
Hua Zi memeluk erat Feng Wei menciumi
seluruh wajahnya, membuat Feng Wei geli berusaha menghindarinya “sudah…
hentikan… hahaha… sudah… geli… hahaha… Hua Zi gege…” Hua Zi akhirnya berhenti mendengar
namanya. Hua Zi mengangkat Feng Wei tinggi-tinggi dan memutarnya, “sebut lagi
sebut lagi”. Feng Wei berteriak “Hua Zi gege… aku pusing…” Hua Zi menghentikannya,
khawatir memegang Feng Wei “Feng Wei, mana yang sakit ?” Feng Wei merosot turun
dari gendongan Hua Zi memeletkan lidah “wuek, kamu bau… hahaha…” berlari menuju
permandian. Hua Zi, Xiong Xiong, dan Xin Xin menemaninya.
Di
permandian. 1 keluarga bermain air bersama, suara tawa tidak putus. Yang diluar
dengar, iri pada mereka terutama Gun Gun dan Ling Ling. Mereka berkumpul
bersama untuk sarapan, Xin Xin duduk disamping Feng Wei “Niang Qin, Niang Qin,
bilang Xin Xin, Xin Xin…” Xiong Xiong pun maju “Niang Qin, Xiong Xiong, Xiong
Xiong, ayo cobalah” Feng Wei yang melihat cemberut. Gun Gun maju “Xin Xin,
Xiong Xiong, Niang Qin baru mulai berbicara, ajari pelan-pelan saja, jangan
dipaksa” Xiong Xiong memegang tangan Feng Wei dan merengek “Niang Qin, kapan
menyebut Xiong Xiong ? kenapa hanya tahu nama Fu Qin ? Niang Qin…” Feng Wei
melihat tampang kedua anaknya, cemberut tapi juga tidak tega, akhirnya buka
mulut “Niang Qin, Niang Qin” keduanya mendongak, menyebut bersamaan “Niang Qin”
semua juga menanti kata-kata Feng Wei.
Feng Wei melihat antusias
di wajah semua dan cemberut. Hua Zi melihat Feng Wei dengan antusias “Feng Wei,
panggil Fu Jun” Feng Wei menghela nafas dan mengerucutkan bibir “Niang Qin, Fu
Jun, Niang Qin, Fu Jun, dimana mata kalian melihat anak kecil 200 tahun punya
empat anak dan suami yang begitu besar” Semua melongo mendengar kata-kata Feng
Wei, kemudian tertawa selain keluarga Dong Feng ‘hahahahahaha…’
Hua Zi merengek “Feng
Wei…” Xin Xin dan Xiong Xiong menangis “Niang Qin, jahat… hua… hua…” Sou Wan tertawa
terbahak-bahak “Hong Ling, kata bagus, kata bagus. Hong Ling, kamu ikut
denganku saja, kita bermain di gunung Kun Lun” Xian Zun memotong “eh, tidak,
tidak, Huo Feng, ayo ke Yu Zhou Da Lu. Sudah lama kamu tidak kembali, banyak
yang harus diurus” Gun Gun protes sambil berdiri merentangkan tangan di depan
Feng Wei “tidak, tidak boleh, Niang Qin tidak boleh kemanapun”. Bunyi perut
Feng Wei menghentikan semuanya, Feng Wei cemberut “lapar, makan”.
Bai Yi Fu Ren mengambil
dan menaruh Feng Wei dipangkuannya “Hong Ling, mau makan yang mana ?” Feng Wei
melihat dengan mata berbinar semua makanan di atas meja, air liurnya sudah mau
menetes, menunjuk ke kue asoka. Bai Yi Fu Ren memberikan kue asoka ke Feng Wei,
yang langsung disambut dan dimakan Feng Wei. Bai Yi Fu Ren juga memberikan
semangkok sup “Hong Ling minumlah, bagus untuk kesehatanmu” Feng Wei asik makan
tidak mempedulikan yang lain. Disisi sana, Hua Zi dan keempat anak cemberut
memandang Feng Wei.
Feng Wei yang sudah cukup
makan akhirnya mendongak, melihat Hua Zi dan keempat anak yang cemberut. Feng
Wei memegang sepiring kue asoka dan melompat turun dari pangkuan Bai Yi Fu Ren.
Feng Wei berjalan kearah Hua Zi dan keempat anaknya “sudah, pagi pagi jangan
cemberut terus, ayo makan (sambil menyuapi mereka satu persatu)” Hua Zi menggendong
Feng Wei kembali ke pangkuannya “Fu Ren…” Feng Wei cemberut lagi “Hua Zi gege,
aku masih kecil. Semua akan tertawa mendengarmu memanggil Fu Ren” Hua Zi
__ADS_1
memeluk dan merengek. Feng Wei protes “aiya, jangan begini, geli. Aku tidak
berbicara lagi loh kalau begini” Hua Zi segera mengangkat kepala “Feng Wei,
baik, semua mendengarkanmu”.
Keempat anak masih
cemberut, Feng Wei berbalik “Gun Gun, Ling Ling, Xin Xin, Xiong Xiong” semua
mendongak mendengar Feng Wei memanggil nama mereka dan berhambur memeluk Feng
Wei “Niang Qin”. Feng Wei terjepit di tengah-tengah “aiyo, sudah, sudah, lepas…
aku tidak bisa bernafas… huh… huh… huh…” keempatnya melepas pelukan, bertanya
cemas “Niang Qin, baik-baik saja !” Feng Wei mengambil nafas dalam-dalam
“sudah, kalian duduklah makan” keempatnya mengangguk dan duduk makan, sesekali
menyuapi Feng Jiu.
Long Jin Shan Zuo Zun buka
suara “Huo Feng, datanglah ke Yu Zhou Da Lu” Feng Wei sambil memainkan rambut Hua
Zi “buat apa aku kesana ! aku masih ingin bermain disini” Feng Huo Huang You Zun
berkomentar “Huo Feng, kamu pemimpin dari Yu Zhou Da Lu loh. Para iblis kecil
itu tidak berhenti berulah, bermainlah bersama mereka. Kamikan juga ingin
bersantai” Feng Wei hanya melirik acuh tak acuh “mana ada pemimpin Da Lu
sebesar itu, masih sekecil ini. Pemimpin sementara diberikan pada kalian yang
tua-tua saja” Zuo Zun protes “eh, bilang tua, kamu paling tua diantara kita”
Feng Wei memeletkan lidahnya “wuek, mata kalian yang mana yang melihatku tua.
Aku baru 200 tahun, kalian hahaha lao lao lao yeye lao lao lao nainai saja
masih tidak pantas buat kalian hahaha…” You Zun ngambek “eh, mentang-mentang
terlahir kembali, sekarang menghina usia ya. Ayo sini, aku akan membawamu ke Yu
Zhou Da Lu” berdiri ingin menangkap Feng Wei.
Feng Wei segera melompat
turun dari pangkuan Hua Zi dan berlari “ayo, ayo, coba tangkap aku, kalau bisa
lao nainai hahahahaha…” berlari keluar. Zuo Zun berteriak “Huo Feng….” Kedua
Zun Wang mengejar keluar. Zuo Zun berubah menjadi seekor naga dan You Zun
berubah menjadi seekor phoenix mengejar Feng Wei. Feng Wei yang melihat mereka
berubah, juga ikut berubah menjadi rubah merah berekor sembilan. Yang lain
mengikuti keluar, melihat tingkah 3 dewa dewi dengan status yang sangat tinggi
itu.
Mereka kejar-kejaran di
angkasa, tubuh rubah kecil sangat lincah, melompat, berlari dan melesat kesana
kemari. Naga dan phoenix sudah berbenturan beberapa kali masih tidak dapat
menangkap rubah. Naga yang mengejar sempat terikat badan sendiri. Angkasa
seluas itu menjadi tempat bermain mereka. Semua dewa dewi di Jiu Jong Tian bisa
melihat fenomena ini, seekor rubah merah kecil berekor sembilan dikejar seekor
naga emas dan seekor phoenix merah. Mereka sering mendengar Di Hou adalah ratu
Qing Qiu berwujud rubah merah berekor sembilan. Merekapun menebak-nebak siapa
naga dan phoenix.
1 jam mereka
berputar-putar diangkasa. Naga dan phoenix sudah mulai sempoyongan karena
berbenturan bersama terus menerus. Rubah merah kecil masih sangat lincah dan
melesat di sekitaran mereka. Akhirnya Zuo Zun menyerah “huh sudah… sudah… aku
sudah haus dan lapar… makanan barusan sudah hilang semua” kembali ke istana Tai
Chen dan berubah kembali, diikuti You Zun. Rubah merah kecil yang melihat mereka
sudah berubah dan kembali ke istana Tai Chen, merubah diri menjadi merak
terbang mengelilingi angkasa. Bai Jin segera menyusulnya, terbang dan mengejar
__ADS_1
merak kecil.
Hua Zi dan anak-anak
kebingungan, Feng Wei dan Bai Jin pergi entah kemana. Zuo Zun menenangkan
“tidak apa-apa, dia hanya bermain. Biar bagaimanapun Huo Feng masih 200 tahun,
walaupun mengingat semuanya, sifat anak-anaknya masih menempel. Dia akan
kembali”. Mereka semuapun sadar ‘yah benar, walau Feng Wei ini mengingat semua
kejadian sebelumnya, tapi saat ini masih 200 tahun, sifatnya pun masih diusia
itu. Masih sangat senang bermain’. Mereka pasrah menunggu sambil minum teh dan
makan kue.
Sejam kemudian terdengar
bunyi ‘kikkk kikkk kikkk groar… groar…’, seekor anak unicorn dan Bai Jin berlari
diangkasa. Tiba-tiba langit menggelap dan bunyi Guntur bersahut-sahutan, Hua Zi
cemas. Lian Song “siapa yang akan menghadapi rintangan ?” kedua Zun Wang
berdiri “Huo Feng…” petir turun satu persatu menghantam tubuh anak unicorn.
Anak unicorn berubah menjadi Feng Wei kecil, mengeluarkan sihir, membuat
batasan memisahkan dirinya dan yang lain. Feng Wei berdiri tidak bergeming, melihat
ke langit dengan kesal. 27 mega petir menghantam tubuh kecil Feng Wei, noda
darah berwarna pelangi sudah membasahi seluruh pakaiannya.
Langit kembali cerah, Feng
Wei bercahaya tapi emosi “Lei Shen, kau sangat suka menyambarku dengan petir…” mengeluarkan
sihir seperti cambuk, mencambuk keangkasa menembus langit, dan menarik dengan
hentakan kuat. Seorang dewa jatuh di halaman Tai Chen gong “aiyo…”, Feng Wei
turun ke hadapannya “apa kau kira tubuh yang mulia ini mainanmu, selalu
menggunakan mainan kecilmu ini menyambarku ! kau menghancurkan baju baruku cih…”
semua tercengang melihatnya. Hua Zi khawatir dengan tubuh Feng Wei segera
menghampiri “Feng Wei, kau terluka !”
Feng Wei mengangkat tangan
menghalangi Hua Zi, mengambil cambuknya, mencambuk Lei Shen “bagaimana ? apa
enak di tubuhmu…” “aiyo… aiyo… Xiao Shen Zhu, maafkan dewa tua ini… tidak
menyambar… tidak menyambar lagi ya…” Lei Shen memohon. Feng Wei mencibir “cih
selalu menggunakan alasan… kau selalu mencari cara untuk membalasku kan , tidak
saat evolusi, kultivasi, bahkan sekarang terlahir kembali, selalu menyambar
seenakmu, tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Rupanya yang mulia terlalu
memanjakanmu…” Lei Shen menggeleng-geleng “tidak berani tidak berani…”. Feng
Wei mengambil lempengan petir dan menyambar Lei Shen beberapa kali “biar kau
merasakan sendiri petirmu…” “aiyo… aiyo… aiyo… sakit… tolong…”.
“hahaha… Xiao Shen Zhu,
kenapa membully dewa tua ini ?” Budha melayang turun ke hadapan mereka. Feng
Wei melirik sinis “ingin bermain sejenak saja tidak bisa cih… kau ! buatkan
yang mulia manisan plum… kau sendiri membuatnya, tidak boleh menggunakan sihir”
mengunci supranatural Lei Shen “jika tidak sesuai dengan selera yang mulia,
yang mulia akan menyambarmu lagi… sana…” Lei Shen cemberut “Shen Zhu…”
merengek. Feng Wei membulatkan matanya “masih tidak pergi… masih mau disambar…”
Lei Shen menggeleng “pergi… pergi… segera…” lari terbirit-birit ke dapur.
Kedua Zun Wang dan Budha
cekikikan “Xiao Shen Zhu, kenapa sekesal itu ? Lei Shen juga hanya membantumu,
menyesuaikan raga dan kekuatanmu…” Feng Wei mengambil petir menyambar Budha
“nih kau rasakan sendiri…” “aiyo… tidak berani tidak berani… Xiao Shen Zhu,
sebaiknya obati luka anda…” Feng Wei melihat kondisinya sendiri yang tidak
__ADS_1
karuan “ah… ini baju baruku… haih menjengkelkan…” berbalik dengan kesal. Hua Zi
segera menggendongnya ke kamar untuk mengobatinya