
Seperti yang dikatakan
Zhe Yan, keesokan hari sangat ramai, banyak yang membuat persembahan dikuil
maupun rumah mereka. Dijalanan seperti sedang ada perayaan, menjual segala
macam jimat bertuliskan doa dan penghormatan pada Dewi Penjaga. Hua Zi dan Feng
Wei menikmati sarapan mereka sambil melihat jalanan yang ramai “pelanggan, hari
ini anda bisa puas berjalan-jalan, sangat banyak penjual keliling hari ini…”
Feng Wei berbinar “ehm… pelayan, apa makanan khas disini ? tempat yang banyak
mainan ?” Hua Zi menggeleng “masih cari jajanan dan mainan ? hari ini istirahat
saja, tidak usah keluar” Feng Wei “mana boleh begitu, jarang-jarang seramai
ini, aku mau berjalan-jalan…” Hua Zi “tapi…” Feng Wei “ayo Hua Zi gege, kemarin
sudah tidur banyak, kepalaku sudah tidak sakit lagi… hari ini aku sudah sangat
sehat dan bugar, ayo…” Hua Zi menggelengkan kepala, lukanya belum sembuh, sudah
mau keluar main lagi, untungnya Hua Zi sudah melarutkan pil Zhe Yan ke
minumannya.
“nyonya muda… nyonya muda… tuan…” pemilik permainan
sebelumnya memanggil mereka “shushu…” Feng Wei dengan senyum ceria menghampiri
“nyonya muda, ini anakku Chen er… nyonya muda, shushu hari ini sangat senang, Chen
er bisa kembali lagi. oh… ini untuk kalian… ini adalah kue turun temurun
keluarga kami… bawalah hehehe shushu mau berbagi lagi… sampai jumpa…” Feng Wei
dan Hua Zi berterima kasih “hmm kue turun temurun memang enak, Hua Zi gege
cobalah…” Hua Zi menggigit kue ditangan Feng Wei “masih lebih enak kue buatanmu…”
Feng
Wei cekikikan “ha… aku sangat senang hari ini… oh Hua Zi gege, kita kesana !”
menunjuk sebuah rumah yang reyot. Hua Zi tidak melihat ada yang spesial dari
rumah itu, hanya mengikuti “wuah… lumayan capek… Hua Zi gege, kita beristirahat
disini dulu… ah membawa banyak barang, badanku jadi berat…” mengeluarkan banyak
barang dari bajunya yang merupakan mainan dan kue-kue yang dibeli sebelumnya.
Menaruhnya di sebuah meja reyot dalam rumah itu “wuah setelah dikeluarkan tubuh
juga terasa ringan… ayo Hua Zi gege, kita jalan-jalan lagi…” menarik Hua Zi
pergi, meninggalkan rumah reyot itu. Disaat mereka pergi, dari banyak sudut
rumah, bermunculan anak-anak kecil dengan tampang menyedihkan, segera mengambil
jajanan dan mainan di atas meja.
Hua
Zi tersenyum menggandeng Feng Wei berjalan-jalan lagi “kenapa tidak menemui
mereka ?” Feng Wei mengibas-ngibaskan tangannya “tidak perlu, aku hanya membuat
tubuh jadi ringan saja… siapa yang menemukan barang itu tidak berhubungan
denganku…” melihat kesana kemari. Hua Zi melihatnya dengan senyum memanjakan
‘berbuat baik tapi tidak ingin diketahui. Berbahagia diatas kebahagiaan yang
lain. Feng Wei, kau sangat baik, aku semakin menyukaimu…’ Gun Gun “Hong Ling,
__ADS_1
Yu Huang…” menghampiri mereka. Feng Wei melihatnya “Gun Gun, Zhe Yan Shan Shen,
kalian disini…” menunduk “ehm… Gun Gun, Tai Chen gong…” merasa bersalah. Gun
Gun menatap Hua Zi yang mengangguk, mengibaskan tangan acuh tak acuh “tak apa,
memang sudah berencana menghancurkannya, mau membangun yang lebih baik. Kebetulan
kau hancurkan, aku tidak perlu mengeluarkan energi lagi hihihi…” Feng Wei
tersenyum lembut.
“oh
kebetulan bertemu disini, Hong Ling bagaimana keadaanmu ? Ling Ling sangat
merindukanmu” Zhe Yan maju ingin memeriksa, Feng Wei menyembunyikan tangannya,
tidak mau ketahuan terluka “aku baik-baik saja, sampaikan salamku pada Ling
Ling, lain kali akan ke Qing Qiu menemuinya” semua melihat gerakan
menyembunyikan tangan Feng Wei, dan pura-pura acuh tak acuhnya, saling melihat
dan tidak memaksa. Gun Gun “Hong Ling, apa kalian kesini untuk mencari
informasi juga ?” Feng Wei “mencari informasi ?” Gun Gun “kami kesini untuk
mencari informasi jiwa mati sebelumnya itu, apa kalian tahu sesuatu ?” Hua Zi
menggeleng, Feng Wei “belum diselesaikan ?” Gun Gun dan Zhe Yan menggeleng
“owww sayang sekali… kami disini hanya untuk bersenang-senang, sudah lama tidak
turun bermain… hmmm kudengar disudut kota ada hutan belantara, tapi disana
sepi, tidak ada makanan dan mainan menarik. ah bilang makanan, aku lapar lagi,
kalian harus mencoba makanan khas disini, lumayan enak…” semua saling melihat,
Feng Wei sudah mengisyaratkan sesuatu “ayo, kami juga belum mencicipi makanan
menikmati keramaian.
Zhe
Yan “dengar-dengar mereka sedang merayakan dan berterima kasih pada Dewi
Penjaga… tidak tahu dewi dari mana yang membantu mereka mengembalikan
anak-anaknya. Eh apa kalian pernah pergi ke kuil Dewi Penjaga ?” Hua Zi melihat
Feng Wei yang acuh tak acuh “benarkah ? dimana ? Hong Ling ayo kita
melihat-lihat…” Feng Wei sambil makan kue mengangguk “baik…” Hua Zi cekikikan
“lihat kau seperti anak kecil, toh tidak ada yang berebutan kue denganmu…” Feng
Wei memeletkan lidahnya, Gun Gun dan Zhe Yan tersenyum lembut “ah karena mau ke
kuil, aku harus membeli beberapa kue” Feng Wei antusias, Hua Zi “apa belum
cukup makanmu ?” Feng Wei menggeleng “bukan untukku…” Zhe Yan “apa mau untuk
persembahan ?” Feng Wei menggeleng sambil memilih kue “biar tidak ada yang
berebutan kue denganku…” ketiganya saling melihat, Hua Zi mengangkat bahunya.
Mereka
bersama-sama ke kuil dengan bungkusan besar kue di tangan mereka, tapi tidak
pernah dibuka dan juga tidak dijadikan persembahan. Mereka hanya melihat-lihat
saja kuil itu, di tengah kuil, ada patung punggung anak perempuan kecil
“makhluk fana sangat aneh, kenapa menyembah punggung anak kecil !” Zhe Yan
__ADS_1
berkata, Feng Wei “huh tidak ada yang menarik disini… ah ada kolam diluar…”
berlari keluar, ketiganya mengikuti dari belakang. Semua melihat punggung Feng
Wei yang sangat mirip dengan patung punggung anak kecil di kuil “Hong Ling, apa
yang mau kau lakukan disini ?” Feng Wei memberi isyarat diam, dari tangannya
mengeluarkan remahan roti menuangnya ke kolam, ikan-ikan berkumpul, berlomba-lomba
memakan remahan. Feng Wei juga menyebar remahan roti di lantai, segera
burung-burung berdatangan memakannya. Ada burung yang naik ke bahu Feng Wei
membuatnya cekikikan “Hong Ling, mau menambah kue ?” Feng Wei menggeleng, hanya
mengambil sisa-sisa kue yang disimpan dibalik bajunya “lihat, mereka sangat
lucu” dengan senyum lembut membelai beberapa burung. Semua burung-burung
terbang kembali meninggalkan mereka.
Feng
Wei membawa bungkusan besar kuenya “Hong…” Zhe Yan ingin meminta kue, segera
ditahan Hua Zi, Hua Zi menggelengkan kepala, Zhe Yan langsung terdiam “apa
kalian sudah selesai melihat-lihat ? aku agak lelah, aku kesana beristirahat
dulu ya, kalian berkelilinglah…” menunjuk sebuah arah, tanpa menunggu jawaban
langsung pergi. Hua Zi tidak mengikutinya, berpura-pura berkeliling tapi
memantau dari jauh. Feng Wei menaruh bungkusan besar kue di dalam sebuah gubuk
kemudian keluar, naik ke atas dahan pohon besar diluar dan memakan kuaci
sendiri diatas sambil bersandar. Terdengar riuh kegembiraan dari dalam gubuk,
perlahan sudut bibir Feng Wei naik membentuk senyuman, menghilang dari dahan
pohon. Hua Zi, Gun Gun, dan Zhe Yan melihat semuanya “dia membawa bungkusan
berat itu untuk mereka ?” Hua Zi mengangguk “sudah berulang kali, aku
mendapatinya diam-diam melakukan hal ini… biasanya hanya sedikit kue jadi tidak
ketahuan… sebelumnya pernah juga sekali dia memberikan semua kue dan mainannya
di sebuah rumah reyot… awalnya aku tidak mengerti, dari jauh terdengar riuh
kebahagiaan dari dalam rumah. Saat kutanya, dia tidak mengaku hanya menjawab
acuh tak acuh” Gun Gun “Niang Qin memang tidak berubah…” Hua Zi “ayo, Hong Ling
pasti sudah menunggu di depan” segera menghampiri Feng Wei yang sedang belajar
membuat kerajinan tangan diluar kuil bersama seorang nenek tua “Hong Ling ?”
“oh kalian sudah keluar… popo terima kasih, aku sudah mau pergi, ini untuk
popo...” memberikan sedikit uang dan berlari mendekati Hua Zi.
Hua
Zi membelai kepalanya “sudah selesai ?” Feng Wei mengangguk dengan senyuman.
Gun Gun dan Zhe Yan tersenyum “kami tidak ikut, masih ada yang harus dilakukan
! nanti kami akan mencari kalian !” Feng Wei “baik… cepatlah kembali, nanti
malam kita bermain di jalan utara” Gun Gun dan Zhe Yan mengangguk dan mereka
berpisah. Hua Zi “apa yang kau buat ?” Feng Wei menunjukkan sebuah sulaman
“belum jadi… lao popo yang mengajariku hihihi…” Hua Zi “untukku ?” Feng Wei
__ADS_1
memeletkan lidahnya “Fu Ren, untukku ya…” Hua Zi merengek “lihat saja nanti
hahaha…” berlari menjauhi Hua Zi, Hua Zi mengejarnya.