
Arwah laki-laki tua itu tetap ada di ambang pintu ketika aku lewat untuk keluar dari kamar nomor sepuluh ini.
Aku bingung apakah aku harus lapor ke ruangan suster jaga kalau ada yang barusan meninggal tetapi tidak diketahui oleh keluarganya, atau aku diam saja hingga ada yang mengetahui bahwa orang tua itu sudah meninggal.
“Ayo kita pergi dari sini” ajak pak Paijo
“Wajahmu kok berubah mbak… ada apa?” tanya mas Agus
“Nggak papa mas Tina cuma kelelahan saja”
Tapi aku harus tetap beritahu suster, kasihan juga arwah orang tua itu masih menunggu keluarganya yang belum mengetahui kalau dia sudah meninggal.
Kebetulan di depan ada suster yang sedang berjalan ke arah sini.
Tanpa pamit kepada mas AGus dan pak Paijo… aku lari menghampiri suster yang sedang jalan menuju ke arahku.
“Suster…. saya bisa minta tolong?”
“Iya… ada yang bisa saya bantu bu?” tanya suster itu dengan tersenyum”
“Eh sus…tolong sekarang juga periksa pasien yang ada di kamar nomor sepuluh, eh tempat tidurnya ada di nomor dua dari pintu masuk”
“Memangnya ada apa bu?”
“Saya tidak bisa ngomong sus… sekarang juga suster kesana saja…kasihan keluarganya sus”
Pak Paijo dan mas Agus menghampiri aku yang sedang bicara dengan suster.
“Ada apa mbak Tina…?”tanya mas Agus
“Anu mas… tadi Tina minta tolong ke suster itu untuk memeriksa pasien yang ada di kamar sepuluh”
“Memangnya ada apa dengan pasien itu mbak?”
“Saya tidak tau mas…pokoknya ada yang nggak semestinya, makanya tadi Tina minta tolong suster itu untuk memeriksa pasien itu mas”
“Ya sudah mbak Tina… ayo sekarang kita segera pergi dari sini saja…ingat kita diburu waktu ini” kata pak Paijo
Kami sedikit berlari menuju ke tempat parkir dimana Pak Paijo memarkir mobilnya.
Siang ini tepat pukul 14.00 mobil pak Joko melesat menuju ke arah desa.
“Pak Paijo.. apakah saat ini disana ada anak buah bapak?”
“Anak buah saya sudah saya siagakan disana dari jam 13.00 tadi, setelah kami dapat kabar tentang mereka yang akan menangkap pak Agus lagi”
“Begini pak.. apakah tidak sebaiknya kita masuk ke desa itu lewat desa sebelah sungai saja?”
“Jangan mbak Tina… disana kan ada rumah WIto dan Solikin… mana kita tau mereka ada di rumah sana, lagi pula kita bakal jadi pusat perhatian karena ada mobil polisi yang masuk ke desa itu”
“Iya sih mas… bener mas Agus, memang bahaya kalau lewat desa sebelah sungai itu”
“Begini pak Agus dan bu Tina… untuk tidak menarik perhatian…nanti agak jauh dari belokan yang menuju ke hutan kalian berdua saya turunkan…”
“Nanti kalian saya beri jaket yang bagian belakangnya ada tulisan POLISI, gunakan jaket itu, agar seolah-olah kalian berdua ini petugas yang sedang patroli di daerah itu”
“Setelah itu kalian berdua akan naik motor untuk menuju ke rumah penggergajian”
“Jadi mulai tadi pukul satu siang , saya perintahkan anak buah saya untuk mondar mandir di sekitar wilayah hutan itu, Hal itu agar orang yang berniat jahat tau bahwa pihak kepolisian sedang memeriksa dan patroli di kawasan itu”
“Wah ide bagus pak… tapi nanti ketika kami ada di rumah penggergajian, apakah masih ada anggota bapak yang patroli?”
“Tentu saja pak Agus..bahkan nanti saya taruh satu sepeda motor dengan nomor polisi kesatuan kami, agar tidak ada yang berani masuk ke rumah itu”
“Tapi tolong kalian berdua jangan sampai melepas jaket yang saya pinjamkan itu, dan usahakan rambut mbak Tina disembunyikan di dalam topi yang nanti akan kami pinjami juga”
Terus terang tegang juga perjalanan menuju ke desa dan ke rumah penggergajian.
Berkali kali pak Paijo melirik kaca spion untuk memastikan tidak ada yang mengikuti kami dari belakang.
Beberapa kali pak paijo menghubungi anggotanya agar siap karena sebentar lagi kami masuk ke jalan desa.
Ketika mobil sudah masuk jalan desa, pak Paijo menuju ke sebuah toko serba ada yang letaknya tidak jauh dari rumah aku.
Mobil diberhentikan di pinggir jalan.
“kalian tunggu saja, jangan turun karena saya hanya mau ambil jaket dan topi yang ada di bagasi mobil”
“Mas… Tina ndredeg mas…”
“Saya juga mbak.. tapi tenang saja mbak, karena kita ada di tangan petugas kepolisian”
“Iya mas….tadi Tina sempat tenang, tetapi semakin dekat dengan rumah penggergajian tidak tau kenapa, Tina rasanya semakin ndredeg saja mas”
__ADS_1
Pintu mobil dibuka pak Paijo, kemudian pak Paijo memberikan kami jaket hitam dan topi yang biasa digunakan anggota kepolisian..kalau sedang dalam pengejaran penjahat.
“Kalian pakek jaket dan topi ini… sebentar lagi ada dua anggota saya datang kesini, nanti kalian berdua naik motor menuju ke rumah penggergajian”
“Eh pak…bicara tentang motor… motor Tina masih ada di parkiran rumah sakit pak”
“Oh gitu.. nopolnya berapa dan kuncinya mana, nanti agar diamankan oleh petugas keamanan rumah sakit”
*****
Setelah sampai di rumah penggergajian..
Setelah perjalan menggunakan motor menuju ke rumah penggergajian yang sama sekali tidak ada kendala, aku merasa seakan akan aku sedang ada di alam yang berbeda.
Dua orang petugas kepolisian yang mengantar kami sudah kembali melakukan tugasnya.
Satu buah motor mereka taruh disini, mungkin agar orang yang berniat jahat akan tau bahwa yang di dalam rumah ini adalah petugas kepolisian.
Aku benar-benar merasa bahwa aku sedang ada di alam yang berbeda.
Kenapa aku bilang aku sedang di alam yang berbeda, karena sejauh mata memandang ke pepohonan.. yang aku lihat adalah makhluk yang beraneka macam bentuknya.
Tetapi untungnya mereka tidak berani mendekati aku…mereka lari menjauh apabila aku melihat ke arah mereka.
Dari tadi aku sedang mencari arwah yang berbentuk manusia dengan pakaian ala pendekar jaman dulu… tetapi sama sekali tidak nampak.
Ini baru siang hari menjelang sore… aku tidak bisa membayangkan nanti malam, apa yang akan terjadi dengan nanti malam hehehe.
Tadi sebelum kami masuk ke dalam rumah. mas Agus dan petugas kepolisian sedang memeriksa gembok yang ada di sekitar rumah ini.
Dan ternyata gembok pintu halaman, gembok pintu rumah dan gembok gerbang belakang tidak ada semua.
Tapi memang para petugas itu sengaja memeriksa gembok, karena mereka akan mengganti gembok-gembok itu dengan gembok baru yang mereka bawa atas perintah dari pak Paijo.
Jadi rumah ini sekarang menggunakan gembok baru dengan harapan aman dari orang-orang yang berniat jahat di rumah ini.
“Mas.. kita tidur di kamar mana?”
“Di kamar depan saja mbak… tapi sebelumnya pintu rahasia yang ada di kamar Mamad kita tutup dengan menggunakan lemari besar”
“Saya tidak mau mengambil resiko dengan munculnya orang pada malam nanti mbak”
“Iya mas… Ayo kita kerjakan sekarang saja mas.. sekalian kita siapkan lampu petromak dan lampu minyaknya”
“Benar mas…lantai rumah ini juga kotor.. dan banyak abu rokok di ruang tamu. biar Tina bersihkan dulu mas, mumpung hari belum gelap”
“Mas Agus sekarang siapkan lampu petromak dan lampu minyaknya mas”
Aku dari tadi merasa ada sesuatu yang sedang berusaha mendekatiku ketika aku masuk ke dalam rumah.
Tapi hingga sekarang aku belum bisa melihat atau merasakan kehadiran sesuatu yang sedang berusaha mendekatiku.
Tapi aku yakin yang berusaha mendekatiku ini adalah si Inggrid, tetapi entah kenapa dia kelihatan masih menjaga jarak denganku.
“Mbak Tina, tolong bantu saya menggeser lemari kamar Mamad dulu”
Aku yang sedang menyapu ruang tamu dan sedang berusaha meraba energi yang berusaha mendekatiku pun akhirnya terpecah dengan membantu mas Agus menggeser lemari yang ada di dalam kamar Mamad.
Nggak papa, mungkin nanti malam sesuatu itu akan berani mendekati aku setelah mempelajari diriku dengan lebih lanjut.
Hari semakin sore, sinar matahari sudah semakin berkurang, karena rimbunnya pepohonan yang ada di sekitar sini.
“Mas… sebentar lagi maghrib… pintu-pintu lebih baik digembok dulu saja mas”
“Iya mbak…saya juga semakin deg deg an mbak”
“Tenang mas.. pasti ada bantuan kalau kita dalam keadaan darurat”
Hari semakin gelap…berbagai bentuk demit mulai makin berani menunjukan kekuatanya… mereka semakin berani menampakan diri meskipun mereka belum berani masuk ke rumah ini.
Termasuk sosok yang dari tadi berusaha mendekati aku.. sekarang aku semakin bisa merasakan kehadiran dirinya di sekitar sini meskipun sampai detik ini aku belum bisa menebak siapa itu
Tepat ketika samar-samar aku mendengar adzan maghrib, tiba-tiba di sebelahku muncul sesosok perempuan tionghoa .. sosok cantik berambut hitam.
Dia berusaha berkomunikasi denganku.
Kulirik mas Agus sedang membetulkan lampu minyak yang ada di kamar..
“Kamu pasti Inggrid ya, nama saya Tina” aku mencoba berkomunikasi dengan cara membatin
Perempuan tionghoa itu tersenyum cantik, kemudian dia mengangguk pelan, tapi aku masih belum bisa merasakan dia bicara, kemungkinan dia sedang mencoba berbagai cara untuk bisa berkomunikasi denganku
Tetapi dengan dia tersenyum aku bisa tau kalau dia benar-benar bernama Inggrid.
__ADS_1
“Inggrid, kenapa kamu tidak menampakan diri di depan mas Agus?”
Perempuan itu menatap aku sambil menggeleng…..
“Ya sudahlah Inggrid jangan dipaksakan untuk berusaha berkomunikasi dengan TIna dulu, hemat dulu tenagamu hingga kamu bisa menembus Tina”
Inggrid mangangguk dengan penuh keyakinan kemudian dia pergi entah kemana.
*****
“Mas… hari sudah malam… kita juga sudah makan malam seadanya”
“Ternyata persediaan mie instan dan telor disini masih ada ya mas hehehe”
“Iya mbak.. itu kan dulu saya belanja di warung bu Tugiyem”
“Mas…lebih baik mas Agus tidur dulu saja mas”
“Nanti saja mbak… saya belum ngantuk… saya tidak bisa ngantuk mbak.. saya kepikiran posisi kita yang ada disini”
“Tenang saja mas, bukankah anak buah pak Paijo ada di sekitar hutan ini”
“Eh iya mas….. yang namanya Inggrid mana mas?”
“Entah mbak.. dari tadi saya belum mencium aroma bunga minyak wangi Inggrid, biasanya kalau dia akan kesini diawali dengan bau wangi bunga yang merupakan minyak wangi dia semasa dia hidup”
Aku dari tadi selalu menghindari melihat ke arah jendela. karena diluar sana banyak sekali mahluk aneh yang berusaha melihat kami berdua didalam rumah.
Tapi biar bagaimanapun juga, mereka tidak bisa masuk ke dalam rumah, seolah olah ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk masuk ke sini.
Apakah yang menghalangi itu juga menghalangi Inggrid untuk berkomunikasi dengan ku?
Tapi apakah perubahan pada diriku ini karena memang di dalam diriku sudah ada sesuatu yang merupakan ilmu turun temurun?”
Apakah yang dijelaskan pak Pangat itu ada benarnya?”
Aku dan mas Agus masih bertahan di ruang tamu, sesekali mas Agus memeriksa minyak tanah yang ada di dalam tangki lampu petromak.
Ketika mas Agus sibuk dengan lampu lampunya, sedangkan aku sibuk dengan berusaha tidak melihat ke arah luar, karena yang ada di jendela rumah makin malam jumlahnya makin banyak.
Nggak tau kenapa tiba-tiba tubuhku bergetar.. getaran tubuhku ini sempat dilihat mas Agus yang sekarang sedang duduk di depanku.
“Mbak Tina sedang sakit?... itu kenapa tubuhnya bergetar begitu?”
“Tidak tau mas…tiba-tiba tubuh Tina meriang, apa mungkin karena beberapa hari ini sangat kurang tidur mas”
“Iya mbak.. bisa saja begitu… tapi disini kan sepi, setidaknya mbak TIna bisa istirahat disini”
“I..iya mas… Tina kira kita sudah saatnya tidur mas…
“Di dalam kamar sudah ada dua kasur mbak.. mbak Tina bisa tidur di atas, saya tidur di kasur bekasnya Burhan saja”
Tiap aku melihat keluar… makin banyak saja makhluk aneh bertubuh ganjil yang melihat ke dalam, dengan makin banyaknya itu tubuhku semakin lama semakin bergetar aneh.
Apakah karena makhluk yang ada di luar itu berusaha masuk ke dalam tubuhku? dan sedangkan tubuhku sekarang mungkin punya energi pertahanan?
*****
Akhirnya kami berdua masuk ke dalam kamar, ketika aku ada di dalam kamar yang ber penerangan lampu minyak ini, getaran tubuhku perlahan lahan semakin berkurang.
Hingga tidak lama kemudian aku mulai mengantuk, sedangkan mas Agus entah sedang apa di kasur yang diletakkan di lantai kamar.
Semakin lama.. aku semakin mengantuk, dan akhirnya aku tertidur…
Tapi aku tidak bisa pulas tidur… mirip dengan tidur… tapi masih bisa merasakan dan mendengar sesuatu…
Entah berapa lama aku tertidur, karena tiba-tiba ada yang membangunkan aku … ada yang menyentuh kakiku dan menariknya agar aku terbangun.
“Heh apa sih mas Agus… Tina kan belum lama tidurnya” sambil kubuka mataku
Tapi anehnya aku tidak berada di kamar mas Agus… aku ada di sebuah ruangan yang terbuat dari gedek atau anyaman bambu.
Penerangan kamar ini tetap menggunakan lampu minyak yang ada di dinding kamar.
Tidak ada siapapun di dalam kamar ini, tidak ada orang yang tadi sempat menarik kakiku, aku sendirian di sebuah tempat tidur atau amben yang beralaskan tikar.
Kemudian aku duduk di tempat amben yang terbuat dari kayu dan bambu…
Aku tidak takut sama sekali dengan keadaan ini, karena sebelumnya aku pernah bermimpi seperti ini juga waktu aku ada di rumah sendirian.
Tapi mimpi itu hanya sampai ketika aku duduk di amben ini, karena setelah itu aku terbangun.
Tetapi mimpi yang ini lain.. meskipun aku sudah duduk di amben.. aku belum juga terbangun dari mimpi.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu kamar yang juga terbuat dari gedek atau anyaman bambu itu terbuka…