
Dong Hua mengabari Gun Gun
untuk mempercepat terjadinya peang dengan wilayah barat dan utara. Mo Yuan dan
Ye Hua melepas penekanan pada kedua kekuatan pemberontak itu, hanya mengawasi
saja. Sou Wan dan Bai Qian sudah langsung ke Qing Qiu bergabung dengan Xiao
Shen Zhu. Beberapa hari, Xiao Shen Zhu memproses tanaman dan bunga pencahar di
bawah banyak pasang mata yang terus mengamati kinerjanya. Xiao Shen Zhu yang
fokus mengerjakan sesuatu, tidak terpengaruh oleh banyaknya pasang mata yang
memandangnya. Dong Hua terus mengawasi dan melayani Xiao Shen Zhu yang tidak
ingat akan apapun selain kerjanya. Dong Hua menggelengkan kepala melihat istri
kecilnya ini, sambil memberikan asupan makanan dan minuman di bibir kecilnya. Tidak
ada yang mengganggu konsentrasi Xiao Shen Zhu, semua hanya melihatnya dari
segala sisinya.
Perlahan tanaman dan bunga itu berubah bentuk, hingga
mendapat senyuman puas dari Xiao Shen Shu “sudah selesai ?” Dong Hua mematahkan
keheningan, setelah melihat senyuman gadisnya. Xiao Shen Zhu mengangguk puas
“sudah siap bermain…” Dong Hua menggendongnya, menggeleng “tidak, kau harus
beristirahat yang baik… sudah beberapa hari tidurmu tidak baik…” Xiao Shen Zhu
memajukan bibirnya, segera mendapat kecupan dari Dong Hua “pertama, kita
bersihkan tubuh kecilmu ini…” membawanya berendam dan mandi yang bersih.
Setelah sampai di permandian, segala lelah yang tidak dirasakannya selama
beberapa hari bekerja, langsung menyerang tubuh kecilnya. Segera Xiao Shen Zhu
tertidur di permandian, membiarkan Dong Hua yang membersihkan tubuh kecilnya.
Dong Hua tersenyum lembut, menatap gadis kecil kesayangannya ‘Feng Wei, tidak
peduli di kehidupan manapun, sifatmu ini selalu terbawa… pesonamu saat membuat
kotak pedang sudah sangat mengagumkan… bisa kembali melihatmu membuat hal yang
begitu luar biasa dengan ketelitianmu… Feng Wei-ku memang sangat luar biasa…’.
Ling Ling “bagaimana ? Niang Qin sudah tertidur !”
menunggu dengan cemas di depan pintu kamar. Melihat Dong Hua menggendong Xiao
Shen Zhu, segera mendekati, menghela nafas lega melihat Xiao Shen Zhu yang
tertidur nyenyak di gendongan Dong Hua. Dong Hua membaringkan dan memakaikan
selimut Xiao Shen Zhu “haih ingin sekali menahannya…” Ling Ling protes, Jin
Cheng merangkulnya “yang penting bisa mendampinginya… Ling Ling, Huo Feng niang
dulunya selalu sendiri, tidak ada yang peduli, bertahan hidup sendiri… wajar
jika melupakan dirinya sendiri… walaupun sekarang kita bersamanya, tetap tidak
bisa mengubah hal yang sudah terjadi… walau Huo Feng niang tidak mengingat
dirinya sendiri, yang penting kita mengingatnya…” Gun Gun “hanya untuk bermain,
Niang Qin sudah seserius ini… tidak bisa membayangkan bagaimana perjuangannya
__ADS_1
sebelumnya…” Long Nu tersenyum “karena beliau adalah Cai Hong Huo Feng, tidak
akan ada ataupun sanggup menolak pesonanya… hanya dengan melihatnya saja, mata
sudah tidak dapat berpaling ke tempat lain…”
Zhe Yan masuk membawa semangkuk ramuan “Dong Hua,
minumkan ini saat dia bangun…” mengambil tangan dan memeriksa nadi Xiao Shen
Zhu “tidak apa, hanya kelelahan kurang tidur…” Dong Hua tersenyum ‘haih gadis
cilikku, kapan kau menyadari kehadiranku !’ menggelengkan kepala “kalian
keluarlah, biarkan Feng Wei beristirahat…” Bai Chen “lihat, setelah
menyelesaikan kerjaannya, bahkan tidurpun tersenyum manis…” semua tersenyum
lembut melihat Xiao Shen Zhu sesaat dan keluar memberikan waktu istirahat untuk
gadis kecil penuh pesona itu.
Dong Hua memaksa Xiao Shen Zhu beristirahat penuh 3 hari,
sebelum membawanya ke Jiu Jong Tian. Xiao Shen Zhu berjalan sendiri,
melompat-lompat, berlarian di sekitar Dong Hua dengan semangat tinggi hingga ke
Jiu Jong Tian. Xiong Xiong, Xin Xin, Ching Ching, dan Chang Chang menemaninya
berlarian kesana kemari. Lainnya menemani mereka dengan senyuman. Sesampai di
gerbang Jiu Jong Tian, Dong Hua langsung menggenggam tangan Xiao Shen Zhu “Feng
Wei…” Xiao Shen Zhu menatapnya yang menghentikan langkahnya. Xiao Shen Zhu
membaca situasi dan merentangkan tangannya kearah Dong Hua. Dong Hua tersenyum
memeluknya, mengelap keringatnya dan menggendong Xiao Shen Zhu.
“sudah lama tidak berlarian hihihi… agak lapar…” “Niang Qin, ini untukmu…” Xin
Xin memberikan sebungkus kue. Xiao Shen Zhu segera menyambutnya dan makan
dengan tenang di gendongan Dong Hua “perlahan… hati-hati tersedak…”. Dong Hua
langsung membawanya ke Tai Chen gong “ayo bersihkan tubuhmu dan tidur…” Xiao Shen
Zhu cemberut “aku masih mau bermain…” Dong Hua menggeleng “kau harus istirahat…
tidak lama lagi perang akan terjadi… kau harus mempertahankan staminamu…” Xiao
Shen Zhu mengerucutkan bibirnya yang sangat menggemaskan di mata Dong Hua. Dong
Hua langsung mengecup bibir mungil itu “jangan memajukan bibirmu, aku tidak
akan tahan…” Xiao Shen Zhu cemberut.
Setelah menidurkan Xiao Shen Zhu, Dong Hua menemui Mo
Yuan dan Ye Hua “bagaimana ? apa beliau siap ?” Dong Hua menghela nafas “dia
lebih bersemangat daripada lainnya… selama tidak menggunakan spiritualnya, Feng
Wei akan baik-baik saja…” Sou Wan “gadis itu sangat lincah… lihat tingkahnya
selama perjalanan, yang melihatnya saja sudah pusing… staminanya luar biasa…” Meng
Hao “Shen Zhu menikmati hidupnya dengan caranya sendiri…” Mu Rong “hmm… tidak
akan ada masalah dengan perang, hanya saja…” melihat Dong Hua “Di Jun, kami
sudah mendengar yang terjadi di alam fana… apa tubuh Shen Zhu akan kuat menahan
__ADS_1
dampaknya ?” Dong Hua mengangguk “inilah juga yang ku khawatirkan… Feng Wei
muntah hebat hanya dengan sesaat mencium baunya… Zhe Yan !”
Zhe Yan “Dong Hua, aku sudah membuat ini… tapi ini tidak
bertahan lama…” Meng Hao “Shen Zhu pasti tidak akan meninggalkan medan perang
hingga segalanya berakhir !” Ling Ling “bukan hanya bau, tapi pemandangannya
akan sangat menjijikkan… tanpa mencium bau, hanya dengan melihat saja sudah
membuat mual” Gun Gun “belum tentu… mungkin Niang Qin sudah menyiapkan hal
lain…” Zhe Yan “bagaimanapun tubuhnya masih belum pulih… walau sudah menyiapkan
penangkalnya, hal yang menyangkut bau ini tetap akan tercium… yang bisa
dilakukan hanyalah menyiapkan penanganan setelahnya…” Dong Hua “nanti akan
mendiskusikan dengannya… bagaimana persiapan disini ?”
Ye Hua menghela nafas “Di Jun, semua ingin mengikuti Huo
Feng bermain” melihat semua yang tersenyum mantap “aku hanya menyiapkan 3.000
prajurit untuk berjaga-jaga…” Dong Hua mengangguk “baik… perang kali ini hanya
untuk memberinya kesenangan, yang mulia tidak ingin Feng Wei sakit karena
perang ini !” Sou Wan “Dong Hua, apa kau tahu apa yang akan dilakukannya ?
semua serpihan itu !” Dong Hua menggeleng, Ling Ling “Niang Qin tidak akan
tinggal diam hanya berdiri saja. Kuterka, Niang Qin akan langsung turun ke
medan perang…” Ye Hua “Di Jun, apa yang anda ingin prajurit lakukan ?” Dong Hua
“membersihkan medan perang… minimalisir bau dan pemandangan menjijikkan
secepatnya !” mereka merencanakan sedetailnya untuk mengurangi dampak dari
senjata Xiao Shen Zhu.
“gugu… bukankah waipo mengatakan akan mengajari kita
bermain ?” Chang Chang bertanya pada Xin Xin “tunggu saja, kalau Niang Qin sudah
mengatakannya, maka dia akan melakukannya !” Xiong Xiong “masih ada waktu
hingga perang terjadi… yang penting Niang Qin tidak kelelahan…” Ching Ching
“nainai begitu lincah, tidak terlihat tubuhnya yang lemah… yeye selalu
berhati-hati menjaga nainai, apa nainai tidak tahu semua mengkhawatirkannya !” Xin
Xin “Ching Ching, walau tidak pernah melihatnya sendiri… tapi semua selalu
bercerita Niang Qin yang selalu berdiri dan melindungi semua di garis terdepan…
demi melindungi semua, Niang Qin selalu melupakan dirinya sendiri… Niang Qin
tidak pernah membiarkan siapapun mendekat padanya… hingga saat ini, hanya Fu
Qin yang berhasil mendapatkan janjinya untuk selalu bersamanya…walaupun sudah
ada janji itu, Niang Qin masih saja berjuang sendiri walaupun selalu meninggalkan
jalan belakang untuk memenuhi janjinya bersama Fu Qin… yang kita lakukan saat
ini hanya memanfaatkan janjinya pada Fu Qin dan selalu mendekat padanya…” Xiong
Xiong “mendengar cerita mereka, aku sangat takut suatu saat Niang Qin akan
__ADS_1
menghilang… sebelumnya Niang Qin sudah menyerah tapi semesta mengambilnya
kembali untuk kita… aku tidak ingin Niang Qin kembali kelelahan dan menyerah…”