
Bai Yi “haih anak ini,
kenapa begitu keras pada dirinya sendiri !” Ling Ling memegang tangan Feng Wei
“Niang Qin, kau tidak sendiri, kau punya Ling Ling, Fu Qin, gege, 1 Qing Qiu…
Niang Qin, walau kau tidak ingat, kami semua adalah keluargamu, akan selalu
bersamamu !” Feng Wei dalam tidurnya masih bisa mendengar “tidak ingat ? apa
yang tidak kuingat ? kalian bisa lupa, aku tidak mungkin lupa” tangannya
bergerak menepuk-nepuk tangan Ling Ling. Feng Wei “Hua Zi gege… Hua Zi gege…”
memanggil dengan suara kecil “Feng Wei, aku disini, sku memelukmu…” Feng Wei
tersenyum “Hua Zi gege sangat baik… Hua Zi gege, aku lelah… kepalaku sakit…”
menggosok-gosokkan kepalanya ke dada Hua Zi, mencari posisi yang nyaman, Hua Zi
tersenyum “tidurlah, apa kau mau minum ramuan pereda mabuk ?” Feng Wei
menggoyang-goyangkan tangannya “tidak mau, ramuan itu pahit… aku tidak mau…”.
Wen Xin “Hong Ling, tidak mau juga harus minum, kalau tidak,
besok ketika bangun, kepalamu akan sakit…” Feng Wei menutup mulutnya “tidak
mau… pahit…” setelah dibujuk dan dipaksa akhirnya Feng Wei meminum semangkuk
ramuan “pahit… pahit sekali… tidak tahu kenapa kalian begitu menyukai minuman
pahit…” menggerutu dengan tidak senang, semua tersenyum melihatnya “sudah,
tidurlah…” Feng Wei menunjuk “tidak ada ramuan pahit lagi… aku akan memukulmu
kalau memberiku ramuan pahit lagi… sudah kukatakan aku tidak suka… tidak mau…”
menggeleng-gelengkan kepalanya, Hua Zi membujuk “baik… baik… tidak ada lagi…
tidurlah…” Feng Wei tersenyum puas “sangat baik, selamat malam” segera nafasnya
teratur, masuk ke alam tidurnya, Hua Zi tersenyum menggelengkan kepalanya.
Keesokan malamnya, Ling Ling memaksa mereka tidur di gua
rubah. Sepanjang hari, Feng Wei direcoki Ling Ling, menemaninya rapat,
menemaninya membaca dan menyelesaikan laporan, dan lainnya. Memanfaatkan waktu,
Hua Zi melepas Feng Wei, semua mencarinya mendiskusikan masalah Si Hai Ba
Huang. Selain itu mereka juga mencari cara untuk mengobati rintangan hati Feng
Wei. Mereka tidak mau suatu hari Feng Wei pergi meninggalkan mereka, hanya
karena salah faham dan rintangan hati. Semua ingin Feng Wei bisa membuka
hatinya dan merasakan kebahagiaan yang sebenarnya.
Suatu hari Hua Zi sedang berdiskusi dengan lainnya,
sementara Feng Wei ke dapur menyiapkan makan malam. Sou Wan “Yu Huang, apakah
kau sudah menemukan cara ?” Hua Zi menggeleng, Ling Ling “Fu Qin, jika tidak
segera menemukan cara, Niang Qin akan semakin menderita” Zhe Yan “haih… kalian
ini, kenapa dari kehidupan sebelumnya selalu ada rintangan hati haih…” Sou Wan
“Yu Huang, tapi benar juga katamu, Hong Ling adalah pengganggu” Hua Zi menatap
sinis Sou Wan “eh, kau jangan melihatku seperti itu, bukankah Hong Ling
mengganggu hatimu, mengganggu hidupmu ! bukankah kalian memang ditakdirkan
mengganggu satu dan lainnya !” Zhe Yan “eh, kata-kata Sou Wan benar juga, kalau
Hong Ling tidak mengganggumu, mana ada kau yang seperti sekarang !” Hua Zi
berfikir “iya, Hong Ling memang menggangguku, mengganggu hatiku, mengganggu
hidupku” berkata dengan senyuman penuh arti “Hong Ling adalah pengganggu
terbesar dalam hidupku…” tanpa mereka sadari, Feng Wei mendengar semuanya dari
balik pintu. Dia sedang membawakan mereka kue yang baru dibuatnya, terhenti di
depan pintu, mendengar kata-kata mereka.
__ADS_1
Feng Wei mendengar kata-kata Hua Zi, berbalik dengan mata
berkaca-kaca “Mi Gu, kalau mereka sudah selesai, tolong bawakan ini untuk
mereka” Mi Gu menerima baki dan khawatir melihat Feng Wei yang menahan air mata
“Hong Ling Shan Shen, apa terjadi sesuatu ? apa kau sakit ?” Feng Wei memaksa
tersenyum “aku tidak apa-apa, aku berjalan-jalan sejenak, aku akan kembali. Jika
mereka mencariku, katakan saja, aku mencari udara segar sejenak” Mi Gu
mengangguk, Feng Wei berjalan menjauhi gua rubah. Feng Wei hanya mendengar
sebagian, mulai dari Sou Wan mengungkit Feng Wei adalah pengganggu hingga Hua
Zi yang mengakuinya pengganggu terbesar.
Di
dalam ruangan, Hua Zi meneruskan kata-katanya “tapi gangguannya sudah merasuk
ke hati dan kehidupanku, aku tidak akan bisa hidup jika tidak ada Hong Ling
yang menggangguku. Kami memang ditakdirkan saling mengganggu. Kehadirannya
menjadi satu-satunya cahaya dalam hidupku. Kedatangannya saat itu membawa
kehidupan baru untukku, hidup penuh cinta dan kehangatan. Hanya berharap
rintangan hatinya bisa cepat terselesaikan, aku ingin dia menyadari betapa aku
sangat mencintainya” Semua tersenyum mendengarnya “Fu Qin, besok aku akan
meresmikan pondok bambu Niang Qin yang baru… aku sudah tidak sabar melihat
kebahagiaan di wajah Niang Qin” Hua Zi mengangguk “Fu Qin juga sama, ingin
menjaga senyuman itu selalu berada di wajahnya” mereka berdiskusi dengan gembira
“eh kemana Niang Qin, bukankah membuat kue ? kenapa lama sekali ?” Gun Gun
bertanya, membuka pintu, menuju dapur, tidak menemukan Feng Wei. Gun Gun
bertemu Mi Gu “Gun Gun dianxia, ini titipan Hong Ling Shan Shen” memberikan
sebuah baki berisi kue-kue. Gun Gun “dimana Hong Ling ?” Mi Gu “Hong Ling Shan
kembali, tapi…” Gun Gun mengkerutkan keningnya “tapi apa ?” Mi Gu “ehm, tadi
Hong Ling Shan Shen seperti akan menangis !” Gun Gun terkejut “menangis ?” Mi
Gu mengangguk “tadi Hong Ling Shan Shen berdiri sejenak diluar pintu…
sepertinya mendengar sesuatu yang membuatnya sedih” Gun Gun “apa ? apa yang
Hong Ling dengar ?” Mi Gu “ehm… Mi Gu agak jauh, tidak terdengar jelas, samar-samar
mendengar ‘pengganggu terbesar dalam hidupku’” Gun Gun terkejut “Hong Ling
kearah mana ?” Mi Gu menunjuk arah perginya Hong Ling.
Gun
Gun segera kembali ke ruangan “Fu Qin Fu Qin…” Bai Yi “Gun Gun ada apa ? kenapa
panik seperti itu ?” Gun Gun menarik Hua Zi “Fu Qin, kita harus segera mencari
Niang Qin, Niang Qin salah paham…” Hua Zi menahan tangan Gun Gun “ada apa ?
katakan dengan jelas ? ada apa dengan Hong Ling ?” Gun Gun “Niang Qin tadi
berada di balik pintu mendengar percakapan kita, tapi hanya sampai saat Fu Qin
mengatakan ‘pengganggu terbesar dalam hidupku’. Setelah itu Niang Qin
menyerahkan baki kue ke Mi Gu dan pergi dengan menangis” Hua Zi panik “apa ?
Feng Wei… Feng Wei…” segera berlari keluar, diikuti lainnya.
Feng
Wei berjalan ke Wang Shen Hai, merenung dan menangis sendiri disana. Feng Wei
kembali ke gua rubah, seakan tidak ada apapun yang terjadi “Hong Ling, kau dari
mana ?” Hua Zi langsung memeluknya dan bertanya. Hua Zi dan lainnya sudah
mencari Feng Wei di seluruh Qing Qiu, tidak menemukannya, akhirnya kembali ke
__ADS_1
gua rubah. Hua Zi sudah berencana ke Bi Hai Cang Ling ketika melihat Feng Wei
berjalan mendekat. Feng Wei tersenyum lembut “berjalan-jalan mencari udara
segar, aku sudah menitipkan kuenya ke Mi Gu” “Hong Ling, kuemu sangat enak,
sudah habis kami makan, apa masih ada lagi ?” Lian Song dengan tidak tahu malu
berkata. Hua Zi meliriknya sinis “mau kue, minta Zu Zhe membuatkannya untukmu”
mengeratkan pelukannya “Feng Wei, kau…” Feng Wei tersenyum “kalau kalian
menyukainya, nanti aku akan buatkan lagi…” Lian Song “nah kalau begitu, aku
berterima kasih pada nona Hong Ling” Feng Wei tersenyum. Hati Hua Zi gelisah,
walau Feng Wei menampakkan senyuman seperti tidak terjadi apapun, tapi Hua Zi
masih dapat melihat bekas airmata di wajahnya. Feng Wei “Hua Zi gege, aku akan
menyiapkan makan malam” menghindar dari Hua Zi ke dapur. Semua melihat
punggungnya yang menjauh, sangat mencemaskannya. Ling Ling “Fu Qin, bagaimana
ini ?” Bai Qian “Hong Ling menyembunyikan kesedihannya lagi…” Mereka melewatkan
hari seperti biasanya, tidak ada yang berubah, tapi hati semua was-was melihat
Feng Wei.
Keesokan
harinya, Ling Ling membawa semua ke pondok bambu “Hong Ling kemarilah !”
memberikan tali peresmian padanya “ehm Ling Ling, ini adalah pondok bambumu…” “kau
adalah Niang Qin-ku, aku mau kau yang meresmikannya…” Feng Wei menarik tangan
Ling Ling “putriku yang cantik, putriku yang baik… kau adalah Qing Qiu Nu Di,
semua di Qing Qiu adalah milikmu, mana boleh aku orang luar yang melakukan, ayo
tariklah…” menaruh kembali tali peresmian ditangan Ling Ling “eh tapi…” Hua Zi
tersenyum merangkul Feng Wei “Ling Ling, siapapun yang menarik tali sama saja…”
Ling Ling tersenyum “baiklah…” menarik tali, segera papan nama Dong Feng Yuan
terpampang jelas. Feng Wei sempat terkejut dan berkaca-kaca, setelah itu
bertepuk tangan mengikuti lainnya.
Ling
Ling menarik Feng Wei masuk “ayo Hong Ling, aku akan membawamu berkeliling”
membawanya mengitari semua tempat didalam pondok. Feng Wei pun bergembira,
tertawa riang gembira, malam selama perayaan mereka tinggal di pondok bambu. Ling
Ling “Hong Ling, apa kau menyukai pondok ini ?” Feng Wei tersenyum sambil
meminum arak “Ling Ling, tidak penting aku menyukainya atau tidak, yang penting
kau menyukainya” semua duduk disekitarnya. Feng Wei merebahkan diri melihat
langit berbintang. Dari kemarin, Feng Wei menjaga jarak dengan mereka, walau
ikut bersenang-senang, Feng Wei lebih banyak terdiam.
Sou
Wan tidak tahan dengan kebisuan Feng Wei “Hong Ling, apa yang sedang kau
fikirkan ?” Feng Wei tidak berhenti meminum araknya “langit berbintang sangat
cantik… bintang-bintang bersinar terang, silih berganti… apa kalian tahu, ada
saatnya langit tidak memiliki bintang !” Ling Ling “saat hujan…” Feng Wei menggeleng
“saat hujan, awan gelap menghadang bintang, tapi mereka tetap ada” Gun Gun
“Hong Ling, kapan langit tidak berbintang ?” Feng Wei tersenyum tidak menjawab.
Hua Zi membelai kepala Feng Wei “Hong Ling, kau mabuk…” Feng Wei menggeleng
“aku sangat sadar… dari sekian tahun tidak pernah sesadar ini” semua tercengang
menebak arti kata-kata Feng Wei. Hua Zi “Feng Wei, apa kau memiliki beban hati
__ADS_1
? apa kau mempunyai pertanyaan untukku ?” Feng Wei menggeleng “tidak ada…”
semua saling melihat.