
Ling
Ling “apa Niang Qin tidak merasa sakit sama sekali ?” Xiong Xiong dan Xin Xin
sudah berlari masuk menemani Hua Zi dan Feng Wei. Feng Huo Huang “bukan tidak
sakit hanya tidak menyadari sakitnya saja…” Bai Jin mondar mandir, Long Jin
Shan “tidak perlu khawatir, dia akan baik-baik saja…” Budha “aku datang
terlambat hihihi…” Feng Huo Huang “ada apa anda datang hari ini ?” Budha “demi
bocah ini !” membelai Bai Jin, Bai Jin mendengus kesal. Long Jin Shan “oh sudah
tiba waktunya !” Budha mengangguk “masih memerlukan bantuan Xiao Shen Zhu” Bai
Jin menunduk “dia akan dengan senang hati melakukannya !” Budha tersenyum dan
membelai bulu Bai Jin.
Hua Zi berkaca-kaca melihat tubuh Feng
Wei penuh luka. Feng Wei tidak menyadari kesedihan Hua Zi dan kedua anak. Feng
Wei perlahan mengobati luka-lukanya, meringis kesakitan dan meniup-niup dengan
bibir kecilnya “shh… hu… hu… hu… shh… ouch… hu… hu… hu…” Hua Zi melihat Feng
Wei yang tidak menyadari kehadirannya, sangat sedih, perlahan mengambil tangan
kecil Feng Wei “Feng Wei, aku membantumu…” Feng Wei mendongak “eh Hua Zi gege,
tidak perlu, aku bisa sendiri…” Hua Zi tidak melepasnya “Feng Wei, kita adalah
suami istri… jangan menolakku… melihatmu seperti ini, hatiku sangat sakit… kau
memilikiku, jangan menanggung semuanya sendiri…” Feng Wei terbengong “ini
sangat sakit…” Hua Zi tersenyum lembut “aku akan mengobatimu dengan lembut,
bisakah !” Feng Wei mengangguk.
Hua Zi perlahan membersihkan dan
mengobati Feng Wei yang meringis menahan sakit. Banyak lukanya yang terbuka
hingga terlihat tulang putih didalamnya. Feng Wei tidak mengeluh, hanya
meringis ‘shh… shh… shh…’ Hua Zi menitikkan air mata “Feng Wei, kau tidak harus
menjadi begitu kuat… jika sakit, teriaklah…” Feng Wei gemetar “Hua Zi gege,
tidak bertenaga…” jatuh tidak sadarkan diri. Hua Zi panik “Feng Wei… Feng Wei…”
Xin Xin segera berlari keluar “Zhe Yan yeye, Zhe Yan yeye…” menarik Zhe Yan ke
kamar Feng Wei. Zhe Yan memeriksa “biarkan dia tertidur, segera obati lukanya…”
semua melihatnya dan pamit undur diri. Bai Jin tidur di sisi Feng Wei,
menemaninya.
Lei Shen berulang kali gagal membuat
manisan plum. Tiap hari membawa manisan plum yang gagal ke hadapan Feng Wei,
selalu kembali dengan muka masam, harus memakan manisan plum yang berantakan
buatannya sendiri. Hingga hari ke-10, Lei Shen berhasil membuat manisan plum
yang walau rasanya masih berantakan tapi sudah bisa diterima Feng Wei “lain
kali mengganggu kesenangan yang mulia lagi, bukan hanya membuat manisan plum
__ADS_1
semudah itu…” Lei Shen memberi hormat “terima kasih Shen Zhu… eh Shen Zhu, luka
anda sudah sembuh…” Feng Wei mengangguk. Lei Shen melihat Bai Jin “pergilah…”
Lei Shen memberi hormat dan pergi.
Hua Zi “Feng Wei, ada apa ?” Feng Wei
tersenyum manis “Hua Zi gege, aku akan ke Zuan Bao Shi Dao…” Hua Zi menggeleng
“lukamu baru mengering, kau belum bisa banyak gerak, masih butuh istirahat…”
Feng Wei memajukan bibirnya “baiklah, sembuhkan luka dahulu… 20 hari lagi pun
masih belum terlambat hihihi…” Hua Zi cemberut “Feng Wei… apa yang akan kau
lakukan ? kenapa harus ke sana ?” Feng Wei membelai kepala Bai Jing “harus
mengawal 7 kesayanganku evolusi…” Bai Jin mengangkat kepala, menaruh di
pangkuan Feng Wei. Hua Zi membelai bulu Bai Jin “aku menemanimu…” Feng Wei
mengangguk.
Hua Zi memeluk Feng Wei “apa masih sakit
?” Feng Wei cemberut “hanya sedikit tapi sangat gatal…” Hua Zi “tahan beberapa
hari lagi, akan membawamu berendam…” Feng Wei mengangguk. Feng Wei “Hua Zi
gege, bagaimana penguasaan api abadimu ?” Hua Zi mengeluarkan sihir api abadi,
terlihat kobaran api kecil melayang “hmm bagus, jangan memaksakan diri, aku
masih belum bisa mengawalmu…” Hua Zi tersenyum manis “aku akan berhati-hati,
tidurlah…” Feng Wei tersenyum dan menutup mata.
15 hari kemudian, Long Jin Shan, Feng
Zi mengerutkan kening, takut terjadi sesuatu. Budha “Shao Yang, tidak perlu
seperti itu, Shen Zhu sudah tahu yang harus dilakukannya” Feng Wei “lao yeye,
ada apa dengan kedatanganmu ?” sambal memainkan rambut Hua Zi. Budha tersenyum
“Shen Zhu, apa rencanamu kali ini ? penyatuan Bai Jin ?”
Bai Jin menaruh kepalanya di pangkuan
Feng Wei, menunduk dan ber-eng -eng “hihihi kenapa denganmu ? mana tampang
garangmu ?” Feng Wei mencubit-cubit pipi Bai Jin. Dewi Kwam In tersenyum “Shen
Zhu…” Hua Zi “apa akan berbahaya ?” Feng Wei menggeleng “paling akan tidur
panjang lagi, apa yang perlu dikhawatirkan !”
Budha “apa anda akan tidur di Zuao Bao
Shi Dao ? Hua Zi memegang Feng Wei “Feng Wei… bisakah tidur di tempat lain ?”
tertunduk sedih. Feng Wei tersenyum “bukankah sudah mengijinkanmu menemani ke
Zuan Bao Shi Dao ! Hua Zi gege bisa membawaku setelah semua selesai” Hua Zi
mengangguk, Budha tersenyum “akhirnya ada yang membuka diri !” lainnya
tersenyum. Feng Wei berdiri “haih lao yeye, semua aman-aman saja, kenapa yang
mulia harus bersusah payah… aku masih mau ke Huang Jing mengambil kembali Qi
Lin Shu ku” dengan tangan dijulurkan ke Budha, Budha cekikikan.
__ADS_1
Hua Zi “Qi Lin Shu…” Zhe Yan “Qi Lin Shu
adalah milikmu ?” melihat ke Feng Wei. Feng Wei acuh tak acuh “tentu saja, itu
adalah tanaman pertama yang kutumbuhkan di Zuan Bao Shi Dao…” Budha “jadi Bai
Feng Jiu tidak bisa menumbuhkannya dimanapun, karena tanpa essensi dan darah Xiao
Shen Zhu ini, Qi Lin Shu tidak akan bisa tumbuh dimanapun” Feng Wei memainkan
bibirnya, lainnya mengangguk-angguk tanda mengerti.
Lian Song “berarti anda bukan melupakan
Qi Lin Shu tapi menyadari kultivasi anda yang tidak bisa menumbuhkannya” Feng
Wei menguap “aku hanya tidak ingin menghabiskan Qi Lin Shu yang tumbuh di Huang
Jing” Lian Song “wah Dong Hua, kesedihanmu sia-sia…” Hua Zi memeluk Feng Wei
“aku sudah tahu, Xiao Bai tidak akan meninggalkanku…” Feng Wei tersenyum manis.
Budha “sembarang anda mengambilnya, tapi
sisakan untuk lao yeye ini…” Feng Wei cekikikan. Dewi Kwam In “sudah menentukan
saatnya ?” Feng Wei mengangguk “5 hari lagi, aku sudah mengabari ketujuhnya”
berdiri gagah. Budha mengangguk “Shen Zhu…” Feng Wei mengangkat tangannya “yeye,
aku berterima kasih untuk maksud baikmu, tapi ini adalah bagianku… kalian hanya
perlu melihat, tidak perlu melakukan apapun… semua masih dalam batasku…” Budha
tersenyum menggeleng “anda tetap tidak berubah… baik, Shao Yang jaga baik-baik
gadis kecil ini…” Hua Zi mengangguk.
Feng Huo Huang “Huo Feng, Yu Zhou Da Lu
?” Feng Wei merenggangkan tubuhnya “lao nainai… Yu Zhou Da Lu serahkan pada
kalian… aku masih ingin bersenang-senang” berjalan menjauh bersama Bai Jin.
Semua saling melihat “Jin di, bagaimana kalau kita membuka dunia baru ?” Bai
Jin segera berdiri tegak melihat Feng Wei kecil.
Feng Wei tersenyum, melayang naik ke
pohon fuling “Bai Jin, setelah melewati evolusi kali ini, jiejie akan membuka 2
dunia baru, bagaimana ? evolusi sebelumnya sudah berputar padamu anak nakal…”
membuang tangkai pohon mengetuk kepala Bai Jin. Bai Jin menggosok kepalanya
sambal cekikikan “maaf jiejie…”.
Hua Zi naik memeluk Feng Wei “Feng Wei…”
Feng Wei “Hua Zi gege, kau ingin dunia seperti apa ? saat aku tidur panjang,
desainlah sebuah dunia, aku akan mengabulkannya untukmu…” Bai Jin “jiejie…”
Feng Wei menatap Bai Jin “ada permintaan ?” Bai Jin cekikikan merengek “jiejie,
dunia ilusi…” Feng Wei “wah kirin nakal, kau juga banyak permintaan…”
Budha “eh kalau begitu yeye juga mau…”
Feng Wei melirik “haih lao yeye, kau fikirkan saja gua kecilmu itu…” Budha
“haih xiao Shen Zhu…” Feng Wei memainkan bibirnya “jangan nakal-nakal, cukup
__ADS_1
aku saja yang nakal hahaha…” Budha menggeleng