RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
265. MULAI MEMBEDAH


__ADS_3

Dari kejauhan ada nyala dua lampu motor….mereka pasti bu Tugiyem dan penduduk desa.


Dan ternyata benar, yang datang adalah bu Tugiyem, kyai Dollah dan dua orang yang memakai sarung pakaian koko dan songkok.


Aku menyalami mereka berempat, kemudian kami berdiskusi apa yang akan kami lakukan disini.


“Dokter Joko, apa sudah siap untuk membedah mayat, soalnya mayat itu makin bau saja dok”


“Iya mas Agus, eh mayat itu dalam keadaan dibalut kafan dan dalam peti mati kan?” tanya dokter Joko


“Iya benar Dok.. bagaimana dok.. Kita taruh dimana?


“Turunkan dulu saja peti matinya, kasihan mobil ambulan itu terkena danur dari mayat”


“Danur itu apa dok?” tanya mbak Tina


“Danur itu air yang berasal dari orang mati yang sudah membusuk… “ jawab dokter Joko


“Sementara kalian sedang mempersiapkan sesuatu yang gunanya untuk memancing demit…. Saya, kyai Dollah, dan murid dari Kyai Dollah akan masuk ke dalam, kami akan mendeteksi seberapa kuat kekuatan yang ada di dalam” kata bu Tugiyem


“Iya silahkan bu, eh tapi lebih baik ditemani oleh anak buah pak Senja, sebagai saksi bahwa apa yang sedang bu Tugiyem lakukan itu aman-aman saja” kata pak Diran


Bu Tugiyem setuju dengan usulan pak Diran… akhirnya mereka masuk ke dalam bersama salah satu dari anak buah pak Senja.


Sedangkan aku, pak Diran, supir ambulan dan dibantu anak buah pak Senja yang lainya  akan menurunkan peti mati yang ada di dalam ambulan.


Ketika pintu ambulan dibuka…uughh bau busuk sangat menyengat keluar dari dalam kabin belakang mobil ambulan..


“Uuugh bau sekali… bagaimana kalian berdua bisa tahan di dalam mobil dengan bau seperti ini” tanya pak Senja yang ada di dekat mobil


“Hehehe saya sudah biasa pak” jawab sopir ambulan


“Pak Parlan, nanti setelah dari sini langsung mobil ini dicuci ya .. saya lihat banyak sekali demit hutan yang  ngiler dengan tetesan danur yang ada di kabin belakang mobil” kata dokter Joko

__ADS_1


“Inggih dok, nanti akan saya cuci sebelum saya ke rumah sakit” jawab supir ambulan yang ternyata bernama pak Parlan.


“Ayo kita angkat peti mati ini, taruh di tempat yang terang, karena saya akan bedah dan ambil organ dalamnya” kata dokter Joko


Aku, pak Diran, pak Parlan, dan dua orang anak buah pak Senja menarik peti mati dan kemudian menggotong hingga di bawah lampu penerangan parkiran.


Jankrek!... ternyata peti mati ini basah, dan air itu sangat bau.. Jadi ini yang dinamakan danur.


Aku, pak Diran dan yang lainya dari tadi Hoegh hoegh.. Menahan bau yang keluar dari peti mati ini… tapi beda dengan pak Parlan dan dokter Joko.. mereka santai saja, seolah mereka sudah biasa menghadapi mayat busuk.


“Ya… taruh disana saja, di bawah lampu parkiran.. Eh saya butuh tempat untuk menampung organ dalam.. Yah semacam ember atau apa gitu” kata dokter Joko


“Sebentar saya carikan di dalam hotel dulu pak” kata Jiang kemudian lari ke samping hotel, tempat biasanya orang-orang catering datang ke sini.


Pak Jay, pak Hendrik dan mbak Tina, mereka bertiga agak menjauh, mungkin karena gak kuat dengan bau mayat itu.


“Danur dari mayat itu banyak sekali, menandakan bahwa mayat ini sudah membusuk, dan bisa saja ketika nanti saya bedah, daging mayat ini sudah rapuh, mblenyek, dan sangat berair kayak tape ketan yang sudah terlalu matang hihihi” kata dokter Joko kemudian memasang masker yang dia ambil dari tasnya


Jiang datang dengan sebuah ember berwarna biru.. Ember yang biasanya digunakan untuk menumpuk piring kotor dari tamu yang selesai makan.


Anak buah pak Senja dengan menggunakan pisau belati yang mereka bawa akhirnya bisa mencongkel penutup atas peti mati..


Perlahan lahan penutup bagian atas peti mati itu diangkat dan ditaruh di sebelah peti mati..


Sungguh mengerikan… dengan penerangan cahaya lampu parkiran, aku bisa lihat kondisi kain pocong yang basah… apakah itu berasal dari cairan tubuh, atau dari mayat yang awalnya membeku bagai es itu mencair.


Dokter Joko mengambil gunting, tiga buah pisau bedah dengan bentuk dan ukuran yang berbeda, sebuah botol yang berisi cairan, kain perca dan dia menggunakan sarung tangan karet juga. Benda-benda itu dia taruh di samping peti mati


Perlahan lahan dokter joko dengan menggunakan gunting  yang sudah dipersiapkan sebelumnya memotong kain kafan… dia hanya memotong kafan basah itu dari bagian dada hingga ke area khelamin dari mayat itu.


Dokter Joko tidak membuka total kain kafan yang dalam keadaan basah itu, karena yang dibutuhkan kan hanya bagian perut saja dan khelamin saja.


Setelah membuka dengan cara memotong kain kafan dari dada hingga bagian bawah perut, dia kemudian mengambil sebuah pisau bedah yang paling besar, pisau bedah dengan gagang warna biru muda.

__ADS_1


Tapi sebelum dia  membelah perut mayat pak Diran mendekati dokter Joko.


“Dok, eh ada baiknya minta ijin dan mendoakan mayat ini agar apa yang kita lakukan arwah mayat ini tidak meminta ganti rugi”


Dokter Joko hanya mengangguk dan kemudian dia melambaikan tangan ke arahku juga. Jadi yang ada di dekat mayat itu adalah aku dan pak Diran.


Kemudian dokter Joko dengan isyarat menyuruh aku dan pak Diran untuk menggunakan masker dan sarung tangan karet, aku tau… aku akan diberi tugas untuk mengambil organ dalam dan meletakan di dalam ember biru


Aku dan pak Diran sudah siap dengan masker dan sarung tangan karet, meskipun aku menggunakan masker bedah, tapi bau busuk itu masih menyengat hidungku.


Sebelum melakukan pembedahan, dokter Joko mencubit kulit dan daging yang ada di bagian samping dada dekat pinggang…


Ternyata ya Allah kulit dan daging mayat busuk itu begitu mudahnya terkelupas, mirip dengan daging ayam yang kelamaan di rebus…


Daging dan kulit itu terlepas dengan mudah dan begitu banyak cairan kental yang ada di sarung tangan dokter Joko ketika memegang cuilan daging mayat… menurutku itu adalah jaringan lemak yang sudah membusuk dan mencair.


Sebegitu busuknya hingga jaringan otot dari daging mayat itu sudah tidak bisa mempertahankan daging yang membalut tubuh mayat itu.


Dokter joko mengambil kain perca kemudian membersihkan cairan kental yang membasahi sarung tangan karetnya. Kemudian dia mulai membedah dengan menggunakan  pisau bedah yang ukuranya paling besar.


Kuperhatikan cara dokter Joko membelah perut mayat itu mulai dari dada hingga ke bawah perut.


Perlahan namun pasti, dengan ketajaman pisau yang luar biasa itu, dokter Joko membelah kulit bagian tengah dada yang tidak terdapat tulang dadanya.


Perlahan-lahan pisau bedah itu membelah tengah dada, terus turuuun terus hingga mencapai perut, di bagian perut yang nampak membesar itu dokter Joko berhenti membedah.


Dia mengganti pisau..yang lebih kecil, mungkin bagian perut itu kan penuh, mungkin dokter joko tidak ingin melukai bagian lambung dari mayat itu.


Dengan menggunakan pisau yang lebih kecil, dokter Joko melanjutkan pembedahan terusss hingga di bagian bawah perut..


Jangkreeeek… yembut mayat ini lebat juga!


Ketika dokter joko selesai dengan sekali belah itu, otomatis lambung dan usus dari mayat itu ambyar….

__ADS_1


Bau yang lebih busuk dari pada tadi sebelum dibedah menyerang hidung kami…


__ADS_2