RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
99. MALING???


__ADS_3

Waduh…..Burhan datang lagi  pasti...


Tapi lebih  baik aku lihat dulu keadaan diluar, apa itu benar si Burhan.


Perlahan lahan aku pindah ke dekat jendela rumah pak Solikin…


Suara langka kaki  itu masih terdengar dan semakin lama semakin dekat.


Kudekatkan kepalaku ke arah jendela rumah pak Solikin yang bergorden warna merah tua.


Dengan tangan kiriku kusingkap gorden atau lebih tepatnya tirai tipis berwarna merah tua… kusingkap sedikit saja, yang penting mataku bisa mengintip ke arah luar


“Jangkrik… di luar gelap sekali…”


Bisa bahaya ini…. apa yang harus aku lakukan?


Suara langkah kaki itu sekarang berhenti di depan rumah pak Solikin.


Aku yakin itu si Burhan  yang  penasaran dengan motor yang diparkir di halaman rumah.


Bener-bener otak kriminal Burhan itu…


Dia tidak menyerah begitu saja dengan hal-hal yang bagi dia mencurigakan.


“Mas… ada apa?” bisik Tina yang terbangun ketika aku sedang mengintip


“Sssttt diam  dan duduk saja disitu saja mbak… ada orang di luar rumah”


“Siapa mas… Burhankah mas?”


“Saya tidak tau mbak, karena diluar sana gelap sekali, sebagian besar lampu petromak rumah yang ada disini sudah mati”


“Hanya tinggal lampu minyak yang ada dinding luar rumah saja mbak”


Tina tidak merespon perkataanku, dia seperti nya sedang berusaha mengatur emosinya agar tetap tegar.


Tina boleh takut, tapi aku lebih takut lagi, karena setelah selesai dengan aktivitas mengintai ini aku akan tinggal di rumah penggergajian berdua saja dengan Burhan.


Terus terang keadaan gelap di luar sana membuatku ketakutan, karena aku tidak tau dimana sebenarnya posisi orang yang sedang berjalan itu.


Ketika aku sedang berusaha mengintip, tiba-tiba pak Solikin keluar dari dalam kamar yang hanya berbataskan selambu saja.


“Sssttt diam pak Agus… ada orang di luar sana”


“Kalian berdua sebaiknya kembali ke kamar saja, saya yakin yang diluar itu Burhan”


“Ayo sana kalian berdua pura-pura tidur saja”


“I..iya pak, lalu bapak apa tidak apa-apa?”


“Tenang saja pak Agus, sana kalian berdua tidur saja sana”


Aku dan Tina berjalan pelan menuju ke arah kamar belakang….


Sayangnya kamar di rumah ini hanya berpintu selambu saja….


Aku bingung kalau ada pengantin baru yang sedang melakukan malam pertama kalau tidak ada pintunya gini ini.


Ketika aku dan Tina sudah ada di kamar belakang, aku sengaja mematikan lampu  minyak yang ada di kamar.


“Mas… kenapa kok dimatikan?”


“Sstttt biar saja mbak, biar mereka tidak tau kalau kita sedang in de hoy hihihih”


“Ih mas Agus ini ada-ada aja, memangnya mas Agus siap tempur sama Tina hehehe”


“Sssttt jangan berisik mbak hihihih, saya kan bercanda mbak hehehe”


“Masio gak becanda Tina selalu siap menerima benihnya mas Agus lhooo.. yuk sekarang aja kita bikin keributan disini mas hihihi”

__ADS_1


“Sssttt ih tambah gak genah mbak Tina ini… tunggu saya mbak, tunggu saya halalin mbak Tina ya”


“Ih … mas Agus udah lupa sama pacar yang di desa?”


“Bukan lupa mbak Tina… tetapi semua bisa saja terjadi mbak. Namanya rencana Tuhan kan kita tidak tau hehehe”


AKu berusaha untuk menghilangkan rasa takut dengan ngobrol dengan Tina, meskipun dengan berbisik bisik saja


Pintu depan rumah pak Solikin terbuka, kemudian aku bisa dengar pak Solikin berteriak kepada orang yang ada di luar beberapa kali.


Beberapa kali pak Solikin memanggil orang yang tampaknya sedang sembunyi di sekitar rumah pak Solikin, hingga tidak lama kemudian aku mendengar suara kentongan dari rumah ini.


Sedetik kemudian suara teriakan maling maling disertai suara kentongan yang keras dan cepat.


Beberapa detik kemudian yang aku dengar ada sekitar lima jenis kentongan yang dipukul cepat dan keras disertai dengan teriakan maling.


“Mas… ternyata yang mas lihat tadi itu maling”


“Hehehe, mudah-mudahan malingnya tidak ketangkap mbak Tina…”


“Karena kalau ketangkap saya jadinya tidak ada teman lagi di rumah penggergajian hihihih”


“Memangnya itu Burhan mas?”


“Kemungkinan besar iya mbak, ditunggu saja besok mbak, ada kabar apa dari desa ini”


Suara banyak orang yang sepertinya sedang mengejar sesuatu disertai dengan teriakan arah atau tempat dimana orang yang sedang dikejar itu sembunyi membuatku merinding.


Gimana tidak merinding, teriakan mereka yang mungkin sekitar sepuluh orang lebih itu sepertinya sudah mengetahui dimana posisi maling itu berada.


Teriakan yang disertai dengan ancaman pukul dan bunuh itu yang membuatku merinding.


Orang desa disini kelihatannya sudah tau dimana maling itu sedang sembunyi…. ada di sekitar rumah pak Solikin!.


“Malingnya ada di sekitar sini mbak… tadi ada penduduk sini yang sempat melihat, dan sekarang sedang dilakukan pencarian di sekitar sini”


“Iya mas…. eh apa karena motor TIna yang ada di luar itu ya mas?”


Yang mengerikan saat ini adalah, suara gemerisik yang ada di belakang rumah pak Solikin…


Disusul kemudian suara teriakan maling…maling yang disertai dengan suara langkah kaki orang yang mengejar sesuatu!


“ITU MALINGNYA…. KEJAAARRR, BUNUH…BUNUHHHH…!


Suara yang bikin merinding bulu kuduk, ketika orang yang berlarian itu berteriak bunuh… bunuh!


Suara banyak orang yang sedang mengejar sesuatu itu semakin menjauh dari sekitaran rumah pak Solikin.


“Kayaknya malingnya udah ketahuan mas. dan penduduk sini sedang mengejarnya”


“Iya mbak, saya juga dengar teriakan mereka yang berlarian ke arah sungai keliatannya mbak”


“Kita kelihatannya sudah aman mas”


“Jangan keluar kamar dulu mbak, tunggu pak Solikin datang dulu, saya merasa kita belum sepenuhnya aman mbak”


Memang apa yang kukatakan belum sepenuhnya aman itu beralasan, karena aku  mana tau bahwa orang yang tadi berjalan ke sini itu adalah orang yang sekarang dikejar oleh penduduk desa.


Aku merasa motor Tina bisa saja mengakibatkan kriminal disini gelap mata, dan mungkin  tidak hanya Burhan yang mengincarnya.


Penduduk desa maupun pak Solikin belum juga ada suaranya…


Mereka yang mengejar maling kayaknya sekarang sedang bergerombol di sekitar sungai belakang desa.


Desa ini menjadi sepi, tidak ada teriakan maling, tidak ada suara langkah kaki yang sedang mengejar sesuatu, dan inilah yang mengkhawatirkan aku.


Sunyi sepi dan mencekam, karena bisa saja sebagian besar laki-laki yang ada disini sedang mengejar orang yang mereka teriakan sebagai maling itu!


Teryata apa yang kukhawatirkan terjadi juga….

__ADS_1


Kamar yang kutempati bersama Tina ini letaknya ada di bagian belakang, dekat dengan dapur yang dan kamar mandi.


Di bagian belakang ini ada sebuah pintu yang tembus di luar rumah!


Dan sekarang handle pintu yang  sederhana modelnya itu sedang bersuara.


“Sik Sebentar mbak….”


Aku turun dari tempat tidur kemudian keluar dari kamar…


Kulihat handle pintu belakang bergerak pelan naik dan turun, sepertinya ada orang yang berusaha membukanya dari luar.


Beberapa kali pintu itu bergerak… keliatannya pintu itu tidak terkunci!


Pintu itu bergerak tetapi belum terbuka.. mungkin pintu belakang ini macet karena jarang sekali digunakan sehingga sulit untuk dibuka.


Dan ketika kuperhatikan ternyata di pintu itu ada slot kunci, tapi sayangnya slot itu tidak mengunci…


Aku berjalan pelan menuju ke pintu belakang…


Aku berjalan pelan-pelan agar orang yang berusaha membuka pintu itu tidak merasa bahwa ada aku dibalik pintu itu.


Segera ku kuncikan slot kunci yang tadi tidak terkunci itu…


Kemudian aku berjalan menuju ke kamar bu Solikin…


“Bu… permisi…” bisiku didepan kelambu kamarnya


Bu solikin keluar dari kamar dengan tergesa gesa…


“Ada apa pak Agus” bisiknya


“Ada orang yang berusaha membuka pintu belakang, tapi untungnya sudah saya kunci slotnya bu”


“Waduuuh… padahal bapak-bapak sekarang ada di dekat sungai sana untuk mengejar maling”


“Ssttt… jangan keras-keras bu…. yang penting slot pintu belakang sudah saya kuncikan. Bagaimana bu, apa yang akan kita lakukan saat ini?...”


“Apakah kita bunyikan kentongan lagi bu?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sedikit informasi dari saya...


Ada kekhawatiran beberapa orang tentang saya yang tidak akan menyelesaikan cerita.


Seperti yang dilakukan beberapa penulis terkenal disini yang pernah menang di lomba yang diadakan NT.


Memang..... redaksi pernah berkata ..bagi para pemenang lomba, kalau bisa jangan sampai finish ceritanya yang di aplikasi.


Bikin saja menggantung, agar orang tertarik membeli buku karya pemenang lomba.


Tapi saya tidak mau....


Saya komit untuk menyelesaikan cerita saya...


Novel saya yang berjudul Konser Berdarah di vila kutukan pun sempat masuk sepuluh besar lomba horor yang diadakan NT.


Hadiahnya adalah dibuatkan buku. Tapi saya tolak...


Saya tidak mau membukukan karya saya, tetapi dengan menggantung cerita di aplikasi ini


Biarkan kalian pembaca menikmati karya amburadul acak acakan berantakan saya ini sampai tuntas.


Kasihan para pembaca yang sudah menyisihkan data internet untuk membuka aplikasi NT yang pada akhirnya cerita itu tidak selesai dan harus membeli buku untuk menuntaskan penasaran para pembaca.


Jadi jangan khawatir... saya akan selesaikan cerita ini sampai semampu saya heheheh


Salam hormat

__ADS_1


Mbak Bashi


__ADS_2