
Dong Hua menggendong Cai Hong
Huo Feng kembali ke Yue Ling Yuan, diiringi tatapan sangat banyak pasang mata.
Gun Gun “Fu Qin, kita sudah 15 hari disini !” Dong Hua “sudah saatnya pergi…”
merapikan selimut Cai Hong Huo Feng “Ling Ling, jaga Feng Wei… saatnya kita
bertamu…” bersama Gun Gun dan Jin Cheng ke istana. 2 hari setelahnya, mereka
meninggalkan Fan Yin Gu. Dong Hua membawa mereka, naik gunung turun ke danau,
bermain di sepanjang perjalanan. Bertemu banyak penyerang di sepanjang
perjalanan, membantu beberapa dewa dewi. Mereka memakai identitas Dewa
Misterius dan Dewi Hong Ling. Keempat pasangan mendapat banyak pelajaran dari
Dewa Misterius dan Dewi Hong Ling.
Gun Gun dan Ling Ling memiliki pembawaan dingin dan
mendominasi di depan orang lain. Long Nu juga mengikuti Mo Yuan yang sangat
tenang, sedangkan Jin Chen lebih supel mengikuti Lian Song. Di sepanjang
perjalanan, yang paling banyak mereka rasakan adalah perubahan aura Cai Hong
Huo Feng. Mereka mempelajari mimik wajahnya, terutama saat menghadapi ‘penjahat’
atau ‘penyerang liar’. Cai Hong Huo Feng cemberut, jengkel pada Dong Hua yang
menarik perhatian ‘tidak tahu dia sendiri menarik lebih banyak perhatian’,
membuang muka, berjalan pergi meninggalkan Dong Hua yang tidak mengerti dimana
kesalahannya.
Dong Hua mengejarnya “Feng Wei… ada apa ? kenapa kau
kesal ?” Cai Hong Huo Feng tidak mempedulikan Dong Hua. Dong Hua menarik
tangannya dan langsung memeluknya “jangan seperti ini ! aku tidak tahan kau
mengabaikanku…” Cai Hong Huo Feng terdiam di pelukan Dong Hua, tidak membalas
pelukannya “ada apa ?” merasakan kekesalan Cai Hong Huo Feng. Cai Hong Huo Feng
memainkan matanya, melirik kearah gadis-gadis yang terus memperhatikan Dong
Hua. Dong Hua tersenyum “mereka bukan memperhatikanku tapi memperhatikanmu…
karena tidak dapat melarikan diri dari pesonamu jadi mereka tidak senang padaku
yang memiliki pesonamu…” berbisik di telinganya.
Kata-kata Dong Hua sukses membuat Cai Hong Huo Feng
memandangnya. Dong Hua tersenyum, menyibakkan rambut Cai Hong Huo Feng “di kepalaku,
di mataku, dan di hatiku, hanya ada dirimu… tidak perlu mempedulikan mereka…” Cai
Hong Huo Feng cemberut. Ling Ling “apakah Niang Qin cemburu ?” Jin Cheng
mengangguk “selalu melihat Dong Hua die yang cemburu, kali ini berhasil melihat
Huo Feng niang cemburu, sungguh langka…” Long Nu “apakah perlu cemburu ?
__ADS_1
gadis-gadis itu lebih banyak memperhatikan Huo Feng niang daripada Dong Hua
die.” Gun Gun “sebanyak atau sesedikit apapun perhatian itu tetap membuat
mereka merasa risih…” Ling Ling “jangankan Fu Qin Niang Qin, aku juga merasa
risih… mereka seperti tidak normal…” menatap jijik.
Long Nu “mereka adalah klan Xixue, pandangan mereka belum
tentu hanya sesederhana ketertarikan akan pesona. Harus berhati-hati disini !” Gun Gun “aku pernah membaca di salah satu buku
tentang kaum ini… kononnya leluhur mereka terkena suatu penyakit, menghisap
darah dewa dewi lain untuk menghambat kambuhnya penyakitnya. Disaat akan
menghisap darah Fu Shen, Fu Shen dengan bantuan Fu Qin memusnahkannya !” Jin
Cheng “haih… hanya masalah ini tidak perlu menjadi perhatian… yang harus
sekarang di fikirkan, bagaimana meredam emosi Huo Feng niang !”
Cai Hong Huo Feng akhirnya mau digandeng Dong Hua,
berjalan dengan wajah cemberutnya. Dong Hua sakit hati melihat kekesalan Cai
Hong Huo Feng, melirik dingin sepanjang jalan. Aura dingin yang dikeluarkan
Dong Hua, hanya berhasil mengusir sebagian kecil mata yang memandangi mereka.
Berbeda dengan tempat lainnya, di tempat ini, semua mata memandang mereka
secara terang-terangan, tanpa takut atau sungkan sama sekali. Dong Hua “Feng
Wei, cukup melihatku saja ! anggap mereka tidak ada !” Cai Hong Huo Feng
kakinya dan berjalan pergi.
Ling Ling memeletkan lidahnya “gawat, Niang Qin kesal…”
Long Nu “cepatlah, Huo Feng niang paling tidak suka diikuti… nah ini baguslah,
mereka mengikuti seperti ekor sudah sepanjang berapa ratus meter…” Gun Gun
“ayo… ayo…” memegang tangan Long Nu mengikuti Dong Hua dan Cai Hong Huo Feng.
Dong Hua menghentikan Feng Wei dan memeluknya “jangan marah lagi… salahku… harusnya
aku langsung membawamu pergi… maaf, salahku… jangan marah lagi…” Cai Hong Huo
Feng tidak membalas, hanya diam membiarkan Dong Hua membujuknya.
Jin Cheng “Ling Ling, Huo Feng niang lebih susah dibujuk
dari pada dirimu…” Long Nu “tentu saja, di Yu Zhou Da Lu, siapa yang berani
membuatnya kesal !” Gun Gun “hush… cari cara meredam amarah Niang Qin, apa yang
bisa kita lakukan ?” Ling Ling “bawa Niang Qin ke alam fana !” Gun Gun
menggeleng “saat ini bawa ke alam fana, setengah penduduk akan menghilang !”
Long Nu “lihat Dong Hua die, sudah kebingungan ! bagaimana ini ?” melihat mata
Dong Hua yang sudah hampir berkaca-kaca.
Dong Hua “Feng Wei… kita makan ubi bakar, bagaimana ?
__ADS_1
tidak usah memikirkan mereka lagi… ayo, Fu Jun mencari ubi dan membakarnya…”
menarik tangan Cai Hong Huo Feng. Saat Dong Hua membakar ubi, Cai Hong Huo Feng
duduk diam melihatnya. Gun Gun mendekati Dong Hua “Niang Qin masih kesal ?”
Dong Hua cemberut melihat Cai Hong Huo Feng, menghela nafas “kalian pergilah…”
Gun Gun “Fu Qin yakin ?” Dong Hua mengangguk, Gun Gun “baiklah, kami akan
menunggu Fu Qin Niang Qin di desa berikutnya” mengajak ketiga lainnya, menuju
desa berikutnya.
Dong Hua membawa ubi yang sudah di bakar, mengupasnya dan
memberikan pada Cai Hong Huo Feng “makanlah…” Cai Hong Huo Feng tidak mau
melihat Dong Hua. Dong Hua memperlihatkan tangannya yang menghitam “sshhh… Fu
Ren, lihat tanganku terluka… perih sekali, Fu Ren…”. Cai Hong Huo Feng melihat
tangan yang menghitam itu, menghela nafas, mengambil sapu tangan,
membersihkannya perlahan. Dong Hua tersenyum manis, menyuapi ubi bakar ke mulut
kecil gadis kesayangannya “ayo cicipilah…” jadilah pria menyuapi, gadis
mengobati.
Dong Hua “masih marah…” Cai Hong Huo Feng “lelah… tidur…”
lamgsumg membaringkan kepalanya di pangkuan Dong Hua. Dong Hua tersenyum
membelai kepala gadis ciliknya. Mendengar nafasnya yang teratur, Dong Hua
memindahkan gadis cilik ke pelukannya ‘gadis cilik, segala sesuatunya bisa
kuhadapi dengan tenang… hanya kau satu-satunya gadis kecil yang selalu
mengombang ambingkan perasaanku…” tersenyum menggelengkan kepala.
Dari kajauhan, ada beberapa pasang mata yang melihat
mereka sejenak. Setelah memastikan semua baik-baik saja, Gun Gun melanjutkan
langkahnya pergi dari sana. Ling Ling tidak tenang karena itu wilayah yang
rawan, akhirnya mereka kembali, mengawasi dari jauh. Saat melihat kedua orang
tuanya sudah berbaikan, mereka membuang nafas lega. Di sepanjang perjalanan,
mereka masih menemui banyak yang tidak sungkan-sungkan melihat dan mengikuti
mereka. Hingga di satu titik, Ling Ling pun tidak tahan lagi, mengajak
ketiganya menghilang dari depan pandangan semuanya.
Setelah Cai Hong Huo Feng terlelap, Dong Hua membuat
jiejue agar tidak ada yang mengganggu mereka. Dari dalam jiejue, Dong Hua
melihat banyak yang berkeliaran disekitar mereka, mencari sesuatu. Dong Hua
mengerutkan kening sambil memperhatikan pemandangan yang menurutnya aneh di
hadapannya.
__ADS_1