Return Of God Emperor

Return Of God Emperor
Bab 152 - Perjanjian 5 tahun


__ADS_3

Yang Guang cemberut masuk ke


kamarnya “haih… apa-apaan ini, satu belum berhasil diusir, satu datang lagi


cih…” “Feng Wei, untuk apa kesal seperti itu ?” “Hua Zi gege, kau sudah tahu


kenapa bertanya !” merebahkan dirinya ke ranjang dengan frustasi. Hua Zi


tersenyum, mengangkat tubuh kecilnya ke pelukannya “Feng Wei, bukankah raja


memintamu menyusun kekuatan ? biarkan saja mereka ikut, bisa membantumu pada


saatnya…” Yang Guang “Hua Zi gege, aku tidak mau mengorbankan yang lain demi


kepentinganku…” Hua Zi “Feng Wei, ini pilihan mereka sendiri, kau tidak


memaksanya… dengan mengikutimu, mereka juga akan berkembang…” Yang Guang


“tapi…” Hua Zi “Feng Wei, aku tahu apa yang kau khawatirkan, masih ada 4 tahun


lebih waktu. Tiba saatnya, kau bisa memberikan mereka pilihan” Yang Guang “Hua


Zi gege…” Hua Zi “Feng Wei, kau tidak perlu berjuang sendirian, mungkin saja


ini juga adalah perjuangan mereka… bukankah akan menjadi salahmu, kalau kau


menghalangi perjuangan mereka…”.


          Yang Guang memasukkan wajahnya ke dada Hua Zi “haih… mau


kutolak pun tak bisa… mereka pasti sudah berjaga di depan kamarku cih…” Hua Zi


cekikikan “kau juga tidak tega meninggalkan mereka kan !” Yang Guang “entah


kenapa, aku merasa harus melindungi mereka, seperti saudara yang tidak pernah


kumiliki…” Hua Zi “kau hanya bisa menganggap mereka saudara, tidak boleh lebih


tahu tidak !” memegang wajah kecil Yang Guang. Yang Guang terkejut “eh Hua Zi


gege, aku bahkan belum mempercayai ucapanmu, kau begini apa tidak berlebihan ?”


Hua Zi memeluk erat tubuh Yang Guang “apa Feng Wei tidak menyukaiku ?” Yang


Guang dengan polosnya mengangguk “suka…” Hua Zi tersenyum senang “jadi ?” Yang


Guang “suka tapi tidak tahu suka sebagai apa !” Hua Zi mengecup lembut bibir


Yang Guang “Feng Wei, aku mencintaimu…” Yang Guang menutup bibirnya “Hua ZI


gege, kau seperti ini lagi, aku tidak akan mempedulikanmu…” berbalik


membelakangi Hua Zi.


          Tidak seperti sebelumnya, Yang Guang tertidur pulas hingga


pagi terang baru keluar kamar. Diluar Huang Guang dan Jing Guang sudah


menunggunya, Yang Guang menghela nafas “haih…” keduanya tersenyum manis “pagi


Xiao Guang… ayo, kita sarapan, setelah itu berangkat…” Jing Guang menarik


tangan Yang Guang “iya… iya… sudah jangan pegang-pegang huh…” menepis tangan


Jing Guang dan berjalan santai ke ruang makan. “Xiao Guang, Huang er, Jing er,


hati-hati diperjalanan, kalian harus saling menjaga…” Yang Guang tersenyum


“terima kasih shushu…” “Xiao Guang, ini untukmu, jangan ditolak ! anggap saja


bekal dari orang tua untuk anaknya…” Yang Guang terkejut diberi satu kantong


uang “shushu, ini tidak perlu, aku masih punya…” “sudah dikatakan jangan

__ADS_1


menolak !” Yang Guang terdiam dan menunduk “terima kasih shushu…” Nyonya ketua


“Xiao Guang, ini juga buatmu… bukankah kau sangat suka kue tradisional disini…


ini ayi sudah bungkuskan untukmu dan juga resepnya…” Yang Guang bersemangat


menerimanya, mengembalikan kantung uang ke ketua “nah ini saja sudah cukup…


shushu, ini lebih berharga daripada kantong itu…” memeletkan lidahnya.


          Jing Guang mengambil dan menaruhnya kembali ke tangan Yang


Guang “tahu kalau dikatakan orang tua tidak boleh menolak maka tidak boleh


menolak !” Yang Guang berdecak kesal “cih… tidak tahu siapa yang kemarin


merengek…” Jing Guang cekikikan, tapi Yang Guang tidak menolak lagi “kalau


begitu terima kasih, shushu, ayi, kami berangkat…” Nyonya ketua memeluknya


“hati-hati dijalan… ayi menunggu melihat kalian kembali dengan kesuksesan…”


Yang Guang tersenyum manis. Huang Guang menggoda “jangan tersenyum seperti itu…”


Yang Guang mengerutkan kening “kau mau menggoda siapa ? disini semua lelaki,


nanti kami jadi tidak normal karenamu hahaha…” Yang Guang berdecak kesal “kalian


terlalu jelek buatku cih…” berjalan naik keatas kuda Fei Jiao, semua tertawa


terbahak-bahak. Kedua remajapun naik ke kuda mereka masing-masing, segera


berpamitan dan memulai perjalanan.


          Yang Guang sambil memakan kuenya, riang gembira berkuda


“Xiao Guang, kau begitu kuat makan kue, kenapa tubuhmu tetap saja begitu kecil


‘tentu saja berbeda, kaliankan lelaki cih…’. Huang Guang “selanjutnya kita


kemana ?” Jing Guang “eh apa kalian pernah melihat balap banteng ? di sekitar


sini ada beberapa desa mempunyai kebiasaan yang menarik…” Yang Guang berbinar


“ayo… ayo… aku mau bermain…” kedua remaja tersenyum menggelengkan kepala,


memacu kudanya.


          Mereka bersenang-senang selama perjalanan, semakin lama


semakin banyak yang ikut. Sampai akhir terkumpullah kedelapan cahaya, 4 pemuda


dan 4 pemudi walau terlihat seperti 8 pemuda (eh salah 8 pemuda dan 1 makhluk


tak kasat mata wkwkwkwkwk – intermezzo sejenak hihihi…). Merah – Nona Muda Hong Tian


Ling, Jingga – Tuan Muda Huo Jing Guang, Kuning – Tuan Muda Ma Huang Guang,


Hijau – Tuan Muda Cho Lu Teng, Biru – Nona Muda Qing Shui Lan, Nila – Nona Muda Xue Dian


Lan, dan Ungu – Tuan Muda Zi Ye Xing. Ketujuhnya adalah putri dan putra dari


keluarga terpandang tapi sangat mandiri. Tiba masa 5 tahun, tidak ada yang


menyadari Yang Guang adalah seorang gadis.


          Di setiap perhentian mereka, akan ada hal yang mereka


lakukan, walau secara spontan tapi mengundang rasa ingin tahu banyak pihak.


Nama mereka terkenal dimana-mana, terutama nama Yang Guang, selalu sampai ke


telinga Raja dan Permaisuri. Siapapun didalam maupun luar Kerajaan Ming

__ADS_1


mengetahui rumor 8 pemuda tampan yang membuat prestasi di manapun mereka


berada. Banyak pihak yang ingin mengundang mereka, tapi tidak ada yang


berhasil. Dalam perjuangannya selama 5 tahun, Yang Guang dan para pengikutnya


terluka berulang kali. Semua sangat menyayangi dan mengkhawatirkan Yang Guang,


lebih daripada diri mereka sendiri. Setiap terluka, Yang Guang selalu mengobati


diri sendiri (dengan bantuan Hua Zi), tidak pernah membuka baju dihadapan yang


lain. Yang Guang selalu bisa berdalih dengan banyaknya bekas luka ditubuhnya


dan memiliki trauma jadi tidak ingin dilihat siapapun. Semua menghormati


keinginannya dan tidak memaksa, selama mereka melihat Yang Guang baik-baik saja


keesokan harinya. Dalam 5 tahun, mereka semakin mengagumi dan meyakini


keputusan mereka yang benar dari awal.


          Kemampuan kedelapannya semakin berkembang. Mereka


saling menguatkan satu dengan yang lain. Diusia muda mereka, kemampuannya sudah


melebihi dari pada petarung manapun. Sebagai Tuan Muda dan Nona Muda dari


keluarga terpandang, mereka dibekali dengan banyak ilmu. Mereka selalu


mengundang perhatian dimanapun berada, yang membuat mereka sering risih.


          “Yang er, kenapa sekarang ke ibukota ? bukannya kau paling


menghindari tempat ini ?” Huang Guang bertanya. Untuk menghindari begitu


banyaknya yang mencari Tuan Muda Yang Guang, merekapun merubah panggilan dari


Yang Guang menjadi Xiao Guang, kemudian sekarang Yang er. Semua berhenti di


panggilan Yang er, mereka tidak peduli lagi dengan ketertarikan lainnya. Diantara


kedelapannya, Yang Guang yang paling mempesona, tidak ada yang dapat menutupi


pesonanya. Yang Guang paling suka bersenang-senang tapi paling tidak suka


terikat. Selalu menghindar saat ada yang mencarinya. Ketujuh pengikutnya selalu


menjadi tameng untuk menghalangi siapa saja yang mendekatinya. Ketujuhnya


sangat overprotektif pada Yang Guang, terutama Jing Guang yang bahkan pernah


menghajar beberapa keluarga yang terus mendekati Yang Guang.


          Yang Guang dengan tenang meminum tehnya “waktu untuk


memenuhi perjanjian sudah tiba…” “perjanjian ?” semua terkejut. Tian Ling “Yang


er, perjanjian apa ? tidak pernah mendengarmu membahasnya…” Yang Guang yang


sekarang sangat kharismatik dan jauh lebih dingin. Hanya pada ketujuh


pengikutnya ini, sifat aslinya yang kekanakan masih sering diperlihatkan.


Bagaimanapun, dialah yang termuda diantara kedelapannya. Yang Guang tersenyum


“5 tahun yang lalu, aku membuat perjanjian untuk menemui dan membantu


seseorang.” “membantu ? masalah apa ?” Yang Guang menaikkan bahunya. Huang


Guang “dan apa hadiah untuk bantuan itu ?” Yang Guang “kebebasanku…” tanpa


melihat Huang Guang.

__ADS_1


__ADS_2