
Suara gending jawa yang dilantunkan mbah-mbah ghaib itu indah mengalun, aku aja sampai terpesona dan mengalihkan perhatianku dari mbak Tina yang perlahan lahan berubah.
Tapi aku tiba-tiba tersadar bahwa aku terbuai dengan gending jawa yang sedang dilagukan oleh mbah mbah itu. Ketika aku tersadar bahwa aku baru saja terbuai, tiba-tiba tanah beberapa meter di depanku merekah.
Disertai bunyi gemuruh dan getaran, tanah yang ada di depan kami terbuka…Bukan tanah ghaib, tapi tanah nyata……
Tanah yang ada di depan kamar delapan dan sembilan itu terbuka secara perlahan, apakah ini yang dinamakan pintu oleh mbah Sutinah dan mbah Sastro?.
Fong dan Solikin saat ini sudah berhasil melewati pagar yang dibuat oleh mbah mbah ini…
Tapi meskipun mereka bisa melewati pagar ghaib itu, tapi pastinya mereka akan terhalang oleh rekahan tanah yang semakin lama semakin lebar dan semakin dalam.
Semakin lama dan semakin merdu lantunan gending jawa itu, maka semakin terbuka lebar dan semakin dalam rekahan tanah yang ada di depanku.
Semua orang yang ada disini tidak ada yang berbicara sama sekali, kami semua sedang dalam keadaan takut campur heran dengan apa yang terjadi di depan kami.
Sementara itu peperangan antara bayangan pasukan ghaib dengan iblis yang dari seberang sungai masih berlangsung, cahaya bagai kilat itu terus menerus terlihat.
Fong dan Solikin berjalan mendekat, mereka hanya tersenyum saja ketika melihat tanah yang semakin lebar rekahanya…
“Orang-orang tua yang gak ada gunanya, ngapain juga kalian buka tanah ini…. Kami pasti bisa melewatinya..”
“Sekarang serahkan pusaka perjanjian itu….” kata Fong dengan suara keras
“Pusaka perjanjian tidak akan ke mana mana…lebih baik kamu pulang saja” kata mbah Sastro dengan suara tenang
Aku gak paham dengan apa yang mereka sebut pusaka perjanjian, apakah yang disebut pusaka perjanjian itu adalah mbak Tina yang masih dalam keadaan terakhir aku lihat tadi.. Atau memang ada lagi pusaka yang ada disini.
__ADS_1
“Sebentar lagi pusaka perjanjian itu akan muncul dan akan menjadi milikku…” kara Fong dengan suara yang berubah menjadi kasar
Gending jawa yang nyaman di telinga itu masih dilantunkan oleh mbah-mbah yang duduk bersimpuh sambil menutup matanya.
Tetapi makin lama gending jawa itu makin lama makin cepat dilagukan… dan pada bagian tertentu gending jawa itu dilagukan dengan berulang ulang.
Semakin cepat dilagukan dengan berulang-ulang maka rekahan tanah yang ada di depan kami semakin lebar, dan dari dalam tanah ada cahaya merah kekuning kuningan.
Cahaya merah kekuning kuningan itu terpancar dari dalam rekahan tanah.. Seperti api atau bisa juga lava yang berasal dari inti bumi. Dan cahaya itu ternyata panas.. Sehingga suhu udara di sekitar kami mulai menjadi hangatjuga.
Fong dan Solikin hanya terdiam ketika rekahan tanah yang semakin lebar dan ada cahaya merah kekuningan yang panas itu semakin nampak jelas.
“Hahahah ilmu kalian hanya sebatas ini saja?” tanya Fong dengan nada meremehkan.
Tidak ada perkataan dari mbah Sastro, mbah Sutinah dan mbah yang lainnya tetap menyanyikan gending jawa dengan konstan, tanpa berubah ubah sama sekali.
Sepertinya di sebelum rekahan itu ada semacam pagar ghaib penghalangnya.. Sehingga mereka tidak bisa menyeberang ke arah kami..
Cahaya merah dan kuning yang berasal dari rekahan itu semakin terang, sehingga menyebabkan suhu udara disini semakin panas.
Lama kelamaan apa yang aku kira sebelumnya menjadi kenyataan, disertai bunyi gemuruh yang semakin keras sesuatu yang biasanya ada di perut gunung aktif pun muncul dari dalam lubang rekahan.
Disertai bunyi gemuruh dan suara gending jawa yang semakin cepat dan semakin keras, kemudian sesuatu terjadi…
Lava…. Lava panas itu muncul dari dalam rekahan atau patahan tanah yang ada di depan kami… hanya sekitar lima meter di depan kami.
Terus terang aku dari tadi sama sekali tidak melihat mbak Tina yang tadi dalam keadaan tertidur atau pingsan.
__ADS_1
Tapi ketika aku iseng melihat mbak Tina, ternyata mbak Tina yang tadi dalam keadaan berbaring, sekarang sudah duduk menghadap ke rekahan tanah yang ada lava di dalamnya.
Aku nggak tau apa nama cara duduknya dia, pokoknya mbak Tina duduk dengan kaki yang terlipat ke belakang, mirip dengan orang duduk diantara dua sujud ketika sholat… atau mungkin bisa disebut duduk bersimpuh.
Kedua telapak tangan mbak Tina diletakan di atas pahanya yang berbalut jarik berwarna kuning menyala.
Dia sudah berubah total bukan sebagai mbak Tina yang sebenarnya…dia sudah nyata… apa yang dikenakan sudah berubah nyata, bukan berupa bayangan lagi.
Mbak Tina sudah berubah menjadi seseorang perempuan dengan mahkota dan pakaian adat jawa…eh bukan adat jawa biasa, tetapi kayak model kerajaan gitu.
Pakaian yang serba berwarna kuning, dengan segala perhiasan emas yang ada di seluruh tubuhnya….
Aku gak tau siapa dia, tetapi sekarang posisi perempuan atau bisa aku anggap putri itu sedang duduk bersimpuh sangat sopan dan masih tetap menutup matanya.
Sementara itu Fong dan Solikin masih terus berusaha merobek pertahanan dari pagar ghaib yang dibuat oleh leluhur mbak Tina… berbagai cara mereka lakukan, tapi belum juga berhasil.
“Sekarang Nduk….. Berdirilah dan jamah pusaka itu” kata mbah Sastro yang terus memperhatikan lava yang terus menyala di dalam rekahan tanah
Mbak Tina yang semula duduk bersimpuh itu kemudian berdiri…. Sejauh ini keadaan masih aman, karena Fong dan Solikin masih terhalang oleh pagar ghaib yang ada di seberang tanah yang merekah.
Sementara itu cairan lava yang tadinya agak jauh di bawah permukaan tanah, semakin lama semakin naik, sehingga keadaan disini menjadi agak terang dan sangat panas karena sinar dari cairan lava yang mulai mencapai bibir permukaan tanah.
Sampai disini aku bisa menebak.. Pusaka itu bukan di dalam diri mbak Tina, pusaka yang namanya pusaka perjanjian itu ada di dalam lava… akan tetapi yang menguasai tubuh mbak Tina itu yang aku belum tau siapa dan sebagai apa dia itu.
Sekarang mbak Tina mulai berjalan sangat pelan, benar-benar sangat pelan hati-hati dan anggun… mbak Tina berjalan menuju ke rekahan tanah yang cairan lavanya sudah hampir mencapai bibir tanah.
Aku sama sekali sudah tidak memperdulikan Solikin dan Fong yang masih berusaha menembus pagar ghaib yang dibuat mbah mbah disini.
__ADS_1
Lantunan gending jawa yang dilagukan oleh mbah-mbah ini seolah mengiringi mbak Tina yang berjalan dengan tenang dan pelan menuju ke tanah yang merekah itu.