
Yang Guang cemberut masuk ke
kamarnya “haih… apa-apaan ini, satu belum berhasil diusir, satu datang lagi
cih…” “Feng Wei, untuk apa kesal seperti itu ?” “Hua Zi gege, kau sudah tahu
kenapa bertanya !” merebahkan dirinya ke ranjang dengan frustasi. Hua Zi
tersenyum, mengangkat tubuh kecilnya ke pelukannya “Feng Wei, bukankah raja
memintamu menyusun kekuatan ? biarkan saja mereka ikut, bisa membantumu pada
saatnya…” Yang Guang “Hua Zi gege, aku tidak mau mengorbankan yang lain demi
kepentinganku…” Hua Zi “Feng Wei, ini pilihan mereka sendiri, kau tidak
memaksanya… dengan mengikutimu, mereka juga akan berkembang…” Yang Guang
“tapi…” Hua Zi “Feng Wei, aku tahu apa yang kau khawatirkan, masih ada 4 tahun
lebih waktu. Tiba saatnya, kau bisa memberikan mereka pilihan” Yang Guang “Hua
Zi gege…” Hua Zi “Feng Wei, kau tidak perlu berjuang sendirian, mungkin saja
ini juga adalah perjuangan mereka… bukankah akan menjadi salahmu, kalau kau
menghalangi perjuangan mereka…”.
Yang Guang memasukkan wajahnya ke dada Hua Zi “haih… mau
kutolak pun tak bisa… mereka pasti sudah berjaga di depan kamarku cih…” Hua Zi
cekikikan “kau juga tidak tega meninggalkan mereka kan !” Yang Guang “entah
kenapa, aku merasa harus melindungi mereka, seperti saudara yang tidak pernah
kumiliki…” Hua Zi “kau hanya bisa menganggap mereka saudara, tidak boleh lebih
tahu tidak !” memegang wajah kecil Yang Guang. Yang Guang terkejut “eh Hua Zi
gege, aku bahkan belum mempercayai ucapanmu, kau begini apa tidak berlebihan ?”
Hua Zi memeluk erat tubuh Yang Guang “apa Feng Wei tidak menyukaiku ?” Yang
Guang dengan polosnya mengangguk “suka…” Hua Zi tersenyum senang “jadi ?” Yang
Guang “suka tapi tidak tahu suka sebagai apa !” Hua Zi mengecup lembut bibir
Yang Guang “Feng Wei, aku mencintaimu…” Yang Guang menutup bibirnya “Hua ZI
gege, kau seperti ini lagi, aku tidak akan mempedulikanmu…” berbalik
membelakangi Hua Zi.
Tidak seperti sebelumnya, Yang Guang tertidur pulas hingga
pagi terang baru keluar kamar. Diluar Huang Guang dan Jing Guang sudah
menunggunya, Yang Guang menghela nafas “haih…” keduanya tersenyum manis “pagi
Xiao Guang… ayo, kita sarapan, setelah itu berangkat…” Jing Guang menarik
tangan Yang Guang “iya… iya… sudah jangan pegang-pegang huh…” menepis tangan
Jing Guang dan berjalan santai ke ruang makan. “Xiao Guang, Huang er, Jing er,
hati-hati diperjalanan, kalian harus saling menjaga…” Yang Guang tersenyum
“terima kasih shushu…” “Xiao Guang, ini untukmu, jangan ditolak ! anggap saja
bekal dari orang tua untuk anaknya…” Yang Guang terkejut diberi satu kantong
uang “shushu, ini tidak perlu, aku masih punya…” “sudah dikatakan jangan
__ADS_1
menolak !” Yang Guang terdiam dan menunduk “terima kasih shushu…” Nyonya ketua
“Xiao Guang, ini juga buatmu… bukankah kau sangat suka kue tradisional disini…
ini ayi sudah bungkuskan untukmu dan juga resepnya…” Yang Guang bersemangat
menerimanya, mengembalikan kantung uang ke ketua “nah ini saja sudah cukup…
shushu, ini lebih berharga daripada kantong itu…” memeletkan lidahnya.
Jing Guang mengambil dan menaruhnya kembali ke tangan Yang
Guang “tahu kalau dikatakan orang tua tidak boleh menolak maka tidak boleh
menolak !” Yang Guang berdecak kesal “cih… tidak tahu siapa yang kemarin
merengek…” Jing Guang cekikikan, tapi Yang Guang tidak menolak lagi “kalau
begitu terima kasih, shushu, ayi, kami berangkat…” Nyonya ketua memeluknya
“hati-hati dijalan… ayi menunggu melihat kalian kembali dengan kesuksesan…”
Yang Guang tersenyum manis. Huang Guang menggoda “jangan tersenyum seperti itu…”
Yang Guang mengerutkan kening “kau mau menggoda siapa ? disini semua lelaki,
nanti kami jadi tidak normal karenamu hahaha…” Yang Guang berdecak kesal “kalian
terlalu jelek buatku cih…” berjalan naik keatas kuda Fei Jiao, semua tertawa
terbahak-bahak. Kedua remajapun naik ke kuda mereka masing-masing, segera
berpamitan dan memulai perjalanan.
Yang Guang sambil memakan kuenya, riang gembira berkuda
“Xiao Guang, kau begitu kuat makan kue, kenapa tubuhmu tetap saja begitu kecil
‘tentu saja berbeda, kaliankan lelaki cih…’. Huang Guang “selanjutnya kita
kemana ?” Jing Guang “eh apa kalian pernah melihat balap banteng ? di sekitar
sini ada beberapa desa mempunyai kebiasaan yang menarik…” Yang Guang berbinar
“ayo… ayo… aku mau bermain…” kedua remaja tersenyum menggelengkan kepala,
memacu kudanya.
Mereka bersenang-senang selama perjalanan, semakin lama
semakin banyak yang ikut. Sampai akhir terkumpullah kedelapan cahaya, 4 pemuda
dan 4 pemudi walau terlihat seperti 8 pemuda (eh salah 8 pemuda dan 1 makhluk
tak kasat mata wkwkwkwkwk – intermezzo sejenak hihihi…). Merah – Nona Muda Hong Tian
Ling, Jingga – Tuan Muda Huo Jing Guang, Kuning – Tuan Muda Ma Huang Guang,
Hijau – Tuan Muda Cho Lu Teng, Biru – Nona Muda Qing Shui Lan, Nila – Nona Muda Xue Dian
Lan, dan Ungu – Tuan Muda Zi Ye Xing. Ketujuhnya adalah putri dan putra dari
keluarga terpandang tapi sangat mandiri. Tiba masa 5 tahun, tidak ada yang
menyadari Yang Guang adalah seorang gadis.
Di setiap perhentian mereka, akan ada hal yang mereka
lakukan, walau secara spontan tapi mengundang rasa ingin tahu banyak pihak.
Nama mereka terkenal dimana-mana, terutama nama Yang Guang, selalu sampai ke
telinga Raja dan Permaisuri. Siapapun didalam maupun luar Kerajaan Ming
__ADS_1
mengetahui rumor 8 pemuda tampan yang membuat prestasi di manapun mereka
berada. Banyak pihak yang ingin mengundang mereka, tapi tidak ada yang
berhasil. Dalam perjuangannya selama 5 tahun, Yang Guang dan para pengikutnya
terluka berulang kali. Semua sangat menyayangi dan mengkhawatirkan Yang Guang,
lebih daripada diri mereka sendiri. Setiap terluka, Yang Guang selalu mengobati
diri sendiri (dengan bantuan Hua Zi), tidak pernah membuka baju dihadapan yang
lain. Yang Guang selalu bisa berdalih dengan banyaknya bekas luka ditubuhnya
dan memiliki trauma jadi tidak ingin dilihat siapapun. Semua menghormati
keinginannya dan tidak memaksa, selama mereka melihat Yang Guang baik-baik saja
keesokan harinya. Dalam 5 tahun, mereka semakin mengagumi dan meyakini
keputusan mereka yang benar dari awal.
Kemampuan kedelapannya semakin berkembang. Mereka
saling menguatkan satu dengan yang lain. Diusia muda mereka, kemampuannya sudah
melebihi dari pada petarung manapun. Sebagai Tuan Muda dan Nona Muda dari
keluarga terpandang, mereka dibekali dengan banyak ilmu. Mereka selalu
mengundang perhatian dimanapun berada, yang membuat mereka sering risih.
“Yang er, kenapa sekarang ke ibukota ? bukannya kau paling
menghindari tempat ini ?” Huang Guang bertanya. Untuk menghindari begitu
banyaknya yang mencari Tuan Muda Yang Guang, merekapun merubah panggilan dari
Yang Guang menjadi Xiao Guang, kemudian sekarang Yang er. Semua berhenti di
panggilan Yang er, mereka tidak peduli lagi dengan ketertarikan lainnya. Diantara
kedelapannya, Yang Guang yang paling mempesona, tidak ada yang dapat menutupi
pesonanya. Yang Guang paling suka bersenang-senang tapi paling tidak suka
terikat. Selalu menghindar saat ada yang mencarinya. Ketujuh pengikutnya selalu
menjadi tameng untuk menghalangi siapa saja yang mendekatinya. Ketujuhnya
sangat overprotektif pada Yang Guang, terutama Jing Guang yang bahkan pernah
menghajar beberapa keluarga yang terus mendekati Yang Guang.
Yang Guang dengan tenang meminum tehnya “waktu untuk
memenuhi perjanjian sudah tiba…” “perjanjian ?” semua terkejut. Tian Ling “Yang
er, perjanjian apa ? tidak pernah mendengarmu membahasnya…” Yang Guang yang
sekarang sangat kharismatik dan jauh lebih dingin. Hanya pada ketujuh
pengikutnya ini, sifat aslinya yang kekanakan masih sering diperlihatkan.
Bagaimanapun, dialah yang termuda diantara kedelapannya. Yang Guang tersenyum
“5 tahun yang lalu, aku membuat perjanjian untuk menemui dan membantu
seseorang.” “membantu ? masalah apa ?” Yang Guang menaikkan bahunya. Huang
Guang “dan apa hadiah untuk bantuan itu ?” Yang Guang “kebebasanku…” tanpa
melihat Huang Guang.
__ADS_1