
“Iya pak Jay… itu bulu kumis dan jenggot… dan saya yakin itu milik Solikan.. Karena Solikin sama sekali tidak berjanggut dan tidak berkumis selama ini” kata pak Diran menyelesaikan ceritanya
Aku, pak Diran, pak Hendrik sudah berkumpul lagi sore hari ini di hotel tempat kami menginap, pak Jay, mbak Tina dan Jiang mendengarkan penjelasan dari pak Diran tentang apa yang kami temukan di alamat rumah yang katanya alamat dari watuadem.
“Sebentar… saya agak bingung ini” kata pak Jay menyela omongan pak Diran tentang bulu kumis dan jenggot yang kami temukan di tempat sampah rumah kontrakan orang yang mengaku bernama Watuadem itu.
“Sebentar.. Biarkan saya mengambil kesimpulan dulu… ehm jadi si Watuadem itu sebenarnya adalah Solikin yang menyamar?” tanya pak Jay
“Benar pak” jawab pak Diran
“Dia adalah Solikin yang menyamar menggunakan janggut dan kumis palsu… gitu pak Diran?” tanya pak Jay lagi
“Iya benar pak” jawab pak Diran
“Jadi Watuadem itu adalah solikin yang menyamar menggunakan jenggot dan kumis palsu yang sangat menyerupai Solikan yang kemungkinan besar saudara kembar Solikin?.... Begitu pak Diran?” tanya pak Jay
“Dimana si Solikan yang bekerja sebagai takmir masjid itu cukup disegani di wilayah itu?” tanya pak Jay lagi
“Sekali lagi benar pak Jay”
“Kemudian menurut analisa kalian, yang ditangkap oleh Burhan itu adalah Solikan yang mencukur jenggot dan kumisnya hingga menyerupai Solikin atas suruhan Solikin?”
“Iya pak Jay…. itu analisa kami pak” kata pak Diran
“Jadi selama ini… selama ada kabar Solikin ditangkap polisi karena kasus jual beli narkoba itu sebenarnya faktanya adalah Solikin masih bebas merdeka, dan yang ditangkap adalah si Solikan saudara dari Solikin?”
“Lalu motifnya apa… kenapa kok mau maunya Solikan ditangkap polisi atas kesalahan Solikin?”
“Itu yang kami belum tau pak…” jawab pak Diran
__ADS_1
“Jadi selama ini… selama dua tahun ini yang bernama Watuadem itu adalah Solikin sendiri. Dan dia memakai jenggot dan kumis palsu….. “ gumam pak Jay
“Lalu tujuan dari Solikin seperti itu apa?...”
“Dan tadi kata kalian, dia juga mengoleksi foto gadis yang kata kalian adalah makhluk ghaib yang ada di sana?”
“Iya pak Jay…dan yang pernah bertemu adalah bu Tina dan pak Agus.. dia adalah setan penguasa seberang sungai yang ingin menguasai wilayah hutan yang sekarang ada hotel Singgasana Adem Ayem pak” jawab pak Diran.
“Yang cukup aneh… harusnya pak Burhan itu mengenal baik ciri-ciri tubuh Solikin….bukanya pak Burhan juga pernah kerja bersama Solikin dan pak Jay juga?” sela mbak Tina tiba-tiba
“Kalau saya sih mbak TIna, saya hanya tau Burhan sekilas saja, sebagai karyawan yang melamar pekerjaan ditempat saya.. Saya tidak mengira kalau dia itu adalah polisi yang menyamar untuk membongkar kasus penjualan narkoba” jawab pak Jay
“Yang aneh lagi ketika Solikan yang ditangkap polisi, seharusnya pihak polisi sudah mengadakan pemeriksaan dengan ratusan pertanyaan…. Lalu apakah si Solikan ini bisa menjawab secara detail pertanyaan polisi itu?” kata mbak Tina
“Ini yang masih saya pikir mbak Tina, karena kalau keterlibatan Solikan itu hanya sebatas menjadi peran pengganti Solikin, tentu saja sangat tidak adil, tetapi seandainya malah yang sangat terlibat itu adalah Solikan sendiri itu yang menjadi sebuah pertanyaan besar….” kata pak Jay
“Koh Jay… gua orang luar yang ndak tau sejarah yang ada ndek sana, tetapi menurut pendapat gua, antara solikan dan Solikin itu punya tujuan yang berbeda Koh” kata pak Hendrik
“Kemudian Solikin yang kerja ambek lu koh. Pasti juga sudah lama juga kan kerja ambek lu Koh….tujuan Solikin kerja embek lu awale kan cuma cari kerja buat ngasilno uang aja kan Koh?”
“Mereka berdua asale dari desa yang ndek sana itu kan.. Teros mereka pisah, satune ndek kota S jadi takmir masjid, sing satune jadi tukan kayu ndek penggergajian lu”
“Kemudian entah kenapa Solikin ngenalno temene yang namae Watuadem untuk jadi paranormal lu, dan lu wis pakek jasane selama dua taun ini kan Koh?”
“Sing mau tak tanyakno… awale gimana kok tiba-tiba lu butuh paranormal… jawaben sik Koh, ntik kita bahas lagi masalah laine” kata pak Hendrik dengan bahasa sesamanya
“Gua waktu itu nek ndak salah butuh orang pinter buat ngusir arwah gentayangan sing manggon ndek rumahku. Waktu itu aku tanya ke Solikin, terus solikin mintak nomor hpku, katae ada temene deke yang kerjae sebagai paranormal” jawab pak Jay
“Besoke aku ditelpon sama orang sing ngakune bernama Watuadem… lha mulai itu aku deket sama yang namae Watuadem sing brewokan dan kumisan” kata pak Jay
__ADS_1
“Ya wis Koh… jadi lu kenal Watuadem dari solikin kan, dan nyatane Watuadem itu Solikin dewek….yang nyamar pakek kumis dan jenggot palsu”
“Sekarang kasus narkoba sing ada ndek sini… dan ternyata menurut pengamatan selama ini, itu bisnise Solikin dewek kan?” tanya pak Hendrik
“Bukan cuma Solikin dewek Koh Hendrik, ada anak buahku laine yang juga bisnis gituan, namae pak Wandi yang bawa mas Agus ke sini” kata pak Jay
“Ya wis Koh Jay.. pokoke…intine itu ada dua orang kembar yang saling kerjasama untuk melakukan sesuatu yang menguntungkan dan beresiko dan ilegal ndek sini..” kata pak Hendrik
“Yang satue urusan narkoba, dan yang satue urusan dengan dunia ghaib, dan mereka berdua kerja sama” kata pak Hendrik
“Lho pak… kok bapak bisa yakin kalau Solikan itu yang berurusan dengan narkoba, bukanya Solikin?” aku mulai gak paham dengan jalan pikiran pak Hendrik
“Solikan yang menjalankan usaha haram selama ini di rumah kontrakan itu, sedangkan Solikin yang melindungi dengan cara ghaib, dan dia bekerjasama dengan setan yang ada di seberang sungai untuk minta demit penjaga… agar tempat itu aman dari orang-orang luar yang berusaha masuk.”
“Tadi kotak hitam yang ada kertas bertuliskan Singgasana Watu Adem… ada banyak setan bau busuk yang asalnya dari seberang sungai, dan tadi saya bersama dengan pak Diran sudah berhasil membakar semuanya”
“Tapi sebelum mereka kami bakar, pak Diran sempat menanyakan siapa dan apa yang mereka lakukan di hotel Singgasana Adem Ayem”
“Jawaban demit itu mereka sudah lama ada disana, mereka sudah lama disewa Solikin kepada atasan mereka yang bernama Inggrid untuk melindungi pekerjaan Solikan”
“Dan menurut info dari demit itu, tempat ritual Solikin ada di rumahnya yang ada di desa itu”
“Tentang keterlibatan Solikan itu kan baru analisa saya saja, untuk agar kita lebih yakin, mungkin bisa hubungi polisi yang menangkapnya saja… yang bernama Burhan ya kalau tidak salah”
“Oh iya satu lagi analisa saya…. Keduanya baik Solikin maupun Solikan, tidak ada yang memiliki janggut asli dan kumis asli.. Mereka berdua menggunakan jenggot dan kumis palsu…”
“Saya bisa lihat dari bulu kumis dan bulu jenggot yang dibuang ke tempat sampah yang ada di rumah kontrakan Solikan.. Saya lihat ada semacam lem perekat di tiap helai bulu yang dibuang itu”
“Tapi ingat, itu hanya prediksi saya saja, untuk kebenaranya bisa cek ke pak polisi dan rumah Solikin” kata pak Hendrik mengakhiri opininya
__ADS_1
Masalah ini sudah semakin mendekati akhir, dan sekarang tinggal mencari informasi dari polisi dan dari rumah Solikin sendiri untuk membakar demit yang ada di hotel Singgasana Adem Ayem.
Tapi tentang opini pak Hendrik, aku kok merasa janggal tentang Solikin dan Solikan yang bekerja sama di sana, karena aku selama ini hanya melihat satu orang Solikin saja disana.