
Begitu Kalina sudah pergi, barulah air mata menetes begitu saja dari wajah Sara. Tak dipungkiri rasanya sakit saat dia mendengar masa lalu diungkit kembali. Perihal bekerja di bar, sampai transaksi sewa-menyewa rahim yang terjadi antara dirinya dengan Belva empat tahun yang lalu.
Melihat kepedihan di wajah Sara, Mama Diana pun merangkul menantunya itu.
"Sabar Sara," ucap Mama Diana yang berusaha menenangkan Sara.
Tangisan Sara nyatanya kian pecah, bahunya bergetar saat tangan Mama Diana memberikan usapan di bahunya.
"Maafkan Sara, Ma … Sara akui jika dulu Sara wanita hina yang bekerja di bar untuk mengisi perut Sara. Sampai akhirnya Sara bertemu dengan Mas Belva dan transaksi sewa rahim terjadi. Maafkan Sara," aku Sara kali ini dengan berlinang air mata.
Belva mengusap wajahnya dengan kasar saat melihat Sara menangis. Sungguh, dia sangat tidak suka melihat Sara menangis. Akan tetapi, kali ini nyatanya Sara justru tergugu pilu di pelukan Mamanya.
"Sudah Sayang," balas Mama Diana kali ini.
Layaknya anak kecil yang menangis dan mengakui kesalahannya, kali ini Sara melakukan hal yang sama. Dirinya menangis, mengingat apa yang sudah dia lakukan di masa lalu.
"Sudah, Sayang … semuanya itu bukan salahmu. Mama, semua yang dikatakan Kalina tidak benar. Sara memang bekerja di bar, tetapi Belva bisa memastikan bahwa hanya Belva pria pertama dan satu-satunya yang menyentuh Sara," ucap Belva kali ini.
"Mama percaya Belva," jawab Mama Diana.
Perlahan Mama Diana kembali menepuk bahu Sara, "Sara, semua orang memiliki masa lalu. Ada masa lalu yang indah, ada masa lalu yang pahit, dan ada masa lalu yang kelam. Mama tahu, dulu kamu bekerja di bar. Namun, Mama percaya kamu adalah gadis yang baik. Hanya lingkungan bekerjamu saja yang membuatmu mendapatkan penilaian seperti ini. Sudah, jangan sedih yah … Ibu yang usai melahirkan dan masih menyusui jangan sedih-sedih, nanti berpengaruh ke ASI kamu," ucap Mama Diana.
Kesedihan yang memicu stress bisa berpengaruh ke produksi ASI. Bahkan ada jaringan ASI yang mampet dan tidak mengeluarkan ASI. Untuk itu Mama Diana masih berusaha menenangkan Sara. Tidak dipungkiri bahwa memang saat seseorang terkuak masa lalu, merasa kembali sakit dan ada beban yang kembali menghantam dirinya.
Belva berdiri, dan dia segera memeluk Sara. Membenamkan wajah istrinya yang basah karena derai air mata yang terus mengalir ke dalam dadanya, memeluknya erat, bahkan Belva beberapa kali mengusapi puncak kepala Sara.
__ADS_1
“Sudah yah … semuanya tidak perlu dimasukkan ke dalam hati,” ucap Belva.
“Benar Sara … tidak perlu semua dimasukkan ke dalam hati. Lihatlah, Mama tetap sayang kamu, dan lihatlah juga bagaimana Belva yang sangat mencintai kamu. Semua masa lalu biarlah menjadi masa lalu. Yang penting sekarang, kamu adalah menantu Mama, istrinya Belva, dan Mamanya duo E. Sudah jangan menangis terus,” ucap Mama Diana.
“Ke kamar yah … sudah, nangisnya.” Belva mengajak istrinya itu ke dalam kamar, sementara Mama Diana menatap iba pada Sara.
Sebagai wanita, Mama Diana tahu bagaimana perasaan Sara. Mungkin memang saat lahirnya Evan karena sewa-menyewa rahim, tetapi jika itu sudah disepakati Belva dan Sara jadi tidak perlu mempermasalahkan lagi. Lagipula, Belva juga menikahi Sara dulu.
Begitu tiba di dalam kamar, Belva masih memeluk Sara. Pria itu diam, dan memberi waktu bagi Sara untuk menangis. Tidak apa-apa. Belva akan selalu berada di sisinya dan memeluknya.
“Sayang, aku sendiri yang tahu … aku pria pertama yang menyentuhmu kan?” tanya Belva kali ini.
Sara tak mampu menjawab dan terus membenamkan wajahnya di dada Belva. “Apa yang membuatmu sakit hati seperti ini?” tanya Belva pada akhirnya.
Belva yang mendengarkan jawaban Sara, menghela nafas … tidak mengira bahwa sebatas transaksi di masa lalu masih menyisakan luka di dalam hati Sara.
“Hatiku sebagai wanita begitu terluka. Ketika anak dilahirkan berdasarkan cinta dan kasih sayang dari Ayah dan Ibunya, tetapi aku melakukannya karena menyewakan rahimku. Aku menerima uang lima milyar untuk itu,” cerita Sara dengan masih terisak.
Belva mengurai pelukannya, dan menangkup kedua wajah Sara. “Maafkan aku Sayang … aku yang salah di sini. Aku juga tidak tahu Kalina tahu semua itu dari mana. Hanya saja, percayalah … dulu, aku sudah merasakan perasaan kepadamu. Hanya aku tidak bisa mengungkapkannya. Evan, dia buah cinta kita berdua,” tegas Belva kali ini.
“Mas, haruskah aku kembalikan uangmu lima milyar itu? Mendengar semua itu terasa menyakitkan,” ucap Sara.
Belva menggelengkan kepalanya, “Tidak … tidak perlu Sayang, itu bukan uang untuk membeli rahimmu. Namun, itu mas kawin dariku untukmu. Mas kawin untuk pernikahan kita dulu. Di pernikahan kedua kita, aku hanya memberikan seperangkat alat sholat padamu, tidak memberikan yang lain. Kehadiran Evan di dalam hidupku tidak bisa dinilai dengan uang lima milyar.”
Sara masih terisak, sepenuhnya dia menyadari bahwa kehadiran Evan di dalam hidupnya pun tidak bisa dinilai dengan uang lima milyar Rupiah. Kehadiran Evan adalah anugerah terbesar bagi hidup Sara saat itu.
__ADS_1
“Sudah yah … apa lagi yang membuatmu sakit hati? Sini cerita sama Mamas,” ucap Belva.
Ada gelengan samar dari Sara, dan wanita itu kembali membenamkan wajahnya di dada suaminya, dengan kedua tangan yang melingkari pinggang Belva.
“Mas ….”
“Hmm, iya Sayangku,” sahut Belva.
“Mama Diana beneran tidak masalah kan Mas?” tanya Sara.
“Iya, Mama tidak apa-apa. Menurutku malahan Mama bersyukur karena bukan Kalina yang menjadi menantunya. Siapa yang mau memiliki menantu seperti ular itu,” balas Belva.
“Mas, Evan apa tahu kalau dia lahir dari rahim sewaan?” tanya Sara.
“Tidak … tapi dia tahu bahwa dia memiliki dua Mama,” balas Belva.
“Bagaimana jika noda ini suatu saat terkuak dan Evan mendengar semuanya Mas?” tanya Sara.
“Percayalah Sayang, Evan anak yang baik dan bisa menimbang sesuatu dengan hatinya. Evan bisa memahami semuanya,” balas Belva.
Belva sangat yakin suatu hari nanti, Evan bisa memahami semuanya. Namun, ada satu hal yang Belva akan katakan kepada Evan. Apa pun latar belakang bagaimana bisa dia lahir ke dunia, itu memang karena Papa dan Mamanya saling mencintai. Walaupun cinta itu tak terucap dan tak tersampaikan, tetapi di dalam hati tetap ada cinta.
Bagaimana dulu dia menyentuh Sara dengan segenap perasaannya. Belva pun merasa bersalah dan menyesal karena dia yang kali pertama menembus tirai surgawi milik Sara. Belva masih ingat rintihan dan air mata Sara, saat kali pertama dia melakukannya. Memang di awal, Belva berupaya mengelak dan terus bersembunyi. Namun, pada suatu titik Belva menyadari bahwa ada tempat bagi Sara di dalam hatinya.
Perpisahan pilu empat tahun lalu, saat mereka berdua bercinta dengan berurai air mata kian membuat Belva yakin bahwa itu adalah cintanya untuk Sara. Cinta yang tak terucap. Cinta yang tak tersampaikan. Sampai akhirnya Anin berpulang, dan tahun-tahun berganti hingga Belva bisa bertemu Sara dan menjadikan Sara sebagai satu-satunya wanita di dalam hidupnya.
__ADS_1