
Disaat para pemuda jatuh,
Yang Guang melempar pedang kayunya menghantam para pemuda, membuat semua
terpental ke atas jerami keluar dari arena. Tepat saat itu, Huang Guang yang
tidak dapat menahan serangan, menusukkan pedangnya tepat di dada Yang Guang.
Yang Guang bahkan tidak melihat Huang Guang, segera nelompat dari atas kudanya,
mencabut pedang Huang Guang dan melemparnya kearah pemuda yang lain. Yang Guang
terbang ke tengah kerumunan kuda liar, duduk di atas salah satu kuda, menarik
kuat tali kekang. “Berhenti…” satu kata teriakan keluar dari bibir mungilnya.
Semua kuda segera terlonjak kaget, mengangkat kedua kaki depan mereka dan
menurunkannya ke tanah.
Seketika arena perlombaan menjadi tenang, Yang Guang
menatap tajam semua kuda dengan aura mengintimidasi yang mengerikan. Semua kuda
tidak sanggup menatap matanya, segera tertunduk ke tanah. Semua penonton
merinding ketakutan merasakan hawa dingin dari aura yang dikeluarkan Yang
Guang. Untuk sesaat, suasana hening bagai tak ada kehidupan. “Niang Qin
terluka…” “Feng Wei…” “aura Hong Ling niang keluar…” “walau Hong Ling sedang
kultivasi tapi auranya tetap terbawa…” “Feng Wei tidak menyadari sakitnya
lagi…” Hua Zi berkaca-kaca menahan sakit hati melihat Yang Guang kembali
terluka.
Yang memecah suasana adalah Fei Jiao yang mendekat ke Yang
Guang “brrr… brr…” menggosok-gosokkan kepalanya ke kaki Yang Guang. Semua
segera tersadar, Huang Guang segera memacu kudanya kearah Yang Guang “siapa
yang mengijinkan kalian masuk ke arena perlombaan ? bawa semua kuda kembali ke
istal” Huang Guang murka “tabib… mana tabib ?” segera turun dari kudanya,
berlari ke Yang Guang “Yang Guang, ayo turun, kita obati lukamu…” Yang Guang
baru sadar terluka, menunduk dan melihat dadanya yang berdarah “tidak apa,
hanya luka kecil…” “luka kecil apa ! kalau tidak baik-baik mengurusnya, kau
bisa mati…” Yang Guang turun dari kuda, berjalan gagah sambil cekikikan “mati
karena luka kecil… tuan muda, bukankah kau sedikit berlebihan hahaha…” naik ke
Fei Jiao tanpa mempedulikan lukanya “kau…”
Yang Guang “haih sudahlah, luka sekecil ini tidak perlu kau
pedulikan. Aku terluka dibawah pedangmu, anggap aku kalah dalam perlombaan
ini…” mengeluarkan kantong uang, membaginya jadi 2 “ini untukmu ! kau menang 1
perlombaan dan aku menang 1, kita menang bersama, jadi hadiah ini kita bagi 2”
melemparkannya ke Huang Guang. Huang Guang menerima “tapi lukamu…” Yang Guang
mengangkat tangan “tidak masalah, hal kecil… aku pergi dulu, kau masih
__ADS_1
berhutang 1x makan padaku…” “Yang Guang, bagaimana kalau sementara tinggallah
di tempat kami ? anggap saja sebagai penebusan karena Huang er melukaimu” “iya,
bagaimanapun aku tidak sengaja melukaimu… ayolah, selesai beristirahat, aku
akan mentraktirmu sepuasnya… lihat aku punya uang banyak sekarang…” Yang Guang
melihat kondisinya “baiklah, terima kasih shushu, aku merepotkan” “tidak repot
tidak repot, mari…”
Banyak penonton yang masih melongo mengikuti arah perginya
Yang Guang “dia… dia…” “apa benar dia masih anak-anak ?” “tindakannya tadi
sangat keren…” “sangat tampan…” “tapi tadi aku merasa dingin dan takut…” “anak
itu begitu berwibawa !” “dia… dia mampun menjinakkan semua kuda dalam sekejab…”
“auranya seperti aura seorang kaisar… apa dia anak raja ?” “ah jangan omong
kosong… mana ada anak raja yang berkeliaran hanya menggunakan 1 kuda… apalagi
dia masih begitu muda…” “dia lebih keren dari Huang Guang…” “ah aku jatuh cinta
pada anak kecil itu…” “cih kau sudah tua, dasar…” para masyarakat desa Ma Tuan
terus bergosip, bahkan sampai ke desa tetangga dan ke ibukota, telinga raja dan
permaisuri.
“Anak kecil ? apa kau bercanda ?” Raja tersenyum simpul
“tidak yang mulia, berita ini benar adanya…” salah satu jenderal melaporkan
“dimana anak itu sekarang ?” Raja bertanya lagi, sang jenderal menggeleng “anak
tujuannya” “ooo… bagaimana rupa anak itu ?” “dari informasi hamba, anak itu
berusia 9 -10 tahun, sangat tampan, tidak mempunyai orang tua, mengembara
sendiri, hanya membawa seekor kuda bersamanya.” “ooo nama ?” “ehm… mereka
memanggilnya Xiao Guang untuk membedakannya dari tuan muda sang bupati yang
bernama Huang Guang” “ooo…” ada seulas senyuman di bibir sang raja, melirik ke
permaisurinya. “paling hanya mereka yang membesar-besarkan, kau awasi saja
kalau ada berita lain…” “baik yang mulia…”
Yang Guang menolak pengobatan karena tidak ingin ketahuan
sebagai seorang gadis. Huang Guang dan keluarganya adalah tipe keluarga yang
menghormati orang lain, jadi tidak terus memaksa. Yang Guang sendiri mengobati
dirinya di dalam kamar yang sudah disiapkan untuknya, dalam kediaman bupati.
Sesuai janjinya, setelah beristirahat, Huang Guang membawa Yang Guang
berkeliling, mengenalkan desanya dan semua makanan khas daerah itu. Seperti Bai
feng Jiu ataupun Feng Wei ataupun Cai Hong Huo Feng, Yang Guang sangat tertarik
terhadap masakan. Saat meninggalkan Desa Ma Tuan, Yang Guang sudah mendapat
tambahan resep.
Di saat malam, Hua Zi memunculkan dirinya, mengobati Yang
__ADS_1
Guang yang sudah tertidur. Hua Zi perlahan membuka baju Yang Guang, melihat
lukanya, 1 tetes air mata jatuh ke luka. “maaf, aku terluka lagi…” Hua Zi
terkejut dan tersenyum “kau tahu !” Yang Guang tidak membuka mata tapi
mengangguk. Hua Zi sambil mengoleskan obat sambil berkomunikasi “kenapa tidak
membuka matamu ?” Yang Guang “bukankah anda tidak ingin aku melihat anda !” Hua
Zi tersenyum “sejak kapan kau tahu ?” Yang Guang bershh… merasakan perih di
lukanya. Hua Zi meniup luka Yang Guang agar tidak perih “sejak aku bisa
mengenal sekitar, aku tahu kau selalu ada di sisiku. Ehm shushu, apa kau
malaikat penjagaku ? kenapa kau tidak pernah muncul di hadapanku ?” Hua Zi
“hmm… apa kau takut ?” Yang Guang menggeleng “shushu adalah malaikat
pelindungku, kenapa aku harus takut ?” Hua Zi membelai kepala Yang Guang
“pintar…” Yang Guang cekikikan.
Hua Zi memakaikan kembali baju Yang Guang “shushu, ehm lain
kali jangan melakukan hal seperti ini lagi !” Hua Zi tercengang “kenapa ? kau
tidak suka ?” Yang Guang menggeleng “bukan tidak suka… hanya pria dan wanita
tidak boleh bersentuhan” Hua Zi mengetuk keningnya “kau terlalu banyak
berfikir… dari kecil, tubuhmu yang mana yang tidak pernah kulihat ?” Yang Guang
cemberut “shushu…” Hua Zi cemberut “apa aku begitu tua sampai kau memanggilku shushu
?” Yang Guang mengerutkan kening “emm… jadi… jadi aku harus memanggilmu apa ?”
Hua Zi “panggil Hua Zi gege… aku akan memanggilmu Feng Wei…” Yang Guang “Hua Zi
gege… nama yang bagus… tapi namaku Shen Yang Guang, kenapa memanggilku Feng Wei
?” Hua Zi “bukankah aku adalah malaikatmu ! aku tidak mau memanggilmu sama
seperti yang lain…” Yang Guang berooo.
Hua Zi “apa masih sakit ?” Yang Guang menggeleng “tidak
sakit, obat Hua Zi gege sangat bagus, aku tidak sakit lagi…” Hua Zi menghela
nafas “kau terluka terus…” Yang Guang tertunduk “maaf…” Hua Zi “tidak bisakah
kau lebih memperhatikan dirimu sendiri ! apa kau tidak takut ?” Yang Guang
“tidak sempat berfikir, tidak sempat merasa takut…” langsung menjawab polos.
Hua Zi menghela nafas ‘haih beginilah Feng Wei-nya, semua dilakukannya dengan
spontan, tidak pernah menaruh dirinya di tempat pertama…’ “Hua Zi gege, apa kau
marah ?” Hua Zi memeluk Yang Guang “tidak marah… Feng Wei, bisakah lain kali,
kau lebih memperhatikan dirimu sendiri ? aku sakit hati melihatmu terluka
terus, anggap saja demi diriku…” Yang Guang tercengang, kemudian mengangguk
“aku akan berusaha agar tidak terluka…” Hua Zi mengecup keningnya “bagus…
sekarang tidurlah… alu menjagamu…” Yang Guang tersenyum mengangguk, masuk ke
pelukan Hua Zi. Hua Zi tersenyum melihatnya ‘Feng Wei, aku akan selalu berada
__ADS_1
di sisimu…’ mengecup lembut bibir Yang Guang yang sudah tertidur.