RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
172.KEMBALI KE RUMAH PENGGERGAJIAAN YANG MENGERIKAN


__ADS_3

Untungnya keadaan pos kamling saat ini sedang tidak ada yang jaga, sepi…. Mungkin pak Kamid sedang keliling bersama temannya.


Jadi kami bisa teruskan perjalanan yang gelap ini menuju ke rumah penggergajian, rumah penggergajian yang katanya sudah setahun ini kami tinggalkan.


Rumah penggergajian yang kata pak Pangat keadaanya sudah mengerikan dan angker karena selama setahun  ini sudah tidak ada yang beraktifitas di sana selain lelembut pastinya.


Sebelum masuk ke area hutan, mas agus memberhentikan motornya dulu.


“Mbak Tina,  gimana….lanjut ya?”


“Lanjut mas, sudah kepalang basah kita mas, sekalian mandi saja sekalian hehehe… eh mas, kita langsung ke rumah penggergajian atau ke tempat leluhur TIna dulu?”


“Terserah mbak Tina saja, tapi saya rasa di rumah penggergajian tidak ada apa-apa deh mbak, mungkin hanya ada setan-setan miskin yang tidak punya tempat tinggal yang ada di sana”


“Terus terang, saya sih penasaran dengan keadaan disana mbak, tapi khawatir juga apabila ada penjaga Inggrid dan Inggrid yang sedang menunggu disana mbak”


“Iya mas… dari tadi, mulai dari waktu kita keluar dari losmen, Tina merasa ada yang sedang mengikuti kita mas”


“Ya sudahlah, kita putuskan untuk ke tengah hutan dulu saja mbak, mbak Tina lebih baik bicara dengan  leluhur mbak Tina dulu saja”


Kami lanjutkan perjalanan masuk ke dalam hutan, saat ini kayaknya belum masuk tengah malam, karena perjalanan dari losmen ke sini tidak ada kendala sama sekali.


Untuk saat ini kami jalan menuju tengah hutan sambil  menyalakan lampu motor, padahal sebelum sebelumnya waktu masih ada yang mencari kami, kami hampir tidak pernah menyalakan lampu motor sama sekali apabila masuk ke dalam hutan ini.


“Mas, perasaan hutan ini kayaknya makin lebat ya… terus jalan setapak ini juga makin banyak ditumbuhi ilalang”


“Iya mbak, setahun kita tidak pernah lewat sini, rasanya jauh berbeda dengan keadaan waktu kita terakhir lewat sini, di tengah jalan setapak ini banyak rumput ilalangnya”


“Mungkin karena selama setahun ini tidak ada motor dan mobil yang lewat sini mas, jadi keadaan jalan setapaknya mulai dipenuhi rumput ilalang lagi mas”


Mas Agus menjalankan motor ini dengan penuh hati-hati, karena kadang ilalang yang berduri itu ada di tengah jalan dan kami harus menghindar agar tidak terkena rumput dan ilalang itu.


Semakin masuk ke dalam semakin jalan setapak ini berbeda dan tidak aku kenali lagi sebagai jalan setapak yang menuju ke rumah penggergajian.


Bagaimana soal lelembut yang ada di sekitar hutan ini… owwwhh jangan ditanya!


Tiap aku menoleh ke sebuah pohon, selalu ada yang mengintip, kadang ada bayangan putih yang melayang di antara dahan-dahan pohon, kadang ada mahluk tinggi besar hitam yang berdiri di sisi pohon, pokoknya banyak sekali yang muncul di hadapanku.


Kadang ada saja yang menggerak gerakan daun dan ranting pohon, agar kami merasa ketakutan, tapi sayangnya mereka belum bisa membuat kami takut sama sekali.


Tapi tidak ada yang berani mengganggu aku dan mas Agus, tidak ada yang berani usil kepada kami, mereka semua hanya melihat dan mengintip di balik pepohonan saja.


“Mbak Tina hehehe, saya ini kan belum peka sama sekali soal melihat makhluk ghaib. Tapi disini, sekarang ini dari tadi saya lihat banyak yang melayang di depan kita mbak hehehhe”


“Iya mas… itu pocong mas.. Pocong itu gak lompat-lompat seperti yang orang-orang bilang. Pocong itu malayang!”


“Tapi kok mas Agus gak takut sama sekali dengan pocong itu mas?”


“Tidak tau kenapa saya tidak takut mbak, saya rasanya sekarang biasa saja melihat mereka berseliweran di depan itu”


“Mbak, saya rasa kita saat ini sudah ada di tengah hutan deh mbak, meskipun saya untuk saat ini sama sekali tidak mengenali daerah ini, daerah ini sudah berbeda dengan ketika kita terakhir kesini mbak”


“Iya mas, sudah sangat berbeda, tetapi Tina masih bisa melihat beberapa pohon yang mempunyai ciri tertentu mas, dan pohon itu ada waktu kita dulu lewat sini”


“Eh di depan itu kayaknya kita harus berhenti mas… kita coba masuk ke dalam hutan melalui bagian sana saja mas”


“Tapi gelap gelapan lho mbak, soalnya senter saya kok gak bisa nyala, padahal seharusnya kapasitas baterai senter ini bisa tahan setahun hingga bisa saja dua tahun kalau tidak terlalu sering dinyalakan”


“Lho memangnya baterainya habis mas?”


“Nggak tau mbak,harusnya gak habis, kan selama setahun tidak saya nyalakan”


“Hehehe apa mas Agus yakin tidak nyalakan senter ini selama setahun ini, wong kumis dan rambut mas Agus saja gak berubah,  tetap pendek seperti biasanya kok mas”


“Sik sebentar mbak… saya kok bingung ya mbak.., kalau kita ada disana selama setahun harusnya rambut saya sudah sangat panjang kan mbak”


“Apa di dalam kuburan Inggrid itu juga ada pangkas rambutnya, sehingga rambut saya masih pendek saja mbak hehehe”


“Ah sudahlah mas, otak kita ini terbatas, kita gak sanggup berpikir ke arah sana, lebih baik kita datangi tempat leluhur Tina ini dulu saja”

__ADS_1


“Mbak TIna masih hapal jalannya?”


“Semoga mas…kalau ancer-ancernya sih Tina masih hafal mas, hanya saja memang masih perlu mengingat ingat lagi, karena keadaan disini sudah beda dengan terakhir kali kita kesini mas”


Aku berjalan di depan mas Agus, aku berusaha mengingat ciri ciri dari dahan dan tangkai pohon.


Setelah beberapa belas menit kami jalan, akhirnya aku rasa kami sudah sampai di suatu tempat, dimana waktu itu aku dan mas Agus dikejar kejar oleh Wito dan Yetno kalau gak salah.


“Stop disini saja dulu mas, dan kita coba konsentrasi dan berdiam diri, biarkan panca indera kita menyatu dengan keadaan hutan ini mas”


“Selaraskan diri kita dengan keadaan hutan dan usahakan untuk tetap konsentrasi apapun yang terjadi mas”


Aku mencoba konsentrasi dan berusaha mengingat ingat wajah mbah-mbahku yang pernah aku temui waktu aku ada di rumah penggergajian itu.


Memang tidak mudah untuk bisa menemui mbah-mbahku, karena aku dan mas Agus ini beda alam dengan para leluhurku.


Perlahan-lahan bau bunga melati mulai muncul… semakin lama bau itu semakin tajam dan menyengat.


Kemudian yang terjadi berikutnya adalah kemunculan kabut yang entah munculnya dari mana, kabut itu mulai mengelilingi aku dan mas Agus.


Kemunculan kabut ini disertai dengan bau bunga melati yang semakin tajam.


Aku tau…saat ini aku dan mas Agus sedang proses untuk menuju ke alam dimana leluhurku berada. Pasti setelah kabut ini hilang, kami sudah ada di alamnya leluhurku.


Dan ternyata benar….ketika kabut ini mulai hilang, kami ada di sebuah desa seperti waktu itu aku bersama mas Agus ketika bersilaturahmi ke rumah salah satu leluhurku.


“Mas… kita sudah ada disini… mas Agus masih ingat jalan menuju ke rumah leluhur Tina apa nggak?”


“Hehehe saya lupa-lupa ingat mbak… tapi kalau nggak salah kita lurus saja ke sana kan mbak?”


“Iya mas..ayo kita ke arah sana saja mas… Tina yakin itu arah yang benar”


Aku mulai suka dengan keadaan alam disini, keadaan dimana tanah yang kuinjak ini rasanya kayak berayun, agak aneh memang bagi manusia yang berada di alam mereka ini.


Yang aku heran, tiap aku ke sini, selalu bukan malam hari, jadi masih ada matahari, meskipun panasnya tidak seterik alam manusia.


Apakah alam disini berkebalikan dengan keadaan di alam manusia, mungkin kalau disini malam hari, di alam manusia siang hari, jadi berkebalikan hehehe.


“Iya mas… ayo kita percepat jalan kita mas, Tina sudah gak sabar pingin ketemu samba mbah-mbahnya Tina mas”


Setelah berbelok ke kanan, beberapa puluh meter kemudian ada sebuah rumah yang dulu aku dan mas Agus pernah kesini.


Aku masih ingat ini adalah rumah mbahku.


“Kulonuwun…permisi…”


“Iyaaa, siapa ya..?” jawab suara yang aku kenal sebagai suara mbahku


“Saya Tina dan mas Agus mbah….”


“Oalah cucuku Tina… “ kata suara yang masih ada di dalam rumah dan sedang menuju keluar itu


“Waduuh Tina dan Agus… ayo masuk..masuk nduk….kebetulan sekali”


Aku dan mas Agus masuk ke ruang tamu rumah mbahnya mbahku, sebuah ruang tamu yang sangat sederhana dengan lantai tanah yang sudah dipadatkan.


“Ayo duduk dulu nduk.. Mbah mau panggilkan mbahmu yang lainya, karena ada yang mau kami omongkan kepadamu”


“Terus terang nduk… mbah mbahmu ini sedang khawatir dengan keadaanmu sekarang ini”


Baru saja mbah ku bicara, tiba-tiba di sekelilingku sudah ada mbah-mbah yang lainya, mbah-mbah yang dulu aku pernah temui dalam mimpi ketika aku ada di rumah penggergajian. Dulu itu hanya ada dua mbah kakung dan dua mbah putri.


Saat ini ada enam leluhurku yang datang, sehingga ruang tamu ini harusnya terasa sempit dengan enam mbahku  ditambah aku dan mas Agus, tapi ternyata tidak sempit, ruang tamu ini lebih dari cukup untuk kami berdelapan.


Semua mbah-mbahku hanya berdiri saja di tengah ruang tamu.


“Langsung saja ya nduk… mbah-mbahmu yang datang ini adalah sebagian dari leluhur yang segaris darah dengan koe nduk”


“Koe iki satu satunya keturunan dari bapak ibumu yang juga segaris dengan penduduk asli desa ini”

__ADS_1


“Koe ini satu satunya sing terpilih untuk menjaga garis keturunan keluarga, bukan mbak atau mas mu nduk, tapi koe sing kepilih”


“Jadi penduduk disini sebisa mungkin menjaga koe agar terhindar dari hal-hal jahat, tapi sayangnya koe dan mas Agus iki wis kadung melakukan perjanjian dengan iblis seberang kali”


“Kui sangat bahaya nduk… meskipun jawara desa  yang menjaga koe dan mas Agus bisa membunuh mereka, tapi sayangnya koe wis terikat perjanjian untuk mati”


“Waktu koe dan mas Agus masuk ke dalam lubang itu, artinya koe wis setuju untuk menjadi korban selanjutnya”


“Dan iblis kui ternyata ngerti nek koe iki spesial.. Koe iki punya garis darah langsung kepada penduduk desa ini”


“Sehingga arwah dan darahmu sangat berguna bagi iblis kui untuk menguasai hutan ini nduk”


“Wis.. mbah ndak mau panjang lebar, sing kudu mbok pateni kui duduk setan perempuan kui, tapi bapake dan ibune”


“Bocah chino ayu kui ora dewean, bocah wadon chino ayu kui tugase hanya mencari korban saja. Sedangkan raja dan ratune itu bapak dan ibune”


“Di kerajaan kui sudah banyak prajurit demit yang siap menyerang desa dan menguasai hutan ini”


“Dan untungnya nganti detik ini mereka belum bisa menguasai desa ini, tapi nek koe sampai mati dan arwahmu wis ditangan mereka, yo pasti bahaya buat mbah-mbahmu iki nduk”


“Sekarang kembalilah dan jangan pergi jauh-jauh dari omah penggergajian nduk, omah penggergajian kui bentengmu, koe iso mateni setan-setan kui apabila koe ada di omah penggergajian kui”


“Pokoke ojo mudah ketipu, pagi hari sampek surup koe iso pergi dari omah kui, tetapi dari surup sampai pagi koe kudu ono ning kono”


“Apa yang harus Tina lakukan disana mbah?”


“Pokokke ikuti wae kata hatimu..mbah mbahmu pasti mbantu koe dan mas Agus… pokoke tinggal seperti biasa, dan ikuti opo sing ono ning atimu”


“Wis.. sekarang persiapkan dirimu nduk, sekarang pergilah dari sini nduk”


“Mbah maaf, tentang serangan ilmu hitam kuno itu apa dari setan ini?”


“Iya nduk seko setan kui, lha mbok kira setan yang mana lagi nduk?”


“Inggih mbah, kami sampun paham mbah”


“Ya wis, sekarang kalian kembali ke alam kalian dan persiapkan diri kalian berdua”


*****


Hari sudah menjelang siang ketika aku dan mas Agus kembali ke alam kami.


Penjelasan dari leluhurku itu membuatku bingung, apakah aku ini spesial bagi mereka dan bagi Inggrid, sehingga aku menjadi ujung tombak bagi kehidupan leluhurku di desa ghaib ini.


“Sudah jangan dipikirkan mbak, yang penting turuti saja apa yang dikatakan leluhur mbak Tina, sekarang kita balik ke losmen untuk mengambil tas dan pakaian kita mbak, karena kita akan lama ada di rumah penggergajian itu”


“Sekalian beli bahan makanan dan minyak tanah untuk keperluan kita disana mbak”


“Malam ini kita akan mulai tinggal di rumah penggergajian itu, dan melakukan apa yang tadi mbah leluhur mbak Tina katakan”


“Apa mas Agus optimis dengan yang akan kita lakukan mas?”


“Saya sangat optimis mbak, maka dari itu ayo kita lakukan semampu kita, dan saya yakin apabila kita tidak mampu, maka mbah-mbahnya mbak Tina pasti akan membantu kita kok”


*****


Sore hari setelah aku dan mas Agus mengambil tas dan membeli beberapa kebutuhan untuk makan dan kebutuhan lainya macam minyak tanah,  kami  sudah ada di depan rumah penggergajian.


Rumah ini sangat berbeda dengan ketika kami terakhir kesini.


Rumah ini sangat tidak terawat dan terkesan kumuh, di dalam halaman rumah rumput gajah dan ilalang yang ada di ujung halaman sudah setinggi pagar rumah.


Aku belum tau bagian dalam rumah, yang pasti sangat kotor dan mengerikan.


Terus terang aku pesimis dengan keadaan ini, tetapi untungnya mas Agus memberi semangat kepadaku untuk melaksanakan apa yang disuruh mbah mbah leluhurku.


“Ayo kita masuk mbak… saya yakin rumah ini tidak terkunci sama sekali, dan jangan bayangkan bagian dalam rumah ini mbak heheheh, pasti sudah gak karuan karena sudah kosong selama satu tahun”


“Yang pertama kita lakukan setelah masuk adalah membersihkan ruang tengah dulu saja mbak, karena ruang tengah itu akan kita gunakan untuk tidur juga”

__ADS_1


“Iya mas.. Bimillah mas”


__ADS_2