Return Of God Emperor

Return Of God Emperor
Bab 148 - Kekuatan Pertama


__ADS_3

Setelah keberadaannya


diketahui Yang Guang, Hua Zi tidak lagi bersembunyi. Yang Guang akan menutup


matanya menggunakan sapu tangan, saat masuk ke kamar untuk beristirahat. Hua Zi


selalu memunculkan dirinya tanpa menunggu Yang Guang tidur terlebih dahulu.


Yang Guang menceritakan semua yang dialaminya hari itu, walaupun Hua Zi sudah


mengetahuinya. Hua Zi “Feng Wei, lukamu masih perlu perawatan…” Yang Guang “Hua


Zi gege, aku akan berjalan perlahan… disini sudah tidak nyaman…” Hua Zi


“baiklah, tapi kalau lelah, kau harus langsung beristirahat, jangan memaksakan


diri…” Yang Guang mengangguk.


          “Huang Guang, besok aku akan pergi dari sini, tolong


sampaikan terima kasihku pada semua” Yang Guang berpamitan. Huang Guang terkejut,


dia sudah nyaman dengan Yang Guang, menganggapnya sebagai saudara “kau ingin


kemana ? lukamu ?” Yang Guang “tidak masalah… aku ingin melihat dunia yang luas


ini… aku tidak menentukan tujuan, terserah kemana saja…” Huang Guang “kau masih


kecil, ingin kemana ? kau tidak pulang ?” Yang Guang menggeleng “aku tidak


punya rumah, mau pulang kemana. Begini lebih baik, aku suka dengan


kebebasanku…” Huang Guang berfikir “aku menemanimu…”


Yang


Guang cekikikan “hi tuan muda, kau bukan sudah jatuh cinta padaku kan hahaha…” Huang


Guang “kalau kau seorang gadis, aku pasti jatuh cinta padamu hihihi… sudah lama


aku mau berkeliling hanya belum menemukan saat yang tepat… saat bertemu


denganmu, aku merasa waktuku juga sudah tiba…” Yang Guang mencibir “cih…


tentukan sendiri arahmu…” Huang Guang “hei… ada aku yang menemanimu berkelana,


bukankah sangat baik… dimana kau mencari sahabat setampan diriku ? lagipula


kita bersama juga bisa saling bercengkrama, tidak kesepian” Yang Guang berdecak


kesal “cih…” ‘asal kau tahu, aku tidak pernah kesepian, Hua Zi gege selalu


bersamaku…’ sambil tersenyum.


“Hei


kenapa kau tersenyum ? jangan-jangan kau jatuh cinta padaku ? hiii menjauhlah,


aku masih normal…” Huang Guang menjauhkan kursinya 20cm. Yang Guang kesal “cih…


aku tidak sudi jatuh cinta pada tuan muda sepertimu… aku mencintai kebebasanku,


tidak mau jatuh cinta dan menggantinya dengan kungkungan… hiii… memikirkan saja


membuatku merinding… ah sudahlah malas bicara denganmu… pokoknya aku besok


pergi dari sini… ingat pamitkan pada orang tuamu, aku masuk…” Huang Guang


cekikikan “hahaha… sampai bertemu besok…” Yang Guang tidak membalas.


Yang

__ADS_1


Guang tidak berencana mengajak Huang Guang (Hua Zi pun sebenarnya tidak mau


hihihi). Hari belum terang, Yang Guang sudah bangun dan membereskan semua barangnya.


Perlahan membuka pinta “pelan-pelan… kau ini mau pergi atau jadi maling ?”


Huang Guang tiba-tiba muncul mengagetkan Yang Guang “hah… kau mengagetkan saja…


apa yang kau lakukan didepan kamarku ?” “menunggumu…” Huang Guang acuh tak acuh


menjawab “untuk apa menungguku ?” bertanya dengan kesal “eh kau benar-benar


pelupa” mengetuk kening Yang Guang “bukannya sudah kukatakan kemarin akan


menemanimu berkelana… ayo aku sudah mempersiapkan kuda kita…” berjalan


mendahului Yang Guang. Yang Guang berdecak kesal “cih…” mengikuti Huang Guang


ke depan gerbang, dimana kedua kuda sudah siap dan terikat di pagar gerbang.


Yang


Guang pun pasrah ‘hmm terserah dialah… yang penting tidak menyusahkanku saja…


tapi Huang Guang boleh juga, bisa menjadi salah satu kekuatanku…’ nampak


berfikir “apa yang kau fikirkan ? masih mau pergi tidak ?” Huang Guang


mengembalikan lamunan Yang Guang “pergi… pergi… tentu saja pergi…” langsung


menjawab ‘tidak, aku tidak akan membiarkan siapapun berkorban demiku. Selama


Huang Guang menemaniku, aku harus menjaga keselamatannya. Haih semoga saja dia


hanya mau bermain, segera kembali ke Desa Ma Tuan’, mulai menunggang kudanya.


Hua Zi melirik sinis pada Huang Guang, membuat yang bersangkutan tiba-tiba


Huang


Guang sudah menduga Yang Guang akan diam-diam pergi. Setelah berpisah semalam,


Huang Guang langsung menemui ayah ibunya dan mengutarakan maksudnya “die…


niang… kalian tahu aku dari kecil selalu mencari petunjuk ! aku merasa duniaku


diluar sana… Yang Guang adalah jalanku die… niang…” “Huang er, kau…” Huang


Guang cekikikan “hihihi niang, aku masih normal… hanya saja dari awal


melihatnya, entah kenapa aku sangat yakin, dialah pertandaku… setelah melihat


yang dilakukannya di arena dan auranya itu… die… niang… ijinkan Huang er pergi,


menempuh jalan milik Huang er sendiri…” “Huang er, keluarga kita selalu setia


pada satu orang, baik itu pemimpin ataupun pasangan. Apa kau yakin akan hal ini


? kau baru mengenalnya selama 5 hari” Huang Guang mengangguk.


“Apa


kau rela menyerahkan kesetiaanmu pada anak kecil ? die bukan melarangmu, die


juga sudah melihat kemampuan Yang Guang. Tapi Huang er, walau die tidak tahu


apa yang akan terjadi selanjutnya. Die merasa Yang Guang bukan anak


sembarangan, jalannya kedepan akan menemui banyak rintangan dan hambatan. Die


bisa melihat Yang Guang sangat menyukai kebebasan dan tidak terlena akan

__ADS_1


kekuasaan. Anak seperti inilah yang berbahaya. Tanpa sadar, dia akan mengundang


banyak bahaya dan kesalahpahaman, tapi dia juga akan berjalan hingga ke tempat


tertinggi.” Tuan Shen memberi nasihat. Huang Guang “die, aku rela, hatiku


mengatakan dialah tuan yang selama ini kutunggu-tunggu. Die, semenjak dia


terluka di bawah pedangku, aku sudah bersumpah untuk melindunginya.” Tuan Shen


mengangguk “Huang er, kau dari kecil, tidak sama dengan saudaramu yang lain.


Die yakin padamu, yang kau putuskan pasti yang terbaik untukmu. Huang er,


pergilah melalui jalanmu… ingat junjung tinggi kebenaran… ayah yakin


kesetiaanmu sudah menemukan tempat yang benar… anak itu sungguh luar biasa…


bahkan yang mulia Raja, tidak mempunyai aura sepertinya. Huang er, saat lelah,


kembalilah, Desa Ma Tuan selamanya adalah rumahmu”.


Huang


Guang berlutut, memberi hormat kepada kedua orang tuanya “terima kasih die


niang… maafkan ananda tidak bisa berada disisi kalian lagi…” Tuan Shen dan


istrinya mengangkat Huang Guang “Huang er, kau selamanya adalah anak kebanggaan


kami…” “niang…” Huang Guang memeluk ibunya “Huang er, satu lagi, nama Yang


Guang ini jangan sampai ada yang mengetahuinya” “kenapa die ?” “karena


tindakannya saat itu, sudah menjadi buah bibir di seluruh negri. Die sudah


menyebarkan beritanya dengan nama Xiao Guang. Sebisa mungkin hindari masalah…”


Huang Guang adalah anak pintar, langsung mengetahui maksud ayahnya “baik die,


aku akan lebih perhatikan” berpamitan dengan seluruh keluarganya.


Setelah


selesai berpamitan, Huang Guang segera bersiap dan menunggu di depan kamar Yang


Guang. Huang Guang memastikan mengikuti Yang Guang walau tanpa persetujuannya. Tebakannya


benar, saat melihat lampu kecil menyala di kamar Yang Guang. Yang Guang yang


sangat berhati-hati keluar dari kamar karena tidak ingin ketahuan, membuat


Huang Guang cekikikan.


Keduanya


berpacu tak tentu arah “Yang Guang, kau ingin kemana ?” Yang Guang “hmm… apa


kau tahu, dimana ada tempat-tempat menarik atau mungkin kebiasaan khas seperti


desamu yang terlatih menunggang kuda” Huang Guang berfikir “keahlian khusus,


selain Desa Ma Tuan, masih banyak yang lain, tapi semuanya agak jauh dari sini.


oh apa kau mau ke Desa Huo Mei ?” “Desa Huo Mei ?” Huang Guang mengangguk


“dinamakan Desa Huo Mei, karena tempat itu dikelilingi oleh gunung berapi” Yang


Guang “hmm gunung berapi… sepertinya menarik… baik, tujuan kedua Desa Huo Mei…”


berpacu kearah Desa Huo Mei.

__ADS_1


__ADS_2