
Setelah keberadaannya
diketahui Yang Guang, Hua Zi tidak lagi bersembunyi. Yang Guang akan menutup
matanya menggunakan sapu tangan, saat masuk ke kamar untuk beristirahat. Hua Zi
selalu memunculkan dirinya tanpa menunggu Yang Guang tidur terlebih dahulu.
Yang Guang menceritakan semua yang dialaminya hari itu, walaupun Hua Zi sudah
mengetahuinya. Hua Zi “Feng Wei, lukamu masih perlu perawatan…” Yang Guang “Hua
Zi gege, aku akan berjalan perlahan… disini sudah tidak nyaman…” Hua Zi
“baiklah, tapi kalau lelah, kau harus langsung beristirahat, jangan memaksakan
diri…” Yang Guang mengangguk.
“Huang Guang, besok aku akan pergi dari sini, tolong
sampaikan terima kasihku pada semua” Yang Guang berpamitan. Huang Guang terkejut,
dia sudah nyaman dengan Yang Guang, menganggapnya sebagai saudara “kau ingin
kemana ? lukamu ?” Yang Guang “tidak masalah… aku ingin melihat dunia yang luas
ini… aku tidak menentukan tujuan, terserah kemana saja…” Huang Guang “kau masih
kecil, ingin kemana ? kau tidak pulang ?” Yang Guang menggeleng “aku tidak
punya rumah, mau pulang kemana. Begini lebih baik, aku suka dengan
kebebasanku…” Huang Guang berfikir “aku menemanimu…”
Yang
Guang cekikikan “hi tuan muda, kau bukan sudah jatuh cinta padaku kan hahaha…” Huang
Guang “kalau kau seorang gadis, aku pasti jatuh cinta padamu hihihi… sudah lama
aku mau berkeliling hanya belum menemukan saat yang tepat… saat bertemu
denganmu, aku merasa waktuku juga sudah tiba…” Yang Guang mencibir “cih…
tentukan sendiri arahmu…” Huang Guang “hei… ada aku yang menemanimu berkelana,
bukankah sangat baik… dimana kau mencari sahabat setampan diriku ? lagipula
kita bersama juga bisa saling bercengkrama, tidak kesepian” Yang Guang berdecak
kesal “cih…” ‘asal kau tahu, aku tidak pernah kesepian, Hua Zi gege selalu
bersamaku…’ sambil tersenyum.
“Hei
kenapa kau tersenyum ? jangan-jangan kau jatuh cinta padaku ? hiii menjauhlah,
aku masih normal…” Huang Guang menjauhkan kursinya 20cm. Yang Guang kesal “cih…
aku tidak sudi jatuh cinta pada tuan muda sepertimu… aku mencintai kebebasanku,
tidak mau jatuh cinta dan menggantinya dengan kungkungan… hiii… memikirkan saja
membuatku merinding… ah sudahlah malas bicara denganmu… pokoknya aku besok
pergi dari sini… ingat pamitkan pada orang tuamu, aku masuk…” Huang Guang
cekikikan “hahaha… sampai bertemu besok…” Yang Guang tidak membalas.
Yang
__ADS_1
Guang tidak berencana mengajak Huang Guang (Hua Zi pun sebenarnya tidak mau
hihihi). Hari belum terang, Yang Guang sudah bangun dan membereskan semua barangnya.
Perlahan membuka pinta “pelan-pelan… kau ini mau pergi atau jadi maling ?”
Huang Guang tiba-tiba muncul mengagetkan Yang Guang “hah… kau mengagetkan saja…
apa yang kau lakukan didepan kamarku ?” “menunggumu…” Huang Guang acuh tak acuh
menjawab “untuk apa menungguku ?” bertanya dengan kesal “eh kau benar-benar
pelupa” mengetuk kening Yang Guang “bukannya sudah kukatakan kemarin akan
menemanimu berkelana… ayo aku sudah mempersiapkan kuda kita…” berjalan
mendahului Yang Guang. Yang Guang berdecak kesal “cih…” mengikuti Huang Guang
ke depan gerbang, dimana kedua kuda sudah siap dan terikat di pagar gerbang.
Yang
Guang pun pasrah ‘hmm terserah dialah… yang penting tidak menyusahkanku saja…
tapi Huang Guang boleh juga, bisa menjadi salah satu kekuatanku…’ nampak
berfikir “apa yang kau fikirkan ? masih mau pergi tidak ?” Huang Guang
mengembalikan lamunan Yang Guang “pergi… pergi… tentu saja pergi…” langsung
menjawab ‘tidak, aku tidak akan membiarkan siapapun berkorban demiku. Selama
Huang Guang menemaniku, aku harus menjaga keselamatannya. Haih semoga saja dia
hanya mau bermain, segera kembali ke Desa Ma Tuan’, mulai menunggang kudanya.
Hua Zi melirik sinis pada Huang Guang, membuat yang bersangkutan tiba-tiba
Huang
Guang sudah menduga Yang Guang akan diam-diam pergi. Setelah berpisah semalam,
Huang Guang langsung menemui ayah ibunya dan mengutarakan maksudnya “die…
niang… kalian tahu aku dari kecil selalu mencari petunjuk ! aku merasa duniaku
diluar sana… Yang Guang adalah jalanku die… niang…” “Huang er, kau…” Huang
Guang cekikikan “hihihi niang, aku masih normal… hanya saja dari awal
melihatnya, entah kenapa aku sangat yakin, dialah pertandaku… setelah melihat
yang dilakukannya di arena dan auranya itu… die… niang… ijinkan Huang er pergi,
menempuh jalan milik Huang er sendiri…” “Huang er, keluarga kita selalu setia
pada satu orang, baik itu pemimpin ataupun pasangan. Apa kau yakin akan hal ini
? kau baru mengenalnya selama 5 hari” Huang Guang mengangguk.
“Apa
kau rela menyerahkan kesetiaanmu pada anak kecil ? die bukan melarangmu, die
juga sudah melihat kemampuan Yang Guang. Tapi Huang er, walau die tidak tahu
apa yang akan terjadi selanjutnya. Die merasa Yang Guang bukan anak
sembarangan, jalannya kedepan akan menemui banyak rintangan dan hambatan. Die
bisa melihat Yang Guang sangat menyukai kebebasan dan tidak terlena akan
__ADS_1
kekuasaan. Anak seperti inilah yang berbahaya. Tanpa sadar, dia akan mengundang
banyak bahaya dan kesalahpahaman, tapi dia juga akan berjalan hingga ke tempat
tertinggi.” Tuan Shen memberi nasihat. Huang Guang “die, aku rela, hatiku
mengatakan dialah tuan yang selama ini kutunggu-tunggu. Die, semenjak dia
terluka di bawah pedangku, aku sudah bersumpah untuk melindunginya.” Tuan Shen
mengangguk “Huang er, kau dari kecil, tidak sama dengan saudaramu yang lain.
Die yakin padamu, yang kau putuskan pasti yang terbaik untukmu. Huang er,
pergilah melalui jalanmu… ingat junjung tinggi kebenaran… ayah yakin
kesetiaanmu sudah menemukan tempat yang benar… anak itu sungguh luar biasa…
bahkan yang mulia Raja, tidak mempunyai aura sepertinya. Huang er, saat lelah,
kembalilah, Desa Ma Tuan selamanya adalah rumahmu”.
Huang
Guang berlutut, memberi hormat kepada kedua orang tuanya “terima kasih die
niang… maafkan ananda tidak bisa berada disisi kalian lagi…” Tuan Shen dan
istrinya mengangkat Huang Guang “Huang er, kau selamanya adalah anak kebanggaan
kami…” “niang…” Huang Guang memeluk ibunya “Huang er, satu lagi, nama Yang
Guang ini jangan sampai ada yang mengetahuinya” “kenapa die ?” “karena
tindakannya saat itu, sudah menjadi buah bibir di seluruh negri. Die sudah
menyebarkan beritanya dengan nama Xiao Guang. Sebisa mungkin hindari masalah…”
Huang Guang adalah anak pintar, langsung mengetahui maksud ayahnya “baik die,
aku akan lebih perhatikan” berpamitan dengan seluruh keluarganya.
Setelah
selesai berpamitan, Huang Guang segera bersiap dan menunggu di depan kamar Yang
Guang. Huang Guang memastikan mengikuti Yang Guang walau tanpa persetujuannya. Tebakannya
benar, saat melihat lampu kecil menyala di kamar Yang Guang. Yang Guang yang
sangat berhati-hati keluar dari kamar karena tidak ingin ketahuan, membuat
Huang Guang cekikikan.
Keduanya
berpacu tak tentu arah “Yang Guang, kau ingin kemana ?” Yang Guang “hmm… apa
kau tahu, dimana ada tempat-tempat menarik atau mungkin kebiasaan khas seperti
desamu yang terlatih menunggang kuda” Huang Guang berfikir “keahlian khusus,
selain Desa Ma Tuan, masih banyak yang lain, tapi semuanya agak jauh dari sini.
oh apa kau mau ke Desa Huo Mei ?” “Desa Huo Mei ?” Huang Guang mengangguk
“dinamakan Desa Huo Mei, karena tempat itu dikelilingi oleh gunung berapi” Yang
Guang “hmm gunung berapi… sepertinya menarik… baik, tujuan kedua Desa Huo Mei…”
berpacu kearah Desa Huo Mei.
__ADS_1