RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
215. BELUM ADA GANGGUAN SAMA SEKALI


__ADS_3

MAS AGUS POV


Pak Watu sedang dalam keadaan tidur.. Mungkin karena dia tidak merasakan sesuatu dan akhirnya karena keadaan disini nyaman dan enak, dia pun akhirnya ketiduran juga.


Tidak ada yang terjadi di belakang rumah penggergajian yang sekarang bernama Singgasana Adem Ayem… tidak ada apapun yang aku rasakan saat ini, tetapi tidak dengan pak Sudiran.. Dia berdiri sambil menatap bagian belakang hotel.


Pak Sudiran memandang bagian belakang hotel dengan tatapan seolah-olah dia mengetahui sesuatu. Dia sedikit tersenyum dan kemudian memandangku.


“Lebih baik jangan ikut campur dengan yang ada dibelakang itu… atau yang ada di seberang sungai itu pak Agus…”


“Memangnya ada apa disana pak?”


“Hehehe mereka tidak mungkin bisa masuk ke sini, karena ada yang berusaha untuk menghadang mereka di belakang hotel, tapi… “


“Tapi bisa saja mereka menembus ke sini pada suatu saat, ketika apa yang menghadang mereka selesai dengan urusan mereka”


“Sebenarnya mereka itu siapa dan siapa yang berusaha menghadang mereka”


“Pak Agus gak usah tanya saya apa yang terjadi disini, karena saya tau bu Tina dan pak Agus tau sebenarnya apa yang terjadi disini”


“Pada intinya masalah yang ada disini itu berkaitan dengan pak Agus dan bu Tin kan… dan tenang saja, saya akan tutup mulut mengenai hal ini”


“Tenang saja saya tidak akan ikut campur juga.. Saya hanya berusaha membantu sebisa mungkin agar hotel ini tidak mendapat masalah apapun, bukankah tugas saya disini hanya untuk mengamankan hotel ini kan”


“Jadi untuk masalah antara pak Agus dan bu Tina dengan  lelembut yang ada di seberang sungai itu saya tidak akan ikut campur… saya hanya mengamankan sebisa mungkin hotel ini”


“Iya pak Sudiran….memang  yang ada disini itu ada kaitanya dengan apa yang saya dan mbak Tina alami… eh ketika hotel ini dulu masih berupa rumah penggergajian”


“Dan itu berlanjut hingga sekarang, kami ada disini juga untuk menjaga hotel ini, karena yang ada di seberang hotel itu sangat jahat dan selalu menginginkan darah dan nyawa”


“Iya saya tau kalau yang ada di seberang sungai itu sangat jahat… saya bisa merasakan energi jahatnya dari sini, tetapi tetap saja mereka tidak bisa menembus pertahanan disini pak Agus”


“Ayo kita kembali ke depan saja pak Agus… kita bicara di depan saja tentang apa yang ada disini, saya tidak enak kalau harus ada disini”


Memang tempat pak Diran jaga itu ada di depan…bukan di belakang dan di dalam hotel ini, sehingga pak Diran mengajakku untuk ngobrol di luar saja.


Paling tidak kami sudah dapat sedikit bantuan dengan kesediaan pak DIran,  paling tidak dengan adanya pak Diran disini menambah rasa aman bagi aku dan mbak Tina.


Suasana di depan hotel, atau di lahan parkir masih seperti ketika terakhir kami datang tadi… sepi dan sepertinya tidak ada apapun yang terjadi disini.


“Pak Agus.. kalau yang ada di tengah hutan ini bermuatan positif… mereka yang ada di tengah hutan ini sepetinya tidak suka dengan yang ada diseberang sungai”


“Iya pak Diran… mereka adalah leluhur dari mbak TIna”


“Oohh pantesan… pantesan saya merasa mbak Tina dan yang ada di hutan itu mempunyai energi yang sama.. Mungkin mereka sedang melindungi mbak Tina…”


“Tapi sekali lagi pak Agus… saya tidak akan ikut campur dengan masalah disini, tetapi apabila ada yang terjadi disini maka saya akan turun tangan, karena saya diberi tanggung jawab untuk menjaga hotel ini”


“Ya sudah pak Diran, yang penting pak Diran sudah tau apa yang akan terjadi disini, dan saya harap pak Diran tetap menjaga hotel ini”


“Oh iya pak Diran… untuk yang jaga siang… apakah dia sama dengan bapak, apakah dia  juga bisa melihat hal-hal yang aneh?”


“Nggak bisa pak Agus… nanti yang datang namanya pak Yogi.. dia hanya petugas keamanan yang handal saja, bukan seseorang yang bisa melihat sesuatu seperti saya”


*****


Hari pertama grand opening ini aman, tidak ada gangguan apapun, pak Watu terbangun ketika mbak Tina keluar dari kamarnya pagi harinya.


Pagi ini kami kerja seperti biasanya…


Pihak trainer datang pagi hari… mereka mengevaluasi apa yang terjadi kemarin, dan memberikan masukan tentang apa yang sudah kami lakukan.


Pihak catering datang tepat pada waktunya dan menyiapkan semuanya, setelah semua siap, aku pak Cheng dan Jiang membagikan sarapan ke tiap kamar yang dihuni.


Pagi ini sarapannya adalah nasi goreng dengan kerupuk dan telor dadar, juga diberikan roti tawar untuk empat orang yang sudah dilapisi selai strawberry.


Oh iya… Disini berbeda dengan hotel lainnya…. Penghuni di hotel ini maksimal empat orang, dan keempatnya diberikan sarapan hingga makan malam… jadi menginap di hotel ini sudah tidak memikirkan urusan makanan lagi. Mereka cukup menikmati alam hutan tanpa memikirkan bagaimana cara mereka mencari makan di tengah hutan.


Aku dan mbak Tina sekarang ada di belakang hotel, dekat dengan sungai belakang yang sekarang sudah disulap menjadi taman bermain dan tempat bermain air.


Beberapa tamu hotel bersama keluarganya sedang bermain di tepi sungai yang sekarang sudah diubah menjadi semacam pantai landai dengan pasir pantai berwarna putih yang diambil dari sebuah pantai.


Pinggir sungai ini memang disulap menjadi seperti sebuah pantai yang indah dan bersih, karena di tiap sisi kiri dan kanan sungai sudah diberi jaring agar tidak  ada kotoran yang masuk ke area sungai hotel.


“Sungai ini bersih ya mas”

__ADS_1


“Iya mbak Tina.. memang seperti di pantai mbak.. Pintar juga pak Jay membuat hal seperti ini seperti mirip pantai”


“Iya mas.. Eh mas.. Semalam apa gak ada kejadian apa-apa?”


“Nanti saya ceritakan mbak… saat ini kita kerja dulu saja, gak enak saya trainer yang mengajari kita mbak”


Hari ini tidak ada yang booking, karena rata-rata yang sekarang tinggal disini menyewa kamar untuk dua hari, jadi aku dan mbak Tina hanya mengawasi dan melayani tamu apabila mereka membutuhkan sesuatu.


Di bagian belakang hotel sekarang sudah ada tiga keluarga yang sedang menikmati halaman belakang hotel… rata-rata mereka sedang menikmati pasir putih dan sungai yang bersih.


“Eh pak maaf… tolong anaknya jangan bermain terlalu ke tengah sungai… bagian tengah itu  lumayan dalam” teriak mbak Tina kepada orang tua anak yang bermain air agak di tengah


Bapak-bapak yang sedang bersama anaknya itu kemudian memanggil anaknya yang sedang bermain air agak ketengah…


Ternyata bahaya juga daerah sungai ini, keindahan pinggir sungai ini mengakibatkan orang untuk berenang ketengah, dan tentu saja apabila kita lengah maka kita akan sampai di tengah sungai yang keadaanya lebih dalam.


Harusnya dikasih papan peringatan agar tidak ada orang yang berenang ke tengah, nanti aku akan bicara dengan pak jay soal ini.


“Mbak…. Eh saya mau tanya, untuk beli sabun mandi dan peralatan mandi dimana ya?” tanya seorang ibu kepada mbak Tina


“Eh ibu butuhnya apa, mungkin saya akan carikan, soalnya toko kelontong jauh dari sini” jawab mbak Tina


“Cuma shampo untuk anak saya saja bu.. Shampo anak anak.. Gimana mbak?”


“Ya bu.. Nanti akan kami carikna segera” jawab mbak Tina


“Mbak Tina… biar saya saja yang cari ..mbak Tina disini saja mengamati tamu kita yang sedang bermainan air sungai


*****


Siang hari pak Jay datang ke sini… sengaja dia datang untuk melihat tamu-tamu yang datang ke sini, dan aku harus ngomong ke pak Jay tentang sungai yang cukup dalam itu.


Dia datang sendian.. Dan dia kaget juga ketika melihat disini masih ada pak Watu..


“Kamu ada disini Tu?”


“Iya Jay… kan aku kemarin udah bilang kamu, kalau aku penasaran dengan bagian belakang hotelmu ini” jawab watuadem


“Terus kesimpulanya gimana hotel ini Tu….?”


“Kemarin kamu bilang hotel ini gak aman Tu… katamu di belakang sini ada yang aneh?”


“Tapi hari ini gak ada apa-apa Jay..”


“Yo wis Tu…. aku sama mas Agus mau ke belakang dulu… mau tanya kepuasan tamu yang menginap disini”


Wah…ngawur juga omongan si Watuadem…. Dipikir hotel ini sudah aman heheheh….


Aku dan pak Jay menuju ke belakang, ke area hotel atau pondokan.. Siang hari ini sebagian besar tamu sedang ada di area sungai , mereka sedang menikmati  pasir putih dan air sungai yang bening


Sebagian ada yang sedang mandi di sungai yang memang keadaannya bersih, mbak Tina ada disini untuk memperingatkan anak-anak yang berenang agak ketengah.


Pak jay menghampiri seorang bapak-bapak yang memakai celana renang.. Seakan akan tempat ini nyaman digunakan untuk berenang.


kubiarkan dia sedang bicara dengan laki-laki yang memakai celana renang… aku gak dengar apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi yang jelas tamu hotel ini menepuk bahu pak jay  kemudian menunjukan jempolnya kepada pak Jay.


“Mas Agus… kayaknya tamu disini puas dengan pelayanan hotel ini” kata mbak Tina


“Iya mbak… ini hal yang menakutkan, karena akibatnya tamu-tamu akan berdatangan dan bahaya akan mulai datang pada waktu itu”


“Jangan berpikiran seperti itu mas… oh iya.. Semalam ada apa saja di sini mas?”


“Sebenarnya tidak terjadi apa apa, hanya saja si satpam hotel yang bernama pak Diran kayaknya tau semua tentang yang ada disini mbak”


Kuceritakan kepada mbak Tina apa saja yang semalam aku bicarakan dengan pak Diran, termasuk dia yang tidak mau ikut campur urusan aku dan mbak Tina.


Bahwa tujuan pak Diran hanya mengamankan wilayah hotel dari ancaman luar.


“Artinya dia akan membantu kita mas… masalah kita kan ancaman juga ke tamu hotel.. Jadi dia juga akan ikut campur dengan kita mas”


“Iya juga sih mbak.. Hanya saja mungkin untuk urusan kita dengan Fong dia tidak mau ikut campur”


“Iya mas… porsinya harus dibedakan mas… urusan kita kan bersama pak Cheng dan Jiang melawan Fong.. Sedangkan urusan pak Diran urusan dengan masalah hotel ini”


Ketika aku sedang bicara dengan mbak Tina.. pak Jay datang dengan tersenyum…senyuman pak jay ini pasti menandakan kepuasan customer, sedangkan kepuasan customer adalah hal yang mengerikan bagiku….

__ADS_1


“Kerja kalian pada hari pertama hotel ini dibuka sudah membuat tamu kita merasa seperti di hotel berbintang, saya merasa beruntung bisa mempekerjakan kalian berdua”


“Kata Robert teman saya.. Tamu-tamu sudah antri untuk merasakan tinggal di hotel ini… dan sepertinya kalau keadaan seperti ini terus, saya harus menambah kamar lagi heheheh”


“Selamat pak Jay.. tamu puas bukan hanya karena pelayanan saja, tetapi tentu saja dengan keindahan dan nikmatnya suasana disini..”


“Pak Jay… kalau Tina boleh usul.. Diberikan tanda bahwa di tengah sungai  itu lumayan dalam, jadi cukup bahaya apabila  ada orang yang tidak bisa berenang atau anak kecil yang kesana” kata mbakTina


“Tina ada disini karena ingin memperingatkan mereka yang berenang agar tidak terlalu ke tengah ketika berenang disini” kata mbak Tina lagi


“Nanti akan saya bicarakan dengan tim konsultan hotel ini mbak Tina”


Pak jay tidak lama ada disini.. Setelah bicara dengan pak Cheng, Jiang dan satpam siang yang bernama Yogi ( Yo Gidalmu) dia pun pergi dari hotel.


Sore hari keadaan disini tidak ada yang berbeda, sama seperti sehari sebelumnya taman yang ada di antara pondokan itu digunakan anak-anak kecil untuk bermain, sedangkan orang tua mereka ada di teras pondok.


Sore hari menjelang malam makan malam aku, pak Cheng dan jiang membagikan makan malam yang dibawa catering..


Sore hari menjelang malam ini entah kenapa perasaanku gak enak, nggak tau kenapa perasaanku beda dengan sebelumnya, semoga tidak terjadi apapun dengan hotel ini


Sore menjelang malam kami bertiga mulai menyalakan lampu petromak di tengah taman, kami bertiga juga menyalakan lampu yang ada di dalam tiap pondokan.


Ada yang suka dengan lampu teplok dan ada pula yang lebih suka dengan lampu Petromak… hingga malam hari mereka masih duduk di teras podokan yang di tengah taman ada dua lampu petromaknya..


Pak Sudiran sudah ada di posnya sejak sore tadi. Dia membawa sebuah radio kecil yang biasanya dia gunakan untuk menghilangkan sepi.


“Agus… saya dan jiang mau keliling di belakang dulu.. Kamu dan mbak Tina jaga di sini saja dulu” kata pak Cheng


“Iya pak… pak Cheng memangnya mau  ke mana pak?”


“Saya mau ke belakang.. Ke pinggir sungai saja..saya rasa ada yang aneh setelah beberapa hari ada disini tetapi tidak terjadi apapun juga.. Ada yang tidak semestinya disini Gus”


“Ya sudah pak Cheng, saya tunggu di disini sama mbak Tina saja dulu”


Aku tunggu pak Cheng dan Jiang di ruang tunggu…..hari semakin malam..kemudian aku punya ide untuk memanggil pak Diran, mumpung ada mbak Tina disini.


Ketika aku menuju pos penjagaan pak Diran, nggak tau aku merasa seperti sedang diikuti orang.


“Cuk.. merinding rek!”


“Rasane ada yang ngikuti aku, ah gak ngurus.. Pos penjagaan gak jauh dari sini kok”


Sesampai aku di pos penjagaan, pak Diran sedang mendengarkan lagu campursari, dia gak tau kalau aku datang, karena pos dia menghadap ke jalan pintu gerbang, bukan ke arah aku datang.


Tapi aku tidak ingin mengagetkan dia.. Aku tau di daerah ini jangan sampai berbuat yang aneh-aneh


“Pak Diran” sapaku di depan pintu pos yang terbuka


“Eh ada pak Agus… ada apa pak kok jam segini kesini.. Bukanya jam segini masih sibuk di dalam sana?”


“Gak papa pak.. Pak Cheng dan jiang sedang ke area sungai, saya gak tau ada perlu apa mereka ke sungai itu”


“Nggak papa pak.. Kalau mau ke area sungai gak papa, sekalian cek, jangan sampai ada yang melakukan aneh-aneh disana”


“Kenapa memangnya pak… pak Cheng dan jiang gak mungkin melakukan yang aneh-aneh disana pak”


“Iya saya tau pak Agus…saya tadi kan cuma mengingatkan saja… karena perasaan saya malam ini ada yang akan ke area sungai sana”


“Maksudnya tamu disini atau pak Cheng dan Jiang?”


“Tamu disini pak Agus…itu tapi kan hanya perasaan saya saja, ada baiknya pak Agus cek area sekitar sungai pak”


“Apakah nanti ini ada hubunganya dengan perkampungan yang ada di seberang sungai?”


“Iya bener pak Agus!”


“Hehehe itu siapa yang mengikuti pak Agus..?” tunjuk pak Diran di belakangku


Aku kaget… tentu saja aku kaget dan tidak menyangka kalau ada yang mengikuti aku….tolah toleh, ternyata tidak ada seorangpun yang ada di belakangku..


“Gak usah tolah toleh pak Agus… dia sudah pergi kok.. Tadi dia hanya kepingin kenalan sama pak Agus.. tapi sekarang sudah pergi


“Ayo sekarang kita ke belakang hotel pak Diran… kata pak Diran di belakang hotel ada sesuatu pak?”


“Iya pak Agus… tapi tadi saya hanya merasa saja, saya tidak tau persis apa yang ada di belakang sana”

__ADS_1


__ADS_2