RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
119.KEMANA HARUS SEMBUNYI


__ADS_3

“Tina bingung mas, tapi yang pasti apakah tujuan Kunyuk mencari mas Agus ini hanya untuk memperingatkan atau melindungi mas Agus?”


“Tadi saya tidak tanya mbak, karena saya masih belum bisa berpikir jernih tentang apa yang dikatakan oleh Kunyuk”


“Yang saya tangkap dari omongan kunyuk adalah, Dia berusaha memperingatkan saya akan sesuatu yang mungkin akan terjadi pada saya dan mbak Tina”


“Tadi Kunyuk juga sempat bilang agar kita hati-hati apabila keluar dari rumah sakit ini, karena Mamad, Wandi dan Burhan sedang mencari kita”


“Mas… Tina heran, bagaimana Kunyuk tau wajah Tina?”


“Mbak Tina apa lupa siapa yang sedang bersama Kunyuk….”


“Yetno… ada Yetno disana kan mbak”


“Iya ya mas.. kan ada Yetno… di akan tau wajah Tina mas… “


“Berarti jual beli solar itu hanya untuk kedok saja ya mas…. sebenarnya apa yang sedang mereka jual itu mas?”


“Benar mbak,  solar itu hanya kedok mereka saja, karena apabila ada pihak yang berwajib menggerebek, mereka menunjukkan tentang pencurian solar saja dengan adanya pompa, slang dan tempat penampungan solar saja”


“Waduh… tadi saya kok tidak tanya Kunyuk tentang apa yang mereka jual belikan ya mbak…lagi pula Kunyuk kan juga tidak tau apa yang sedang diperdagangkan oleh bosnya”


“Tidak mungkin Kunyuk tidak tau mas, dia pasti tau, hanya saja dia masih rahasiakan kepada mas Agus saja…”


“Cerdas juga mereka mas…. jadi selama ini solar hanyalah sebagai kedok saja ya…


“Mbak Tina.. mbak Tina belum jelaskan kepada saya, bagaimana mbak Tina tau ada Kunyuk dan bahaya yang sedang mengancam saya tadi?”


Kuceritakan ke mas Agus tentang ketika aku beli pecel tadi pagi, kemudian waktu aku ada di  kamar pak Solikin.. kemudian ketika siang tadi aku sedang beli makan siang.


Semua ini sepertinya dicurahkan Tuhan… Sepertinya Tuhan memberikan dan menunjukan aku siapa saja dan apa saja yang sedang akan terjadi dengan aku dan mas Agus.


“Hmmm jadi mbak TIna selama disini itu jadi detektif ya heheheh…pantesan kok seneng sekali jalan-jalan ke sekitar rumah sakit”


“Ya tidak jadi detektif mas… Tina kan gini ini secara tidak sengaja saja, sepertinya Tuhan menunjukan kepada Tina tentang apa-apa yang sedang terjadi dengan kita”


“Mas.. sekarang yang mau Tina tanyakan…setelah mas Agus keluar dari sini, kita akan kemana dengan pak Wandi dan kawannya yang sedang memburu kita?”


“Tadi sih sekilas Kunyuk ingin memperkenalkan kita ke bosnya mbak… agar kita tidak diapa-apain oleh Mamad dan yang lainya”


“Tapi setelah saya pikir-pikir jelas bahaya juga kalau kita memihak bos mereka, jelas kita akan malah jadi ancaman bagi pak Wandi dan kawannya”


“Ok mas… masalah Kunyuk bisa kita kesampingkan dulu, karena kita harus berpikir tentang tempat tinggal… kita harus cari tempat yang paling aman mas”


“Untuk tempat tinggal yang aman menurut saya… ya di tempat yang mereka tidak mengira sebelumnya mbak”


“Maksudnya mas Agus gimana?”


“Gini lho mbak… karena kita ini ancaman bagi mereka, maka mereka akan mencari kita di tempat yang biasa digunakan untuk sembunyi….”


“Misalnya di rumah mbak Tina, atau di desa saya…. “


“Tempat seperti itu pasti sudah jadi incaran pencarian mereka”


“Berbeda apabila kita ada di tempat yang mereka tidak akan kira selama ini”


“Maksudnya mas Agus pasti di rumah penggergajian kan mas?”


“Iya mbak!”


“Ih nggak ah mas.. jelas bahaya kalau ada disana, lebih baik lapor polisi dulu saja, dan minta perlindungan dari polisi”


“Hehehe kalau kita lapor polisi itu kan harus ada bukti-bukti kejahatannya mbak… kita kan tidak tau apa yang mereka perdagangkan sebelumnya”


“Dan juga apa yang musti kita laporkan mbak?”


“Terus yang mau mas Agus lakukan apa, kita kan jelas tidak mungkin hanya tinggal di rumah penggergajian saja, kita juga perlu sesuatu yang bisa melindungi kita mas”


“Tenang saja mbak, disana ada Inggrid yang selalu berbau wangi… dia bisa melindungi kita…lagi pula saya penasaran dengan dia mbak”


“Waduh.. jangan campur adukan kasus dulu mas…yang utama dulu saja… nyawa mas Agus ini sedang terancam..soal mencari jasad Inggrid mungkin bisa dilakukan setelah semua ini selesai”


“Oh tentu saja tidak mbak… kita jangan mencampur adukan masalah, hanya saja apabila mbak Tina ingin lapor ke polisi, tentu saja butuh bukti kan?”


“Nah bukti itu bisa saja berasal dari paket yang mungkin masih akan dikirim ke sana lagi kan mbak”


“Berarti kita disana itu dalam keadaan yang sangat bahaya, karena pintu rahasia yang ada di dalam kamar Burhan masih terbuka… gitu mas?”


“Dan membiarkan mereka para penjahat keluar masuk dengan bebasnya ke rumah itu mas?”


“Iya mbak… itu resiko yang harus dilakukan”

__ADS_1


Aku heran sama mas Agus… kenapa harus lari dan sembunyi di rumah penggergajian, kenapa tidak ke tempat lain saja.


Di rumah penggergajian  itu penjahat dengan bebas bisa keluar masuk ke dalam kamar Burhan, yang tentu saja bisa keluar masuk ke seluruh rumah itu.


“Ok mas kita ke sana sesuai dengan yang mas Agus katakan…. tapi apa mas Agus sudah pikirkan apabila Wandi dan kawan-kawan datang ke sana…”


“KIta harus sembunyi ke mana mas?”


“Ada mbak… di sana ada tempat…”


“Dimana? bukanya mas Agus disana itu baru juga belum satu bulan… bagaimana mas Agus tau disana ada tempat untuk sembunyi?”


Aku mulai merasa kesal dengan mas Agus….


Dia mulai ngawur dan memaksakan kehendak, tanpa  memikirkan resikonya.


Memang ada benarnya… tempat bersembunyi yang paling aman adalah di tempat musuh sedang berkegiatan.


Tapi  apa nggak dipikir dulu, kita disana dalam kecemasan, tidak ada cahaya, tidak ada bahan makanan dan lain lain.


Belum lagi transport menuju kesana, melewati hutan yang bisa saja sebagai tempat bersembunyi bagi mereka yang mengincar mas Agus?


Ah sudahlah… ini sudah menjelang maghrib. lebih baik aku  sholat dan mencari ketenangan dulu.


“Mas…Tina mau ke mushola dulu. udah masuk  waktu maghrib ini mas”


“Iya mbak… saya juga mau berpikir tentang langkah selanjutnya apabila besok kita sudah keluar dari sini”


Musholla rumah sakit letaknya agak jauh dari kamar mas Agus, letaknya ada di dekat ruang administrasi rumah sakit.


Untuk kesana memang harus melewati kamar rawat inap, setelah itu belok ke kiri ke arah ruangan administrasi rumah sakit.


Tentu saja untuk ke sana aku akan melewati kamar pak Solikin.


Bukankah tadi aku belum bertemu dengan istri pak Solikin…


Aku jalan sendirian di selasar rumah sakit yang mulai sepi, karena waktu maghrib telah tiba.


Ketika kulewati kamar diman pak Solikin berada, aku sempatkan untuk mengintip, mumpung pintu kamar ruangan itu sedang terbuka sedikit.


Ah ternyata ada bu Solikin, keliatanya sedang ada dokter yang datang.


“Nanti setelah sholat aku akan ke sana”


Tapi nggak papa gantian, daripada tidak sama sekali kan.


Aku lanjutkan jalan kaki ke arah Mushola yang tidak jauh lagi..


Ternyata benar… mushola itu keadaanya penuh, bagian perempuan pun juga penuh.


*****


Aku berjalan tergesa gesa menuju ke kamar pak Solikin…


Tadi  aku habiskan waktu di mushola cukup lama, karena harus bergantian.


Ketika aku sampai didepan kamar pak Solikin, ternyata pintu kamar itu sedang tertutup.


Kubuka pelan-pelan pintu itu….


Ternyata istri pak Solikin sedang melihat ke arah pintu kamar… dan dia melihatku datang.


“Lho ada mbak Tina…..” kata bu Solikin kemudian berdiri dari tempat dia duduk.


“Permisi bu….”


Aku masih berdiri di ambang pintu, kemudian bu solikin berdiri dan menghampiri pintu kamar.


Kelihatannya dia mengajakku bicara di luar kamar, karena sedetik kemudian dia menggandeng tanganku dan menarik keluar kamar.


“Kita ngobrol disini saja mbak… soalnya tempat tidur sebelah suami saya  itu sakitnya keras dan butuh istirahat”


“Kemarin saja yang jaga marah-marah karena pembesuk yang berisik di sebelah dia”


“Gimana mbak Tina.. saya dapat kabar dari anak saya bahwa pak Agus jadi korban tabrak lari ya?”


“Iya bu… tapi sekarang sudah mendingan, mas Agus ada di kamar paling ujung sana hehehe”


“Bagaimana kabar pak Solikin bu?”


“Keadaan pak Solikin berangsur angsur membaik, dia sudah bisa mengingat semuanya”

__ADS_1


“Hanya saja ada yang menjadi pikiran saya mbak….”


“Tiap malam suami saya selalu mengigau, dia selalu sebut nama pak Wandi, Mamad dan Burhan”


“Saya bingung mbak… sebenarnya ada apa dengan mereka….”


“Bahkan suami saya juga mengigau kata ampun-ampun…. dia sepertinya sedang bermimpi sesuatu yang mengerikan mbak”


“Satu lagi ada nama Inggrid yang dia sempat sebutkan, saya tidak tau siapa Inggrid itu… tapi nanti setelah suami saya sudah agak baikan, akan saya tanyakan siapa Inggrid itu”


“Iya bu… saya sudah dengar dari mbak Santi anak ibu tentang pak Solikin yang mengigau itu… dan itu semua sepertinya ada kaitanya dengan rumah penggergajian”


“Oh iya… Santi dimana bu?”


“Anak saya pulang mbak, dia kan punya suami yang harus diurus… memangnya ada apa to kok cari Santi?”


“Jadi gini bu… pagi tadi anak ibu sempat cerita tentang keadaan ngigaunya pak solikin tentang kata ampun, kemudian juga ada kalimat jangan sakiti aku, kemudian ada lagi tentang kalimat aku tau apa yang sedang mereka jual”


“Tapi kata mbak Santi.. pak Solikin sempat mengatakan sesuatu lagi…”


 “Dan kata mbak Santi apa yang pak Solikin katakan itu sesuatu yang penting, hanya saja mbak Santi lupa bu”


“Hmm apa ya… coba saya ingat-ingatnya mbak… karena tentang igauan bapak itu ya hanya itu itu saja, tidak ada lainya”


“Kata mbak Santi ada lagi bu, dan katanya itu penting, coba ibu ingat ingat lagi….”


“Nanti saya akan berusaha ingat lagi mbak, tapi kemungkinan besar suami saya mengigau ketika yang jaga disini anak saya”


“Mungkin sebelum isya ini anak saya datang untuk menemani saya mbak… nanti setelah isya mbak Tina bisa ke sini lagi”


“Oh iya bu Solikin.. eehm apakah bu Solikin ada tempat untuk saya dan mas Agus sembunyi sementara ini?”


“Sembunyi dari apa memangnya mbak?” tanya bu Solikin keheranan


Kuceritakan apa yang terjadi dengan mas Agus, tentu saja tentang Kunyuk juga.


Bu Solikin tentu saja kaget dengan ceritaku, apalagi ada  keterlibatan Mamad dan pak Wandi, tentu saja dengan Burhan juga.


“Eh kenapa bisa seperti itu masalahnya mbak?...”


“Apakah suami saya mengigau itu karena mengetahui tentang masalah ini?”


“Itu yang Tina sedang bicarakan dengan bu Solikin, apakah yang diigaukan pak Solikin itu ada hubunganya dengan kegiatan aneh yang ada di rumah penggergajian?”


“Eh gini saja mbak Tina.. nanti malam setelah isya  kesini saja, mungkin anak saya punya informasi lagi tentang mimpinya suami saya”


“Iya bu, saya akan ke sini nanti setelah Isya”


Setelah berpamitan, aku berjalan balik ke arah kamar paling ujung..


Selasar rumah sakit ini memang sepi, tapi masih ada saja orang yang berkeliaran di sekitar kamar dengan nomor-nomor awal.


Beda dengan kamar yang ujung,... hampir tidak ada orang yang berjalan kesana kecuali suster yang memang datang untuk mengecek kondisi pasien.


Waktu antara maghrib dan isya ini adalah waktu yang pendek… apakah aku harus kembali ke kamar ujung.. atau aku keluar untuk beli makan malamku?”


“Ah lebih baik ke mas Agus dulu saja, siapa tau dia memerlukan bantuanku untuk ke kamar mandi”


Sebenarnya aku agak takut juga apabila harus berjalan di lorong yang sepi dengan penerangan lampu yang tidak terlalu terang.


Tapi mau gimana lagi, memang keadaan disini seperti ini.


*****


“Dari  mana saja mbak..katanya tadi hanya sholat maghrib saja” tanya ma Agus


“Musholanya kecil, dan antri mas. gantian sholatnya. makanya agak lama”


“Lho … pasien yang ada di sebelah ini mana mas… kok mas Agus sendirian disini?”


“Tadi tiba-tiba dia mengalami sesak nafas dan kesakitan… kemudian tidak tau dibawa kemana, kelihatannya ke UGD mbak”


“Tadi memangnya mbak Tina nggak ketemu?”


“Nggak mas.. wong jalan di selasar rumah sakit ini sepi dan agak creepy gitu mas hihihih”


“Tadi saya agak takut juga sama orang sebelah ini, dia teriak kesakitan dan bilang nafasnya sesak”


“Kemudian ketika yang jaga memencet bel untuk memanggil suster, orang yang di sebelah itu tiba-tiba terdiam”


“Ih ngeri juga mas… untung tadi Tina tidak ada disini mas…”

__ADS_1


“Kalau orang itu tidak ada disini… berarti kita disini berdua lagi dong mas heheheh”


“Ngawur ae mbak Tina ini…. gimana kalau tiba-tiba orang sebelah ini meninggal di tempat tidur itu hehehe”


__ADS_2