
Huang Guang “kemana Yang er
? Yang er… Yang er…” mencari di seluruh tempat, Yue Xing gong, Akademi
Kerajaan, tetap tidak menemukan Yang Guang. Jing Guang “bagaimana ini ? Yang er
tidak pernah sesedih itu…” Ye Xing “cari… kita berpencar mencarinya di
ibukota…” Shui Lan “aku akan ke tempat kita latihan dulu…” Dian Lan “aku akan
ke Hutan Perburuan…” Lu Teng “baik, kita berpencar… berkumpul di restaurant
yang dulu” semua mengangguk, segera bergegas mencari Yang Guang.
Hua Zi “dia selalu menyendiri saat sedih…” menatap Yang
Guang yang sedang minum arak. Beberapa tetes air mata jatuh dari mata
cantiknya. Zhe Yan “pergilah…” Hua Zi memunculkan dirinya disamping Yang Guang
“Hua Zi gege, tolong tinggalkan aku sendirian… jangan muncul saat ini…” Hua Zi
kembali menghilang, menatap sedih Yang Guang. Bai Chen “mungkin memang akhirnya
sudah dekat…” Zhe Yan “paling tidak masih setahun lagi…” Hua Zi “saat dia
menyelesaikan seluruh kultivasi, aku tidak akan pernah melepasnya lagi… gadis
kecilku harus bahagia, aku akan melakukan segalanya hanya untuk kebahagiaannya…
dia tidak diperbolehkan mengingat kesedihannya…” ‘Feng Wei, semua ada aku… aku
akan selalu ada disisimu…’.
Yang Guang berjalan sendirian tak tentu arah sambil
memegang kendi arak. Di jalanan, dia dihadang sekelompok pembunuh “minggir, aku
sedang tidak ingin bermain dengan kalian hari ini” terus berjalan “cih bermain,
kau akan mati hari ini… kakak, lihat, dia sudah mabuk…” “pekerjaan kita sangat
mudah…” “serang…” Yang Guang mengangkat wajahnya dengan marah “sudah kukatakan,
aku tidak mau bermain hari ini !” berteriak dengan amarah, suasana seketika
menjadi dingin. Para pembunuh tercengang sesaat, saling melirik “dia hanya
pemuda mabuk, tidak perlu takut, serang…” teriak salah satu pembunuh.
Keluar aura membunuh dari tubuh Yang Guang, melempar kendi
arak hingga pecah “sialan… kalian fikir aku takut… aku sudah memperingati
sebelumnya… serahkan nyawa kalian…” menarik sabuknya yang segera membentuk
pedang ulet dan sangat tajam. Yang Guang tanpa sadar, menyalurkan kekecewaan
dan kesedihannya dalam pertarungan. Suara pertarungan mereka terdengar hingga
ke telinga ketujuh kawannya, segera mencari sumber suara. Disaat mereka tiba,
sudah ada beberapa orang yang menonton pertarungan dengan mulut terbuka dan
mata yang melebar ngeri. Pertarungan hanya berlangsung sesaat, Yang Guang sudah
berdiri di tengah-tengah puluhan mayat para pembunuh. Suasana mencekam sangat
terasa, aura membunuh tidak hentinya keluar dari tubuh Yang Guang.
“Yang er, kau baik-baik saja ?” ketujuhnya menghampiri.
Yang Guang seperti tidak mendengar kata-kata mereka, berjalan beberapa langkah
dan berjongkok di hadapan 2 orang pembunuh yang masih hidup “sudah kukatakan
__ADS_1
aku sedang tidak ingin bermain, kalian cari mati” sekelibat pedangnya
menghilangkan nyawa kedua pembunuh. Yang Guang berjalan pergi seakan tidak ada
apapun dan tidak mempedulikan siapapun.
“i… itu… Pengawas kan ? Pengawas Yang Guang kan ?” “mengerikan…
dia sangat mengerikan !” “ka… kakak… Pe… Pengawas marah padaku… kak, aku… aku
takut…” keduanya adalah Putri dan Pangeran yang paling pertama sampai di lokasi
kejadian, mereka melihat dengan mata kepala sendiri, pertarungan Yang Guang dan
para pembunuh, dari awal hingga akhir yang hanya menghabiskan waktu tidak
sampai 10 menit, tapi sudah menghilangkan nyawa begitu banyak orang.
Zhe Yan “pantas saja, saat Shen Zhu berwajah serius, tidak
ada yang berani dekat dengannya…” Hua Zi “jika bisa menghilangkan sedikit
kesedihannya, kematian mereka termasuk tidak sia-sia” Bai Chen “aku akan ke
Qing Qiu memanggil anak-anak, mereka pasti mau melihatnya” Zhe Yan “aku
menemanimu…” menghilang meninggalkan Hua ZI yang terus mengikuti Yang Guang.
Yang Guang kembali ke Akademi Kerajaan, langsung masuk ke ruangannya dan menutup
pintu “haih… dia mengabaikan kita…” “sudahlah, berikan Yang er waktu…” “2 hari lagi
adalah pengumuman kelulusan. Semoga Yang er sudah membaik esok hari”.
Yang Guang yang masuk ke ruangannya, merendam dirinya di
dalam air hangat sambil menutup mata. Hua Zi ikut masuk, memeluknya “Feng Wei,
sudah… tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja !” “Hua Zi gege, kau mengambil
keuntungan lagi dariku…” Hua Zi cekikikan “kau milikku Yang Guang Da Ren…” Yang
tubuhku cih…” Hua Zi mengangguk “tubuh bagian manamu yang belum kulihat…” Yang
Guang membuang muka “hanya…” Hua Zi menggantung kata-katanya “hanya apalagi ?”
Yang Guang bertanya ketus. Hua Zi mendekatkan bibirnya di telinga Yang Guang
“hanya belum mencicipinya…” sontak mata Yang Guang melebar dan mau memundurkan
tubuhnya. Hua Zi menahan Yang Guang dipelukannya “Feng Wei, jangan bergerak…
kau bergerak, aku tidak akan tahan…”
Yang Guang terdiam mematung, bisa merasakan perubahan tubuh
Hua Zi yang mulai memanas. Hua Zi menatapnya dan perlahan mencium bibirnya “aku
mencintaimu istriku… Feng Wei, katakan kau menyukaiku…” Yang Guang tergagap “a…
aku…” Hua Zi menatap lembut Yang Guang “Feng Wei, tidak menyukaiku ?” Yang
Guang menggeleng, kebingungan, Hua Zi cemberut “tidak menyukaiku ?” Yang Guang
“aku tidak tahu perasaan apa ini ! Hua Zi gege, pertama melihat wajahmu, ada
sesuatu yang beda disini” menunjuk dadanya “aku merasa nyaman mengetahui Hua Zi
gege selalu bersamaku…” Hua Zi tersenyum memeluk Yang Guang “Feng Wei, aku
mencintaimu, selalu mencintaimu…” mencium bibirnya, tangan Hua Zi mulai
merajalela.
Yang Guang terkejut dengan tindakan Hua Zi “sttt… Feng Wei,
__ADS_1
aku akan melakukannya dengan lembut…” berdiri mengangkat Yang Guang ke ranjang.
Yang Guang menutup matanya melihat tubuh Hua Zi. Hua Zi tersenyum “niang zi,
tubuhku juga sudah kau lihat semua, kau harus bertanggung jawab padaku…” Yang
Guang membelalakkan matanya “ka… kau…” Hua Zi membaringkannya dengan lembut
“Feng Wei, di kehidupan manapun, kau adalah istriku satu-satunya, aku tidak
akan pernah melepasmu…” Yang Guang berwajah nakal “bagaimana kalau aku jatuh
cinta pada sesama manusia” Hua Zi nampak berfikir “kalau begitu aku akan
menghukummu tidak turun ranjang 3 hari…” Yang Guang bergidik ngeri, Hua Zi
cekikikan.
Hua Zi mencium bibir Yang Guang “Feng Wei, jangan takut…
kau adalah istriku… apapun yang terjadi nantinya, aku akan selalu bersamamu…
sangat mencintaimu…” menikmati tubuh Yang Guang perlahan dalam kelembutan. Yang
Guang yang takut dan ragu, perlahan menikmati permainan Hua Zi. Selama
hidupnya, hanya Hua Zi yang selalu menemaninya, mengetahui apapun tentangnya
tanpa dia harus mengatakan apapun. Dari awal mengetahui keberadaan Hua Zi, Yang
Guang tidak merasakan sesuatu yang asing atau penolakan dari dirinya sendiri.
Yang Guang pun tidak berencana menikah, apalagi dia mempunyai firasat, hidupnya
akan berakhir tidak lama lagi di ibukota ini.
Setelah kegiatan panas mereka, Hua Zi mengecup keningnya
“sakit ?” Yang Guang mengangguk, memasukkan wajahnya ke dada bidang Hua Zi “aku
Yang Guang Da Ren malah menjadi milik makhluk tak kasat mata, bagaimana jika
yang lain tahu…” Hua Zi cekikikan “kau memang milikku Da Ren, tidak perlu
pedulikan lainnya !” Yang Guang mengangguk “Hua Zi gege, jika terjadi sesuatu
padaku, kau harus terus hidup, mengerti !” Hua Zi menggeleng “Feng Wei, aku
sudah mengatakannya, kita sehidup semati…” Yang Guang “tapi…” Hua Zi
membaringkan kepalanya di dada Yang Guang “tidak ada tapi… apapun yang terjadi
aku akan selalu bersamamu…” ‘Feng Wei, jangan pernah berharap meninggalkanku
lagi…’.
Yang guang tidak keluar kamar selama 2 hari. Semua mengira
Yang Guang terlalu sedih, memberinya waktu untuk memulihkan kekecewaannya.
Hanya Yang Guang yang tahu, dia tidak keluar karena tubuhnya remuk redam
dikerjain Hua Zi selama 2 hari, hanya karena kalimatnya. Yang Guang membawa
tubuhnya yang masih pegal-pegal ke hadapan semua dengan wajah cemberut, membuat
semua khawatir “Yang er, akhirnya kau keluar…” “ayo… hari ini pengumuman
kelulusan sudah ditempelkan… ayo kita lihat, yang berada di peringkat terakhir
traktir…” “ayo Yang er, karena menunggumu, kami belum pergi mencicipi mie…”
Yang Guang menghela nafas “baiklah…” jika bukan pengumuman kelulusan, dia masih
ingin tidur di kamarnya. “apa ingin kugendong ?” suara Hua Zi terdengar
__ADS_1
ditelinganya, Yang Guang berdecak kesal “ayo… aku sudah lapar…” Hua Zi
cekikikan.