Return Of God Emperor

Return Of God Emperor
Bab 166 - Kekuatan Yang Guang


__ADS_3

Huang Guang “kemana Yang er


? Yang er… Yang er…” mencari di seluruh tempat, Yue Xing gong, Akademi


Kerajaan, tetap tidak menemukan Yang Guang. Jing Guang “bagaimana ini ? Yang er


tidak pernah sesedih itu…” Ye Xing “cari… kita berpencar mencarinya di


ibukota…” Shui Lan “aku akan ke tempat kita latihan dulu…” Dian Lan “aku akan


ke Hutan Perburuan…” Lu Teng “baik, kita berpencar… berkumpul di restaurant


yang dulu” semua mengangguk, segera bergegas mencari Yang Guang.


          Hua Zi “dia selalu menyendiri saat sedih…” menatap Yang


Guang yang sedang minum arak. Beberapa tetes air mata jatuh dari mata


cantiknya. Zhe Yan “pergilah…” Hua Zi memunculkan dirinya disamping Yang Guang


“Hua Zi gege, tolong tinggalkan aku sendirian… jangan muncul saat ini…” Hua Zi


kembali menghilang, menatap sedih Yang Guang. Bai Chen “mungkin memang akhirnya


sudah dekat…” Zhe Yan “paling tidak masih setahun lagi…” Hua Zi “saat dia


menyelesaikan seluruh kultivasi, aku tidak akan pernah melepasnya lagi… gadis


kecilku harus bahagia, aku akan melakukan segalanya hanya untuk kebahagiaannya…


dia tidak diperbolehkan mengingat kesedihannya…” ‘Feng Wei, semua ada aku… aku


akan selalu ada disisimu…’.


          Yang Guang berjalan sendirian tak tentu arah sambil


memegang kendi arak. Di jalanan, dia dihadang sekelompok pembunuh “minggir, aku


sedang tidak ingin bermain dengan kalian hari ini” terus berjalan “cih bermain,


kau akan mati hari ini… kakak, lihat, dia sudah mabuk…” “pekerjaan kita sangat


mudah…” “serang…” Yang Guang mengangkat wajahnya dengan marah “sudah kukatakan,


aku tidak mau bermain hari ini !” berteriak dengan amarah, suasana seketika


menjadi dingin. Para pembunuh tercengang sesaat, saling melirik “dia hanya


pemuda mabuk, tidak perlu takut, serang…” teriak salah satu pembunuh.


          Keluar aura membunuh dari tubuh Yang Guang, melempar kendi


arak hingga pecah “sialan… kalian fikir aku takut… aku sudah memperingati


sebelumnya… serahkan nyawa kalian…” menarik sabuknya yang segera membentuk


pedang ulet dan sangat tajam. Yang Guang tanpa sadar, menyalurkan kekecewaan


dan kesedihannya dalam pertarungan. Suara pertarungan mereka terdengar hingga


ke telinga ketujuh kawannya, segera mencari sumber suara. Disaat mereka tiba,


sudah ada beberapa orang yang menonton pertarungan dengan mulut terbuka dan


mata yang melebar ngeri. Pertarungan hanya berlangsung sesaat, Yang Guang sudah


berdiri di tengah-tengah puluhan mayat para pembunuh. Suasana mencekam sangat


terasa, aura membunuh tidak hentinya keluar dari tubuh Yang Guang.


          “Yang er, kau baik-baik saja ?” ketujuhnya menghampiri.


Yang Guang seperti tidak mendengar kata-kata mereka, berjalan beberapa langkah


dan berjongkok di hadapan 2 orang pembunuh yang masih hidup “sudah kukatakan

__ADS_1


aku sedang tidak ingin bermain, kalian cari mati” sekelibat pedangnya


menghilangkan nyawa kedua pembunuh. Yang Guang berjalan pergi seakan tidak ada


apapun dan tidak mempedulikan siapapun.


          “i… itu… Pengawas kan ? Pengawas Yang Guang kan ?” “mengerikan…


dia sangat mengerikan !” “ka… kakak… Pe… Pengawas marah padaku… kak, aku… aku


takut…” keduanya adalah Putri dan Pangeran yang paling pertama sampai di lokasi


kejadian, mereka melihat dengan mata kepala sendiri, pertarungan Yang Guang dan


para pembunuh, dari awal hingga akhir yang hanya menghabiskan waktu tidak


sampai 10 menit, tapi sudah menghilangkan nyawa begitu banyak orang.


          Zhe Yan “pantas saja, saat Shen Zhu berwajah serius, tidak


ada yang berani dekat dengannya…” Hua Zi “jika bisa menghilangkan sedikit


kesedihannya, kematian mereka termasuk tidak sia-sia” Bai Chen “aku akan ke


Qing Qiu memanggil anak-anak, mereka pasti mau melihatnya” Zhe Yan “aku


menemanimu…” menghilang meninggalkan Hua ZI yang terus mengikuti Yang Guang.


Yang Guang kembali ke Akademi Kerajaan, langsung masuk ke ruangannya dan menutup


pintu “haih… dia mengabaikan kita…” “sudahlah, berikan Yang er waktu…” “2 hari lagi


adalah pengumuman kelulusan. Semoga Yang er sudah membaik esok hari”.


          Yang Guang yang masuk ke ruangannya, merendam dirinya di


dalam air hangat sambil menutup mata. Hua Zi ikut masuk, memeluknya “Feng Wei,


sudah… tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja !” “Hua Zi gege, kau mengambil


keuntungan lagi dariku…” Hua Zi cekikikan “kau milikku Yang Guang Da Ren…” Yang


tubuhku cih…” Hua Zi mengangguk “tubuh bagian manamu yang belum kulihat…” Yang


Guang membuang muka “hanya…” Hua Zi menggantung kata-katanya “hanya apalagi ?”


Yang Guang bertanya ketus. Hua Zi mendekatkan bibirnya di telinga Yang Guang


“hanya belum mencicipinya…” sontak mata Yang Guang melebar dan mau memundurkan


tubuhnya. Hua Zi menahan Yang Guang dipelukannya “Feng Wei, jangan bergerak…


kau bergerak, aku tidak akan tahan…”


          Yang Guang terdiam mematung, bisa merasakan perubahan tubuh


Hua Zi yang mulai memanas. Hua Zi menatapnya dan perlahan mencium bibirnya “aku


mencintaimu istriku… Feng Wei, katakan kau menyukaiku…” Yang Guang tergagap “a…


aku…” Hua Zi menatap lembut Yang Guang “Feng Wei, tidak menyukaiku ?” Yang


Guang menggeleng, kebingungan, Hua Zi cemberut “tidak menyukaiku ?” Yang Guang


“aku tidak tahu perasaan apa ini ! Hua Zi gege, pertama melihat wajahmu, ada


sesuatu yang beda disini” menunjuk dadanya “aku merasa nyaman mengetahui Hua Zi


gege selalu bersamaku…” Hua Zi tersenyum memeluk Yang Guang “Feng Wei, aku


mencintaimu, selalu mencintaimu…” mencium bibirnya, tangan Hua Zi mulai


merajalela.


          Yang Guang terkejut dengan tindakan Hua Zi “sttt… Feng Wei,

__ADS_1


aku akan melakukannya dengan lembut…” berdiri mengangkat Yang Guang ke ranjang.


Yang Guang menutup matanya melihat tubuh Hua Zi. Hua Zi tersenyum “niang zi,


tubuhku juga sudah kau lihat semua, kau harus bertanggung jawab padaku…” Yang


Guang membelalakkan matanya “ka… kau…” Hua Zi membaringkannya dengan lembut


“Feng Wei, di kehidupan manapun, kau adalah istriku satu-satunya, aku tidak


akan pernah melepasmu…” Yang Guang berwajah nakal “bagaimana kalau aku jatuh


cinta pada sesama manusia” Hua Zi nampak berfikir “kalau begitu aku akan


menghukummu tidak turun ranjang 3 hari…” Yang Guang bergidik ngeri, Hua Zi


cekikikan.


          Hua Zi mencium bibir Yang Guang “Feng Wei, jangan takut…


kau adalah istriku… apapun yang terjadi nantinya, aku akan selalu bersamamu…


sangat mencintaimu…” menikmati tubuh Yang Guang perlahan dalam kelembutan. Yang


Guang yang takut dan ragu, perlahan menikmati permainan Hua Zi. Selama


hidupnya, hanya Hua Zi yang selalu menemaninya, mengetahui apapun tentangnya


tanpa dia harus mengatakan apapun. Dari awal mengetahui keberadaan Hua Zi, Yang


Guang tidak merasakan sesuatu yang asing atau penolakan dari dirinya sendiri.


Yang Guang pun tidak berencana menikah, apalagi dia mempunyai firasat, hidupnya


akan berakhir tidak lama lagi di ibukota ini.


          Setelah kegiatan panas mereka, Hua Zi mengecup keningnya


“sakit ?” Yang Guang mengangguk, memasukkan wajahnya ke dada bidang Hua Zi “aku


Yang Guang Da Ren malah menjadi milik makhluk tak kasat mata, bagaimana jika


yang lain tahu…” Hua Zi cekikikan “kau memang milikku Da Ren, tidak perlu


pedulikan lainnya !” Yang Guang mengangguk “Hua Zi gege, jika terjadi sesuatu


padaku, kau harus terus hidup, mengerti !” Hua Zi menggeleng “Feng Wei, aku


sudah mengatakannya, kita sehidup semati…” Yang Guang “tapi…” Hua Zi


membaringkan kepalanya di dada Yang Guang “tidak ada tapi… apapun yang terjadi


aku akan selalu bersamamu…” ‘Feng Wei, jangan pernah berharap meninggalkanku


lagi…’.


          Yang guang tidak keluar kamar selama 2 hari. Semua mengira


Yang Guang terlalu sedih, memberinya waktu untuk memulihkan kekecewaannya.


Hanya Yang Guang yang tahu, dia tidak keluar karena tubuhnya remuk redam


dikerjain Hua Zi selama 2 hari, hanya karena kalimatnya. Yang Guang membawa


tubuhnya yang masih pegal-pegal ke hadapan semua dengan wajah cemberut, membuat


semua khawatir “Yang er, akhirnya kau keluar…” “ayo… hari ini pengumuman


kelulusan sudah ditempelkan… ayo kita lihat, yang berada di peringkat terakhir


traktir…” “ayo Yang er, karena menunggumu, kami belum pergi mencicipi mie…”


Yang Guang menghela nafas “baiklah…” jika bukan pengumuman kelulusan, dia masih


ingin tidur di kamarnya. “apa ingin kugendong ?” suara Hua Zi terdengar

__ADS_1


ditelinganya, Yang Guang berdecak kesal “ayo… aku sudah lapar…” Hua Zi


cekikikan.


__ADS_2