
Sementara sang tokoh
utama, tengah bersantai di Bi Hai Cang Ling. Hua Zi membawa Feng Wei langsung
ke Bi Hai Cang Ling “ah akhirnya bisa berdua…” berbaring di samping Feng Wei.
Hua Zi tersenyum menatap Feng Wei, membelai wajah tidurnya “Feng Wei, ini
termasuk kau yang menemukanku atau aku yang menemukanmu ? haih… Feng Wei,
setiap kali, kau selalu begitu sempurna… apa yang bisa kulakukan untukmu ? Feng
Wei, jika bisa, aku tidak ingin kau mengingat hal sebelumnya… aku ingin kau
terus seperti ini, menikmati hidup… mau terlahir kembali berapa kali pun,
dihatiku, hanya ada Feng Wei-ku” mengecup bibirnya singkat. Feng Wei bergerak,
membuka mata “Hua Zi gege…” merangkulkan tangannya ke leher Hua Zi sambil
menutup mata. Hua Zi tersenyum “Feng Wei, kau yang menggodaku duluan ya” Feng
Wei mengkerutkan dahinya, membuka mata, wajah Hua Zi sudah berada dihadapannya.
Belum sempat berbicara, bibirnya sudah ditutup.
Mata Feng Wei terbuka, membulat sempurna, Hua Zi sudah
menggerayangi tubuhnya “Fu Ren, aku ingin mendengar suaramu…” berbisik di
telinganya. Feng Wei mulai merasa panas “ah… Hua Zi gege… ah… apa yang kau
lakukan ? ah… gege…” Hua Zi menciumi tubuhnya, menyentuh titik-titik
sensitifnya “Feng Wei, berteriaklah… hanya ada kita berdua disini… kau bisa
bersuara dengan bebas… Feng Wei…” Feng Wei terus bergeliat, merasakan seluruh
kenikmatan yang diberikan Hua Zi. Hua Zi menurunkan badannya, menikmati inti
Feng Wei, Feng Wei menggigit bibirnya “ah… gege… kau… ah…” Hua Zi tersenyum melihat
Feng Wei yang menikmati sensasi yang diberikannya, kembali mencium bibirnya
“ah… Feng Wei… aku sangat menyukai hal ini… ah…” menyatukan tubuh mereka “Feng
Wei, cintai aku… ah… Feng Wei…” mencium leher jenjang dan terus menghujam
intinya. Feng Wei tidak mampu berkata-kata, hanya suara ******* dan erangan
yang terdengar.
Hua Zi terus menghujam Feng Wei, mengulang berkali-kali
hingga Feng Wei kembali tertidur. Hua Zi tersenyum manis melihat Feng Wei yang
tertidur pulas setelah pergumulan mereka “ah… aku adalah dewa yang tidak mau
rugi… Feng Wei, kali ini, kita akan merasakan puncak dunia bersama-sama…”
memeluk erat, tertidur bersama. Feng Wei bangun dengan tubuh yang remuk redam
“argh… pinggangku…” mendengar rintihan Feng Wei, Hua Zi terbangun “ada apa ?”
Feng Wei cemberut “semua karena dirimu… argh… pinggangku sakit…” Hua Zi
cekikikan, menggendong Feng Wei “Fu Ren, Fu Jun akan bertanggung jawab penuh
padamu…” ke permandian air hangat. Feng Wei bermain air “ah… nyaman sekali… Hua
Zi gege, bagaimana Tai Chen gong ? aku harus memperbaikinya… ah… salahkan aku
terlalu terburu-buru…” menggerutu sendiri. Hua Zi “tidak apa, mereka sudah
membenahinya… tenang saja, mereka tidak menyalahkanmu…” Feng Wei “benarkah, aku
harus meminta maaf pada mereka… haih…”.
Hua Zi melihat Feng Wei sambil berfikir ‘apa Feng Wei tidak
mengingat apapun ? tapi dilihat dari kata-katanya, dia tidak mengingat
__ADS_1
kehidupan sebelumnya’ “nanti kita bisa ke Qing Qiu, meminta maaf pada mereka”
Feng Wei mengangguk “sementara kita disini saja, aku ingin berduaan denganmu…”
Hua Zi menarik dan memeluk Feng Wei “ah… pinggangku masih sakit…” Hua Zi
cekikikan “Fu Ren, aku sudah tidak tahan…” mengangkat dan menurunkan Feng Wei
ke pangkuannya, miliknya segera menerobos masuk, menyatu dengan Feng Wei “ah…
Hua Zi gege…” berhasil kembali digempur oleh Hua Zi.
Selama 6 bulan, Feng Wei tidak bisa melangkahkan kaki turun
dari ranjang. Segalanya di layani Hua Zi, Hua Zi hanya cekikikan saat Feng Wei
protes. Hua Zi “haih jangan salahkan aku, siapa yang menyuruh kau begitu
menggoda hihihi… Feng Wei-ku sangat cantik… aku tidak akan bisa terlepas lagi
darimu, kau sudah menjeratku… Feng Wei, aku ingin selamanya seperti ini
denganmu…” jantungnya berdebar-debar. Feng Wei bergoyang, membuka mata kecil
masih sangat kelelahan “Hua Zi gege…” Hua Zi mencium bibirnya “Feng Wei, kita
begini saja, hidup di Bi Hai Cang Ling berdua selamanya ya” Feng Wei menutup
mata “tapi sudah lama aku tidak bermain, aku ingin makan manisan plum dialam
fana…” Hua Zi tersenyum membelai kepala Feng Wei “baik, aku akan menemanimu,
setelah itu kita pulang ke rumah…” Feng Wei mengangguk-angguk, segera tertidur
kembali memeluk Hua Zi “tidurlah, Feng Wei-ku, milikku satu-satunya …”.
Beberapa kali kepergian mereka tertunda karena Hua Zi yang
tidak bisa menahan diri, membuat Feng Wei kesal sampai keubun-ubun “Hua Zi
gege, ini sudah yang ke berapa kalinya…” Hua Zi cekikikan “baik… baik… sekali
akhirnya Feng Wei kelelahan kembali dan tertidur. Suatu hari, Feng Wei menahan
sakit di badannya, bangun sebelum Hua Zi. Saat Hua Zi bangun, Feng Wei sudah
siap “sudah bangun…” tersenyum manis melihat Hua Zi. Hua Zi segera menariknya
“kenapa bangun begitu pagi ! kemarilah, temani aku tidur sesaat lagi…” Feng Wei
segera meronta “Hua Zi gege tidur sendiri saja, sampai jumpa…” segera berlari
keluar. Hua Zi tersenyum, tiba-tiba tersadar, segera mengejarnya “Feng Wei…”
Feng Wei cekikikan “tidak melanjutkan tidur ?” Hua Zi menyentil keningnya “kau
sangat nakal…” Feng Wei memeletkan lidahnya “ayo…” menarik Hua Zi segera keluar
Bi Hai Cang Ling. Hua Zi hanya pasrah “Fu Ren, weifu belum sarapan…” Feng Wei
segera mengeluarkan sebuah kantong yang berisi banyak kue “sudah tahu kau akan
mencari alasan lagi…” Hua Zi cekikikan.
Sebelum turun, Feng Wei mengubah warna rambut mereka dan
menghilangkan tanda bunga di kening “Feng Wei, untuk apa seperti ini ?” Feng
Wei “aku tidak suka mengundang perhatian yang tidak perlu…” Hua Zi mengangguk,
mereka pun kealam fana. Feng Wei sangat senang di alam fana, melompat-lompat,
menarik Hua Zi mencoba segala makanan tradisional “Hua Zi gege cobalah,
bagaimana ?” Hua Zi menggeleng “terlalu manis…” Feng Wei cekikikan “kita coba
lainnya…” menarik Hua Zi ke tempat lain. “nona kecil, kau mencari apa ?
kemarilah menemani gege…” seorang pemuda tiba-tiba menghampiri. Belum sempat
memegang tangan Feng Wei, sudah terjatuh. Feng Wei cekikikan “tuan, anda harus belajar berdiri yang kokoh,
__ADS_1
jalan saja bisa jatuh, pasti jarang berolahraga ckckckck sayang sekali, masih
muda tapi sangat lemah…” berlalu bersama Hua Zi.
Setelah lelah, mereka mampir ke rumah teh “pelanggan, ingin
memesan apa ?” Feng Wei “berikan 2 macam sayur dan teh pelega panas kalian !”
“baik, tunggu sebentar…” pelayan segera pergi menyiapkan pesanan mereka. Hua Zi
mengelap keringat Feng Wei “lelah ?” Feng Wei menggeleng “sudah lama tidak
bersenang-senang seperti ini…” Hua Zi “dulu kau sering seperti ini ?” Feng Wei
mengangguk “setiap beberapa tahun, aku akan turun…” Hua Zi “ooo… apa yang
membuatmu sangat suka kemari ?” Feng Wei “disini, aku berbuat apapun, tidak ada
yang akan mengingatnya hihihi… ooo pernah suatu waktu, aku menghajar seorang
putra mahkota hahaha…” Hua Zi tertarik “putra mahkota ?” Feng Wei mengangguk
“haih… siapa suruh dia begitu bodoh, bahaya didepan mata tidak tahu… hanya
sibuk bermain dan berulah saja… tapi dengar-dengar setelah kepergianku, dia
malah berubah giat, tidak berulah lagi…” Hua Zi “ooo… sebelum meninggalkannya,
apa kau mengatakan sesuatu ?” Feng Wei mengangguk “aku mengatakan jika lain
kali bertemu dan dia masih seperti itu, aku akan menghajarnya lagi ! sepertinya
dia mencariku untuk membuktikan dirinya !” Hua Zi “membuktikan diri ?” Feng Wei
acuh tak acuh mengangguk, Hua Zi “dia menyukaimu ?” Feng Wei cuek “dia
mengatakan seperti itu, memintaku masuk istana… aku tidak mau, selain
makanannya tidak ada yang asik di istana… aku hanya 5 hari di istana dan
melarikan diri…” Hua Zi “bagaimana kau menghajarnya ?” Feng Wei cekikikan “aku
mengalahkannya dalam adu pedang, berkuda, memanah, dan berlari… setiap kali dia
kalah, aku akan memelintir telinganya hihihi… tapi dengan begitu dia tidak bisa
menahanku… dia mengerahkan banyak tentara mencariku, aku kembali ke atas.
Ketika kembali kesini, dia sudah tua… memegang tanganku sebelum menghembuskan
nafas terakhirnya, katanya aku sangat mirip dengan gadis di hatinya, ah aku
tidak mengerti istilah makhluk sini…” wajah Hua Zi berubah “memegang tanganmu
?” Feng Wei mengangguk.
“pelanggan, makanan kalian…” pelayan membawa pesanan
mereka. Hua Zi “kapan kau bertemu putra mahkota itu ?” Feng Wei “ehm tidak lama
setelah dari Bi Hai Cang Ling menanam pohon fengwei hua” Hua Zi menggertakkan
giginya “tangan yang mana yang dipegangnya ?” Feng Wei tidak memperhatikan
perubahan Hua Zi “aih mana aku ingat, kejadiannya sudah sangat lama… tapi, aku
pernah bertemu lagi dengan yang mirip dengannya” Hua Zi terkejut “dimana ?”
Feng Wei “pernah 2 x di alam fana… oh saat kita di aula rapat, dewa itu juga
mirip dengannya” Hua Zi mendesak “dewa yang mana ?” Feng Wei “dewa yang membawa
laporan… Hua Zi gege, ini cobalah, walau tidak seenak buatanku, ini masih bisa
dimakan, ayo…” menyuapi Hua Zi. Hua Zi cemberut tetap membuka mulutnya
“bagaimana ?” Hua Zi menarik Feng Wei mendekat padanya “Feng Wei…” “hmm…”
menjawab ala kadarnya, tidak melihat Hua Zi, Hua Zi cemberut, memeluk erat dan
langsung mencium bibir Feng Wei “ehm…” Feng Wei terkejut.
__ADS_1