
Feng Wei “tidak tahu
bagaimana Gun Gun dan Ling Ling !” Hua Zi “kita bisa ke Qing Qiu menjenguk
mereka” Feng Wei tersenyum mengangguk “beberapa bulan lagi perayaan persembahan
lagi di Qing Qiu” Hua Zi “kau ingin melihat langit berbintang Qing Qiu lagi ?”
Feng Wei tersenyum menutup mata “aku ingin makan ubi bakar… ubi bibi itu sangat
manis…” Hua Zi tersenyum “baik, kita makan ubi bakar…” Feng Wei mengangguk,
perlahan nafasnya teratur dan tertidur lelap di pelukan Hua Zi. Hua Zi
tersenyum “Feng Wei, begitu banyak makanan, kau tetap paling suka ubi bakar…
aku akan membakarkannya untukmu… sudah lama tidak melihat kedua anak itu, tidak
tahu bagaimana mereka sekarang !”
Feng Wei dibangunkan dengan wangi pembakaran ubi “ehm Hua
Zi gege, ubi bakar…” duduk disamping Hua Zi yang sedang membakar ubi. Hua Zi
memberikan satu yang baru matang “hati-hati panas…” Feng Wei menerima dengan
mata berbinar “au… au… panas…” tangannya kepanasan hingga di telinga, tapi
tetap tersenyum dan meniup-niup ubi bakar. Hua Zi tersenyum menggelengkan
kepala melihatnya “perlahan, baru matang… jangan terburu-buru…” Feng Wei
tersenyum sesaat, kembali berkutat dengan ubi bakarnya “hmm… sangat manis
hihihi au…” Hua Zi “kau pelan sedikit, bagaimana ? apa terluka ?” Feng Wei
menggeleng “hanya kepanasan sedikit, aku bisa menahannya hihihi… terima kasih Hua
Zi gege, ini sangat enak…” Hua Zi tersenyum memanjakan, hanya melakukan hal
kecil begini sudah membuat Feng Wei sangat senang. Gadis kecilnya ini sangat
berbeda dengan gadis lain, ini juga yang membuat hatinya terperangkap hanya
padanya.
Sementara di Qing Qiu, tiap kali merindukan Hua Zi dan Feng
Wei, Ling Ling lebih memilih mabuk. Jin Cheng sering datang menemaninya, mereka
sudah berteman dari kecil. Semua tahu Jin Cheng menyukai Ling Ling, Ling Ling
pun tidak menunjukkan penolakan. Sudah beberapa kali Jin Cheng menyebutkan
ingin menikahinya, tapi Ling Ling selalu menolak. Alasannya hanya 1, dia ingin
menghabiskan waktu dulu bersama Hua Zi dan Feng Wei, ingin mendapatkan masa
kecilnya. Lagipula dia ingin menikah dengan disaksikan Hua Zi dan Feng Wei sebagai
walinya. Dulu keduanya yuhua, dia tidak bisa berharap kehadiran mereka, tapi
setelah tahu mereka terlahir kembali, dia ingin bersama mereka. Selain Ling
Ling, Gun Gun pun mempunyai pemikiran yang sama, kisah cintanya bersama Xiao
Long Nu, putri pertama Mo Yuan – Sou Wan pun sudah terdengar dimana-mana.
Mereka masih ingin merasakan kasih sayang Hua Zi dan Feng Wei, walaupun mereka
tahu Feng Wei tidak mengingat mereka.
Bai Ce “Ling Ling, 2 bulan lagi adalah perayaan
persembahan, apa kau ada rencana baru ?” Ling Ling “tai lao ye, aku ingin semua
__ADS_1
memiliki unsur rubah merah berekor sembilan… aku sudah meminta Mi Gu shushu
untuk mengurusnya” Bai Yi “Ling Ling, waigong tahu rasa sayangmu pada ibumu
tapi sekarang Hong Ling tidak mengingat apapun, dia juga belum tentu datang”
Ling Ling menggeleng “tidak waigong, aku memiliki keyakinan, kali ini Fu Qin
Niang Qin akan datang” Gun Gun “tidak apa waigong, bisa juga sebagai pengingat
Niang Qin…” Bai Yi mengangguk “kali ini semua akan datang, Gun Gun, Ling Ling,
sudah waktunya kalian menikah, usia kalian juga sudah tidak kecil lagi. Jin
Cheng dan Xiao Long Nu adalah pasangan yang baik. Saat bertemu Yu Huang dan
Hong Ling, kalian pun masih bisa menikmati kasih sayang mereka. Jangan
mengulang sejarah gu po mu” Gun Gun saling menatap dengan Ling Ling menunduk
“kami tahu waigong, kami hanya ingin Fu Qin Niang Qin ada saat pernikahan kami.
Kami mengharapkan mereka bisa menjadi wali dan merestui kami” Bai Ce dan Bai Yi
menghela nafas “tidak tahu mereka sekarang berada dimana !”
5 hari sebelum perayaan, semua berkumpul di Qing Qiu “Ling
Ling, gu po mendengar kau merombak pondok bambu Xiao Jiu !” Ling Ling
mengangguk “aku hanya memperbesarnya… aku akan meresmikannya sebelum perayaan…
aku sudah membuat tempat untuk menikmati langit berbintang…” menunduk dengan
senyum sedih. Jin Cheng mengusap punggungnya “Feng Jiu ayi akan senang
melihatnya…” Gun Gun pun menunduk, Xiao Long Nu menggenggam tangannya. Semua
tersenyum sedih, Asiang “Ling Ling, apa nama yang kau berikan pada pondok bambu
semua menggeleng “sebenarnya mereka kemana ?” Gun Gun “sudah beberapa kali ke
Bi Hai Cang Ling tapi dewa bumi disana mengatakan mereka belum kembali lagi…”
“siapa yang belum kembali ?” suara merdu terdengar di telinga mereka.
Semua segera mencari asal suara, melihat sepasang muda mudi
yang berjalan kearah mereka. Senyuman segera merekah diwajah semua, Ling Ling
segera berlari “Hong Ling…” memeluk Feng Wei “astaga… apa perlu begitu bersemangat
?” Gun Gun pun segera menghampiri dan memeluk Hua Zi “Fu Qin…” Hua Zi tersenyum
memeluknya. “Hong Ling… Hong Ling… Hong Ling… kau kemana ? aku sangat
merindukanmu… Hong Ling…” Ling Ling menangis dan tidak berhenti memanggil Feng
Wei, Feng Wei cekikikan “kenapa kau masih saja begitu manja dan cengeng ! hihihi…”
melerai pelukan, mengelap air mata Ling Ling. Ling Ling melihat Hua Zi,
mendekati dan memeluknya “Fu Qin…” Gun Gun pun memeluk Feng Wei “Niang Qin…”
Feng Wei tersenyum lembut memeluk Gun Gun, semua menghampiri mereka.
Bai Qian “Hong Ling, Yu Huang, mereka sudah menunggu kalian
sangat lama…” Sou Wan “nah Yu Huang dan Hong Ling sudah datang, kalian sudah
bisa menikah kan ?” Feng Wei “menikah ? siapa ?” Ling Ling “tidak menikah, aku
ingin bersama Hong Ling saja !” Hua Zi segera mendorong Ling Ling menjauh “anak
kecil, jangan mengganggu Fu Ren-ku” menarik Feng Wei ke pelukannya. Ling Ling
__ADS_1
“Fu Qin…” Hua Zi acuh tak acuh mengangkat bahunya. Wen Xin menarik Feng Wei
“kalian baru datang, apa sudah makan ?” Feng Wei “kami berencana ke Mo Gu
Jing…” Bai Yi “besok saja ke Mo Gu Jing, hari ini makanlah disini !” Feng Wei
tersenyum lembut mengikuti mereka.
Semua melayani mereka, hingga mangkuk keduanya penuh dengan
makanan “kau terlalu kurus, ayo makanlah…” Feng Wei terbelalak melihat
mangkoknya “ee… ini…” Hua Zi tersenyum lembut “Shan Shen betul, kau harus makan
yang banyak…” Feng Wei membulatkan matanya melihat Hua Zi, Hua Zi memasukkan
makanan ke mulutnya “ayo makanlah…setelah makan, kita berjalan-jalan keatas
gunung” Feng Wei menghela nafas, perlahan memakan makanannya. Bai Ce “kalian
mau keatas gunung ?” Hua Zi mengangguk “Hong Ling ingin melihat langit
berbintang…” Ling Ling “baik… baik… hari ini kita melihat langit berbintang…”
Feng Wei terbelalak “kalian juga mau naik…” Ling Ling acuh tak acuh “tentu
saja, pokoknya kau harus bersamaku… aku tidak mengijinkanmu meninggalkanku…”
Hua Zi mendengus “cih anak kecil…” Ling Ling memeletkan lidahnya, lainnya cekikikan.
Bai Ce “kalian kemana selama ini ?” Hua Zi “berkeliling…
Hong Ling ingin mengikuti perayaan jadi kami kemari…” Bai Yi “kalian harus
tinggal yang lama kali ini…” Sou Wan “betul-betul, kedua anak ini menunggu
kalian untuk menjadi wali pernikahannya” Feng Wei “wali pernikahan ?” Bai Qian
“Hong Ling, Gun Gun dan Ling Ling sudah menganggap kalian Fu Qin Niang Qin-nya,
sebelumnya mereka sudah menundanya terus. Berhubung kalian sudah disini, mereka
tidak ada alasan lagi untuk menolaknya” Feng Wei menggoda “wah anak kecil juga
sudah mau menikah ? pria mana yang mau menghadapi manja dan cengengmu ?” Jin
Cheng “Hong Ling, aku akan menikahi Ling Ling…” Feng Wei mengangguk “lalu Gun
Gun ?” Sou Wan “Nu er beri salam…” seorang gadis yang mirip Sou Wan memberi hormat
“Yu Huang, Hong Ling, ini putriku Xiao Long Nu” “Yu Huang… Hong Ling…” Xiao
Long Nu menyapa. Feng Wei tersenyum lembut “tampan dan cantik…” melihat ke Hua
Zi. Feng Wei “kapan kalian menikah ?” Ling Ling “tidak menikah… aku masih mau
bersamamu 100 tahun…” Hua Zi terbelalak segera menjauhkan Ling Ling “anak
kecil, pergi dengan lelakimu…” Ling Ling merengek “Fu Qin…” Feng Wei cekikikan.
Gun
Gun “Fu Qin Niang Qin, sementara kita nikmati saja dulu saat-saat ini.
Pernikahan tidak terburu-buru diadakan. Kalian baru datang, kami akan menemani
kalian dahulu” Asiang “ah kalian juga bisa mengikuti peresmian pondok bambu
yang baru” Feng Wei “pondok bambu ?” mata Hua Zi melembut “Hong Ling, kita
ikuti saja semua…” ‘sudah lama tidak melihat pondok bambu Xiao Bai… Feng Wei,
andai saja kau mengingatnya !’ Feng Wei mengangguk “baiklah… ah aku sudah
kenyang, terima kasih atas makanannya…” memberi hormat. Wen Xin berkaca-kaca
__ADS_1
“tidak perlu sesungkan itu, kita semua sekeluarga” Feng Wei tersenyum lembut.