
“Ada apa mas, kenapa kok mas pulang lagi?”
“Gak kuat sakitnya, tadi ketika aku diantar pak Diran sama aja, dan tadi sakitnya lebih sakit daripada ketika aku berangkat sendiri, karena tadi bersama pak Diran udah sampai di desa yank”
“Trs sekarang mas mau apa”
“Aku mau telpon dokter Joko, biar dia yang kesini, karena aku nggak bisa ke rumah sakit”
Istriku bingung harus melakukan apa, karena memang apa yang aku alami ini sesuatu yang tidak masuk akal. Hanya karena aku menyapa tubuh tak kasat mata anakku, semua menjadi begini sekarang.
Kuambil telepon satelite kemudian aku hubungi ponsel milik dokter Joko, untungnya dokter Joko menyanggupi untuk datang ke sini siang ini.
Waktu menunggu dokter Joko aku gunakan untuk istirahat, karena kepalaku masih terasa sakit, meskipun tidak sesakit ketika aku pergi menjauh dari wilayah ini.
Bagaimana dengan Gustin setelah semalaman dia bermain dengan Gusta, apakah siang hari ini dia nampak riang bermain dengan istriku?
Ternyata tidak, Gustin dari pagi hingga siang hari hanya tidur dan minimum susu saja, seperti orang yang kecapaian setelah melakukan aktifitas yang melelahkan.
Istriku hanya bisa diam saja melihat keadaan Gustin yang makin hari hanya tiduran dan minum susu saja, kalau dilihat dari raut wajah Gustin terlihat sehat sekali, tetapi ada yang tidak beres dengan anakku.
“Lihat mas, anak kita semakin hari semakin mengurangi gerak tubuhnya, sekarang untuk merangkak saja dia gak mau, dia hanya minta digendong saja kan mas”
“Iya yank, aku curiga yang semalam aku alami itu adalah Gustin dan Gusta yang sedang bermain dengan tubuh tak kasat mata mereka, tetapi ada satu mahluk yang mengerikan, dan kemungkinan menurutku dia adalah penjaga kedua anak kembar kita”
“Gimana yank, apa gak ada keinginan untuk bicara dengan leluhur kamu?”
“Iya mas, tapi entah kapan, rasanya semakin besar anak kita, semakin ada saja yang mengganggu keluarga kita mas. Nanti malam Tina akan ke tengah hutan, semoga kita dapat informasi yang benar terkait anak kita mas”
Siang hari aku duduk di teras rumah menunggu dokter Joko, aku tidak ke proyek karena kepalaku masih terasa nyeri, padahal aku sudah minum satu butir obat sakit kepala.
Yah sebenarnya gak ada fungsinya juga aku minum obat sakit kepala apabila sakitku ini karena hal ghaib, tapi minimal berusaha daripada tidak sama sekali.
Pukul dua siang dokter Joko yang menggunakan sepeda motor datang ke rumah, aku ceritakan asal mula sakit kepalaku, sekaligus yang terjadi apabila aku menjauh dari daerah hutan ini.
“Saya tidak bisa mendiagnosa tanpa ada pemeriksaan lebih lanjut pak Agus, saya hanya bawa obat penghilang rasa sakit saja” kata dokter Joko setelah aku ceritakan apa yang terjadi dengan diriku sekarang ini
“Jadi gimana dok?”
__ADS_1
“Yah pak Agus harus datang ke rumah sakit. Tetapi karena di rumah sakit kami tidak mempunyai alat untuk memeriksa gelombang otak, mungkin pak Agus hanya akan saya rekomendasikan ke rumah sakit di kota S pak”
“Waduh gak mungkin kalau harus ke kota S dok, untuk jarak dari rumah ke rumah sakit dokter Joko saja saya hampir pingsan, dan wajah saya bagian kiri sampai mati rasa”
“Itu baru dari rumah ini sampai ke desa saja pak, belum sampai ke rumah sakit dokter Joko”
“Hehehe itu kan apabila memang sakit yang diderita pak Agus akibat dari penyakit medis, kalau memang karena medis maka harus saya rujuk ke rumah sakit kelas A”
“Tetapi kalau sakit itu karena hal lain ya mungkin bisa ditanyakan ke pak Diran atau leluhur dari mbak Tina kan” kata dokter Joko
“Sudah dok, saya sudah bicara dengan pak Diran, sore ini dia akan ke tempat gurunya, pak Diran akan tanyakan apa yang terjadi dengan saya kepada gurunya dok”
“Ok pak Agus, eh tolong kabari saya apabila ada kabar dari pak Diran, dan juga tolong kabari saya juga apabila obat yang saya kasih ini ada pengaruhnya atau tidak terhadap rasa sakit itu pak Agus”
Dokter Joko pamit pulang setelah dia memberikan aku obat penghilang rasa sakit, obat yang harus aku minum untuk menekan rasa sakit akibat sesuatu yang aku tidak tau.
Aku meminum satu butir obat penghilang rasa sakit yang diberikan dokter Joko, sembari aku duduk menunggu pak Diran datang ke rumah.
Istriku Tina sedang menidurkan anakku dik Gustin yang dari pagi hingga siang hari ini agak rewel, dia agak rewel apa mungkin karena kecapekan karena semalam dia kan bermain dengan saudara kembarnya.
Wajah pak Diran menggambarkan wajah yang capek, iya wajarlah karena dia kan semalam jaga proyek, dan sekarang demi aku dia ke rumah gurunya yang entah di mana alamatnya.
“Selamat sore pak Agus….” kata pak Diran kemudian masuk ke teras rumah setelah dia memarkir motornya
“Selamat sore pak Diran… monggo masuk pak”
“Pak Diran mau minum kopi atau yang dingin dingin?” tanya istriku menawari pak Diran
“Kopi saja bu Tina, seperti biasa kopi hitam pahit saja hehehe”
Pak Diran duduk di kursi ruang tamu yang menghadap ke bagian belakang rumah, dan menghadap ke pintu kamarku dan kamar Gustin.
Pak Diran hanya diam sesaat sambil terus memperhatikan kamar tempat Gustin sekarang sedang tidur.
Aku biarkan saja pak Diran dengan diamnya, karena ada kemungkinan dia sedang melihat sesuatu atau sedang memikirkan apa yang akan dia bicarakan dengan aku.
Setelah sekitar lima menit kami berdua diam, istriku datang dari belakang membawakan kopi pahit untuk pak Diran.
__ADS_1
“Monggo kopinya pak Diran… semoga cocok untuk pak Diran. Eh Tina tinggal ke kamar Gustin dulu ya pak”
“Jangan ke sana bu, duduk disini dulu saja bersama saya dan pak Agus” kata pak Diran yang masih memandang pintu kamar Gustin
Tetapi untuk kali ini pandangan pak Diran berbeda, wajah dia yang tadi hanya biasa saja ketika datang ke rumah ini, sekarang ketika melihat kamar Gustin, wajah pak Diran menjadi tegang.
Dia menyuruh istriku untuk duduk bersama kami di ruang tamu.
Aku hanya diam saja dan membiarkan pak Diran dengan keseriusannya, aku tidak bertanya ada apa di kamar itu dan apapun yang berkaitan dengan larangan pak diran kepada istriku.
Setelah beberapa menit dengan wajah yang tegang, dan posisi duduk yang tegak lurus, akhirnya pak Diran duduk dengan merebahkan punggungnya di sandaran sofa.
Pak Diran meminum kopi yang tadi dibuat oleh istriku, karena kopi itu masih sangat panas, dia hanya meminum sedikit saja.
“Hhhf… seperti yang saya duga sebelumnya…”
“Sosok penjaga yang marah. Sesosok penjaga yang berasal dari Gusta… dia marah sekali”
“Maksudnya gimana pak Diran. Bukanya penjaga Gustin itu adalah Gusta?”
“Ya betul dan tidak betul pak Agus…..jadi sebelumnya sosok penjaga ini tidak kelihatan, karena saya hanya melihat Gusta saja, dengan energi yang luar biasa, dan tidak bisa digabungkan dengan energi yang dimiliki Gustin”
“Tapi semakin bertambah umur, yang ada di dalam diri Gusta itu memisah dari tubuh Gusta…”
“Atau dia bisa saja memisah karena kita memisahkan kedua anak kembar ini….. Saya masih menerka nerka pak Agus”
“Tapi yang jelas energi yang ada di depan pintu kamar dengan sosok tinggi besar dan menyeramkan itu sama dengan yang ada di dalam tubuh Gusta waktu umur dia baru menginjak beberapa bulan saja”
“Dan yang sekaran ada di depan pintu itu sedang marah… saya tidak tau kenapa dia sedang marah. Karena energi yang dia keluarkan sangat besar”
“Apa ada kemungkinan dia marah karena saya semalam memanggil Gustin dan Gusta pak?”
“Saya tidak tau pak Agus, tetapi yang jelas dia sedang tidak dalam keadaan senang”
“Dan yang mengerikan energi yang terpancar dari sosok itu tidak lama lagi akan bersinergi dengan energi milik Gustin…. Dan ini yang kita takutkan selama ini”
“Ini alasan kita memisahkan Gustin dan Gusta hingga mereka berdua dewasa, tetapi yang terjadi sekarang adalah energi Gusta yang merupakan sosok penjaga itu ada disini”
__ADS_1