
Sie Ming berlari masuk “Di Jun,
sudah dimulai…” Dong Hua Di Jun dan Zhe Yan tidak mengerti kata-kata Sie Ming
“Sie Ming, tenanglah dulu. Katakan dengan jelas, apa yang sudah dimulai ?” Sie
Ming mengatur nafas “baru saja ada dewa bumi yang datang melapor, perang xiao
dianxia dan pasukan pengikut setia Qing Cang sudah dimulai” Dong Hua Di Jun
“Jiu er dimana ?” Sie Ming “xiao dianxia berada bersama para prajurit Qing Qiu
di perbatasan. Dewa bumi mengatakan sampai saat ini pasukan lawan belum
berhasil menerobos formasi jebakan yang dipasang xiao dianxia. Info dewa bumi,
xiao dianxia saat ini dalam keadaan baik, berada di baris terdepan”. Dong Hua
Di Jun “suruh dewa bumi melapor semua perkembangannya langsung ke istana Tai
Chen” Sie Ming segera pergi melaksanakan perintah.
Zhe Yan pun sementara tinggal di
istana Tai Chen, bersama Dong Hua Di Jun memantau keadaan Bai Feng Jiu melalui
laporan dewa bumi. 3 dewa bumi dikerahkan untuk terus bergantian melapor
kondisi peperangan. Dong Hua Di Jun tidak tenang di istana Tai Chen, walaupun
sudah mendapat laporan Bai Feng Jiu masih aman. Jika bukan karena Zhe Yan, Dong
Hua Di Jun sudah menghilang ke perbatasan. Tapi sebagai Tian Di Gong Zhu, Dong
Hua Di Jun juga ingin melihat kemampuan Bai Feng Jiu. Setelah mengeluarkan
kata-kata seperti itu saat rapat sebelumnya, dia ingin melihat apa Bai Feng Jiu
bisa membuktikan ucapannya. Beberapa hari laporan dewa bumi membuatnya
tercengang, dia masih belum bisa percaya yang mereka katakan itu adalah Bai
Feng Jiu, gadis polos yang suka berbuat onar yang selalu mengikutinya dulu. Zhe
Yan tersenyum-senyum mendengar laporan dewa bumi dan reaksi Dong Hua Di Jun.
Selain mereka, Lian Song dan Sie Ming juga bergabung mendengar laporan dewa
bumi.
Di perbatasan, Bai Feng Jiu membuat
formasi memerangkap pasukan lawan, hanya beberapa yang berhasil keluar dari
formasinya. Dengan pengalaman terkurung dari formasi sebelumnya, pasukan lawan
mengambil jalan berbeda menyerang Bai Feng Jiu. Mereka kembali masuk kedalam
perangkap hingga hampir seluruh pasukan lawan binasa didalamnya. Panglima
pasukan lawan yang terluka parah dan berhasil lolos dari formasi dikejar Bai
Feng Jiu. “Jenderal, belum menyapa, sudah mau pergi ?” “kau, siapa sebenarnya
kau ?” “Jenderal sudah berani menyerang Qing Qiu tapi tidak tahu yang mulia
siapa ! Nah yang mulia akan memberitahu anda, agar anda bisa pergi dengan
tenang. Yang mulia adalah Qing Qiu Nu Jun Bai Feng Jiu” sang jenderal tahu
lawannya gadis muda yang baru Shan Xian pun sombong, menyerang Bai Feng Jiu. Berdasar
tenaga dalam, Bai Feng Jiu masih dibawah sang jenderal, tapi berdasar
kepintaran dan kemampuan Bai Feng Jiu lebih unggul. Sang jenderal pun merasa
Bai Feng Jiu memiliki kemampuan yang hebat, menyerang menggunakan semua
kemampuannya. Sepintar apapun Bai Feng Jiu, karena kalah dalam tenaga dalam
apalagi menghadapi lawan yang menyerangnya dengan membabi buta, tetap saja
terluka. Tapi dengan kepintaran dan taktiknya, Bai Feng Jiu mengalahkan sang
jenderal.
Dewa bumi yang melihat Bai Feng Jiu
terluka segera melapor ke istana Tai Chen. Dong Hua Di Jun, Zhe Yan, Lian Song,
dan Sie Ming segera ke medan perang. Saat mereka sampai disana, perang sudah
berakhir, para prajurit Qing Qiu sedang membereskan medan perang. Mereka tidak
menemukan Bai Feng Jiu di medan perang. Melalui dewa bumi yang terus mengawasi,
diketahui Bai Feng Jiu yang terluka sudah pergi mengarah ke Qing Qiu, gua
__ADS_1
rubah. Dong Hua Di Jun bersama lainnya segera menyusul, mereka tertahan diluar
jiejue. Dari jauh terlihat langit yang mulai menggelap, semua keluarga Bai
sudah sampai diluar jiejue. Zhe Yan berteriak “tidak baik, hukuman petir” Bai
Chen dan lainnya yang mendengar teriakan Zhe Yan segera bergabung. Dari luar
jiejue melihat Bai Feng Jiu yang berjalan tertatih-tatih menuju gua rubah “Xiao
Jiu, Xiao Jiu, buka pembatas ini… Xiao Jiu…” Bai Yi berusaha berteriak. Bai
Chen “tidak ada gunanya, terlalu jauh dia tidak akan mendengarnya”.
Dong Hua Di Jun melihat langit
menggelap dan suara guntur menggelegar dimana-mana mengerahkan kekuatannya
untuk menghancurkan jiejue. Bai Chen yang melihat tindakan Dong Hua Di Jun pun
membantu “ayo cepat, harus menghancurkan pembatas” semua pun bahu membahu
mengerahkan kekuatan menyerang jiejue. Disini masih berusaha, didalam sana, petir
ungu sudah turun menghantam Bai Feng Jiu. “Zi Lei…” Hu Di berteriak… semua juga
tercengang dan menambah kekuatan menghancurkan jiejue. Entah apa yang terjadi,
tiap petir yang turun malah menambah kekuatan jiejue. Jiejue yang retak oleh
kekuatan luar, kembali utuh tiap kalinya. Mereka hanya bisa berdiri diluar
jiejue, melihat satu persatu petir ungu turun menghantam tubuh Bai Feng Jiu.
Berturut-turut 63 petir ungu menghantam tubuh Bai Feng Jiu. Tidak hentinya Bai
Feng Jiu muntah darah dalam prosesnya, hingga selesai akhirnya tidak sanggup
bertahan, jatuh tidak sadarkan diri. Seiring dengan jatuhnya Bai Feng Jiu,
jiejue terbuka.
Dong Hua Di Jun segera menggendong
Bai Feng Jiu dan membawanya ke gua rubah. Zhe Yan segera memeriksa “jiwa yatou
tercabik-cabik, yatou terluka parah” Bai Yi “kenapa seperti ini ? petir ungu,
tidak ada yang pernah menerima petir ungu” Zhe Yan “Dong Hua, lihat darah
yatou, merah perak emas” Dong Hua melihat dengan seksama “Jiu er…” Bai Chen
mengambil air “Chen Chen, ini bukankah aku lagi berusaha. Papah ya tou, dia
harus meminum ini” berulang kali mencoba, Bai Feng Jiu tidak bisa menelan
obatnya. Bai Chen panik “bagaimana ini ? Xiao Jiu tidak bisa meminumnya”.
Dong Hua menghampiri “berikan
padaku”. Dong Hua memasukkan pil itu, dengan mulutnya menutup mulut Bai Feng
Jiu dan meniup berkali-kali hingga obat itu masuk. Tenggorokan Bai Feng Jiu
bergerak, Bai Chen “sudah ditelan, sudah ditelan. Di Jun, terima kasih” Dong
Hua Di Jun “tidak masalah” melihat Bai Feng Jiu yang berantakan dan tak
sadarkan diri membuat hatinya sakit “Zhe Yan, bagaimana dia ?” Zhe Yan
menggeleng “pil itu bisa mempertahankan jiwanya yang masih tersisa. Sebelum
menerima petir, dia sudah terluka parah, 63 petir itu sama saja menghabisinya.
Dewa biasa saja menerima 9 petir sudah dalam kondisi hampir mati. Ya tou baru
sembuh dari 18 petir emas Shan Xian, sekarang menerima 63 petir ungu lagi. Kau
bilang, apakah langit menginginkan nyawanya ?” Hu Di “Zhe Yan, kapan Xiao Jiu
sadar ?” Zhe Yan menggeleng “tidak tahu, tergantung dirinya sendiri”.
Lian Song “Dong Hua, pertama 18
petir emas dan darah merah perak, sekarang 63 petir ungu dan darah merah perak
emas. Apa ada sejarah dari zaman prasejarah yang bisa menjelaskan ini ?” Dong
Hua Di Jun menatap Bai Feng Jiu dengan tatapan rumit “Bai Ce, apa ada sesuatu
dalam sejarah suku rubah yang menjelaskan ini ?” Hu Di berfikir “harusnya tidak
ada, tidak pernah mendengar sebelumnya ada leluhur rubah yang mengalami hal
seperti ini” Zhe Yan memeriksa Bai Feng Jiu “ini…” Bai Chen “ada apa Zhe Yan ?”
Zhe Yan “Chen Chen, ya tou masih dalam tubuh Shan Xian” Bai Chen “bagaimana ini
__ADS_1
bisa terjadi ?” semua berfikir, akhirnya dipatahkan Zhe Yan “mungkin ya tou
saat ini sedang kultivasi. Chen Chen, apa kau ingat Qian Qian saat naik tingkat
Shan Shen juga kultivasi dialam fana menjadi Susu. Mungkin Xiao Jiu sedang
kultivasi.” Dong Hua Di Jun “Sie Ming, periksa…” Sie Ming “baik Di Jun…”
Sesuai prediksi Zhe Yan, Bai Feng
Jiu berkultivasi dialam fana menjadi seorang putri raja ‘putri Huang Mei Feng’.
Sejak lahir, putri Mei Feng sangat cantik menjadi kesayangan raja dan
permaisuri beserta 3 kakak pangerannya. Putri Mei Feng tumbuh dalam kasih
sayang keluarganya membuatnya memiliki sifat ceria, lemah lembut tetapi sangat
kharismatik dan setia kawan. Pada usia 10 tahun, putri Mei Feng belajar ke
perguruan bela diri yang sama dengan ketiga kakaknya. Dia mendapat banyak
saudara seperguruan, salah satunya adalah Huo Wen Chang, salah satu putra
perdana menteri. Orang tua mereka ingin menjodohkan mereka, tetapi Wen Chang
dan putri Mei Feng hanya mempunyai hubungan kakak dan adik seperguruan.
Walaupun mereka cukup dekat tapi tidak ada cinta pria wanita diantara mereka.
Huo Wen Chang menyukai adik seperguruannya Chang Hua Hua yang hanya seorang
putri bupati dari kota kecil. Perasaan mereka ditentang oleh perdana menteri,
yang bersikeras menjodohkannya dengan putri Mei Feng.
Tidak
dapat melawan ayahnya, Huo Wen Chang merencanakan kawin lari bersama Chang Hua
Hua. Hal ini ketahuan perdana menteri yang akhirnya mengurung Huo Wen Chang di
kediaman perdana menteri. Melihat perjuangan cinta Huo Wen Chang dan Chang Hua
Hua yang begitu menderita, putri Mei Feng berencana membantunya. Putri Mei Feng
merencanakan untuk membantu mempersatukan Huo Wen Chang dan Chang Hua Hua
bersama ketiga saudaranya. Putri Mei Feng pura-pura menyetujui perjodohannya
bersama Huo Wen Chang. Di hari pernikahan, putri Mei Feng beserta ketiga kakaknya
membantu Huo Wen Chang melarikan diri bersama Chang Huo Huo. Perdana menteri
sangat marah dan merasa malu pada kaisar atas kelakuan anaknya. Raja dan
permaisuri yang sudah mengenal sifat putri Mei Feng tidak bisa dibohongi.
Akhirnya setelah berita pelarian Huo Wen Chang mereda, raja meminta penjelasan
pada putri Mei Feng. Setelah mengetahui kebenarannya, raja dan permaisuri hanya
tertawa terbahak-bahak dengan kenakalan putrinya.
Disaat
putri Mei Feng berusia 23 tahun, terjadi pemberontakan di kerajaannya. Pada
usia 26 tahun, putri Mei Feng terpisah dari keluarganya. 3 tahun setelah
berpisah, putri Mei Feng mendengar kabar kematian seluruh keluarganya. Putri
Mei Feng yang sedih kehilangan keluarganya, merencanakan perlawanan untuk
membalas dendam keluarganya. Di tengah-tengah perlawanan, Huo Wen Chang yang
mendengar berita kesusahan putri Mei Feng pun kembali datang membantunya. Hal
ini sampai ke telinga perdana menteri, yang akhirnya murka mengetahui kebenaran
kejadian sebelumnya. Perdana menteri membantu pemberontakan mengejar Huo Wen
Chang, Chang Hua Hua dan putri Mei Feng. Melihat Huo Wen Chang yang peduli
padanya, putri Mei Feng tidak tega melibatkan mereka. Putri Mei Feng menerima
panah yang diarahkan pada Huo Wen Chang dan memberinya cukup waktu untuk
melarikan diri. Putri Mei Feng wafat demi merestui Huo Wen Chang dan Chang Hua
Hua. Perdana menteri tidak berhenti mengejar Huo Wen Chang. Berselang 5 tahun
dari kematian sang putri, Huo Wen Chang pun menemui ajalnya dibawah pedang
perdana menteri bersama Chang Hua Hua.
NB :
__ADS_1
selama nataru, episode update 1 bab sehari ya...
ini othor curi2 waktu nulisnya, disela2 liburan...