
Yang Guang menjelajah
seluruh penjuru negeri, dengan tujuan bersenang-senang. Sementara syarat yang
diberikan oleh Raja hanya dianggapnya tugas sambil lalu. Yang Guang sangat
percaya diri, sama seperti Cai Hong Huo Feng, tidak akan mengorbankan lainnya
demi kepentingan pribadinya. Baginya, kekuatannya sendiri sudah cukup, jika
dalam 2 tahun nanti tidak dapat membebaskan masalah di istana, nyawanya pun
siap dikorbankan, selama kebebasannya tidak terenggut.
Perhentian pertama adalah Desa Ma Tuan yang dekat dengan
gubuknya. Didesa ini adalah tempat masyarakat dengan keahlian berkuda nomor 1
di Kerajaan Ming. Yang Guang sangat suka bermain, melihat ada perlombaan balap
kuda, diapun ikut serta “aku… aku daftar…” dengan tubuh kecilnya menerobos
antrian “eh anak kecil, ini adalah perlombaan orang dewasa… nanti kau akan
terluka…” sang penyelenggara bermaksud baik mengingatkan “paman, lihat saja
keahlianku… walau tubuhku kecil, tapi aku sudah belajar berkuda dari 5 tahun…”
“Lan ge, tak apa, perlombaan ini tidak melihat usia, tapi adik kecil, kau harus
berhati-hati, jangan sampai terluka…” Yang Guang kecil sangat bersemangat
“terima kasih ayi…”
“ayah, aku akan memakai Da Lun untuk berlomba” seorang
remaja tampan sekitar 14 tahun membawa seekor kuda putih menghampiri sanga
penyelenggara “oh Huang er, baiklah… oh adik kecil, nama ?” “shushu, aku Yang
Guang…” ada kilatan pelangi di mata anak sang penyelenggara “eh namamu juga ada
Guang, aku Huang Guang, senang berkenalan denganmu” mengulurkan tangan untuk
berjabat tangan, Yang Guang langsung menjabat tangannya “Yang Guang, kau
membawa kuda ?” Yang Guang mengangguk “shushu, itu kudaku…” menunjuk seekor
kuda coklat yang terikat di sebuah pohon “oh bagus sekali, kau bisa pergi
bersama Huang er, melihat lapangan lomba terlebih dahulu…” “terima kasih shushu
ayi…” “ayo, kita bisa latihan bersama…” kedua anak yang baru kenal pun berlalu.
Hua Zi cemberut “eh Yu Huang, bukankah baik, Yang Guang
sudah menemukan Huang Guang…” Lian Song menggoda “dia memegang tangannya…”
dengan wajah kesal. “Fu Qin, tidak boleh mengacaukan kultivasi Niang Qin…” Ling
Ling memperingati. Hua Zi berdecak kecal “cih, jika dia tidak berubah kembali
menjadi unicorn, aku akan mencincang tubuhnya…” “hahaha…. Fu Qin, apa kau
berani mencincang hewan kesayangan Niang Qin !” semua cekikikan “hih, kau
sebenarnya anak siapa cih…” mengikuti Yang Guang dan Huang Guang, lainnya
menertawakannya.
Kedua anak segera menaiki kuda masing-masing “Yang Guang,
bagaimana kalau kita latihan terlebih dahulu ?” “baik… silahkan !” Yang Guang
__ADS_1
mempersila. Lapangan yang sudah dipenuhi setengah jumlah penonton itu
memperhatikan kedua anak “pasti Huang Guang kembali memenangkan perlombaan… dia
sangat berbakat…” “siapa anak kecil itu ? sepertinya mereka mau latihan
dahulu…” “untung aku datang lebih cepat, bisa melihat aksi Huang Guang…” “eh
anak kecil itu juga lumayan tampan, sayang masih terlalu kecil…” “menurutku
Huang Guang lebih tampan, ah suami idamanku…” “cih… Huang Guang bahkan tidak
pernah melirikmu…” “stt… diamlah, mereka sudah mengambil posisi…”.
Terlihat keduanya berada di pintu lapangan “Yang Guang, apa
kau perlu memakai pelindung ?” “tidak, pelindung memberatkan, begini saja…”
“bagus sekali, aku juga tidak suka hal merepotkan… shushu, tolong bunyikan
tandanya…” seorang pengamat lapangan menganggukkan kepala “yak kedua peserta
bersiap…” suaranya menggelegar “3… 2… 1… dong…” keduanya segera berpacu. Gaya
Yang Guang sangat santai, bahkan tidak menggunakan cambuk dan tali kekang,
kudanya bebas dari segala pernak pernik. Sementara Huang Guang memakai tali
kekang tanpa cambuk, berpacu dengan bersemangat.
Keduanya tersenyum melihat kemampuan masing-masing, berada
di posisi yang sama hingga ke garis finish “wah Yang Guang, keahlianmu sangat
bagus… kau darimana ? kenapa aku tidak pernah melihatmu ?” “hihihi hanya
kesukaan kecil, anda juga sangat hebat…” “eh panggil saja aku Huang Guang atau
“Huang er, adik kecil,keahlianmu sangat bagus… kalian istirahat, sejam lagi
perlombaan akan dimulai…” “terima kasih shushu…” “ayo ikut aku…” menawari Yang
Guang ke tenda tempaat segala macam camilan lomba di sediakan “kau bisa ambil
sesukamu…” “ha… kebetulan perutku sedah menari-nari” “makanlah yang banyak,
tidak ada yang akan melarangmu, kau terlalu kurus…” “hihihi… dengan begini aku
bisa bebas bergerak…” Yang Guang membanggakan tubuh kecilnya.
Merekapun terlibat pembicaraan panjang, segera menjadi
akrab. Sementara Hua Zi yang melihat sudah sangat kesal karena cemburu,
ditertawai Lian Song, Ling Ling dan Jin Chen. Berulang kali, Huang Guang hampir
saja dilempari kerikil oleh Hua Zi, selalu ditolong Ling Ling “Fu Qin, tidak
boleh… aku akan melaporkanmu pada Niang Qin…” “cih… dasar pengadu… sana
pulang…” mengusir ketiganya yang tertawa terbahak-bahak melihat Hua Zi yang uring-uringan.
Perlombaan sebenarnya pun segera di gelar, kedua remaja
bersaing di arena. Yang Guang akhirnya memenangkan perlombaan dengan kemenangan
satu kepala kuda terlebih dahulu memasuki tiang akhir. “hahaha… hebat… hebat…
betul-betul anak muda berbakat…” sang penyelenggara memuji Yang Guang. Sang
penyelenggara memberikan hadiah 1000 tael untuk Yang Guang sebagai pemenang.
“Niang Qin memang serba bisa…” Ling Ling dengan mata berbinar menatap Yang
__ADS_1
Guang.
“Yang Guang, bagaimana kalau kita berlomba sekali lagi ?
tapi kali ini bukan hanya adu kecepatan… kita memakai keahlian berkuda
bagaimana ?” Huang Guang menawari. Yang Guang “hmm… tuan muda, aku ikut
perlombaan hanya untuk bersenang-senang bukan mencari musuh…” “Yang Guang, aku
juga tidak mencari musuh… sudah lama aku tidak berlomba sepuas ini, ayolah…”
“Yang Guang temanilah Huang er, sudah lama tidak melihat anak ini tidak
bersemangat seperti ini…” “haih… kenapa aku merasa kau lebih kecil dariku ya ?
baik shushu… sekali saja ! kau harus mentraktirku makanan khas sini
setelahnya…” “baik-baik… pasti kutraktir” mendorong kedua bahu Yang Guang
kembali ke arena balap. Hua Zi mengepalkan tangannya melihat tangan Huang Guang
di bahu Yang Guang.
Melihat kedua remaja yang kembali ke arena, semua penonton
kembali duduk di posisinya “lihat-lihat, mereka berlomba lagi…” “anak itu
sangat menarik, ah andai saja usiaku lebih muda, aku akan menunggunya menjadi
suamiku…” “ayi, anda cocoknya jadi neneknya hahaha…” “dia pasti menjadi pemuda
yang sangat tampan ! lihat saja, masih kecil saja wajahnya sudah sangat
tampan…” “ah jika saja anakku masih kecil, akan kujodohkan dengannya” semua
pembicaraan penonton terdengar ditelinga Hua Zi dan lainnya. Semakin membuat
wajah Hua Zi menghitam karena menahan kekesalan.
Di arena, kedua remaja sudah bersiap di atas kuda mereka
“Fei Jiao, menyusahkanmu… sekali lagi, setelah itu kita mencarikanmu makanan
enak ya…” Yang Guang mengelus-ngelus surai kudanya dan berbicara lembut.
Kudanya pun merespon dengan suara ki-kiik yang lembut. Huang Guang “hmm kalian
saling mengerti…” Yang Guang nyengir “kami adalah sahabat…” Huang Guang “aku
menyukaimu… kita juga menjadi sahabat…” Yang Guang tertawa terbahak-bahak
“sahabat… masih terlalu awal untuk mengatakannya… ayo, kau ingin melakukan apa
?” “bertarung dari atas kuda, bagaimana ?” “baik, siapa takut…”
Mereka masing-masing memegang pedang kayu “ayo… aku tidak
mau melukaimu dan kuda cantik ini !” keduanya nyengir, suara tanda mulai segera
terdengar. Keduanya memacu kudanya dan bertarung dari atas kuda. Beberapa
pemuda tertarik mengikuti perlombaan dan tanpa meminta izin segera masuk ke
arena perlombaan. Arena perlombaan menjadi kacau, kedua remaja dengan ahlinya
menghindari kejutan yang datang. Kuda-kuda menjadi panik karena di tunggangi
secara tiba-tiba dan adanya pertarungan yang dampaknya mengenai tubuh mereka.
Beberapa pemuda sudah jatuh dari atas kuda. Kuda-kuda menjadi liar dan
meronta-ronta hampir menginjak para pemuda.
__ADS_1