
Perkiraanku salah… ternyata motor yang tadi menuju ke arah warung penjual solar dan bensin itu berbalik arah.
Melalui kaca spion, aku lihat motor itu berhenti dan berbalik arah… motor itu menuju ke arahku dan Tina.
Nderedeg!.. jelas nderedeg lah… aku tidak tau apa yang harus kulakukan di tempat yang sangat sepi ini.
Bisa jadi nanti mereka akan merampok atau bisa jadi mereka akan membegal kami juga.
“Mas… motor yang tadi berbalik arah menuju ke arah kita ya?”
“Iya mbak Tina, gimana kita lari dari mereka atau gimana mbak?”
“Jangan lari mas, percuma…”
“Motor Tina pasti tidak bisa mengimbangi laju motor itu”
“Iya mbak, saya sependapat dengan mbak Tina, lebih baik kita lihat siapa mereka dan apa yang akan mereka lakukan kepada kita”
“Saya berpikir untuk melawan mereka mbak”
Huuff untungnya Rambut Tina yang panjang itu dia sembunyikan di dalam jaket, dan kepalanya tertutup helm tiga perempat dengan kaca warna coklat.
Kulirik spion.. ternyata mereka semakin dekat dengan kami berdua. padahal kecepatan motor TIna saat ini sudah menunjukan angka di 50 km/j
Jadi percuma juga apabila lari dari mereka…
Posisi kami pun lumayan jauh dari rumah penduduk, kami bahkan belum melewati dua kuburan yang katanya ngerik itu.
Jadi satu-satunya jalan adalah melawan apabila mereka akan berniat jahat.
Motor bersuara berisik itu semakin dekat dengan kami…
Tiba-tiba motor berisik itu menambah gasnya hingga sekarang sejajar dengan motor yang aku dan Tina naikin..
“Woii mas… kalian dari mana.. mau kemanaaa!” teriak orang yang ada di bonceng
“Saya dari rumah saudara di desa sana” aku berusaha tenang dan sekeras mungkin dalam menjawab, untuk menandakan bahwa aku tidak takut dengan mereka
“Siapa nama saudaramu!” teriak yang menyetir motor
“Pak Solikiiin… Memangnya ada apa mas!” aku coba dengan nama pak Solikin, apakah mereka kenal dengan nama itu atau tidak
“Oh rumah abah solikin… ya sudah mas.. sekarang kalian mau ke mana!” teriak yang belakang
“Mau ke kotaaa, memangnya ada apa kok kalian tanya-tanya terus?” aku mulai berani bertanya dengan mereka agar mereka merasa bahwa aku bukan musuh mereka
“Gak papa mas, soale bahaya nek sampean jalan sendirian sebelum kuburan kembar.... ayo tak antar sampai melewati kuburan, nanti kalian bisa teruskan ke kota!” teriak yang di belakang
“Disana jam segini banyak orang mendem dan begal.. ayo kami antar kalian” kata yang di depan
Motor mereka mendahului kami, mereka menambah kecepatan sedikit agar kami juga mengikutinya.
Tidak lama kemudian apa yang dikatakan dua orang bermotor dengan knalpot berisik itu benar… sebelum melewati kuburan, di sebelah kanan jalan..
Beberapa pemuda yang bergerombol sedang memperhatikan kami dengan seksama.
Tiga hingga empat motor terparkir di sebelah mereka.
Kemudian salah satu dari mereka menunjuk tunjuk kami sambil berkata-kata kasar agar kami berhenti dan turun.
Tapi untungnya dua orang yang di depan kami juga teriak..
“IKI BOLO DEWE… IKI BOLO DEWE REK…!”
Dua orang yang menggunakan motor berisik itu berteriak kepada gerombolan anak muda yang kemungkinan besar sedang minum-minuman keras.
Secara otomatis pemuda-pemuda yang sedang teriak teriak itu mengacungkan jempol kepada kami dan kepada kedua orang yang ada di depan kami.
Kami teruskan perjalan hingga lepas kuburan kedua…
Setelah kuburan kedua motor yang ada di depan kami berhenti…
“Mas, kalau bisa jangan sampek sampean lewat sini pada jam segini, bahaya mas, selain banyak preman dan Begal, juga kadang ada setan di jembatan besi yang tadi kalian lewati itu”
Untungnya saat ini keadaan gelap gulita, untungnya aku pakai slayer penutup wajah, sehingga mereka tidak tau siapa aku.
Tapi…. sebenarnya mereka tidak mengenal aku , karena aku juga tidak mengenal mereka.
Mereka bukan Yetno atau pak Wito ataupun Mamad, pokoknya wajah mereka asing bagiku.
Meskipun sekarang dalam keadaan gelap aku masih bisa melihat wajah mereka berdua.
“Ya sudah mas, matur nuwun atas bantuanya,.... eh ini ada sekedar untuk beli rokok mas” aku pura-pura akan mengeluarkan dompetku
“Ora usah mas, wong niatku mbantu sampean kok mas”
“Eh sik mas… sampeyan kenal sama saudara saya pak Solikin?” aku mencoba untuk mengetes mereka
“Yo jelas kenal mas, orang paling baik di kampung situ cuma pak solikin saja, yo wis hati-hati di jalan mas”
Mereka menyalakan mesin motor berisiknya, dan kemudian berbalik arah menuju ke warung-warung yang menjual solar lagi.
“Mas… mereka itu apakah yang kemarin di dekat rumah penggergajian itu?”
“Sik…saya mikir dulu mbak Tina, yang pasti mereka itu bukan Yetno atau pak Wito seperti yang kita dengar waktu kemarin kita sembunyi di hutan dekat rumah”
“Tapi yang pasti suara motor itu mirip dengan suara motor yang mas Agus bikin rusak itu hehehe”
__ADS_1
“Iya mbak, saya yakin seyakin yakinnya… motor itu sama dengan yang kita temui di hutan depan rumah penggergajian”
“Berarti benar yang dikatakan pak Solikin mbak, nama yang disebutkan waktu itu bukan nama yang sebenarnya, tapi tujuannya apa itu yang kita tidak tau mbak”
“Sik mas …Tina kok ndak mudeng ya tentang yang itu”
“Maksud pak Solikin nama panggilan Wito dan Yetno yang waktu malam hari kita dengar itu bukan nama mereka berdua”
“Saya yakin dua orang yang tadi itu adalah sama dengan yang kemarin malam itu,.. benar tidak mbak?”
“Iya mas, benar. Dan mereka menggunakan nama Yetno dan Wito mas”
“Nah.. akhirnya istriku .. eh calon istriku.. eh nganuku paham juga hehehe”
“Eh.. mas Agus udah ngakui Tina ini istri mas Agus yaaaa…. yok kita cepat pulang mas, masih ada waktu beberapa jam buat puasin suami Tinaaaa”
“Hehehe jangan dulu ya mbak Tina.. saya yakin kalau jodoh pasti tidak akan kemana kok mbak. Kan sayang kalau mbak Tina sudah berbuat dengan saya, eeeh taunya kita tidak berjodoh”
“Heheh iya sih mas, bener mas Agus”
Aku memacu motor Tina dengan kecepatan sedang menuju ke rumah Tina, perjalanan malam ini benar-benar menghasilkan sesuatu yang tidak disangka-sangka.
Pertama orang yang kusangka jahat itu ternyata malah melindungi kami,...
Burhan yang tutur katanya di depanku sangat santun itu ternyata malah begitu kasarnya kepada pak Solikin yang jauh lebih tua darinya.
Tindakan Burhan sangat kriminal dengan berusaha mencuri motor, dan bahkan dia berusaha masuk ke rumah pak Solikin.
Aku belum bisa memahami maksud Burhan dengan berusaha masuk ke rumah pak Solikin, apakah dia ingin memperkhosa anak pak Solikin atau gimana.
Tetapi pelajaran yang paling berharga adalah…
Aku dan Tina bisa melihat kemunculan cikar jelek dan butut yang mengambil mayat-mayat yang bergeletakan akibat pembunuhan pada jaman itu.
Sehingga pelajaran yang kudapat adalah...
Kemanusian dan hati nurani tidak pandang bulu, pemilik cikar yang bukan orang terpandang pun berusaha mengambil mayat-mayat yang digantung di jembatan, dan menguburnya dengan layak.
Itu hanya pemilik cikar yang tidak memiliki gaji dari siapapun, dan tidak dibayar oleh pemerintah untuk mengambil mayat yang berserakan.
Berbeda dengan hati nurani para penguasa yang seenaknya menaikan harga bahan bakar kendaraan, meskipun para penguasa itu tau bahwa negara sedang tidak sehat.
Mereka dibayar oleh uang pajak rakyat.. mereka dibayar sebagai wakil rakyat, tapi malah mematikan rakyat secara pelan-pelan.
Mereka hidup bergelimang harta.. harta yang berasal dari berbagai pajak yang dibayarkan oleh rakyatnya, dan seharusnya mereka sadar bahwa mereka juga harus mensejahterakan rakyatnya hehehe.
“Mas…. kok diem sih mas… Tina kan bukan karung beras yang hanya didiamkan saja”
“Hehehe, saya sedang memikirkan apa yang tadi terjadi dengan kita mbak”
“Hanya yang tadi terjadi dengan kita aja mas… mas Agus tidak memikirkan yang seharusnya nanti akan terjadi dengan kita?”
“Eh mas… eh phuting shushu Tina gatal mas… ehm boleh Tina geser-geser di punggung mas Agus ndak mas hihihi”
“Lho kok bisa gatal itu apa tadi ada semut yang masuk gitu?”
“Khayaknya iyaah mas.. thoolong charikan semut nakhal itu mas”
Tina kumat edane.. tanpa kuijinkan dia langsung menggeser geserkan dhadhanya yang empuk empuk nikmat itu di punggungku.
Yah kubiarkan saja dia melakukan itu, kan katanya tadi gatal…
Daripada aku disuruh cari semut yang pastinya ndak ada disana hehehe
“Gimana mbak Tina… masih gatal tidak itunya?”
“Massiih maassh, tolong garukin dong maaassss…”
“Saya kan lagi bawa motor mbak, mana bisa saya garukin mbak hihihihi”
“Asyiiiiikkk, berarti nanti dirumah mas Agus garukin Tina yaaaaa”
“Yah nanti sampai rumah semut dan gatalnya jelas sudah sembuh mbak hehehe”
Motor terus kujalankan, dan sekarang kami akan melewati jalan masuk ke rumah penggergajian.
Ku Pelankan laju motor ketika sekilas aku melihat cahaya dari dalam hutan.
“Mbak Tina..coba lihat arah kanan, apa betul itu cahaya sepeda motor mbak?”
“Iya mas, itu lampu motor.. tapi agak redup dan bergoyang goyang cahayanya mas…”
“Mbak…….”
“Itu cahaya lampu motor yang ada di rumah penggergajian!”
“Itu Burhan… dia yang naik motor yang biasanya saya pakai itu…”
“Sik mas… sabar dulu mas… kita jangan lari…”
“Tetap jalan seperti biasanya saja dan kita cari tempat untuk sembunyi dulu mas”
“Maksudnya gimana mbak?”
“Tina penasaran… kemana Burhan menjelang pagi ini mas”
“Mbak Tina… kita tidak harus mengikuti dia kan mbak”
__ADS_1
“Harus mas… sekarang kita ke arah dekat rumah Tina saja dulu mas, Tina kok curiga kalau dia akan menuju ke rumah Tina mas”
“Kenapa kok mbak Tina merasa dia akan ke rumah mbah Tina?”
“Ingat waktu kita di rumah pak Solikin, dia kan memperhatikan plat nomor kendaraan Tina, dan kemungkinan yang akan masuk ke rumah pak Solikin kan dia juga”
“Tina merasa bahwa dia itu curiga bahwa kita yang ada di rumah pak Solikin mas, dan dia ada kemungkinan tau motor Tina juga”
“Lalu kita harus kemana ini mbak…”
“Jalan terus mas.. pokoknya kita ke arah rumah Tina dulu saja”
“Nanti di depan rumah itu kan ada rumah kosong, kita sembunyi disana dulu saja”
“Itu rumah siapa mbak?”
“Rumah keluarga Tina juga mas,..eh itu milik Tina juga, warisan dari keluarga Tina”
“Tapi Tina lebih suka tinggal di rumah hasil jerih payah Tina dengan cara mencicil sedikit demi sedikit itu mas”
Kuarahkan motor dengan kecepatan lebih untuk mencapai rumah yang dimaksud Tina tadi.
Aku ndak nyangka Tina kaya juga, dia sudah dapat warisan rumah yang tidak terpakai dan kosong.
Tapi dia lebih suka tinggal di rumah hasil jerih payahnya…
Kami sudah ada di depan wartel Tina…
“Mas.. itu yang kiri, kita masuk ke sana mas….”
Tina turun dari motor, kemudian dia jalan dan membuka pintu pagar rumah kosong yang ada di depan rumah wartelnya.
Setelah itu dengan cekatan dia membuka pintu garasi yang terbuat dari kayu lapis.
Ternyata rumah itu tidak dikunci sama sekali.
Meskipun kosong tapi rumah ini terawat , sama sekali tidak terlihat kusam atau ada tumbuhan liarnya.
“Cepat masukan kesini motornya mas”
Motor Tina kumasukan ke garasi dalam, kemudian dia menutup pagar, dan menutup pintu garasi bagian dalam.
“Kita ke dalam saja mas, dari dalam kita bisa lihat dengan jelas keadaan rumah Tina yang diseberangnya”
“Rumah ini besar juga mbak”
“Iya mas.. maka dari itu Tina ndak mau tinggal disini”
“Tapi nanti apabila Tina sudah menikah.. Tina mau tinggal disini saja mas”
“Kalau digunakan untuk keluarga dengan dua atau tiga anak, rumah ini lebih dari cukup mas, beda dengan rumah Tina yang depan”
“Cuma ada satu kamar saja mas hehehe”
“Ya iyalah mbak, kalau ndak ada wartel rumah di depan itu cukup besar lah”
“Pokoknya yang nikah sama Tina tidak akan menyesal deh mas hehehe”
Tina merangkul pinggangku dan mengajak ke ruang tamu rumah.
Ruang tamu ini lumayan juga luasnya dan bersih, tidak ada debu dan kotoran layaknya rumah kosong seperti biasanya.
Hehehe, benar juga kata Tina… yang nikah dengan dia tidak akan menyesal.
Dia punya segalanya.. termasuk tubuhnya yang aduhai hihihii.
Yah jauh memang dibanding dengan pacarku yang ada desa…
“Mas… lihat itu… benar kan!...”
“Iya mbak.. itu kan Burhan, ngapain dia berhenti didepan rumah mbak Tina?”
“Tina rasa dia sebenarnya tau bahwa kita tadi yang ada di rumah pak Solikin mas”
“Belum tentu mbak, bisa saja dia hanya curiga sama motor yang diparkir di halaman pak Solikin”
“Tapi bagaimana dia bisa tau bahwa itu milik mbak Tina?”
“Apakah Burhan pernah mampir ke wartel mbak Tina?” aku mulai curiga dengan Tina
“Sama sekali ndak pernah mas… sama sekali ndak pernah”
“Mas Agus ndak percaya sama Tina kan…Tina sama sekali tidak kenal dengan Burhan mas!”
“Iya..iya ..ya sudah lah mbak”
Sebenarnya apa yang terjadi dengan Tina dan Burhan, kenapa jam segini Burhan bisa datang ke rumah Tina?
Kenapa jam segini datangnya, apakah memang Burhan juga pernah mendapat kasih sayang dari Tina?
Apakah pak Wandi dan Burhan juga pernah bersama Tina?
Sebenarnya aku ini sedang dibodohi atau gimana sih….
Sekarang Burhan turun dari motornya, dia berjalan menghampiri rumah Tina, dia melongok-longok di pagar Tina yang tertutup rapat.
Beberapa kali dia memegang slot pintu pagar rumah Tina yang tergembok…
__ADS_1
Aneh, dia kok bisa-bisanya memegang slot pintu pagar rumah Tina, seolah olah dia sudah terbiasa membuka pintu pagar rumah Tina!