
Zhe Yan “lebih baik membaca
laporan daripada dia bertindak lagi…” Dong Hua mengangguk “selama Feng Wei
tidak merasa lelah…” semua terkejut “Fu Qin, kau tahu !” Ling Ling langsung
bertanya “apa Niang Qin…” Gun Gun menatap Xiao Shen Zhu. Dong Hua “tidak pernah
mengatakannya, tapi aku bisa merasakannya. Dari saat semua ingatanku kembali,
aku sudah menyadarinya. Dari kehidupan kedua bayangan di dimensi itu hingga di
semesta ini, Feng Wei… aku hanya berharap aku tidak terlambat menyadarkannya…”.
Bai Yi “apa lagi yang akan terjadi ?” Dong Hua menggeleng
“saat ini, tidak ada kekuatan apapun yang bisa menandinginya… hanya saja, jika
dia sendiri yang tidak menginginkannya…” menghela nafas. Gun Gun “Niang Qin
pasti menginginkannya… untuk kali ini, aku ingin Niang Qin hidup demi dirinya
sendiri… Niang Qin-ku yang terbaik… Niang Qin, sadarilah keajaibanmu sendiri…
hiduplah demi dirimu, lakukan semua yang kau sukai dengan bebas tanpa beban…
berikan tawa ceriamu pada semesta ini…” memegang tangan Xiao Shen Zhu yang
tertidur pulas.
Ling Ling “walaupun harus menjeratnya dengan kemanjaan,
aku akan melakukannya… Niang Qin harus hidup, aku tidak mau kehilangannya
lagi…” Jin Cheng “Ling Ling, Huo Feng Niang tidak akan terpengaruh oleh itu
semua… Jika ingin Huo Feng Niang menyadari dirinya, kita hanya bisa
membebaskannya dan mendukung di setiap langkahnya… disaat Huo Feng Niang merasa
bebannya sudah tidak seberat itu, mungkin saja dia bisa menyadari dirinya
sendiri” Long Nu “kesucian yang lahir dari kehampaan, tidak pernah ternoda oleh
apapun… di hidupnya ini, entah bagaimana Huo Feng Niang menjalaninya, bisa
mempertahankan kesucian itu tanpa noda sama sekali…” Dong Hua “dia tidak pernah
menganggap dirinya ada… dia adalah kehampaan itu sendiri…”.
Lian Song “sudah… jangan bersedih… semuanya sudah
berlalu… kenyataannya, sekarang dia hidup dan berada di tengah-tengah kita semua…
jalani saja semua apa adanya…” Zu Zhe “benar, dia yang mempunyai ide paling
banyak untuk bersenang-senang, jadi ikuti saja Shen Zhu yang usil ini hihihi…”
Bai Qian “haih jika mengingat hal yang lalu, aku masih saja mual… tidak
menyangka medan perang bisa menjadi begitu menjijikkan…” memegang perutnya. Xin
Xin “gu po, kami sudah tidak mual, bahkan jika sekarang mengingatnya kami akan
tertawa terbahak-bahak hahaha…” Xiong Xiong “aih aku paling suka dengan senjata
yang mengeluarkan bisul itu… sangat lucu hahaha…” Chang Chang “aku suka pada
jarum gatal itu… mereka bahkan berguling-guling di tanah untuk menghilangkan
rasa gatalnya. Tanah yang penuh dengan kotoran hahaha…” Ching Ching “tapi
nainai sangat baik… disaat terakhir masih menurunkan hujan untuk mengurangi
penderitaan mereka.”
__ADS_1
Ling Ling “dulu pernah mendengar kenakalan Niang Qin saat
di sekolah Qing Qiu. Tidak pernah menyangka keusilannya sampai pada tingkat
seperti itu hihihi…” Jin Cheng “ada waktu, aku mau belajar pembuatan senjata
pada Huo Feng niang…” Ling Ling “aih kau ini, sampai saat ini saja kau tidak
bisa membuat benda yang sama…” Jin Cheng “aku kan masih pemula… tidak lama
lagi, pasti akan berhasil…” “eng…” Xiao Shen Zhu bergerak dengan suara rintihan
kecil mengejutkan semua “ada apa dengan Niang Qin ?” “kenapa wajahnya memerah
?” Dong Hua segera memeriksa “suhu tubuhnya naik lagi…” Zhe Yan “walaupun cuma
terkena sedikit dampaknya, tapi aroma menusuk itu sampai ke paru-parunya,
apalagi terkena guyuran hujan dengan tubuh lemahnya… tidak apa, dia demam
menandakan tubuhnya sedang melawan…”
Xin Xin “ini sudah 2 minggu, suhu tubuh Niang Qin terus
naik turun…” mengambilkan sapu tangan untuk mengompres kepala Xiao Shen Zhu
“dingin… dingin… dingin sekali…” terdengar suara lemah Xiao Shen Zhu. Xiong
Xiong membuka baju luarnya dan membungkus tubuh Xiao Shen Zhu “eng…” menekuk
tubuhnya hingga membentuk seperti sebuah lingkaran, memeluk dirinya sendiri
“eng…” merintih sesekali. Dong Hua memeluk erat Xiao Shen Zhu “Feng Wei, aku
disini… aku memelukmu… tidak akan dingin lagi ya… Feng Wei…” Xiao Shen Zhu
semakin menekuk tubuhnya dan gemetar, Dong Hua terus memanggil “Feng Wei, ini
aku… aku Hua Zi gegemu… aku memelukmu ya…”. Setelah lama membujuk, terlihat
kelopak mata Xiao Shen Zhu bergetar sedikit “Hua… Hua Zi gege, dingin sekali…”
Dong Hua memeluk erat Xiao Shen Zhu “Feng Wei, kita
berendam… Hua Zi gege menemanimu… berendam air hangat, tidak dingin lagi…” Xiao
Shen Zhu mengangguk lemah. Dong Hua segera berdiri, menggendongnya ke permadian
“haih kasihan Niang Qin…” “tadi dia tidak menyadari keberadaan lainnya…
menyimpan kesakitannya sendiri…” Bai Qian berkaca-kaca. Zhe Yan menghela nafas
“haih… untung Dong Hua bisa membujuknya…”. Mo Yuan melepas sihir pada diri Sou
Wan “haih batu es itu picik sekali…” Gun Gun “shiniang, jangan menggoda Fu Qin…
Fu Qin yang sekarang, jauh berbeda dengan dulu… tidak akan ada siapapun yang
bisa masuk diantara mereka berdua, bahkan kami anak-anaknya sekalipun…” Xin Xin
tersenyum “suatu saat, aku ingin memiliki pasangan seperti Fu Qin Niang Qin…”
Ling Ling “cih… kau belajar saja dulu yang hebat… memikirkan pasangan masih
terlalu dini untuk otak kecilmu…” menyentil kening Xin Xin “jiejie…” Xin Xin
kesal, membuat semua cekikikan.
Perlahan dampak medan perang menghilang dari tubuh Xiao
Shen Zhu. Dibawah penjagaan Dong Hua, Xiao Shen Zhu memiliki waktu istirahat
dan makanan yang cukup selama menyelesaikan laporan-laporan yang dibawakan dari
Yu Zhou Da Lu. Sebelum ke Feng Huo Cang Ling, terjadilah drama yang membuat
__ADS_1
Xiao Shen Zhu memijat pelipisnya seperti orang tua “Shen Zhu, kami juga ingin
berlatih…” Meng Hao merengek. Dong Hua “Mu Rong, urus ulet tua ini… dia semakin
lama semakin menjadi ulet tidak tahu diri…” Mu Rong tersenyum “Di Jun, tidak
akan menyusahkan…” Meng Hao berlutut, mengambil tangan Xiao Shen Zhu “gadis
kecilku yang baik… lihat, jika tidak ada bantuanmu, shushu sudah tidak hidup
sampai saat ini… jadi ajarilah shushu agar menjadi lebih kuat…” Xiao Shen Zhu
kesal “shushu ulet tua, kau berlutut lagi, yang mulia akan mematahkan kedua
kakimu…” Meng Hao segera berdiri “Shen Zhu…” merajuk.
Xiao Shen Zhu “shushu ulet tua, daripada mengikutiku,
lebih baik kau pergi mencari pasangan dengan kumis dan jenggotmu itu…” Mu Rong
“Shen Zhu, jika suatu saat kami menemukan wanita seperti anda, kami akan
melepas masa lajang. Sebelum itu terjadi, ijinkanlah kami mengikuti anda…” Xiao
Shen Zhu terbelalak dan membuka mulutnya melongo “apa hubungannya pasangan
kalian denganku ! eh bukankah dia mengatakan kumis dan janggutnya ini adalah pesona
tiada banding…” Meng Hao “Shen Zhu, anda saja tidak terpesona apalagi gadis
lainnya… Shen Zhu…” merengek. Xiao Shen Zhu “ha… Meng Hao shushu, apa kau salah
minum obat ? eh aku ingat dulu kau malah mau membakarku… kemana perginya naga
tua yang keras kepala itu ?” Meng Hao “sudah menjadi ulet tua untuk anda…” Xiao
Shen Zhu memijat pelipisnya “aduh… Hua Zi gege, apa dia masih Meng Hao –
jenderal perangmu itu ?” menunjuk ke Meng Hao.
Dong Hua mengangkat bahunya sebagai jawaban untuk Xiao
Shen Zhu, yang lain cekikikan. Meng Hao “Shen Zhu…” Xiao Shen Zhu mundur
beberapa langkah “kau ulet tua, jangan mendekatiku…” Meng Hao melangkah
mendekat “kau maju lagi, yang mulia akan mencukur kumis dan jenggotmu…” Meng
Hao memelas “kumis dan jenggotku, demi Xiao Shen Zhu ini, aku terpaksa
mengorbankan kalian…” Xiao Shen Zhu membesarkan matanya “Shen Zhu… shushu rela
tidak berkumis dan berjenggot asal anda menerimaku…” mendekat dengan
menyerahkan gunting kepada Xiao Shen Zhu. Xiao Shen Zhu semakin mundur “kau…
kau… ah… aku bisa gila dengan ulet tua ini…” berjalan pergi, Meng Hao
mengikutinya “Shen Zhu… Shen Zhu…” seperti anak kecil yang merajuk untuk
dibelikan mainan.
“hei… ada apa ini ?” You Zun tiba bersama Qing Yun dan
bingung dengan situasi yang ada. You Zun melihat semua tertawa sementara Xiao
Shen Zhu diikuti oleh seorang dewa dengan rengekannya “Huo Feng…” “apa ?” Xiao
Shen Zhu menjawab dengan ketus “eh apa salahku ?” You Zun menatap ke Qing Yun,
yang menggeleng tanda tidak mengerti. Xiao Shen Zhu datang kehadapan keduanya,
mengambil sebuah perkamen dari tangan You Zun “selatan !” menatap keduanya yang
mengangguk dengan senyuman penuh arti. Xiao Shen Zhu menggulung kembali
__ADS_1
perkamen dan menyerahkannya pada You Zun “tunggu ketujuhnya kembali, aku akan
bersenang-senang…” dengan mata tajam.