Return Of God Emperor

Return Of God Emperor
Bab 136 - Rintangan petir pertama Supreme Emperor


__ADS_3

Hua Zi memeluk erat Feng Wei menciumi


seluruh wajahnya, membuat Feng Wei geli berusaha menghindarinya “sudah…


hentikan… hahaha… sudah… geli… hahaha… Hua Zi gege…” Hua Zi akhirnya berhenti mendengar


namanya. Hua Zi mengangkat Feng Wei tinggi-tinggi dan memutarnya, “sebut lagi


sebut lagi”. Feng Wei berteriak “Hua Zi gege… aku pusing…” Hua Zi menghentikannya,


khawatir memegang Feng Wei “Feng Wei, mana yang sakit ?” Feng Wei merosot turun


dari gendongan Hua Zi memeletkan lidah “wuek, kamu bau… hahaha…” berlari menuju


permandian. Hua Zi, Xiong Xiong, dan Xin Xin menemaninya.


        Di


permandian. 1 keluarga bermain air bersama, suara tawa tidak putus. Yang diluar


dengar, iri pada mereka terutama Gun Gun dan Ling Ling. Mereka berkumpul


bersama untuk sarapan, Xin Xin duduk disamping Feng Wei “Niang Qin, Niang Qin,


bilang Xin Xin, Xin Xin…” Xiong Xiong pun maju “Niang Qin, Xiong Xiong, Xiong


Xiong, ayo cobalah” Feng Wei yang melihat cemberut. Gun Gun maju “Xin Xin,


Xiong Xiong, Niang Qin baru mulai berbicara, ajari pelan-pelan saja, jangan


dipaksa” Xiong Xiong memegang tangan Feng Wei dan merengek “Niang Qin, kapan


menyebut Xiong Xiong ? kenapa hanya tahu nama Fu Qin ? Niang Qin…” Feng Wei


melihat tampang kedua anaknya, cemberut tapi juga tidak tega, akhirnya buka


mulut “Niang Qin, Niang Qin” keduanya mendongak, menyebut bersamaan “Niang Qin”


semua juga menanti kata-kata Feng Wei.


Feng Wei melihat antusias


di wajah semua dan cemberut. Hua Zi melihat Feng Wei dengan antusias “Feng Wei,


panggil Fu Jun” Feng Wei menghela nafas dan mengerucutkan bibir “Niang Qin, Fu


Jun, Niang Qin, Fu Jun, dimana mata kalian melihat anak kecil 200 tahun punya


empat anak dan suami yang begitu besar” Semua melongo mendengar kata-kata Feng


Wei, kemudian tertawa selain keluarga Dong Feng ‘hahahahahaha…’


Hua Zi merengek “Feng


Wei…” Xin Xin dan Xiong Xiong menangis “Niang Qin, jahat… hua… hua…” Sou Wan tertawa


terbahak-bahak “Hong Ling, kata bagus, kata bagus. Hong Ling, kamu ikut


denganku saja, kita bermain di gunung Kun Lun” Xian Zun memotong “eh, tidak,


tidak, Huo Feng, ayo ke Yu Zhou Da Lu. Sudah lama kamu tidak kembali, banyak


yang harus diurus” Gun Gun protes sambil berdiri merentangkan tangan di depan


Feng Wei “tidak, tidak boleh, Niang Qin tidak boleh kemanapun”. Bunyi perut


Feng Wei menghentikan semuanya, Feng Wei cemberut “lapar, makan”.


Bai Yi Fu Ren mengambil


dan menaruh Feng Wei dipangkuannya “Hong Ling, mau makan yang mana ?” Feng Wei


melihat dengan mata berbinar semua makanan di atas meja, air liurnya sudah mau


menetes, menunjuk ke kue asoka. Bai Yi Fu Ren memberikan kue asoka ke Feng Wei,


yang langsung disambut dan dimakan Feng Wei. Bai Yi Fu Ren juga memberikan


semangkok sup “Hong Ling minumlah, bagus untuk kesehatanmu” Feng Wei asik makan


tidak mempedulikan yang lain. Disisi sana, Hua Zi dan keempat anak cemberut


memandang Feng Wei.


Feng Wei yang sudah cukup


makan akhirnya mendongak, melihat Hua Zi dan keempat anak yang cemberut. Feng


Wei memegang sepiring kue asoka dan melompat turun dari pangkuan Bai Yi Fu Ren.


Feng Wei berjalan kearah Hua Zi dan keempat anaknya “sudah, pagi pagi jangan


cemberut terus, ayo makan (sambil menyuapi mereka satu persatu)” Hua Zi menggendong


Feng Wei kembali ke pangkuannya “Fu Ren…” Feng Wei cemberut lagi “Hua Zi gege,


aku masih kecil. Semua akan tertawa mendengarmu memanggil Fu Ren” Hua Zi

__ADS_1


memeluk dan merengek. Feng Wei protes “aiya, jangan begini, geli. Aku tidak


berbicara lagi loh kalau begini” Hua Zi segera mengangkat kepala “Feng Wei,


baik, semua mendengarkanmu”.


Keempat anak masih


cemberut, Feng Wei berbalik “Gun Gun, Ling Ling, Xin Xin, Xiong Xiong” semua


mendongak mendengar Feng Wei memanggil nama mereka dan berhambur memeluk Feng


Wei “Niang Qin”. Feng Wei terjepit di tengah-tengah “aiyo, sudah, sudah, lepas…


aku tidak bisa bernafas… huh… huh… huh…” keempatnya melepas pelukan, bertanya


cemas “Niang Qin, baik-baik saja !” Feng Wei mengambil nafas dalam-dalam


“sudah, kalian duduklah makan” keempatnya mengangguk dan duduk makan, sesekali


menyuapi Feng Jiu.


Long Jin Shan Zuo Zun buka


suara “Huo Feng, datanglah ke Yu Zhou Da Lu” Feng Wei sambil memainkan rambut Hua


Zi “buat apa aku kesana ! aku masih ingin bermain disini” Feng Huo Huang You Zun


berkomentar “Huo Feng, kamu pemimpin dari Yu Zhou Da Lu loh. Para iblis kecil


itu tidak berhenti berulah, bermainlah bersama mereka. Kamikan juga ingin


bersantai” Feng Wei hanya melirik acuh tak acuh “mana ada pemimpin Da Lu


sebesar itu, masih sekecil ini. Pemimpin sementara diberikan pada kalian yang


tua-tua saja” Zuo Zun protes “eh, bilang tua, kamu paling tua diantara kita”


Feng Wei memeletkan lidahnya “wuek, mata kalian yang mana yang melihatku tua.


Aku baru 200 tahun, kalian hahaha lao lao lao yeye lao lao lao nainai saja


masih tidak pantas buat kalian hahaha…” You Zun ngambek “eh, mentang-mentang


terlahir kembali, sekarang menghina usia ya. Ayo sini, aku akan membawamu ke Yu


Zhou Da Lu” berdiri ingin menangkap Feng Wei.


Feng Wei segera melompat


turun dari pangkuan Hua Zi dan berlari “ayo, ayo, coba tangkap aku, kalau bisa


lao nainai hahahahaha…” berlari keluar. Zuo Zun berteriak “Huo Feng….” Kedua


Zun Wang mengejar keluar. Zuo Zun berubah menjadi seekor naga dan You Zun


berubah menjadi seekor phoenix mengejar Feng Wei. Feng Wei yang melihat mereka


berubah, juga ikut berubah menjadi rubah merah berekor sembilan. Yang lain


mengikuti keluar, melihat tingkah 3 dewa dewi dengan status yang sangat tinggi


itu.


Mereka kejar-kejaran di


angkasa, tubuh rubah kecil sangat lincah, melompat, berlari dan melesat kesana


kemari. Naga dan phoenix sudah berbenturan beberapa kali masih tidak dapat


menangkap rubah. Naga yang mengejar sempat terikat badan sendiri. Angkasa


seluas itu menjadi tempat bermain mereka. Semua dewa dewi di Jiu Jong Tian bisa


melihat fenomena ini, seekor rubah merah kecil berekor sembilan dikejar seekor


naga emas dan seekor phoenix merah. Mereka sering mendengar Di Hou adalah ratu


Qing Qiu berwujud rubah merah berekor sembilan. Merekapun menebak-nebak siapa


naga dan phoenix.


1 jam mereka


berputar-putar diangkasa. Naga dan phoenix sudah mulai sempoyongan karena


berbenturan bersama terus menerus. Rubah merah kecil masih sangat lincah dan


melesat di sekitaran mereka. Akhirnya Zuo Zun menyerah “huh sudah… sudah… aku


sudah haus dan lapar… makanan barusan sudah hilang semua” kembali ke istana Tai


Chen dan berubah kembali, diikuti You Zun. Rubah merah kecil yang melihat mereka


sudah berubah dan kembali ke istana Tai Chen, merubah diri menjadi merak


terbang mengelilingi angkasa. Bai Jin segera menyusulnya, terbang dan mengejar

__ADS_1


merak kecil.


Hua Zi dan anak-anak


kebingungan, Feng Wei dan Bai Jin pergi entah kemana. Zuo Zun menenangkan


“tidak apa-apa, dia hanya bermain. Biar bagaimanapun Huo Feng masih 200 tahun,


walaupun mengingat semuanya, sifat anak-anaknya masih menempel. Dia akan


kembali”. Mereka semuapun sadar ‘yah benar, walau Feng Wei ini mengingat semua


kejadian sebelumnya, tapi saat ini masih 200 tahun, sifatnya pun masih diusia


itu. Masih sangat senang bermain’. Mereka pasrah menunggu sambil minum teh dan


makan kue.


Sejam kemudian terdengar


bunyi ‘kikkk kikkk kikkk groar… groar…’, seekor anak unicorn dan Bai Jin berlari


diangkasa. Tiba-tiba langit menggelap dan bunyi Guntur bersahut-sahutan, Hua Zi


cemas. Lian Song “siapa yang akan menghadapi rintangan ?” kedua Zun Wang


berdiri “Huo Feng…” petir turun satu persatu menghantam tubuh anak unicorn.


Anak unicorn berubah menjadi Feng Wei kecil, mengeluarkan sihir, membuat


batasan memisahkan dirinya dan yang lain. Feng Wei berdiri tidak bergeming, melihat


ke langit dengan kesal. 27 mega petir menghantam tubuh kecil Feng Wei, noda


darah berwarna pelangi sudah membasahi seluruh pakaiannya.


Langit kembali cerah, Feng


Wei bercahaya tapi emosi “Lei Shen, kau sangat suka menyambarku dengan petir…” mengeluarkan


sihir seperti cambuk, mencambuk keangkasa menembus langit, dan menarik dengan


hentakan kuat. Seorang dewa jatuh di halaman Tai Chen gong “aiyo…”, Feng Wei


turun ke hadapannya “apa kau kira tubuh yang mulia ini mainanmu, selalu


menggunakan mainan kecilmu ini menyambarku ! kau menghancurkan baju baruku cih…”


semua tercengang melihatnya. Hua Zi khawatir dengan tubuh Feng Wei segera


menghampiri “Feng Wei, kau terluka !”


Feng Wei mengangkat tangan


menghalangi Hua Zi, mengambil cambuknya, mencambuk Lei Shen “bagaimana ? apa


enak di tubuhmu…” “aiyo… aiyo… Xiao Shen Zhu, maafkan dewa tua ini… tidak


menyambar… tidak menyambar lagi ya…” Lei Shen memohon. Feng Wei mencibir “cih


selalu menggunakan alasan… kau selalu mencari cara untuk membalasku kan , tidak


saat evolusi, kultivasi, bahkan sekarang terlahir kembali, selalu menyambar


seenakmu, tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Rupanya yang mulia terlalu


memanjakanmu…” Lei Shen menggeleng-geleng “tidak berani tidak berani…”. Feng


Wei mengambil lempengan petir dan menyambar Lei Shen beberapa kali “biar kau


merasakan sendiri petirmu…” “aiyo… aiyo… aiyo… sakit… tolong…”.


“hahaha… Xiao Shen Zhu,


kenapa membully dewa tua ini ?” Budha melayang turun ke hadapan mereka. Feng


Wei melirik sinis “ingin bermain sejenak saja tidak bisa cih… kau ! buatkan


yang mulia manisan plum… kau sendiri membuatnya, tidak boleh menggunakan sihir”


mengunci supranatural Lei Shen “jika tidak sesuai dengan selera yang mulia,


yang mulia akan menyambarmu lagi… sana…” Lei Shen cemberut “Shen Zhu…”


merengek. Feng Wei membulatkan matanya “masih tidak pergi… masih mau disambar…”


Lei Shen menggeleng “pergi… pergi… segera…” lari terbirit-birit ke dapur.


Kedua Zun Wang dan Budha


cekikikan “Xiao Shen Zhu, kenapa sekesal itu ? Lei Shen juga hanya membantumu,


menyesuaikan raga dan kekuatanmu…” Feng Wei mengambil petir menyambar Budha


“nih kau rasakan sendiri…” “aiyo… tidak berani tidak berani… Xiao Shen Zhu,


sebaiknya obati luka anda…” Feng Wei melihat kondisinya sendiri yang tidak

__ADS_1


karuan “ah… ini baju baruku… haih menjengkelkan…” berbalik dengan kesal. Hua Zi


segera menggendongnya ke kamar untuk mengobatinya


__ADS_2