
“Sudah saya lakukan untuk kirim pesan pendek ke pak Jay” bisikku kepada pada Diran
“Sekarang kamu ke ruang utama, biarkan saya ada disini hingga pak Jay datang, dan jangan ada yang ke kamar nomor sepuluh bahkan untuk mengantar sarapan sekalipun” jawab pak Diran dengan suara lirih dan wajah tetap menunduk
Aku sampai sekarang masih belum bisa menebak ada apa di kamar nomor sepuluh itu…tebakanku hanya mungkin pak owo sedang mempraktekan sebuah ilmu di dalam kamar itu.
Atau jangan-jangan penghuni kamar itu sudah tidak bernyawa semua hiiii.
Kamar nomor sepuluh itu letaknya di seberang pohon beringin, dan seharusnya tidak begitu mengerikan, berbeda dengan kamar nomor sembilan yang bersebelahan dengan pohon beringin.
“Apa yang terjadi sebenarnya mas?” tanya mbak Tina
“Saya nggak tau mbak, pak Diran hanya berpesan agar jangan ganggu penghuni kamar sepuluh meskipun hanya mengirim mereka makanan”
“Dan pak Diran akan ada di taman belakang hingga pak Jay datang”
“Yang saya lihat dari sini, penghuni kamar sepuluh sudah tidak bernyawa pak Agus” timpal Jiang tiba-tiba
“Ah yang bener Jiang” kata mbak Tina kaget
“Itu yang bisa saya rasakan dari sini bu Tina… penghuni kamar sepuluh sudah tidak bernyawa semua… dan saya tidak tau kenapa dan apa yang menyebabkannya” jawab Jiang
“Mungkin pak Diran merasa kecolongan dengan kematian itu, sehingga dia sama sekali tidak mau beranjak dari sana dan tetap menunggu di taman hingga pak Jay datang” kata mbak Tina
Waktu pun bergulir hingga adzan subuh bergema, pak Diran tetap ada di taman tengan, sementara itu Jiang membukakan pintu pagar bagi catering yang datang untuk mengantar sarapan pagi.
Aku dan mbak Tina tetap ada di ruang tengah, siapa tau pak Diran membutuhkan bantuanku.
Tiba-tiba ponsel satelit berbunyi…..
“Mas… itu pak Jay telepon!”
“Ya mbak….”
Kuambil ponsel satelit merek Ericsson R190 satelite yang antenanya gede dan panjang itu, sebuah ponsel yang biasanya digunakan bagi para pelaut dan orang yang melakukan kegiatan di gunung, dimana di laut dan di hutan atau gunung belum tercover BTS.
“Selamat pagi pak Jay”
“Ada apa disna mas Agus?” tanya pak Jay melalui sambungan telepon
“Saya tidak tau apa yang terjadi pak, yang pasti pak Diran menyuruh saya untuk menelpon bapak agar segera dan sepagi mungkin datang kesini”
“Ok mas Agus… ini saya akan berangkat, saya sedang menunggu supir datang, mungkin sekitar dua jam lagi saya sampai disana”
Pak Jay belum berangkat ternyata…lha kalau seumpama yang ada di dalam kamar sepuluh itu memang sudah tidak bernyawa, kan butuh waktu lagi untuk membawa jasad yang ada disana ke rumah sakit terdekat.
Apakah aku harus menelpon dokter Joko untuk menyiapkan ambulance?
“Mbak Tina, apa perlu saya telepon rumah sakit kota agar dokter joko menyiapkan ambulance?”
“Jangan dulu mas…. Sesuai dengan yang dikatakan pak Diran saja mas, kita kan juga belum tau yang ada di dalam sana sudah tidak bernyawa dan bagaimana keadaanya kan mas”
Seperti biasa aku dan Jiang dibantu oleh mbak Tina menyiapkan sarapan bagi tamu hotel yang pagi ini masih belum ada yang keluar dari kamarnya. Dan pak Diran masih ada dan masih duduk di bangku tengah taman.
Selesai dengan urusan menyiapkan sarapan pagi…aku menjuku ke depan, ke parkiran untuk menunggu pak Jay datang.
Matahari sudah muncul dan waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi ketika sebuah sedan mewah berwarna hitam memasuki parkiran hotel dengan tergesa gesa.
Dan itu adalah mobil pak Jay….!
“Dimana pak Diran mas… antar saya ke pak Diran….” kata pak Jay yang hanya memakai kaos berkerah dan celana panjang model trainning itu
Tanpa banyak bicara ku antar pak Jay menuju ke taman belakang hotel, dimana disana pak Diran masih duduk dan selalu memandang ke arah kamar nomor sepuluh.
Beberapa penghuni kamar sudah keluar setelah mereka melakukan sarapan pagi, ada yang hanya di depan kamar, ada juga yang menuju ke pasir pantai pinggir sungai.
__ADS_1
“Apa yang terjadi pak Diran?” tanya pak Jay yang berdiri di samping pak Diran
“Duduk dulu sini pak Jay, agar tamu yang lainya tidak panik dengan kedatangan bapak” kata pak jay
“Huufff.. Saya kecolongan pak Jay…penghuni kamar nomor sepuluh… bapak, ibu dan seorang anak, kemungkinan besar sudah tidak bernyawa… mereka melakukan bunuh diri pak”
“Dan saya harap pak Jay menyetop untuk sementara tamu yang akan ke sini untuk siang hari ini, cancel mereka hingga semua urusan selesai pak. Dan lakukan dngan tidak panik dan santai. Agar nama baik hotel ini tidak menjadi jelek”
“Bagaimana pak Diran tau apa yang terjadi di kamar itu, sedangkan pak Diran sama sekali tidak masuk ke dalamnya?”
“Nanti saja saya jelaskan pak… sekarang pak Jay stop dan cancel dulu tamu yang akan menginap disini selanjutnya”
“Baik … akan saya hubungi Robert untuk cancel tamu yang akan kesini dengan alasan ada perbaikan yang harus dilakukan “
Pak Jay buru-buru masuk ke ruang utama, disana ada mbak Tina yang sudah siap di meja resepsionis.
Kemudian pak Jay menghubungi temanya yang bernama Robert untuk mengcancel tamu yang akan menginap disini… sayangnya aku nggak dengar apa yang mereka berdua bicarakan, karena mereka berbicara dengan berbisik.
Setelah menelpon kawanya, pak Jay kembali menuju ke tempat pak Diran berada.
“Pak Diran… bagaimana bapak tau keadaan tamu yang ada di kamar nomor sepuluh itu?” tanya pak Jay
“Maaf pak Jay… saya tidak pernah bercerita kepada bapak siapa saya…. Saya selain security saya juga mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan hal ghaib”
“Dan terus terang pak, disini khususnya di sungai dan di seberang sungai itu sangat berbahaya”
“Untungnya di hotel dan tengah hutan ini aman, karena ada semacam pagar ghaib yang berasal dari leluhur bu Tina… pak Jay tepat sekali dengan mempekerjakan bu Tina, pak Agus, Jiang dan pak Cheng yang masih pulang kampung”
“Karena mereka-mereka ini melindungi hotel ini dari hal ghaib yang berusaha menyerang dan merusak” lanjut pak Diran
“Dan untuk penghuni kamar sepuluh itu…..Saya tau mereka sudah tidak bernyawa ketika saya dan pak Agus memeriksa bagian belakang hotel untuk yang kedua kalinya”
“Ketika saya lihat kamar itu, di atas atap kamar ada roh mereka yang menuju ke atas… saya tidak tau itu roh atau jin pendamping mereka”
“Yang pasti dengan adanya roh yang berangkat ke atas, kemungkinan besar yang ada di dalam itu sudah tidak bernyawa”
“Ah masak seperti itu pak Diran… kata teman saya Watuadem disini aman aman saja” jawab pak Jay
“Hmm kalau begitu telepon teman bapak sekarang dan suruh dia datang kesini agar dia bisa menerangkan apa yang sedang terjadi disini, sekalian agar dia melihat apa yang terjadi disini” kata pak Diran
“Mas Agus… tolong ambilkan ponsel satelitnya, saya mau hubungi watuadem dulu agar dia datang ke sini”
Kemudian pak Diran menceritakan apa yang aku, pak Diran dan mbak Tina temukan di pinggir sungai, ketika kami bertiga bertemu dengan pak owo ketika pak Owo yang sudah tua itu sedang menyalakan dupa di pinggir sungai.
Dari pagi hingga siang pukul dua belas.. Satu persatu tamu yang ada disini melakukan checkout… hingga jam dua belas semua tamu sudah keluar semua. Kecuali tentunya kamar nomor sepuluh yang masih tertutup rapat
Aku dan Jiang bertugas merapikan kamar yang ditinggal tamu yang sudah checkout itu.
Dan untungnya setelah jam satu siang tidak ada tamu yang datang kesini, sesuai dengan yang tadi pakk Jay katakan kepada pak Robert untuk mengcancel tamu yang akan menginap disini.
Keadaan hotel ini sepi sunyi.. Kamar yang kosong sengaja aku buka saja pintunya, agar udara yang ada di dalam kamar bisa berganti dengan udara hutan.
“Bagaimana pak Jay.. apa kita buka saja kamar nomor sepuluh itu?” tanya pak Diran
“Tunggu pak.. Teman saya yang bertanggung jawab untuk masalah ghaib sebentar lagi akan datang ke sini”
“Apa tidak terlalu lama pak Jay… mayat yang ada di dalam kamar itu keburu membusuk”
“Ya sudah terserah pak Diran saja… tetapi ingat jangan meninggalkan sidik jari di kamar itu!” kata pak Jay
Mbak Tina yang dari tadi juga ada di taman belakang dan sudah menyiapkan kunci master kemudian memberikan master kunci itu kepada pak Diran.
“Mari kita lihat apa yang ada di kamar nomor sepuluh itu pak Jay… saya tidak mau kalau saya sendiri yang menjadi saksi atas apa yang ada di kamar itu pak” kata pak Diran
Akhirnya setelah pintu gerbang depan hotel dikunci dan pintu ruang utama juga dikunci oleh Jiang, kami berlima menuju ke kamar nomor sepuluh…
__ADS_1
Di depan kamar nomor sepuluh ini memang sudah agak tercium bau anyir dan bau busuk, bau anyir itu bisa saja dari darah mereka yang tercecer di lantai kamar.
Pak Diran dengan disaksikan kami berempat kemudian menggesekan kartu master untuk membuka pintu kamar nomor sepuluh
Ketika pintu kamar itu terbuka…bau busuk dan bau anyir menyeruak keluar kamar.
Aliran darah kental keluar dari pintu yang sedang terbuka…. Ternyata lantai kamar itu sudah dipenuhi oleh genangan darah.
Darah merah kehitaman itu sebagian sudah agak mengeras, bisa jadi karena darah itu sudah menggenang di lantai kamar mulai tengah malam kemarin.
“A..apa yang terjadi disini?” kata pak Jay terbata bata
“Jangan masuk dulu pak Jay… segera telepon polisi saja sekarang”
*****
Satu mobil ambulance dari rumah sakit kota, satu mobil polisi dan dua motor polisi sudah terparkir di depan hotel.
Entah kebetulan atau gimana, petugas rumah sakit yang bersama mobil ambulance itu adalah dokter Joko.
Padahal yang mengontak ambulance adalah dari pihak kepolisian, bukan dari kami.
Tidak lama kemudian ada sepeda motor yang datang lagi…. Dan ternyata itu adalah Watuadem!
“Dokter Joko….” sapa mbak Tina
“Iya bu Tina… saya lakukan tugas dulu, nanti setelah itu kita bicara” kata dokter Joko bersama dengan dua orang dari rumah sakit menuju ke dalam hotel dengan membawa beberapa kantong mayat berwarna oren
Aku tidak tau apa yang dilakukan dengan polisi polisi itu di kamar, yang pasti mereka hanya mengambil gambar dan menanyai aku dan pak Diran saja untuk sementara ini.
Sedangkan dokter Joko dan timnya mengevakuasi tiga mayat yang pada bagian pangkal lengan dekat dengan telapak tangannya hampir putus.
Darah di sprei dan lantai sangat banyak dan bau… aku mundur beberapa langkah ketika melihat hal mengerikan yang ada di kamar nomor sepuluh.
Kulihat Watuadem sedang berbisik kepada pak Jay… aku yang berjarak agak jauh dari pak Jay tidak bisa mendengarkan apa yang sedang mereka bisikan.
“Untuk sementara ini bapak Diran dan bapak Agus nanti ikut bersama kami ke kantor polisi untuk kami mintai keterangan”
“Dan untuk sementara selama proses penyidikan hotel ini jangan beroperasi dulu” kata salah satu polisi yang ada disini
“Lalu untuk darah yang ada dikamar itu bagaimana pak Polisi… apa tidak boleh dibersihkan?” tanya mbak Tina
“Bisa dibersihkan setelah kami lakukan penyelidikan hari ini” jawab polisi itu
Pak Jay masuk ke ruangan utama bersama dua orang polisi, sedangkan Watuadem yang pada saat ini wajahnya sangat tidak bersahabat itu tetap ada di depan kamar nomor sepuluh.
Aku nggak tau kenapa wajah Watuadem saat ini sangat tidak bersahabat, berbeda dengan ketika dia datang waktu itu.
Tiga mayat dengan kedua pergelangan tangan yang hampir putus itu sudah dibawa ke kamar mayat rumah sakit kota..
Disini tinggal para petugas polisi yang sedang melakukan pendataan ringan termasuk meminta keterangan dari mbak Tina asal usul tamu dan kartu identitas yang dititipkan di meja resepsionis.
Siang ini kami semua termasuk pak Jay selaku pemilik dimintai keterangan di kantor polisi. Sedangkan hotel Singgasana adem Ayem dibiarkan kosong tanpa ada yang menunggunya.
Darah ketiga orang yang mati itu dibiarkan kering di kamar nomor sepuluh… padahal tadi mbak Tina dan Jiang akan membersihkanya.
“Pak Pol… itu darah yang ada di kamar sepuluh apa dibiarkan begitu saja? Sedangkan kami semua akan bapak bawa ke kantor polisi” tanya pak Jay
“Nanti setelah pulang, setelah kami mintai keterangan.. Kalian boleh bersihkan darah itu” jawab polisi muda yang mungkin pangkatnya masih kroco dengan suara sombong
“Hehehehe kalau begitu bagaimana kalau sampean saja yang bersihkan pak Pol… kamu kan dari tadi hanya petantang petenteng saja disini” sahut pak Diran kepada polisi muda yang tingkahnya arogan itu
“Sudah pak Diran.. Biarkan saja polisi itu berkata apa… mereka kan juga dapat uang dari hotel ini juga pak, nanti saya yang akan bicara dengan atasan mereka pak” bisik pak Jay
“Masalahnya bigini pak Jay, darah itu akan mengundang makhluk halus untuk datang kesini apabila tidak segera dibersihkan” jawab pak Diran
__ADS_1
“Saya akan suruh Watuadem dan temanya saja yang membersihkan…kita tetap ikut pak pol ke kantor polisi saja” jawab pak Jay