
Bab 331 –
Semuanya bersimbah darah, darah para tentara Lie. Huo Feng
tidak senang dengan bau darah di tubuhnya, membuka zirah perangnya dengan wajah
cemberut. Dong Hua yang melihat ketidaksenangan Huo Feng pun bertanya “Feng Wei,
ada apa ?” “Hua Zi gege, aku ingin mandi. Darah kotor ini terlalu menempel” Huo
Feng jijik. Dong Hua segera membawa semuanya kembali ke istana.
Begitu masuk istana, Huo Feng tidak mengijinkan
siapapun mendekatinya dan segera menenggelamkan diri di kolam air hangat penuh
bunga yang sudah disiapkan para pelayan. Huo Feng menyelam 2 jam di dalam kolam
membuat para pelayan ketakutan. Mereka takut terjadi sesuatu pada Wang Hou,
segera melapor ke raja. Dong Hua yang sedang bersama Lian Song dan Mo Yuan,
segera berlari mencari Huo Feng begitu mendengar laporan pelayan. Dong Hua
tidak mempedulikan apapun, segera masuk ke dalam kolam mencari Huo Feng dengan
memakai pakaian lengkap.
Dong Hua menemukan Huo Feng yang meringkuk di dasar
kolam, melamun dengan wajah datar. Dong Hua memeluknya dan membawanya ke
permukaan. Dong Hua memerintah pelayan menyiapkan air hangat bersih segera
untuk Wang Hou. Pelayan pergi mempersiapkan sesuai perintah meninggalkan Dong Hua
– Huo Feng berdua.
Dong Hua memeluk Huo Feng “Feng Wei, ada apa ?” Huo Feng
memeluk Dong Hua erat “Hua Zi gege, aku tidak suka bau darah” perlahan terisak.
Dong Hua yang mendengar isakan Huo Feng merasa sakit hati “Feng Wei, apa kamu
terluka ?” memeriksa tubuh Huo Feng dengan seksama, tidak menemukan suatu luka.
Huo Feng hanya diam dan kembali memeluk Dong Hua hingga tertidur. Dong Hua
tidak pernah melihat Huo Feng yang seperti ini, ‘Feng Wei, ada apa denganmu !
kamu yang begini membuatku takut’. Dong Hua mengangkatnya dan kembali
memandikannya pada air hangat bersih yang telah disiapkan pelayan. Dong Hua
membersihkan Huo Feng secara menyeluruh, memastikan tidak ada lagi darah maupun
bau yang menempel.
Keempat anak dan lainnya sangat mengkhawatirkan Huo Feng,
reaksi Huo Feng dari pulang perang sangat tidak biasa. Terutama setelah mendengar
laporan pelayan dan melihat Dong Hua yang menggendong Huo Feng yang sudah
tertidur, kembali ke kamar. Mereka merasa pasti terjadi sesuatu pada ibu
__ADS_1
mereka. Mereka bersama mengikuti Dong Hua – Huo Feng masuk ke kamar. Dong Hua
meminta Zhe Yan memeriksa Huo Feng, tapi Zhe Yan mengkonfirmasi tidak ada yang
salah pada tubuh Huo Feng, kemungkinan hanya tertekan. Dong Hua meninggalkan Huo
Feng yang tertidur dan berkumpul dengan lainnya di paviliun dekat kediaman.
Gun Gun segera bertanya “Fu Qin, ada apa dengan Niang
Qin ?” Dong Hua menggeleng “tidak tahu, tidak pernah melihatnya seperti ini. Feng
Wei hanya mengatakan tidak suka bau darah.” Ling Ling berspekulasi “Fu Qin,
Niang Qin bilang tidak suka bau darah. Apa mungkin berkaitan dengan kehidupan
dulu Niang Qin ! Niang Qin dulu bertahan hidup sendiri, berperang sendiri,
semua terpaksa dilakukan demi bertahan hidup. Lihat bagaimana sifat Niang Qin
biasanya, penuh kehangatan dan kasih sayang, semua disayanginya.” Xin Xin ikut
“yah Fu Qin, mungkin dalam hati Niang Qin tidak suka pertarungan. Niang Qin
selama ini berjuang untuk memberikan kehidupan yang damai bagi semua. Sama
seperti perang di Yu Zhou Da Lu, Niang Qin tidak ingin ada noda darah pada
gunung tingginya” semua mengangguk.
Sou Wan pun ikut prihatin “Dong Hua, semenjak Huo Feng
lahir kembali, ini adalah pertempuran berdarah pertamanya. Lihat saat kalian
bertarung di lapangan, dia tidak mengijinkan setetes darahpun mengenainya
terkejut dan mengingat kembali pengalaman terdahulunya.” Zu Zhe bersedih
“kasihan Huo Feng, walau sekarang kita menemaninya, tidak bisa meringankan
bebannya” geleng-geleng.
Tidak menemukan jawaban, semua kembali ke tempat
masing-masing, Dong Hua masuk dan memeluk Huo Feng, tertidur disampingnya. Huo Feng
terbangun di tengah malam, perlahan melepaskan pelukan Dong Hua dan berjalan
keluar sendiri. Huo Feng memanjat ke atap kediamannya, terbaring di atap istana
melihat bulan dan bintang. Perlahan air mata Huo Feng menetes turun, melamun
hingga tertidur.
Dong Hua memegang tempat Huo Feng, tidak merasakan
keberadaan Huo Feng. Dong Hua terkejut dan terbangun, segera keluar mencari Huo
Feng. Semua terbangun mencari Huo Feng tapi tidak menemukannya. Terakhir saat
mereka berkumpul kembali di depan istana kediaman, seorang pelayan seperti
melihat sebuah tangga di ujung koridor tanpa sengaja menggerutu “siapa yang
menaruh tangga disini !” sambil memindahkan tangga. Dong Hua yang melihat
__ADS_1
segera menghentikan pelayan itu. Dong Hua menggunakan tangga, naik ke atap
istana, menemukan Huo Feng yang sedang tertidur dengan bekas air mata di
pipinya.
Dong Hua sakit hati melihatnya ‘Feng Wei-nya ini selalu
hanya tahu berbagi kebahagiaan, semua kesedihan disimpannya untuk diri
sendiri’. Dong Hua mengecup wajah dingin Huo Feng, memakaikan mantel dan
menggendongnya turun. Zhe Yan memeriksa dan memastikan Huo Feng baik-baik saja.
Dong Hua terus memeluk erat Huo Feng ‘Feng Wei, kamu bisa berbagi apapun
denganku. Kita adalah suami istri, suka dan duka bersama. Dukaku sudah kamu
atasi, dukamupun harus kamu bagi denganku, jangan bersedih sendiri. Apa kamu
tahu hatiku begitu takut dan sakit melihatmu seperti ini ! seperti saat kamu
akan pergi meninggalkanku. Aku merasakannya saat ini. Feng Wei, kamu tidak akan
meninggalkanku lagi kan ! kamu sudah berjanji maka harus menepatinya, akupun
tidak akan mengijinkanmu pergi lagi dariku.’ memandang wajah tidur Huo Feng.
Esok paginya, Huo Feng yang terbiasa bangun paling pagi
malah bangun terlambat. Dong Hua yang pergi rapat di aula, meninggalkan Gun Gun,
Long Nu, dan Xin Xin menjaga Huo Feng yang masih tertidur. Berita keluarga
kerajaan yang dengan mudah mengalahkan pemberontakan jenderal Lie dan 300.000
tentara sudah menyebar kemana-mana. Sekarang negara sekitar ikut tunduk pada
kerajaan Ming, berharap dapat berlindung dibalik kekuatan kaisar Ming dan
keluarganya.
Saat kembali dari aula, Huo Feng masih belum terbangun.
Dong Hua duduk disamping ranjang menunggu Huo Feng bangun. Menjelang petang, Huo
Feng perlahan membuka mata, segera Dong Hua menyapanya “Feng Wei, sudah
bangun!” Huo Feng mengedip-ngedipkan matanya “Hua Zi gege, sudah waktu apa ini
?” Dong Hua membantunya duduk dan memberikan sandaran empuk “ini sudah
menjelang petang. Kamu kelelahan jadi tertidur agak lama” memperbaiki rambut Huo
Feng yang kusut. Huo Feng memijat keningnya “kenapa tidak membangunkanku ?”
Dong Hua tersenyum lembut mengecup keningnya “senang melihat wajah tidurmu yang
cantik” Huo Feng tersenyum lemah.
Dong Hua memeluk lembut Huo Feng “Feng Wei, katakan ada
apa ? kamu mengejutkan dan menakutiku kemarin” Huo Feng mengingat kejadian
kemarin dan tersenyum lemah “tidak apa-apa” melihat Dong Hua yang melihatnya
__ADS_1
dengan wajah cemas “Hua Zi gege, aku benar tidak apa-apa, hanya tidak suka bau
darah. Bau itu seperti bau kematian yang mendekatiku.”