
Bai
Jin “dulu kami tidak memiliki makanan, dengan susah payah jiejie mengambil madu
hutan… cairannya yang hanya sedikit, masih dibaginya pada kami ber-7, jiejie
hanya memakan sisa yang lengket di tangannya. Dengan alasan dialah sang
penguasa aura, melindungi kami semua dari hawa Zuan Bao Shi Dao.” Ling Ling
“apa dulu hidup Niang Qin sangat susah ?” Bai Jin mengangguk “dulu kami sangat
buas… yang kami tahu hanya berjuang mencari makanan, apapun yang ada didepan
kami, asal bisa dimakan, maka tidak akan berfikir dua kali… kamipun
berkali-kali mencoba membunuh jiejie hanya untuk menjadikannya makanan kami…
dengan tubuh kecilnya melawan kami, kedua pihak terluka parah. Jiejie tidak
mempedulikan luka-lukanya malah balik merawat kami. dengan tubuh kecil penuh
luka berlari ke hutan mencari makanan dan minuman untuk kami… bahkan saat dia
sakitpun…” semua berkaca-kaca.
Long Jin Shan “sudah tidak terhitung,
berapa kali dia lolos dari kematian” Zu Zhe “tidak ada kitab sejarah masa
kecilnya !” Feng Huo Huang menggeleng “kitab-kitab itu sudah mengalami
perubahan ribuan kali… jika ingin tahu pengalamannya yang sebenarnya, hanya
bisa memintanya membuka Shi Jing…” Long Jin Shan “sudahlah, yang terpenting
adalah masa depan… oh Bai Jin, kau tidak menemui yang lain ?” Bai Jin
menggeleng “tunggu saatnya evolusi saja…” Feng Huo Huang “ehm… sepertinya
kalian akan evolusi lebih cepat kali ini… Juan Feng sudah menunjukkan
tanda-tanda akan evolusi” Bai Jin “tapi aku baru menjelma 10 tahun…” Long Jin
Shan “sepertinya karena kejadian sebelumnya, ada perubahan waktu… kami juga
tidak jelas, harusnya masih berhubungan dengan Huo Feng dan Zuan Bao Shi Dao…”
Bai Jin “setelah jiejie membaik, aku akan naik…” keduanya mengangguk.
Hua Zi menemani Feng Wei yang meringkuk
menahan sakitnya. Feng Wei hanya mengeluarkan suara kecil ‘eng… hhh…’,
keringatnya bercucuran, dan meringkuk. Hua Zi merasa sakit hati melihat Feng
Wei sakit, digendongnya dan memberinya pertunjukan-pertunjukan kecil untuk
mengalihkan dari rasa sakit di mulut kecilnya. Hua Zi “Feng Wei, aku akan
mengusapnya dengan air hangat… tidak sakit lagi…” Feng Wei mengeleng-geleng dan
terisak, tidak membuka mulutnya. Hua Zi hanya bisa menimang-nimang dan
membawanya jalan hingga Feng Wei tidak terisak dan terlelap.
Selama 7 hari, Feng Wei demam dan hanya
minum sedikit susu. Hua Zi dengan telaten merawatnya, tidak istirahat sama
sekali, karena Feng Wei tidak tenang dalam tidurnya. Hua Zi memantau
pertumbuhan gigi Feng Wei, selalu mengompresnya dengan air hangat agar Feng Wei
merasa nyaman. Feng Wei yang bangun, melihat Hua Zi memeluknya “sudah bangun,
apa masih sakit ?” Feng Wei menggeleng, memegang perut kecilnya “lapar ?” Feng
Wei mengangguk, Hua Zi tersenyum “ayo, kita menghangatkan susu untuk perut
kecilmu…” menggendong Feng Wei ke dapur. Mata Feng Wei berbinar di dapur, turun
dari gendongan Hua Zi dan bergerilya. Hua Zi memanaskan susu sambil mengawasi
__ADS_1
Feng Wei yang merangkak di atas meja.
Disaat Hua Zi menyiapkan susu, menemukan
Feng Wei yang makan dan bermain gula batu bersama Bai Jin. Feng Wei tertawa
melihat Bai Jin yang menangkap dan memakan gula batu yang di gelindingkannya.
Hua Zi menggelengkan kepala melihatnya “ayo, minum susu, nanti perutmu sakit
memakan gula batu” ingin mengambil wadah gula batu. Feng Wei memeluk erat gula
batunya dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tingkahnya membuat Hua Zi
tertawa “baik… baik… tidak mengambilnya…” menggendong Feng Wei bersama gula
batunya.
Waktu
berlalu, Feng Wei sudah berumur 200 tahun. Di Jiu Jong Tian sangat terkenal,
anak jahil kesayangan istana Tai Chen. Hampir semua terkena kejahilannya, dewa
obat, dewi taman, dari dewa agung hingga pelayan. Tapi tidak satupun yang
membencinya, mereka semua menyayanginya. Dia membawa kebahagiaan bagi semua
walaupun sangat jahil. Suasana di Jiu Jong Tian menjadi ceria dengan adanya
dirinya. Bahkan dewa dewi yang suram awalnya sekarang banyak tersenyum olehnya.
Hanya 1 masalah yang ada padanya, dia tidak pernah mau berbicara sepatah
katapun, hanya suara tawanya yang terdengar.
Di istana Tai Chen, Hua Zi sakit kepala.
Selama 200 tahun ini, tidak sedikit menerima hadiah untuk Feng Wei. Ada yang
sampai membawa tanda perjodohan dan lain sebagainya. Chong Lin sudah menolak
semuanya, tapi tetap ada saja yang sampai masuk ke istana Tai Chen. Tidak
sedikit jumlahnya, para pemuda dan anak-anak yang dikirim Hua Zi kealam fana.
Dong Hai Di Jun, salah satu kerabat Hai Long Wang.
Feng Wei melihat Hua Zi yang melamun,
pelan-pelan mendekatinya dan mengagetkannya. Hua Zi tidak pernah bisa
mendeteksi Feng Wei, walau sudah ada liontin, Feng Wei selalu bisa
menyembunyikan keberadaannya jika ingin. Hua Zi yang awalnya muram, langsung tersenyum
bahagia melihat Feng Wei “Feng Wei, kamu sudah pulang” Feng Wei naik ke
pangkuan Hua Zi dan meminum tehnya. Hua Zi membenahi rambutnya “keringatmu
banyak sekali, ayo mandi, jangan sampai masuk angin” menggendong Feng Wei, membawanya
ke permandian. Feng Wei sangat suka bermain di permandian. Suara tawa tidak
berhenti terdengar dari permandian.
Sore ini, semua berkumpul di istana Tai
Chen termasuk Long Jin Shan dan Feng Huo Huang, mereka makan malam merayakan
200 tahunnya Feng Wei. Xin Xin bertanya “Zhe Yan yeye, coba periksa Niang Qin,
kenapa sampai sekarang masih belum bisa berbicara ?” Zhe Yan tersenyum mengelus
kepala Xin Xin “Xin Xin, Hong Ling tidak apa-apa, mungkin masih malas ngomong
saja. Jika sudah saatnya, dia akan ngomong dengan sendirinya”.
Hua Zi memeluk Feng Wei yang di
pangkuannya “Feng Wei, coba panggil Fu Jun, ayo Fu Jun”. Sou Wan menghina “Yu
Huang, Hong Ling sekecil ini kamu suruh panggil Fu Jun bisa mengagetkan semua
__ADS_1
yang diluar.” Lian Song ikut menggoda “Sou Wan, Yu Huang akhir-akhir ini sudah kebakaran
jenggot. Jika Hong Ling tidak segera memanggilnya Fu Jun, hadiah perjodohan
yang datang akan semakin banyak hahaha…” Sie Ming ikut “Di Hou a Di Hou,
segeralah buka mulut. 200 tahun ini alam fana menjadi sangat ramai, aku sudah
bingung mengatur nasib para dewa kecil itu” ‘hahahahaha…’ semua tertawa.
Setiap pagi, Hua Zi dan kedua anak
berlatih, berusaha mencapai tingkat baru. Feng Wei biasanya bangun paling
larut. Berhubung kemarin ulang tahun Feng Wei, yang datang semua menginap di
Jiu Jong Tian. Jadinya ini pagi, istana Tai Chen sudah ramai, semua berlatih
bersama. sebagian main catur dan minum teh menonton lainnya. Feng Wei yang
mendengar keributan diluarpun bangun, keluar dari kamar dan melihat latihan
para dewa dewi.
Feng Wei dengan mata berbinar melihat
Hua Zi yang sedang berlatih pedang bersama Xin Xin dan Xiong Xiong. 1 kilatan
cahaya pelangi mematahkan pedang ketiganya, Feng Wei sudah berdiri ditengah
ketiganya. Hua Zi kaget melihat Feng Wei, segera tersadar dan tersenyum “Feng
Wei, kamu sudah bangun” Xin Xin dan Xiong Xiong ingin maju memeluk Feng Wei.
Baru saja melangkah, mereka tersilaukan dengan sebuah cahaya emas. Muncul
sebuah pedang di tangan Feng Wei.
Feng
Wei tersenyum melihat ketiganya, perlahan mukanya berubah serius “maju…” satu
kata tegas keluar dari bibirnya, langsung menyerang Hua Zi. Hua Zi yang sempat
terkejut langsung tersadar dan menangkis pedang Feng Wei. Feng Wei memainkan
pedangnya dengan sangat indah, pegangannya kokoh, gayanya anggun, tiap jurus
tegas. Feng Wei kecil tidak kesulitan melawan ketiganya. Feng Wei bagai sedang
menari di angkasa.
Gun
Gun dan Ling Ling ikut bergabung bersama mereka, 5 lawan 1. Feng Wei hanya
tersenyum manis meladeni mereka, kilatan pedang Feng Wei memancar dimana-mana.
Feng Wei sangat lincah, tidak ada 1 pun sabetan pedang yang mengenai dirinya.
Yang lain sudah menghentikan latihan mereka. Semua yang dibawah melihat latihan
pedang 1 keluarga ini. Mereka kaget melihat kemampuan Feng Wei, anak 200 tahun
melawan 5 orang yang lebih besar darinya tanpa kesulitan. Merekapun bingung,
selama ini tidak pernah melihat Feng Wei latihan pedang. Beberapa kali
melihatnya memainkan sihir tapi itupun hanya dianggapnya mainan.
Mereka
berlatih diatas selama 2 jam, Feng Wei tidak gentar sedikitpun melawan
kelimanya. Bunga fuling naik dan mengikat kelimanya, Feng Wei berdiri kokoh
ditengah mereka, tertawa riang ‘hahahahaha…’. Melepas mereka dan turun bersama.
Semua turun segera berlari ingin memeluk Feng Wei. Feng Wei yang melihat
mereka, berlari menghindar, mengelilingi pohon bunga Fuling sambil tertawa riang.
Feng Jiu berlari dan masuk kedalam pelukan Hua Zi ‘hahahahaha…’. Hua Zi
__ADS_1
memeluknya erat “Feng Wei, kamu sudah bicara!”. Feng Wei memegang wajah dan
mencium pipi Hua Zi “Hua Zi gege, teknik yang bagus hahahahaha…”