Return Of God Emperor

Return Of God Emperor
Bab 125 - Feng Wei yuhua


__ADS_3

Feng


Huo Huang “bagaimana situasinya ?” Long Jin Shan menggeleng “tidak baik… Budha


dan Dewi Kwam In pun sudah datang. Mereka ingin mengantar kepergian Huo Feng”


Hua Zi mencengkeram tangan Long Jin Shan “Supreme Emperor… dimana Supreme


Emperor ? aku akan mencarinya” kedua Zun Wang tercengang “bagaimana kau tahu


Supreme Emperor ?” Gun Gun “Jin Shan shushu, apa benar Supreme Emperor bisa


menyelamatkan Niang Qin ? kalau benar, katakan pada kami, kami akan mencarinya”


kedua Zun Wang menggeleng “tidak ada Supreme Emperor…” semuanya kecewa. Long


Jin Shan menjelaskan “Supreme Emperor adalah sebuah mitos atau legenda mengenai


penguasa sejati seluruh alam. Aku tidak tahu dimana kalian mendengarnya tapi


tidak ada Supreme Emperor hingga saat ini. Selama ini, kalian hanya melihat


darah kultivasi Huo Feng yang berwarna merah emas perak. Sebenarnya darah asli


Huo Feng berwarna merah, jingga, emas – kuning, hijau, biru, dan nila.” semua


tercengang.


          Feng Huo Huang melanjutkan “Huo Feng


beraura pelangi yang memiliki 7 warna. Berdasar pada semua hal yang sudah


dilakukannya selama ini dan kurangnya 1 warna ungu pelangi pada darahnya, kami


berandai-andai jika Huo Feng lah Supreme Emperor. Tapi sekali lagi hal itu


hanya mitos, Huo Feng tidak mau memberi kalian harapan palsu jadi tidak pernah


membahasnya. Huo Feng sendiri tidak pernah memikirkannya, tidak menyukai hal


yang tidak pasti seperti itu”. Disaat mereka berbicara, tampak langit


menggelap, bintang dan meteor berjatuhan “99 alam langit jatuh, tanda Zun Shen


yuhua… Huo Feng…” melihat ke hadapan mereka.


          Dihadapan mereka, dalam jiejue raksasa


terjadi adu 2 kekuatan besar. Mereka hanya dapat melihat kilatan-kilatan merah


keemasan melawan hitam keemasan. Terdengar dentuman-dentuman pedang dan


peraduan sihir yang memekakkan telinga. Hei Ye “hahaha… Feng Wei, lihat pecinta


kecilmu ada disini hahaha… aku akan membunuhnya…” Feng Wei menatap tajam Hei Ye


“mimpi, kau tidak akan keluar dari sini…” melanjutkan pertempuran. Disaat


mereka tiba di Tian Ling Dong, Hei Ye dan Feng Wei sudah menyadari kehadiran


mereka. Feng Wei sempat terganggu dan mendapat beberapa serangan Hei Ye.


Setelah melihat kedua Zun Wang yang melindungi mereka dalam jiejue berlapis,


Feng Wei kembali fokus melawan Hei Ye.


          Long Jin Shan “apapun yang kita


lakukan, tidak dapat mengelabuinya… Huo Feng sudah tahu kedatangan kalian” Hua


Zi “Feng Wei…” Feng Huo Huang segera menarik Hua Zi “jangan memanggilnya, apa


kau tidak lihat tadi Huo Feng sempat goyah… apa kau mau dia pergi dengan


sia-sia ?” berkata tajam. Hua Zi terdiam melihat pertarungan Feng Wei vs Hei


Ye. Hati semua bergejolak, terutama saat melihat tubuh kecil Feng Wei yang

__ADS_1


terluka dan muntah darah.


Selama


7 hari 7 malam, pertarungan tidak berhenti “huh…. Huh… huh… Feng Wei, kenapa


harus seperti ini ? kita menguasai dunia bersama tidak baikkah ?” Hei Ye


mencoba mempengaruhi. Feng Wei menodongkan pedangnya “Hei Ye adikku, tidak


perlu mengatakan apapun… siapa yang lebih mengenal dirimu lebih baik dari padaku…


ayo adik kecilku, jiejie membawamu kembali” tersenyum, mengeluarkan energi


besar, dengan satu tusukan menebus tubuh Hei Ye. Disaat menusuk Hei Ye, Feng


Wei pun tertusuk pedang Hei Ye hingga menancap dan menembus dadanya “Huh… huh…


huh…” segera berbalik menopang tubuh Hei Ye dengan pedang yang masih menancap


di dadanya.


Feng


Wei membuang pedangnya, menaruh Hei Ye di pangkuannya “Xiao Hei… Xiao Hei…” Hei


Ye dengan susah payah membuka mata “Da Hua, kau menang…” tersenyum lembut. Feng


Wei tersenyum “kau ini adik bodoh…” Hei Ye “jiejie, terima kasih, demiku, kau


sudah mengorbankan segalanya, tidak pernah mengabaikanku…” Feng Wei “bodoh, kau


adalah didiku, selamanya adalah adikku yang paling baik… mana mungkin aku


mengabaikanmu…” Hei Ye tersenyum menutup mata “yah itulah dirimu, selalu begitu


welas asih, selalu begitu setia, selalu begitu hebat, selalu begitu cantik,


selalu begitu pintar, selalu begitu baik, selalu begitu sabar…” Feng Wei


hebat, hingga membuat semua menempel padamu… aku tidak suka melihat mereka


menempel dan menggunakan kebaikanmu…” Feng Wei “jadi kau berubah menjadi iblis


gila…” Hei Ye cekikikan “hihihi iblis gila… Da Hua, bisa juga kata-kata ini


keluar dari mulutmu hahaha… Feng Wei, jika ada kehidupan berikutnya, aku ingin


terlahir menjadi adikmu yang sebenarnya… saat itu aku akan melindungimu…” Feng


Wei tersenyum lembut “bodoh, kau selamanya adalah adikku yang sebenarnya…” Hei


Ye “yah bodoh, aku adalah adik bodoh dan kau adalah kakak terbodoh hahaha….


hahaha…” keduanya tertawa hingga Hei Ye berubah menjadi cahaya hitam keemasan


dan menghilang.


Feng


Wei bangkit berdiri, mencabut pedang dari dadanya, muntah darah yang sangat


banyak dan menghancurkan kedua pedang. Tubuhnya pun berubah menjadi cahaya


merah keemasan, terbang keluar Tian Ling Dong ke hadapan Budha dan Dewi Kwam


In. Cahaya berubah menjadi Feng Wei yang tembus pandang “lao yeye, jiejie,


kalian datang hihihi… bagaimana aku ? sangat hebatkan… hihihi…” bertingkah


seperti anak kecil dengan tawa ceria. Budha tersenyum lembut “Xiao Shen Zhu


memang yang terhebat, akhirnya sesuai dengan kemauanmu, semua berubah menjadi


baik…” Feng Wei tertawa terbahak-bahak “lao yeye kalahkan… masih aku yang


menangkan hahaha…” Dewi Kwam In “Xiao Shen Zhu, caramu sangat unik dan luar

__ADS_1


biasa…” Feng Wei tertawa terbahak-bahak “hal biasa hal biasa hahaha… nah


selanjutnya giliran kalian…” memberi hormat pada Budha dan Dewi Kwam In.


Feng


Wei beralih ke jiejue berlapis, menembusnya, terbang ke hadapan Hua Zi dengan


senyum manis dan cerianya. Feng Wei membelai kepala Hua Zi “kau harus


berbahagia, mengerti !” Hua Zi tersenyum sedih “Feng Wei yang terhebat…” “Niang


Qin / Hong Ling” Feng Wei sangat ceria “eh berhenti, yang mulia tidak mau melihat


kesedihan hihihi… kalian harus tersenyum berbahagia, hari ini yang mulia sangat


bahagia, akhirnya adik bodohku itu kembali hihihi… ah akhirnya sudah bisa


beristirahat hahaha… nah semua, sekarang giliran kalian menjaga semesta ini”


berdiri di hadapan semua dengan senyum ceria “Cai Hong Huo Feng, disini


berterima kasih pada semua… Cai Hong Huo Feng pamit undur diri hihihi…”


menundukkan kepala. Feng Wei berbalik dan berlari, melompat-lompat kegirangan


seperti anak kecil menjauh dari mereka. Feng Wei berubah menjadi cahaya merah


keemasan terbang masuk ke raga asli Cai Hong Huo Feng.


Cai


Hong Huo Feng membuka mata yang memancarkan sinar yang menyilaukan. Ada senyum


lembut di bibirnya, mengerahkan sihir berkekuatan besar. Dari tubuhnya muncul


cahaya pelangi, semakin lama semakin terang dan semakin besar. Dengan satu


teriakan ‘aaa….’ meluluhlantakkan Tian Ling Dong. Semua jiejue, semua aura


hitam keemasan, aura iblis dan siluman yang pekat sebelumnya hilang digantikan


dengan hawa yang sejuk dan pemandangan yang asri. Tian Ling Dong hilang dan


musnah tak berbekas. Cai Hong Huo Feng dengan wajah pucat turun ke hadapan


semua, tersenyum manis. Dari langit mulai turun hujan fengwei hua. Tubuh Cai


Hong Huo Feng perlahan berubah menjadi cahaya pelangi, menghilang dari hadapan


semua.


Hua


Zi muntah darah dan terjatuh “Fu Qin… Fu Qin…” Gun Gun dan Ling Ling sangat


cemas. Budha dan Dewi Kwam In menghampiri “Yu Huang, kau harus bangga padanya.


Sampai saat terakhirnya pun dia tetap memegang keyakinannya. Shen Zhu sudah


berhasil membuktikan keyakinannya, mengembalikan Hei Ye ke jalan yang benar.”


Lian Song “apa semua ini direncakan Di Hou ?” Budha mengangguk “awalnya yang


mulia pun masih ragu… yang dikatakan kultivasi untuk menyembuhkan diri,


sebenarnya bukanlah menyembuhkan dirinya sendiri tapi Hei Ye. Dia sudah tahu,


Hei Ye akan mengejarnya demi untuk mengacaukan bahkan membunuh raga


kultivasinya. Tapi dengan begitu, Shen Zhu bisa sedikit demi sedikit


menghilangkan unsur iblis dan siluman dari diri Hei Ye. Gadis itu sampai akhirpun


tidak menyerah dengan keyakinannya. Demi hal itu, dia rela kehilangan nyawanya


sendiri. Pantas saja terjadi perubahan dalam kultivasinya”.

__ADS_1


__ADS_2