
Selama
2 minggu sebelum perang, Feng Wei memanjakan Hua Zi dan anak-anaknya. Setiap
hari memasakkan kesukaan mereka, mengiyakan semua permintaan mereka. Feng Wei
pun memberikan liontin pada Xiong Xiong dan Xin Xin. Feng Wei “Gun Gun, Long
Nu, Jin Cheng, Ling Ling, apa kalian yakin ikut ke medan perang besok ?” “yakin
Niang Qin…” keempatnya kompak menjawab. Hua Zi “Feng Wei tidak masalah, mereka
juga bisa belajar” Feng Wei mengangguk “baiklah, ajaklah semua berkumpul hari
ini, aku akan memasak kesukaan semua… biarkan semua bersantai sebelum perang”
Gun Gun “baik, aku akan memanggil semua” tersenyum.
Hua Zi “Feng Wei, kau mau memasak…
biarkan bagian dapur saja yang memasak, nanti kau kelelahan…” Feng Wei “Hua Zi
gege, kau melarangku ikut perang, jadi hanya ini yang bisa kulakukan hihihi…
tenang saja, hanya memasak…” Hua Zi tersenyum “baiklah…” Feng Wei mengecup
kening Hua Zi dan berbalik ke dapur. Hua Zi melihat punggung Feng Wei yang
menjauh ‘kenapa aku merasa Feng Wei sangat jauh ! beberapa hari ini hatiku
tidak tenang, apa akan terjadi sesuatu di perang besok ? tidak, Feng Wei sudah
berjanji tidak ikut campur, hanya memakai Suo Hun Yu, tidak akan ada masalah
pada Feng Wei.’
Mendengar panggilan makan, semua segera
berkumpul di Tai Chen gong, termasuk Meng Hao, Mu Rong, dan Yan Ci Wu. Zhe Yan
melihat Hua Zi yang melamun melihat kearah dapur “Yu Huang, ada apa ? kenapa
melihat kedapur terus ?” Hua Zi “entah apa yang akan terjadi besok… hatiku
tidak tenang, aku merasa Feng Wei akan meninggalkanku…” Lian Song “kau terlalu
khawatir… bukankah Hong Ling sudah berjanji tidak akan ikut dalam perang, hanya
akan tampil menggunakan Suo Hun Yu” Ling Ling “Fu Qin, sebenarnya…” Gun Gun “Fu
Qin, aku dan Ling Ling bermimpi hal yang sama 3 hari berturut-turut” Hua Zi
mengkerutkan kening. Zu Zhe “mimpi apa ?” Ling Ling “kami bermimpi Niang Qin
yang bersimbah darah dan yuhua di hadapan semua” Gun Gun “Fu Qin, aku pernah ke
Ruo Shui He Phan, didalam mimpiku, Niang Qin yuhua dalam pelukan Fu Qin di Ruo
Shui He Phan”.
Mo Yuan “inikan kejadian yuhua yang
lalu…” Ling Ling dan Gun Gun menggeleng “shifu, kami tidak tahu bagaimana dulu
Fu Qin Niang Qin yuhua, tapi di mimpi kami hanya Niang Qin yang yuhua dan…” Hua
Zi “dan apa ?” Gun Gun “setelah Niang Qin yuhua, Fu Qin melupakan Niang Qin
setelah kehilangan cincin itu” Hua Zi tercengang melihat cincin, menggeleng
“tidak, aku tidak akan pernah melupakannya, Feng Wei…” berjalan ke dapur. Zu
Zhe melamun, Lian Song “Zu Zhe, ada apa denganmu ?” Zu Zhe “Lian Song, aku juga
__ADS_1
bermimpi yang sama, tapi…” Lian Song mengkerutkan keningnya “tapi apa ?” Zu Zhe
“tempatnya berbeda… yang dalam mimpiku adalah Tian Ling Dong” semua terkejut.
Mimpi Zu Zhe biasanya akan menjadi kenyataan, karena kemampuan Zu Zhe bisa melihat
masa depan. Sou Wan “bukankah masih 8.000 tahun” Zu Zhe menggeleng. Meng Hao
“hal ini jangan sampai diketahui Di Jun. Di Jun memerlukan konsentrasinya di
medan perang besok” Mu Rong “tenang saja, Di Hou akan menenangkannya”.
Hua Zi yang ke dapur segera memeluk Feng
Wei dari belakang, membuatnya terkejut “Hua Zi gege, apa yang kau lakukan
disini ?” Hua Zi “Feng Wei, aku tidak akan melupakanmu, tidak akan pernah…”
Feng Wei tercengang “apa yang kau katakan ?” berbalik melihat Hua Zi yang
cemberut “Ling Ling dan Gun Gun bermimpi, kau yuhua di Ruo Shui He Phan dan aku
melupakanmu…” Feng Wei tersenyum “bukankah itu sudah kejadian yang lalu…
setelah terlahir kembali memang kau melupakanku kan ! ingatan kita kembali di
Tai Chen gong. Tidak ada yang salah pada mimpi itu !” Hua Zi “Gun Gun berkata cincin ini hilang
!” seperti anak tertindas. Feng Wei “bukankah kau yang menggabungkannya dengan
Ban Xin Liu Li Jie” Hua Zi mengangkat wajah melihat Feng Wei dan mengangguk.
Feng Wei tersenyum “sudah jangan sembarangan berfikir… keluarlah, sebentar lagi
selesai…” Hua Zi memeluk Feng Wei kembali “mengagetkanku…” Feng Wei mengelus
punggung Hua Zi “sudah, tidak usah memikirkan hal lain, kau memerlukan
konsentrasimu besok di medan perang, aku akan menemanimu” Hua Zi mengangguk,
Melihat Hua Zi yang keluar, Feng Wei
menghela nafas dan menggelengkan kepala. Hua Zi yang kembali ke paviliun sudah
tidak setegang sebelumnya. Yang lain yang melihat tidak mengatakan apapun.
Mereka tidak mau konsentrasi Hua Zi terpecah, ada perang di depan mata yang
membutuhkannya. Setelah mendengar kata-kata Feng Wei, Hua Zi terus menekan
ketidak tenangan di hatinya. Semua kata-kata Feng Wei benar adanya, tapi
hatinya tetap tidak dapat merasa tenang. Difikiran Hua Zi, ingin segera
menyelesaikan perang dan terus bersama Feng Wei, untungnya Feng Wei sudah
berjanji menemaninya di medan perang. Hua Zi sangat takut Feng Wei akan
meninggalkannya, kemanapun ingin membawa Feng Wei. Sesaat tidak dapat melihat
Feng Wei, hatinya sangat gelisah dan ketakutan melandanya.
Feng
Wei bersama beberapa pelayan membawa masakan-masakan yang wanginya semerbak
kemana-mana ke pavilliun. Meng Hao membelalakkan matanya “wah Zheng Zhu,
benar-benar beruntung mengikutimu…” Mu Rong “Di Hou, apa setelah perang juga
akan mendapat sajian seperti ini ?” Hua Zi merangkul Feng Wei melirik dingin Mu
Rong, Feng Wei hanya tersenyum. Lian Song “wah Yu Huang, jangan picik begitu,
__ADS_1
kau dapat merasakan masakan Di Hou setiap hari… kami harus menunggu momen-momen
tertentu saja untuk mencicipinya” Hua Zi “suruh Zu Zhe memasak untukmu” Sou Wan
“haih batu es, tidak peduli dikehidupan manapun, kau tetap saja begitu picik
dan tidak tahu malu…” Hua Zi “untuk apa tahu malu, aku hanya tahu Feng Wei-ku
sudah cukup untukku” Feng Wei cekikikan.
Semua
bercanda tawa memakan hidangan sebelum perang. Sesudah semua berpamitan, Hua Zi
membawa Feng Wei ke kamar “Feng Wei, aku mencintaimu… setelah perang besok,
kita ke Bi Hai Cang Ling melewati waktu berdua bagaimana ? Xiong Xiong dan Xin
Xin sudah besar, sementara biarkan mereka dijaga keluarga Bai di Qing Qiu” Feng
Wei tersenyum “Hua Zi gege, permintaanmu sangat banyak, sebentar mau latihan
sebentar mau ke Bi Hai Cang Ling… tunggu tubuhmu pulih dibicarakan lagi…” Hua
Zi berbinar “hihihi bukankah ini karena aku sangat mencintaimu… ah… sebelum
besok ke medan perang, aku ingin pelayanan ekstra dahulu…” tidak menunggu
protes Feng Wei, Hua Zi langsung mencium bibir dan menggerayangi tubuh Feng
Wei.
Feng
Wei terbangun di tengah malam dan menangis ‘Hua Zi gege, maafkan aku… aku hanya
bisa menemanimu hingga perang selesai… Hua Zi gege, apa kau akan melupakanku ?
Hua Zi gege, aku sudah tidak memiliki banyak waktu… perang besok adalah bantuan
terakhirku untukmu… tapi tenanglah, walaupun aku sudah tidak ada, tapi
pelindung emas dan api abadi akan selalu melindungimu. Semua teman dan
anak-anak akan ada disisimu, kau tidak akan sendiri lagi. Hua Zi gege, walau
aku ingin kau selalu mengingatku, tapi jika untuk kebahagiaanmu, aku rela kau
lupakan dan memilih wanita lain. Semoga wanita lain bisa membahagiakanmu lebih
dari padaku.” Tersenyum mengecup bibir Hua Zi dan terlelap kembali.
Keesokan
harinya, Feng Wei menyiapkan sarapan untuk seluruh keluarganya sebelum
berangkat perang. Sebelumnya Feng Wei sudah menyiapkan beberapa macam kue-kue
dan permen madu, menitipkannya pada Xiong Xiong dan Xin Xin untuk Hua Zi. Feng
Wei pun sudah menyiapkan surat untuk Hua Zi yang dititipkan pada Yan Ci Wu.
Feng Wei tahu, dia tidak akan dapat kembali lagi. Di wajahnya tampak senyuman
walaupun hatinya sangat sedih dan menangis darah. Hua Zi dan Feng Wei
menyerahkan Xiong Xiong dan Xin Xin ke Wen Xin dan Qing Cing. Feng Wei mencium
kedua anaknya “baik-baik dengan waipo dan lao lao, Niang Qin mencintai kalian”
memeluk erat keduanya. Wen Xin “Hong Ling, jaga diri dengan baik…” Feng Wei
tersenyum memeluk keduanya “terima kasih niang – nainai…” bergandengan tangan
__ADS_1
dengan Hua Zi ke medan perang.