Return Of God Emperor

Return Of God Emperor
Bab 211 - Kultivasi Rintangan


__ADS_3

            Sie Ming berlari masuk “Di Jun,


sudah dimulai…” Dong Hua Di Jun dan Zhe Yan tidak mengerti kata-kata Sie Ming


“Sie Ming, tenanglah dulu. Katakan dengan jelas, apa yang sudah dimulai ?” Sie


Ming mengatur nafas “baru saja ada dewa bumi yang datang melapor, perang xiao


dianxia dan pasukan pengikut setia Qing Cang sudah dimulai” Dong Hua Di Jun


“Jiu er dimana ?” Sie Ming “xiao dianxia berada bersama para prajurit Qing Qiu


di perbatasan. Dewa bumi mengatakan sampai saat ini pasukan lawan belum


berhasil menerobos formasi jebakan yang dipasang xiao dianxia. Info dewa bumi,


xiao dianxia saat ini dalam keadaan baik, berada di baris terdepan”. Dong Hua


Di Jun “suruh dewa bumi melapor semua perkembangannya langsung ke istana Tai


Chen” Sie Ming segera pergi melaksanakan perintah.


            Zhe Yan pun sementara tinggal di


istana Tai Chen, bersama Dong Hua Di Jun memantau keadaan Bai Feng Jiu melalui


laporan dewa bumi. 3 dewa bumi dikerahkan untuk terus bergantian melapor


kondisi peperangan. Dong Hua Di Jun tidak tenang di istana Tai Chen, walaupun


sudah mendapat laporan Bai Feng Jiu masih aman. Jika bukan karena Zhe Yan, Dong


Hua Di Jun sudah menghilang ke perbatasan. Tapi sebagai Tian Di Gong Zhu, Dong


Hua Di Jun juga ingin melihat kemampuan Bai Feng Jiu. Setelah mengeluarkan


kata-kata seperti itu saat rapat sebelumnya, dia ingin melihat apa Bai Feng Jiu


bisa membuktikan ucapannya. Beberapa hari laporan dewa bumi membuatnya


tercengang, dia masih belum bisa percaya yang mereka katakan itu adalah Bai


Feng Jiu, gadis polos yang suka berbuat onar yang selalu mengikutinya dulu. Zhe


Yan tersenyum-senyum mendengar laporan dewa bumi dan reaksi Dong Hua Di Jun.


Selain mereka, Lian Song dan Sie Ming juga bergabung mendengar laporan dewa


bumi.


            Di perbatasan, Bai Feng Jiu membuat


formasi memerangkap pasukan lawan, hanya beberapa yang berhasil keluar dari


formasinya. Dengan pengalaman terkurung dari formasi sebelumnya, pasukan lawan


mengambil jalan berbeda menyerang Bai Feng Jiu. Mereka kembali masuk kedalam


perangkap hingga hampir seluruh pasukan lawan binasa didalamnya. Panglima


pasukan lawan yang terluka parah dan berhasil lolos dari formasi dikejar Bai


Feng Jiu. “Jenderal, belum menyapa, sudah mau pergi ?” “kau, siapa sebenarnya


kau ?” “Jenderal sudah berani menyerang Qing Qiu tapi tidak tahu yang mulia


siapa ! Nah yang mulia akan memberitahu anda, agar anda bisa pergi dengan


tenang. Yang mulia adalah Qing Qiu Nu Jun Bai Feng Jiu” sang jenderal tahu


lawannya gadis muda yang baru Shan Xian pun sombong, menyerang Bai Feng Jiu. Berdasar


tenaga dalam, Bai Feng Jiu masih dibawah sang jenderal, tapi berdasar


kepintaran dan kemampuan Bai Feng Jiu lebih unggul. Sang jenderal pun merasa


Bai Feng Jiu memiliki kemampuan yang hebat, menyerang menggunakan semua


kemampuannya. Sepintar apapun Bai Feng Jiu, karena kalah dalam tenaga dalam


apalagi menghadapi lawan yang menyerangnya dengan membabi buta, tetap saja


terluka. Tapi dengan kepintaran dan taktiknya, Bai Feng Jiu mengalahkan sang


jenderal.


            Dewa bumi yang melihat Bai Feng Jiu


terluka segera melapor ke istana Tai Chen. Dong Hua Di Jun, Zhe Yan, Lian Song,


dan Sie Ming segera ke medan perang. Saat mereka sampai disana, perang sudah


berakhir, para prajurit Qing Qiu sedang membereskan medan perang. Mereka tidak


menemukan Bai Feng Jiu di medan perang. Melalui dewa bumi yang terus mengawasi,


diketahui Bai Feng Jiu yang terluka sudah pergi mengarah ke Qing Qiu, gua

__ADS_1


rubah. Dong Hua Di Jun bersama lainnya segera menyusul, mereka tertahan diluar


jiejue. Dari jauh terlihat langit yang mulai menggelap, semua keluarga Bai


sudah sampai diluar jiejue. Zhe Yan berteriak “tidak baik, hukuman petir” Bai


Chen dan lainnya yang mendengar teriakan Zhe Yan segera bergabung. Dari luar


jiejue melihat Bai Feng Jiu yang berjalan tertatih-tatih menuju gua rubah “Xiao


Jiu, Xiao Jiu, buka pembatas ini… Xiao Jiu…” Bai Yi berusaha berteriak. Bai


Chen “tidak ada gunanya, terlalu jauh dia tidak akan mendengarnya”.


            Dong Hua Di Jun melihat langit


menggelap dan suara guntur menggelegar dimana-mana mengerahkan kekuatannya


untuk menghancurkan jiejue. Bai Chen yang melihat tindakan Dong Hua Di Jun pun


membantu “ayo cepat, harus menghancurkan pembatas” semua pun bahu membahu


mengerahkan kekuatan menyerang jiejue. Disini masih berusaha, didalam sana, petir


ungu sudah turun menghantam Bai Feng Jiu. “Zi Lei…” Hu Di berteriak… semua juga


tercengang dan menambah kekuatan menghancurkan jiejue. Entah apa yang terjadi,


tiap petir yang turun malah menambah kekuatan jiejue. Jiejue yang retak oleh


kekuatan luar, kembali utuh tiap kalinya. Mereka hanya bisa berdiri diluar


jiejue, melihat satu persatu petir ungu turun menghantam tubuh Bai Feng Jiu.


Berturut-turut 63 petir ungu menghantam tubuh Bai Feng Jiu. Tidak hentinya Bai


Feng Jiu muntah darah dalam prosesnya, hingga selesai akhirnya tidak sanggup


bertahan, jatuh tidak sadarkan diri. Seiring dengan jatuhnya Bai Feng Jiu,


jiejue terbuka.


            Dong Hua Di Jun segera menggendong


Bai Feng Jiu dan membawanya ke gua rubah. Zhe Yan segera memeriksa “jiwa yatou


tercabik-cabik, yatou terluka parah” Bai Yi “kenapa seperti ini ? petir ungu,


tidak ada yang pernah menerima petir ungu” Zhe Yan “Dong Hua, lihat darah


yatou, merah perak emas” Dong Hua melihat dengan seksama “Jiu er…” Bai Chen


mengambil air “Chen Chen, ini bukankah aku lagi berusaha. Papah ya tou, dia


harus meminum ini” berulang kali mencoba, Bai Feng Jiu tidak bisa menelan


obatnya. Bai Chen panik “bagaimana ini ? Xiao Jiu tidak bisa meminumnya”.


            Dong Hua menghampiri “berikan


padaku”. Dong Hua memasukkan pil itu, dengan mulutnya menutup mulut Bai Feng


Jiu dan meniup berkali-kali hingga obat itu masuk. Tenggorokan Bai Feng Jiu


bergerak, Bai Chen “sudah ditelan, sudah ditelan. Di Jun, terima kasih” Dong


Hua Di Jun “tidak masalah” melihat Bai Feng Jiu yang berantakan dan tak


sadarkan diri membuat hatinya sakit “Zhe Yan, bagaimana dia ?” Zhe Yan


menggeleng “pil itu bisa mempertahankan jiwanya yang masih tersisa. Sebelum


menerima petir, dia sudah terluka parah, 63 petir itu sama saja menghabisinya.


Dewa biasa saja menerima 9 petir sudah dalam kondisi hampir mati. Ya tou baru


sembuh dari 18 petir emas Shan Xian, sekarang menerima 63 petir ungu lagi. Kau


bilang, apakah langit menginginkan nyawanya ?” Hu Di “Zhe Yan, kapan Xiao Jiu


sadar ?” Zhe Yan menggeleng “tidak tahu, tergantung dirinya sendiri”.


            Lian Song “Dong Hua, pertama 18


petir emas dan darah merah perak, sekarang 63 petir ungu dan darah merah perak


emas. Apa ada sejarah dari zaman prasejarah yang bisa menjelaskan ini ?” Dong


Hua Di Jun menatap Bai Feng Jiu dengan tatapan rumit “Bai Ce, apa ada sesuatu


dalam sejarah suku rubah yang menjelaskan ini ?” Hu Di berfikir “harusnya tidak


ada, tidak pernah mendengar sebelumnya ada leluhur rubah yang mengalami hal


seperti ini” Zhe Yan memeriksa Bai Feng Jiu “ini…” Bai Chen “ada apa Zhe Yan ?”


Zhe Yan “Chen Chen, ya tou masih dalam tubuh Shan Xian” Bai Chen “bagaimana ini

__ADS_1


bisa terjadi ?” semua berfikir, akhirnya dipatahkan Zhe Yan “mungkin ya tou


saat ini sedang kultivasi. Chen Chen, apa kau ingat Qian Qian saat naik tingkat


Shan Shen juga kultivasi dialam fana menjadi Susu. Mungkin Xiao Jiu sedang


kultivasi.” Dong Hua Di Jun “Sie Ming, periksa…” Sie Ming “baik Di Jun…”


            Sesuai prediksi Zhe Yan, Bai Feng


Jiu berkultivasi dialam fana menjadi seorang putri raja ‘putri Huang Mei Feng’.


Sejak lahir, putri Mei Feng sangat cantik menjadi kesayangan raja dan


permaisuri beserta 3 kakak pangerannya. Putri Mei Feng tumbuh dalam kasih


sayang keluarganya membuatnya memiliki sifat ceria, lemah lembut tetapi sangat


kharismatik dan setia kawan. Pada usia 10 tahun, putri Mei Feng belajar ke


perguruan bela diri yang sama dengan ketiga kakaknya. Dia mendapat banyak


saudara seperguruan, salah satunya adalah Huo Wen Chang, salah satu putra


perdana menteri. Orang tua mereka ingin menjodohkan mereka, tetapi Wen Chang


dan putri Mei Feng hanya mempunyai hubungan kakak dan adik seperguruan.


Walaupun mereka cukup dekat tapi tidak ada cinta pria wanita diantara mereka.


Huo Wen Chang menyukai adik seperguruannya Chang Hua Hua yang hanya seorang


putri bupati dari kota kecil. Perasaan mereka ditentang oleh perdana menteri,


yang bersikeras menjodohkannya dengan putri Mei Feng.


Tidak


dapat melawan ayahnya, Huo Wen Chang merencanakan kawin lari bersama Chang Hua


Hua. Hal ini ketahuan perdana menteri yang akhirnya mengurung Huo Wen Chang di


kediaman perdana menteri. Melihat perjuangan cinta Huo Wen Chang dan Chang Hua


Hua yang begitu menderita, putri Mei Feng berencana membantunya. Putri Mei Feng


merencanakan untuk membantu mempersatukan Huo Wen Chang dan Chang Hua Hua


bersama ketiga saudaranya. Putri Mei Feng pura-pura menyetujui perjodohannya


bersama Huo Wen Chang. Di hari pernikahan, putri Mei Feng beserta ketiga kakaknya


membantu Huo Wen Chang melarikan diri bersama Chang Huo Huo. Perdana menteri


sangat marah dan merasa malu pada kaisar atas kelakuan anaknya. Raja dan


permaisuri yang sudah mengenal sifat putri Mei Feng tidak bisa dibohongi.


Akhirnya setelah berita pelarian Huo Wen Chang mereda, raja meminta penjelasan


pada putri Mei Feng. Setelah mengetahui kebenarannya, raja dan permaisuri hanya


tertawa terbahak-bahak dengan kenakalan putrinya.


Disaat


putri Mei Feng berusia 23 tahun, terjadi pemberontakan di kerajaannya. Pada


usia 26 tahun, putri Mei Feng terpisah dari keluarganya. 3 tahun setelah


berpisah, putri Mei Feng mendengar kabar kematian seluruh keluarganya. Putri


Mei Feng yang sedih kehilangan keluarganya, merencanakan perlawanan untuk


membalas dendam keluarganya. Di tengah-tengah perlawanan, Huo Wen Chang yang


mendengar berita kesusahan putri Mei Feng pun kembali datang membantunya. Hal


ini sampai ke telinga perdana menteri, yang akhirnya murka mengetahui kebenaran


kejadian sebelumnya. Perdana menteri membantu pemberontakan mengejar Huo Wen


Chang, Chang Hua Hua dan putri Mei Feng. Melihat Huo Wen Chang yang peduli


padanya, putri Mei Feng tidak tega melibatkan mereka. Putri Mei Feng menerima


panah yang diarahkan pada Huo Wen Chang dan memberinya cukup waktu untuk


melarikan diri. Putri Mei Feng wafat demi merestui Huo Wen Chang dan Chang Hua


Hua. Perdana menteri tidak berhenti mengejar Huo Wen Chang. Berselang 5 tahun


dari kematian sang putri, Huo Wen Chang pun menemui ajalnya dibawah pedang


perdana menteri bersama Chang Hua Hua.


NB :

__ADS_1


selama nataru, episode update 1 bab sehari ya...


ini othor curi2 waktu nulisnya, disela2 liburan...


__ADS_2