Return Of God Emperor

Return Of God Emperor
Bab 82 - Kuil Dewi Penjaga


__ADS_3

Seperti yang dikatakan


Zhe Yan, keesokan hari sangat ramai, banyak yang membuat persembahan dikuil


maupun rumah mereka. Dijalanan seperti sedang ada perayaan, menjual segala


macam jimat bertuliskan doa dan penghormatan pada Dewi Penjaga. Hua Zi dan Feng


Wei menikmati sarapan mereka sambil melihat jalanan yang ramai “pelanggan, hari


ini anda bisa puas berjalan-jalan, sangat banyak penjual keliling hari ini…”


Feng Wei berbinar “ehm… pelayan, apa makanan khas disini ? tempat yang banyak


mainan ?” Hua Zi menggeleng “masih cari jajanan dan mainan ? hari ini istirahat


saja, tidak usah keluar” Feng Wei “mana boleh begitu, jarang-jarang seramai


ini, aku mau berjalan-jalan…” Hua Zi “tapi…” Feng Wei “ayo Hua Zi gege, kemarin


sudah tidur banyak, kepalaku sudah tidak sakit lagi… hari ini aku sudah sangat


sehat dan bugar, ayo…” Hua Zi menggelengkan kepala, lukanya belum sembuh, sudah


mau keluar main lagi, untungnya Hua Zi sudah melarutkan pil Zhe Yan ke


minumannya.


          “nyonya muda… nyonya muda… tuan…” pemilik permainan


sebelumnya memanggil mereka “shushu…” Feng Wei dengan senyum ceria menghampiri


“nyonya muda, ini anakku Chen er… nyonya muda, shushu hari ini sangat senang, Chen


er bisa kembali lagi. oh… ini untuk kalian… ini adalah kue turun temurun


keluarga kami… bawalah hehehe shushu mau berbagi lagi… sampai jumpa…” Feng Wei


dan Hua Zi berterima kasih “hmm kue turun temurun memang enak, Hua Zi gege


cobalah…” Hua Zi menggigit kue ditangan Feng Wei “masih lebih enak kue buatanmu…”


Feng


Wei cekikikan “ha… aku sangat senang hari ini… oh Hua Zi gege, kita kesana !”


menunjuk sebuah rumah yang reyot. Hua Zi tidak melihat ada yang spesial dari


rumah itu, hanya mengikuti “wuah… lumayan capek… Hua Zi gege, kita beristirahat


disini dulu… ah membawa banyak barang, badanku jadi berat…” mengeluarkan banyak


barang dari bajunya yang merupakan mainan dan kue-kue yang dibeli sebelumnya.


Menaruhnya di sebuah meja reyot dalam rumah itu “wuah setelah dikeluarkan tubuh


juga terasa ringan… ayo Hua Zi gege, kita jalan-jalan lagi…” menarik Hua Zi


pergi, meninggalkan rumah reyot itu. Disaat mereka pergi, dari banyak sudut


rumah, bermunculan anak-anak kecil dengan tampang menyedihkan, segera mengambil


jajanan dan mainan di atas meja.


Hua


Zi tersenyum menggandeng Feng Wei berjalan-jalan lagi “kenapa tidak menemui


mereka ?” Feng Wei mengibas-ngibaskan tangannya “tidak perlu, aku hanya membuat


tubuh jadi ringan saja… siapa yang menemukan barang itu tidak berhubungan


denganku…” melihat kesana kemari. Hua Zi melihatnya dengan senyum memanjakan


‘berbuat baik tapi tidak ingin diketahui. Berbahagia diatas kebahagiaan yang


lain. Feng Wei, kau sangat baik, aku semakin menyukaimu…’ Gun Gun “Hong Ling,

__ADS_1


Yu Huang…” menghampiri mereka. Feng Wei melihatnya “Gun Gun, Zhe Yan Shan Shen,


kalian disini…” menunduk “ehm… Gun Gun, Tai Chen gong…” merasa bersalah. Gun


Gun menatap Hua Zi yang mengangguk, mengibaskan tangan acuh tak acuh “tak apa,


memang sudah berencana menghancurkannya, mau membangun yang lebih baik. Kebetulan


kau hancurkan, aku tidak perlu mengeluarkan energi lagi hihihi…” Feng Wei


tersenyum lembut.


“oh


kebetulan bertemu disini, Hong Ling bagaimana keadaanmu ? Ling Ling sangat


merindukanmu” Zhe Yan maju ingin memeriksa, Feng Wei menyembunyikan tangannya,


tidak mau ketahuan terluka “aku baik-baik saja, sampaikan salamku pada Ling


Ling, lain kali akan ke Qing Qiu menemuinya” semua melihat gerakan


menyembunyikan tangan Feng Wei, dan pura-pura acuh tak acuhnya, saling melihat


dan tidak memaksa. Gun Gun “Hong Ling, apa kalian kesini untuk mencari


informasi juga ?” Feng Wei “mencari informasi ?” Gun Gun “kami kesini untuk


mencari informasi jiwa mati sebelumnya itu, apa kalian tahu sesuatu ?” Hua Zi


menggeleng, Feng Wei “belum diselesaikan ?” Gun Gun dan Zhe Yan menggeleng


“owww sayang sekali… kami disini hanya untuk bersenang-senang, sudah lama tidak


turun bermain… hmmm kudengar disudut kota ada hutan belantara, tapi disana


sepi, tidak ada makanan dan mainan menarik. ah bilang makanan, aku lapar lagi,


kalian harus mencoba makanan khas disini, lumayan enak…” semua saling melihat,


Feng Wei sudah mengisyaratkan sesuatu “ayo, kami juga belum mencicipi makanan


menikmati keramaian.


Zhe


Yan “dengar-dengar mereka sedang merayakan dan berterima kasih pada Dewi


Penjaga… tidak tahu dewi dari mana yang membantu mereka mengembalikan


anak-anaknya. Eh apa kalian pernah pergi ke kuil Dewi Penjaga ?” Hua Zi melihat


Feng Wei yang acuh tak acuh “benarkah ? dimana ? Hong Ling ayo kita


melihat-lihat…” Feng Wei sambil makan kue mengangguk “baik…” Hua Zi cekikikan


“lihat kau seperti anak kecil, toh tidak ada yang berebutan kue denganmu…” Feng


Wei memeletkan lidahnya, Gun Gun dan Zhe Yan tersenyum lembut “ah karena mau ke


kuil, aku harus membeli beberapa kue” Feng Wei antusias, Hua Zi “apa belum


cukup makanmu ?” Feng Wei menggeleng “bukan untukku…” Zhe Yan “apa mau untuk


persembahan ?” Feng Wei menggeleng sambil memilih kue “biar tidak ada yang


berebutan kue denganku…” ketiganya saling melihat, Hua Zi mengangkat bahunya.


Mereka


bersama-sama ke kuil dengan bungkusan besar kue di tangan mereka, tapi tidak


pernah dibuka dan juga tidak dijadikan persembahan. Mereka hanya melihat-lihat


saja kuil itu, di tengah kuil, ada patung punggung anak perempuan kecil


“makhluk fana sangat aneh, kenapa menyembah punggung anak kecil !” Zhe Yan

__ADS_1


berkata, Feng Wei “huh tidak ada yang menarik disini… ah ada kolam diluar…”


berlari keluar, ketiganya mengikuti dari belakang. Semua melihat punggung Feng


Wei yang sangat mirip dengan patung punggung anak kecil di kuil “Hong Ling, apa


yang mau kau lakukan disini ?” Feng Wei memberi isyarat diam, dari tangannya


mengeluarkan remahan roti menuangnya ke kolam, ikan-ikan berkumpul, berlomba-lomba


memakan remahan. Feng Wei juga menyebar remahan roti di lantai, segera


burung-burung berdatangan memakannya. Ada burung yang naik ke bahu Feng Wei


membuatnya cekikikan “Hong Ling, mau menambah kue ?” Feng Wei menggeleng, hanya


mengambil sisa-sisa kue yang disimpan dibalik bajunya “lihat, mereka sangat


lucu” dengan senyum lembut membelai beberapa burung. Semua burung-burung


terbang kembali meninggalkan mereka.


Feng


Wei membawa bungkusan besar kuenya “Hong…” Zhe Yan ingin meminta kue, segera


ditahan Hua Zi, Hua Zi menggelengkan kepala, Zhe Yan langsung terdiam “apa


kalian sudah selesai melihat-lihat ? aku agak lelah, aku kesana beristirahat


dulu ya, kalian berkelilinglah…” menunjuk sebuah arah, tanpa menunggu jawaban


langsung pergi. Hua Zi tidak mengikutinya, berpura-pura berkeliling tapi


memantau dari jauh. Feng Wei menaruh bungkusan besar kue di dalam sebuah gubuk


kemudian keluar, naik ke atas dahan pohon besar diluar dan memakan kuaci


sendiri diatas sambil bersandar. Terdengar riuh kegembiraan dari dalam gubuk,


perlahan sudut bibir Feng Wei naik membentuk senyuman, menghilang dari dahan


pohon. Hua Zi, Gun Gun, dan Zhe Yan melihat semuanya “dia membawa bungkusan


berat itu untuk mereka ?” Hua Zi mengangguk “sudah berulang kali, aku


mendapatinya diam-diam melakukan hal ini… biasanya hanya sedikit kue jadi tidak


ketahuan… sebelumnya pernah juga sekali dia memberikan semua kue dan mainannya


di sebuah rumah reyot… awalnya aku tidak mengerti, dari jauh terdengar riuh


kebahagiaan dari dalam rumah. Saat kutanya, dia tidak mengaku hanya menjawab


acuh tak acuh” Gun Gun “Niang Qin memang tidak berubah…” Hua Zi “ayo, Hong Ling


pasti sudah menunggu di depan” segera menghampiri Feng Wei yang sedang belajar


membuat kerajinan tangan diluar kuil bersama seorang nenek tua “Hong Ling ?”


“oh kalian sudah keluar… popo terima kasih, aku sudah mau pergi, ini untuk


popo...” memberikan sedikit uang dan berlari mendekati Hua Zi.


Hua


Zi membelai kepalanya “sudah selesai ?” Feng Wei mengangguk dengan senyuman.


Gun Gun dan Zhe Yan tersenyum “kami tidak ikut, masih ada yang harus dilakukan


! nanti kami akan mencari kalian !” Feng Wei “baik… cepatlah kembali, nanti


malam kita bermain di jalan utara” Gun Gun dan Zhe Yan mengangguk dan mereka


berpisah. Hua Zi “apa yang kau buat ?” Feng Wei menunjukkan sebuah sulaman


“belum jadi… lao popo yang mengajariku hihihi…” Hua Zi “untukku ?” Feng Wei

__ADS_1


memeletkan lidahnya “Fu Ren, untukku ya…” Hua Zi merengek “lihat saja nanti


hahaha…” berlari menjauhi Hua Zi, Hua Zi mengejarnya.


__ADS_2