
“Kamu ini keturunan terakhir dari penduduk disini yang belum menikah dan masih tingting… di dalam dirimu ini ada sesuatu yang berguna bagi mereka untuk mendapatkan kekuatan guna menaklukan kekuatan disini”
“Pokoke intine cuma masalah perebutan kekuasaan melalui dirimu yang bisa menetralisir kekuatan disini… itu karena kamu masih perawan”
“Kalok Tina sudah tidak perawan gimana pak Cheng?”
“Heheheh tentu saja tidak berguna bagi mereka, karena darah perawanmu ini yang mereka cari… saya tidak tau apabila mbak Tina diculik mereka akan diapakan”
“Apakah aka diperawani atau diapakan itu yang saya tidak tau.. Atau apakah akan dinikahkan dengan siapa disana itu juga saya tidak tau….”
“Pokoknya yang saya tau.. Darah perawan mbak Tina ini akan sangat berguna bagi mereka” kata pak Cheng
“Eh… gimana kalau sekarang juga Tina diperawani mas Agus, biar Tina tidak berguna bagi mereka?”
“Jangan…” larang mbah Sutinah..
“Kenapa mbah.. Bukanya tadi pak Cheng bilang kalau Tina udah tidak perawan maka semua ini akan berakhir, karena yang mereka cari adalah keperawanan Tina kan”
“Iya benar.. Tapi ada aturan dan ada upacara yang yang harus dilakukan disini sebagai keturunan terakhir yang akan menikah dengan orang lain… orang yang bukan merupakan keturunan dari daerah ini”
“Kalau itu dilanggar, maka kutukan yang akan menima penduduk disini”
“Makanya Mbah.mbahmu leluhurmu berusaha melindungi kamu… karena apabila kamu tertangkap Fong atau pimpinan kami. Kamu mungkin akan diperawani atau dinikahi paksa… dan akibatnya.. Kutukan yang akan jalan di sini” kata pak Cheng
“Terus apa yang harus Tina lakukan agar Tina bisa membantu keadaan disini yang makin gak karuan?”
“Tetap jaga keperawananmu dan jangan sampai tertangkap oleh mereka” kata mbah Sutinah
“Cheng… lihat itu pemuda dan jawara desa sudah pada kembali…apa mereka sudah bisa memukul mundur anak buah Fong?” tanya mbah Sutinah
“Jiang..coba kamu lihat ke sana.. Apakah keadaan sudah aman, kalau sudah aman kita bisa balik ke alam kita” ujar pak Cheng
Hmm aku berusaha menyambung nyambung apa yang terjadi denganku, mulai pak Pangat yang berusaha menyerahkan aku ke Fong dengan ditukar harta…
Dan hingga kemudian pak Pangat yang mbela mbelani membunuh anak dari pimpinan mereka yang bernama Inggrid, apakah ini semua demi agar Fong mendapatkan kuasa untuk mencari aku dengan menggunakan pasukan khusus milik istana?
Sedemikian penting darah perawanku terhadap mereka, hingga pak Pangat saja rela mengorbankan dirinya hanya agar Fong mendapatkan kuasa untuk menurunkan pasukan khusus.
Timbang ruwet gimana kalau aku bunuh diri….. nyawaku yang hanya satu ini aku korbankan demi penduduk disini dan di alam duniaku.
Tapi dengan aku mati… apakah semua ini akan berakhir, dan tidak ada serangan dari Fong lagi kepada penduduk disini dan di alam manusia?
“Kata pemuda yang berpakaian hitam-hitam itu, pasukan dari seberang sungai sudah balik ke asalnya…” kata Jiang setelah pergi atas perintah pak Cheng untuk melihat keadaan di luar.
“Kalian segera balik ke rumah itu lagi.. Kami disini akan berusaha membantu melindungi kalian dan rumah itu, karena di area rumah itu adalah area yang paling kuat… dibawah rumah itu ada beberapa makam keramat yang energinya besar dan bisa melindungi kalian”
“Mbah… dulu Fong atau Inggrid kok bisa keluar masuk ke rumah itu… bukanya kata mbah disana ada makam keramat dan ada pagar ghaibnya”
“Dulu kan Nduk Tina belum ke sana, ke rumah itu… jadi belum perlu dikasih pagar ghaib atau pelindung disana itu” jawab mbah Sutinah.
“Sekarang kalian balik ke sana saja… disana keadaan sudah pagi… sudah terang.. Orang-orang yang ada disana saat ini dalam keadaan pingsan akibat ketakutan”
“Bagaimana dengan mayat pak Pangat mbah?”
“Sudah tidak ada… sudah pergi, karena disana sudah tidak ada nduk Tina… sudah tidak ada bau dari nduk Tina ini”
Kami berempat sudah kembali.. Kami sudah ada di tengah hutan yang terang, karena sinar matahari sudah mulai muncul. Kami harus segera ke rumah penggergajian dan melihat para pemburu hantu yang bersorban itu…
“Ayo cepat kita harus kembali ke hotel, keburu pak Jay datang dan melihat keadaan disana” kata pak Cheng
Kami setengah berlari menuju ke samping rumah. Eh hotel..kami menuju ke pintu pagar yang letaknya ada di bagian belakang sebelah kiri.
__ADS_1
Dan benar juga keadaan disini sudah berbeda… di pagi hari ini keadaan disini sudah aman, tidak ada kabut atau asap yang ada di tengah sungai.
Pak Cheng membuka pintu pagar belakang… kami menuju ke ruang utama untuk melihat keadaan keempat orang pemburu hantu yang kata mbah Sutinah dalam keadaan pingsan.
“Haduuuhh kerjaan kita bertambah ini anak-anak…lihat itu orang-orang berjubah dan bersorban, pada pingsan semua keadaanya” tunjuk pak Cheng
“Seandainya ada foto pak… kita bisa abadikan mereka yang dalam keadaan pingsan ini, agar tidak mengatakan kebohongan kepada pak Jay… bisa saja nanti ketika ada pak Jay, mereka akan berkata sebaliknya pak”
“Iya Gus.. tapi biarkan saja mereka berkata kebohongan kepada pak Jay, karena saya sendiri yang akan bercerita kepada pak jay apa yang sebenarnya mereka lakukan disini”
“Tapi sebelumnya saya akan lakukan sedikit sandiwara, agar mereka tidak seenaknya sendiri mengarang cerita, kalian ikuti saja apa yang akan saya lakukan”
“Terserah pak Cheng saja…yang jelas Tina akan bantu pak Cheng bicara kepada pak Jay”
Bangunan utama yang sebenarnya digunakan untuk ruang resepsionis plus satu set sofa yang terlihat mahal dan nantinya juga ada kamar untuk staf hotel kini keadaanya berantakan.
Keempat orang yang katanya pemburu hantu itu bergelimpangan di tiap sudut bangunan utama dalam keadaan pingsan.
“Jiang… di luar ada tanaman yang ada beberapa walang sangitnya ( belalang yang baunya luar biasa ).. Bawa sini dua biji.. Kita akan bangunkan keempat orang ini dengan belalang bau itu”
Jiang pergi untuk mencari belalang yang dimaksud pak Cheng… aku penasaran juga dengan belalang yang akan dibawa Jiang karena aku belum tau bentuknya bagaimana dan baunya bagaimana.
Setelah beberapa lama Jiang ada di luar untuk mencari belalang, akhirnya dia datang dengan tangan yang tergenggam, dan kemudian dia menyerahkan belalang yang katanya bau itu kepada pak Cheng.
“Bau dari belalang ini akan menempel terus dan akan membuat sadar orang yang pingsan heheheh”
Aku belum tau bagaimana bau dari walang sangit itu, karena ketika ada di dalam genggaman Jiang, belalang itu belum mengeluarkan bau busuknya.
Pak Cheng memegang bellang kecil berwana coklat itu, dan mengahkan ke hidung salah satu pemburu hantu yang sedang pingsan.
Kemudian pak Cheng menjentikan jarinya sediikit ke tubuh belalang yang ada diarahkan ke hidung salah satu orang yang pingsan itu.
Dan tidak lama kemudian mereka tersadar dari pingsannya…
“Akhirnya kalian berempat ini sadar juga…. Heheheh kenapa kalian bisa pingsan seperti ini?” tanya pak Cheng
“Kami tidak pingsan… kami hanya tertidur kelelahan akibat melawan mayat itu, dan akhinya dia pun musnah!….” jawab ki Gondrong cangkemme
“Ah masak sih kalian melawan… lha itu siapa yang ada di depan pintu…, kenapa mahluk itu masih ada di depan rumah ini” kata pak Cheng
“Aarrghhh tidak mungkiiiinn… kita harus cepat pergi dari sini.. Mayat itu berbahaya!” kata salah satu dari mereka
“Kalian berempat diam! Jangan seperti anak kecil….” bentak pak Cheng
“Jiang.. Agus.. usir mayat itu untuk sementara waktu dulu.. Agar keempat pemburu hantu ini tenang dulu… tapi ingat ya Ki Gondrong… mayat itu sudah melihat arwah kalian … dan mereka akan mengikuti kemanapun kalian berada”
“Pokoknya timbang ruwet dan merembet ke keluarga kalian.. Lebih baik kalian nanti harus menjauhi sejauh jauhnya dalam seminggu ini, agar mayat itu kehilangan kalian, dan kalian mempunyai waktu untuk berpikir bagaimana caranya melawan mayat itu”
Keempat orang itu tentu saja bingung…
Pak Cheng pun berhasil menakut nakuti mereka berempat, dan untuk saat ini mereka belum bisa berkelit tentang keadaan pingsan nya mereka.
“Coba lihat keluar… untuk saat ini kalian sudah aman… mayat itu sudah kami usir dari sini” kata pak Cheng lagi.
Tidak ada jawaban dari mereka berempat.. Mereka hanya diam dan melepas jubah dan sorban yang mereka pakai sedari malam tadi.
“Ayo bantu kami benahi ruang terima tamu ini sebelum pak Jay datang” ajak pak Cheng kepada keempat orang itu
“Lebih baik kami pergi dari sini secepat mungkin.. Sebelum pak Jay datang” kata Ki Gondring silite
“Enak aja… kalian yang bikin masalah, masak kami yang harus tanggung jawab, mana kalian sudah dapat pembayaran dimuka lagi” jawab mas Agus
__ADS_1
“Kalian harus bicara dengan pak Jay dulu… katakan yang sebenarnya terjadi kepada pak Jay.. jangan sampai kalian bilang disini keadaanya aman”
“Kalau kalian bilang disini aman, berarti kalian harus bertanggung jawab penuh apabila tamu-tamu disini dalam bahaya” tambah pak Cheng
Tentu saja ancaman pak Cheng ini tidak main-main.. Semua bisa saja terjadi disini, dan sebenarnya keempat orang ini tidak mempunyai salah apa-apa, hanya karena mulut besar mereka saja yang membuat kami jengkel
“Ingat… katakan kepada pak Jay yang sebenarnya. Dan bilang agar mencari paranormal lainya, karena yang disini tidak bisa ditaklukan. Dan ingat, Segera pergi menjauh sembari kalian mencari akal untuk membebaskan diri dari ancaman mayat hidup itu”
Pagi hari setelah keadaan disini rapi kembali, pak Jay datang, tentu saja sebagai pemilik dia akan menanyakan bagaimana keadaan disini, dan tentu saja jawaban jujur harus keluar dari mulut keempat pemburu hantu itu.
“Jadi kalian gagal untuk mengusir mahluk yang ada disini?” kata pak Jay
“Betul pak …yang ada disini itu sudah hidup ratusan tahun lalu, dan sebaiknyat biarkan saja mereka ada disini, selama kita tidak mengganggu mereka, tentu saja mereka tidak akan mengganggu kita” jawab Ki Gonderong lambene
“Tidak bisa Ki Gondrong… lalu bagaimana dengan tamu-tamu saya yang dalam beberapa hari ini akan datang… apakah Ki Gondrong mau bertanggung jawab atas gangguan yang akan tamu saya alami” kata pak Jay dengan nada yang tinggi
Aku, mas AGus, pak Cheng dan Jiang kemudian keluar dari bangunan utama,, kami ke parkiran untuk melihat beberapa teknisi sedang melakukan setting alat yang namanya solar cell.
Sebuah teknolog baru bagi kami, teknologi yang merubah panas matahari menjadi tenaga listrik, kami malas mendengarkan apa yang dikatakan Ki Gondrong yembute kepada pak Jay.
Dan setelah beberapa waktu, akhirnya team Ki Gondrong keluar dari bangunan utama… pak Jaypun menghampiri kami yang sedang memperhatikan pemasangan dan penyetingan solar cell
“Bagaimana tugas kalian?” tanya pak Jay..
“Yah sesuai dengan yang pak Jay suruh.. Dua belas lampu petromak itu cukup membuat halaman belakang dan pondok pondok itu seterang stadion sepak bola pada malam hari pak”
“Intinya sangat terang sekali, dn lebih ke menyilaukan daripada kenyamanan… belum lagi panas atau kalor yang keluar dari lampu petromak itu bisa menghangatkan pondok pondok yang ada di belakang pak” jawab pak Cheng
“Sehingga tidak ada satu jam.. Lampu-lampu yang ada di kamar kami matikan saja… karena sangat tidak nyaman, dengan ukuran kamar sekecil itu dan cahaya dari lampu petromak yang seterang itu.. Tidak imbang pak”
“Hmmm begitu ya…jadi apa yang lebih baik dilakukan pak Cheng?” tanya pak Jay
“Begini pak…ini semua kan menurut pendapat kami, belum tentu pendapat kami ini sama dengan pendapat pak Jay… jadi ada baiknya nanti malam pak Jay menginap disini, dan merasakan sendiri keadaan disini”
“Iya memang saya ada rencana untuk menginap disini nanti malam.. Nanti malam saya akan bawa teman saya yang dari agen travel yang memasarkan penginapan ini” kata pak Jay
“Oh iya …lalu bagaimana dengan makhluk halus yang ada disini?” tanya pak Jay penasaran
“Hmmm untuk soal itu ya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh team paranormal yang bapak bawa itu, tapi selama semalam kami ada di halaman belakang ini, kami tidak merasakan apapun, nggak tau di bangunan utama itu pak” jawab pak Cheng
“Tetapi begini pak Jay.. semua tempat pasti ada mahluk halusnya… apalagi kita saat ini di tengah hutan. Bisa saja banyak sekali ragam makhluk seperti itu” kata pak Cheng
“Dan menurut saya….caranya itu bukan mengusir mereka… tetapi ajak mereka komunikasi.. Kita hidup selaras dengan mereka dan jangan usir mereka pak”
“Apabila ada gangguan gangguan kecil, mungkin mereka sedang berusaha berkenalan dengan kita” jawab pak Cheng
“Tidak bisa begitu… saya punya tamu yang mungkin tiap hari akan silih berganti yang menginap disini, dan tamu tamu itu tentu saja dengan karakter dan sifat yang berbeda beda pula…”
“Saya takut apabila ada dari tamu-tamu itu yang mengalami kejadian yang mengerikan disini… eh atau saya hubungi lagi salah satu paranormal teman saya… agar nanti malam dia kesini” kata pak Jay
“Ya tidak papa pak… timbang ruwet lebih baik dicoba lagi dengan orang pintar yang lainya juga… siapa tau bisa memberikan pagar ghaib disini sehingga aman dari mahluk ghaib yang berasal dari hutan, selain yang sudah ada disini”
Pak Jay akhirnya pergi dari sini, dia pergi menjemput seorang temanya yang katanya paham dengan hal yang berbagu ghaib ghaib ini.
Tapi tetap saja apa yang namannya Fong akan menyerang lagi, dan semoga teman pak Jay bisa membuat pagar ghaib disini selain pagar ghaib yang berasal dari leluhurku.
Siang ini pengerjaan pemasangan listrik tenaga matahari sudah selesai… sudah dicoba untuk menyalakan lampu jalan, lampu taman dan lampu bangunan utama.
Jadi nanti malam tidak segelap malam kemarin, karena sudah ada listrik tenaga matahari yang sudah bisa digunakan untuk penerangan disini.
Aku penasaran dengan teman pak Jay yang katanya paranormal itu… apakah teman dia itu pribumi atau orang china yang sama dengan pak Jay.
__ADS_1