminya, lebih baik Sara segera pergi.


Namun, sia-sia saja Sara menjauh, karena Belva dengan menggandeng Evan tetap mengekori Sara di belakangnya. Bahkan Belva turut melihat-lihat berbagai produk kecantikan wanita itu.


“Beli warna apa Sayang?” tanya Belva lagi.


“Pink potion dan pink almond, Mas … cocok enggak sih ini di bibir aku?” tanya Sara yang meminta saran kepada suaminya itu.


“Pakai warna apa saja cantik kok Sayang … yang bikin cantik itu bibir kamu, bukan lipstiknya,” balas Belva dengan begitu santainya.


“Ishs, Papa ih … nakal,” balas Sara.


Pria itu dengan santai melenggang ke kasir dan membayar belanjaan istrinya itu. Tidak malu untuk membayar kosmetik milik istrinya itu.


“Yuk, sudah … mau beli apa lagi?” tanya Belva.


Terlihat Sara menggelengkan kepalanya, “Enggak sudah kok Mas,” balasnya.


“Evan mau main Pa … ayo, Pa … kapan mainnya?” tanya Evan.


“Ya sudah, sekarang main dulu ya. Mama kalau pengen sesuatu lagi, nanti usai Evan bermain yah. Papa akan turutin semua maunya Mama dan Evan. Hari ini buat kalian berdua,” balas Belva.


Kini mereka menuju ke tempat bermain, Belva membeli begitu banyak koin untuk mencoba mainan yang ada di sana. Sementara Sara memilih menunggu, wanita yang hamil itu mengamati interaksi suami dan putranya.


Ada canda tawa saat keduanya bermain. Terkadang Sara mendekat dan mengabadikan momen bahagia itu dengan kamera miliknya. Terlihat Evan yang sangat bahagia, dan Belva yang selalu mendampingi Evan.


Hampir dua jam lamanya Belva dan Evan bermain bersama. Banyak sekali permainan yang mereka coba, dan hasil menukar kupon yang Evan dapatkan membuatnya mendapatkan boneka sebagai hadiah menukar kupon.

__ADS_1


“Mama, Evan bawa boneka Ma,” teriaknya dengan riang.


“Wah, hebat … kupon bermainnya Evan dapat banyak yah?” tanya Sara.


“Iya … banyak. Ini bonekanya dapat banyak. Semua boneka ini buat Mama,” ucap Evan dengan bangga bisa memberikan boneka untuk Mamanya.


Sara menerima satu dari beberapa boneka yang dimenangkan Evan itu, “Makasih ya Nak … Evan jago main game yah?” tanya Sara lagi.


“Jago dong … Evan mau jadi gamer yang menangin banyak uang saat besar nanti,” balasnya.


Sara hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Evan. “Yang penting Evan sekolah yang pandai yah … sekolah setinggi mungkin. Oke?”


“Oke Mama … Evan akan sekolah yang pintar dan jadi Sarjana seperti Papa,” balasnya. “Ma, Evan lapar … makan yuk Ma,” ajaknya kali ini.


Akhirnya mereka memasuki salah satu restoran Jepang yang menjual Udon dan Tempura di sana, dan Udon menjadi pilihan bagi Sara, Belva, dan Evan, Rupanya usai bermain membuat Evan dan Belva cukup lapar, sampai keduanya terlihat begitu lahap menikmati Udon yang merasa pesan.


“Pelan-pelan makannya … mau nambah? Mama bisa pesenin?” tanyanya kepada suami dan putranya itu.


“Sudah Mama … ini juga sudah kenyang banget kok.” Belva menjawab jika memakan satu porsi Udon saja sudah membuatnya begitu kenyang.


“Evan mau tempura dong Ma … yang Kroket Sapi sama Ebi Furai, Ma,” pinta Evan kali ini.


“Ya, Mama belikan dulu … Evan habiskan dulu makannya yah,” balas Sara.


Sara pun segera membelikan tempura yang diinginkan Evan itu, dan kemudian dia membeli es krim untuk dirinya sendiri. Es krim dengan rasa yogurt mangga menjadi pilihan Sara kali ini. Hanya satu cup, tetapi nanti dia bisa membaginya dengan Evan.


“Ini tempura buat Evan,” ucap Sara.


“Makasih Mama,” balas Evan. “Mama beli es krim yah?” tanya Evan.


“Iya … tiba-tiba Mama pengen beli es krim,” balas Sara. “Evan mau?” tawarnya kepada putranya itu.


“Enggak Ma … buat Mama saja. Kan Mama dan adik bayi yang makan. Evan makan tempura saja kok Ma,” balas Evan.


Belva tersenyum mengamati Evan dan Sara yang saling menyayangi dan mempedulikan satu sama lain. Mengajak Sara dan Evan keluar jalan-jalan, bisa melihat wajah keduanya begitu bahagia sungguh membuat Belva sendiri merasa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2