
Dong Hua kembali ke Tai Chen
gong bersama lainnya. Zhe Yan “Dong Hua, yatou sudah membantumu menyelesaikan
masalah Miao Luo dan Miao Yi Hui Min Jing. Ya tou sudah membalas budinya
padamu, kalian tidak saling berhutang lagi. Dong Hua, sesuai keinginan awalmu,
kamu sudah bisa dengan tenang menjaga Si Hai Ba Huang, Rubah kecil nakal itu,
tidak akan mengganggumu lagi”. Dong Hua murka menatap tajam Zhe Yan “dia bukan
‘rubah kecil nakal’. Dia adalah rubahku, rubah kecil kesayanganku. Suruh Bai
Feng Jiu kembali, aku belum mengijinkannya yuhua, dia tidak boleh yuhua. Aku adalah
Dong Hua Di Jun, akulah yang akan menentukan kehidupannya… kembalikan Jiu er-ku
padaku…”.
Dong Hua perlahan terjatuh dan menitikkan air mata “dia
adalah milikku, milikku satu-satunya. Apa yang sudah kulakukan ? selalu
mengatakan ingin melindunginya, ternyata akulah yang selalu mencelakainya.
Dialah yang selalu melindungiku. Zhe Yan, Jiu er sudah membalas budiku.
Sekarang katakan padaku, apa yang harus kulakukan untuk membalas budinya padaku
? bagaimana aku harus membalasnya ?” Zhe Yan tidak tega melihat Dong Hua.
Zhe Yan menepuk bahu Dong Hua “Dong Hua, kamu bisa
menjaga Si Hai Ba Huang, melindungi apa yang sudah dilindunginya. Kamu juga
harus menjaga dirimu, jangan menyia-nyiakan pengorbanan Xiao Jiu”. Mengeluarkan
botol obat “ini, minumlah sehari satu, akan membantu memulihkan tubuhmu.
Setelah luka luarmu pulih, mulailah biguang”.
Dong Hua hanya duduk terdiam disana, memegang botol obat
pemberian Zhe Yan. Perlahan semua pergi, meninggalkan Dong Hua dan Tai Chen
gong. Dong Hua menatap kosong botol obat. Dong Hua menitikkan air mata di dalam
kamarnya, melihat deretan toples kaca yang sudah kosong, sebelumnya terdapat
kue-kue buatan Bai Feng Jiu. Dong Hua mengira akan yuhua, diapun menghabiskan
semua, ingin membawa semua kenangannya bersama Bai Feng Jiu. Dong Hua
mengeluarkan suling kecil pemberian Bai Feng Jiu ‘Jiu er, hanya ini
peninggalanmu untukku. Kamu betul-betul sangat hebat, kenapa aku tidak
menyadari kehebatanmu sebelumnya. Sudah sampai saat ini, aku baru tahu kalau
aku sangat lemah… Jiu er… aku seharusnya tidak mempedulikan apapun dan selalu
bersama denganmu. Jiu er, aku bersalah, aku bersalah padamu…’ menangis memeluk
suling kecil.
Setelah memeriksa semua keluarga Bai yang terlukan, Zhe
Yan kembali ke Tai Chen gong mengecek Dong Hua. Zhe Yan menghela nafas, tidak
tega melihat kesedihan teman sekolahnya ini ‘Xiao Jiu a Xiao Jiu, kamu bisa
tenang. Dong Hua Di Jun juga sangat mencintaimu. Setelah mengetahui hal ini,
apakah kamu merasa terhibur disana ? Xiao Jiu, aku akan berusaha menjaga Dong
Hua dan keluargamu’ “Dong Hua, jangan seperti ini, setidaknya sebelum yatou
yuhua, kalian sudah sempat bersama” Dong Hua akhirnya berbicara “sekejab… hanya
sekejab… aku memberinya kesedihan seumur hidup dan kebersamaan sekejab, itupun
berdasar pada keegoisanku… aku tidak pernah menanyakan apa yang diinginkannya !
Zhe Yan, aku menyesal, aku sangat menyesal. Seharusnya aku tidak mempedulikan
apapun dan selalu bersama dengannya. Hanya bersamanya, aku bisa merasakan
benar-benar hidup. Hari-hari bersamanya sangat indah tetapi sangat singkat.
Kamu tahu, malam sebelum dia pergi, dia membuat 1 meja hidangan kesukaanku dan
bertanya apa yang kuinginkan. Dia meninggalkan begitu banyak makanan kesukaanku
sebelum meninggalkan Tai Chen gong. Santapan yang merupakan rasa terima
kasihnya, ternyata adalah santapan selamat tinggal. 100 tahun… 100 tahun, dia
menemaniku di Tai Chen gong… 100 tahun yang paling membahagiakan dalam hidupku
360.000 tahun.” Menitikkan air mata.
Zhe Yan tidak pernah melihat Dong Hua menangis, hari ini
pertama kalinya. Zhe Yan menepuk-nepuk punggung Dong Hua “Dong Hua, apa
rencanamu sekarang ? Miao Yi Yuan dan Miao Luo sudah tidak ada, Si Hai Ba Huang
__ADS_1
juga damai sejahtera.” Dong
Hua menggeleng “aku… aku tidak tahu… Zhe Yan mengapa hatiku sangat sakit ? seperti
ada ribuan pisau yang menusukku.” Zhe Yan segera bangkit memeriksa Dong Hua
“Dong Hua, apa hukuman dari batu 3
kehidupan lagi ?” Dong Hua menggeleng “tidak, hukuman itu sudah berlalu. Sejak
9 tingkat kekuatanku kembali, aku tidak merasakan sakit seperti itu lagi. Jiu
er sudah menyembuhkanku, sudah membantuku menyelesaikan hukuman itu. Lucunya,
aku sama sekali tidak tahu hal itu hingga hari ini.”
Zhe
Yan mengangguk setelah tidak mendapat sesuatu yang salah pada nadi Dong Hua
“Dong Hua, istirahatlah, setelah luka luarmu sembuh, segeralah biguang
memulihkan penyakit dalammu. Pil obat sudah kamu minum hari ini, jangan lupa
meminumnya besok. Aku pergi dulu, besok akan kesini memeriksamu dan mengganti
obat pada lukamu lagi” Dong Hua hanya mengangguk.
Dong Hua memegang suling kecil dan berbaring di
ranjangnya. Dong Hua segera tertidur karena kelelahan dan kesedihan. Dong Hua
pun memimpikan Bai Feng Jiu. Di mimpinya, Bai Feng Jiu tersenyum duduk
disampingnya memeriksa luka-lukanya “Di Jun, apa sakit ?” Dong Hua diam
mengangguk. Bai Feng Jiu memberinya sebuah permen madu “makanlah ini, maka
lukanya tidak akan sakit” Dong Hua membuka mulut dan memakan permennya, menurut
seperti anak kecil. Bai Feng Jiu tersenyum, berdiri dan menari di hadapannya
“Di Jun, Jiu er akan pergi sekarang hihihi…” Dong Hua menariknya “Jiu er jangan
pergi, disini saja menemaniku bolehkah ?” Feng Jiu membelai kepala Dong Hua “Di
Jun, yang baik. Jika Di Jun menurut nanti Jiu er akan membawakanmu permen madu
lagi hihihi…” Dong Hua mengangguk. Bai Feng Jiu tersenyum, melambaikan tangan
dan pergi.
Dong Hua
terbangun di pagi hari dengan senyuman “Jiu er… Jiu er, aku akan menurut. Kamu
merasa rubah kecilnya tidak meninggalkannya. Dong Hua segera meminta sarapan
pada Chong Lin, ingin segera meminum obatnya dan kembali tidur. Dia ingin
kembali bertemu Bai Feng Jiu dimimpinya.
Zhe Yan
datang saat Dong Hua sedang sarapan “Dong Hua, bersemangat sekali pagi ini.
Bagus, begini baru Dong Hua Di Jun. Ayo, aku juga belum sarapan.” duduk sarapan
bersama. Dong Hua dengan mata berbinar layaknya anak kecil “Zhe Yan, Jiu er
datang menemuiku. Dia tidak meninggalkanku” Zhe Yan kaget “Dong Hua…” Dong Hua
mengangguk “kemarin dia datang dalam mimpiku, memberiku sebuah permen madu
berbentuk rubah merah. Dia bilang, jika aku menurut, dia akan datang lagi
memberiku permen. Zhe Yan, cepat ganti obatku. Aku ingin segera tidur, ingin
bertemu dengannya lagi” Zhe Yan tidak tahu harus berbicara apa, dia merasa Dong
Hua berhalusinasi. Tapi jika ini baik untuk perkembangan Dong Hua biarkan saja.
Zhe Yan pun
mengganti obat pada luka Dong Hua “Dong Hua, kamu tidak boleh terus tertidur,
tidak akan baik untuk luka-lukamu. Kamu harus banyak berolahraga dan menghirup
udara segar. Pilnya juga akan lebih baik bekerja jika mentalmu prima.” Dong Hua
mengangguk “baiklah, ada apalagi Zhe Yan ? aku akan menuruti semua. Jika aku
menurut, dia akan menemuiku.” Zhe Yan memberikan beberapa nasehat dan pergi
dari istana Tai Chen. Dong Hua pun melakukan semua saran Zhe Yan, berolahraga
dan menghirup udara segar. Dia membaca kitab Dhamma di bawah pohon Fo Ling,
berlatih sebentar, dan bermain catur dengan Lian Song. Semua aktifitasnya
kembali normal, dari pagi hingga petang.
Di petang
hari, Dong Hua segera tertidur setelah menyelesaikan semua aktifitas yang
disarankan Zhe Yan. Dong Hua sangat menantikan akan bertemu Bai Feng Jiu di
__ADS_1
mimpinya, karena sudah menurut. Sesuai dengan kata-kata Bai Feng Jiu dimimpi
sebelumnya, dia datang lagi, membawa sebuah permen madu. Kali ini, Dong Hua
membaringkan kepalanya di pangkuan Bai Feng Jiu menikmati permen rubahnya dan
belaian Bai Feng Jiu di kepalanya “Di Jun, kamu melakukannya dengan sangat
bagus” Dong Hua tersenyum.
Hal ini berlangsung
selama 5 hari, luka luar Dong Hua pun pulih dengan cepat. Zhe Yan pun memuji
pemulihan Dong Hua yang cepat “Dong Hua, semua bagus, luka dalammu juga
berangsur membaik. Jika begini terus, kamu tidak biguangpun tak apa. Tapi
saranku, kamu secepatnya biguang biar pemulihannya lebih cepat” Dong Hua
menggeleng “tidak, begini saja, jika biguang tidak dapat bertemu Jiu er” Dong
Hua sekarang bagai anak kecil yang menantikan hadiah. Waktu tidur adalah hal
yang paling ditunggunya sepanjang hari. Zhe Yan hanya bisa menghela nafas,
halusinasi ini tidak tahu baik atau buruk untuk Dong Hua.
Dalam mimpi
hari kelima, lain dari biasanya, kali ini Bai Feng Jiu membawakan 3 permen
rubah “Di Jun, lukamu sudah sembuh, kamu melakukannya dengan sangat baik.”
menunggu Dong Hua selesai memakan permennya. Feng Jiu langsung berdiri
setelahnya “Di Jun, Jiu er sudah mau pergi. Di Jun, hiduplah yang baik. Selamat
tinggal” Dong Hua merasa ada yang salah segera memegang tangan Bai Feng Jiu
“Jiu er, mau kemana ? apa aku ada melakukan sesuatu yang salah ? jangan pergi,
aku akan menurut. Jiu er, besok bawakan permen rubah lagi.” Bai Feng Jiu
menggeleng “Di Jun, ini hari terakhirku menemuimu.” Dong Hua segera memeluknya
“tidak, aku tidak mau. Kamu harus datang besok” Bai Feng Jiu melerai pelukannya
“Di Jun, Qing Shen Yuan Qian. Selamat nama Di Jun sudah ada di batu 3
kehidupan. Jiu er harap Di Jun tidak lagi sendiri dan kesepian. Di Jun, maaf,
Bai Feng Jiu tidak bisa menemani lagi”
Dong Hua
menggenggam erat tangan Bai Feng Jiu “Jiu er, aku mencintaimu. Dari dulu aku
mencintaimu, aku tidak akan sendiri dan kesepian, ada kamu yang menemaniku. Jiu
er, kamu boleh menghukumku, tapi jangan meninggalkanku.” Bai Feng Jiu
menitikkan air mata “Di Jun, apa tahu Jiu er menunggu kata-katamu ini sangat
menderita. Di Jun, Jiu er senang masih bisa mendengar kata-kata itu, hanya
sayang semua sudah terlambat” Dong Hua memeluk Bai Feng Jiu “tidak, tidak, Jiu
er semua belum terlambat. Lihat kita masih bisa bertemu kan, walau dalam
mimpipun tak apa, asal Jiu er tidak meninggalkanku”
Bai Feng Jiu
melerai pelukan tersenyum “Di Jun, Jiu er sudah harus pergi. Sudah saatnya Jiu
er untuk kembali. Di Jun, seumur hidup ini, Jiu er bahagia bisa bertemu Di Jun,
selamat tinggal” menghilang. Dong Hua berteriak bagai orang gila, mengigau “Jiu
er… Jiu er… Jiu er…” Zhe Yan yang baru masuk segera membangunkan Dong Hua “Dong
Hua, Dong Hua…” Dong Hua terkaget bangun “Jiu er, Zhe Yan, Jiu er sudah pergi,
dia meninggalkanku lagi… Zhe Yan, aku sudah menurut, kenapa Jiu er pergi lagi ?
kenapa ? tidak, aku harus segera tertidur, aku harus mencarinya”.
Zhe Yan tidak
berdaya memberitahunya kebenaran “Dong Hua, itu hanya hayalanmu, halusinasimu.
Ya tou tidak pernah kembali. Aku sudah mengecek bintang ya tou bersama Hu Di,
bintang ya tou sudah tidak ada dari semenjak dia yuhua, kamu harus belajar
menerima kenyataan ini” Dong Hua menggeleng “tidak… tidak… Jiu er jelas-jelas
kembali untukku, tiap hari memberiku permen rubah. Aku baru mengatakan aku
mencintainya dan dia menangis bahagia, katanya sudah menunggu lama kata ini.
Zhe Yan, aku mencintainya, aku mencintai Jiu er.” Dong Hua frustasi seperti
anak kecil yang kehilangan ibunya. Zhe Yan menggeleng, hanya bisa diam
mendengarkan hingga Dong Hua tenang kembali.
__ADS_1