
Rumah sakit ini kenapa jadi rame sekali… dan yang hilir mudik semakin aneh.
Tapi apakah ini akibat dari aku yang semakin peka melihat ghab seperti yang dikatakan pak Pangat kemarin?
“Eh ada apa mbak Santi… ada yang mau diomongin sama Tina?”
“Iya mbak Tina.. ini tentang bapak saya”
“Kemarin malam bapak Saya katanya pamit mau sholat ke mushola. tapi tidak mau Santi antar”
“Setelah itu tidak balik balik sampai pagi ini”
“Tadi mbak Santi sudah cerita ke pak Polisi itu”
“Sudah mbak… tapi ada sesuatu yang tidak Santi omongkan ke pak polisi itu, Santi pingin ngobrol sama mbak Tina dulu” bisik Santi
“Tentang apa mbak Santi….”
“Begini mbak…. sebelum bapak mau ke mushola…ada dua orang yang hilir mudik di depan kamar ini. waktu itu Santi sedang duduk disini sendirian”
“Lalu tidak lama kemudian orang itu berdiri di samping kamar nomor empat… mereka berdua tidak tau kalau santi ini anak pak Solikin”
“Mereka sempat bilang kalau Mereka sedang mencari bapak, karena akan dibawa ke rumah penggergajian”
“Kamu kenapa kok tidak cerita ke pak polisi itu Santi?”
“Santi takut mbak… takut salah cerita ke orang. Hanya mbak Tina saja yang Santi percaya”
“Begini mbak Santi, bukannya Tina tidak mau bantu mbak Santi… tapi saat ini Tina sedang banyak masalah juga. jadi lebih baik mbak Santi cerita yang sebenarnya kepada petugas kepolisian saja”
“Percayalah kepada mereka, bahwa polisi akan membantu dengan sebaik baiknya, tidak seperti polisi negara Konoha yang kerjanya gak karu karuan itu”
Terus terang bukannya aku tidak mau bantu Santi……tapi sekarang aku lagi bingung, karena di sekelilingku banyak ciptaan Tuhan yang bentuknya aneh aneh, meskipun saat ini pagi hari!
Setelah selesai ngobrol dengan pak Paijo, mas Agus kemudian pergi mengikuti dua orang yang merupakan petugas rumah sakit.
Sekarang pak Paijo sedang berbicara dan meminta keterangan dari Santi lagi.
Mas Agus mengikuti dua orang mungkin dari bagian administrasi untuk melakukan pelunasan biaya rumah sakit, tapi kenapa aku tidak diajak?
Biasanya kalau ada apa-apa aku kan selalu diajak.
Sedangkan pak Paijo saat ini sedang bersama Santi… keliatanya santi sedang bicara panjang lebar kepada pak Paijo.
Yang aku heran, semenjak kemarin Kunyuk tidak menampakan diri di depanku.
Yang sekarang nampak hanya mahluk aneh yang berjalan hilir mudik di sekelilingku.
Tapi siapa tau kunyuk saat ini sedang mencari tempat sembunyinya Wandi dan Mamad.
Lebih baik aku ikuti saja kemana mas Agus pergi dengan dua orang petugas dari rumah sakit ini, siapa tau dia memerlukan bantuanku.
Memang sih kata dokter Joko beberapa hari lalu untuk biaya rawat inap yang lebih dari dua hari itu akan diatur oleh dokter Joko.
Tapi sekarang dokter joko kan sedang dirawat karena sakit…tapi aku belum tau apakah dokter Joko itu rawat inap atau tidak..
Kukejar mas Agus yang sudah beberapa belas meter di depanku…
“Mas Agus… tunggu Tina!”
“Iya mbak… saya cuma sebentar saja kok mbak.. hanya mau cek di bagian administrasi tentang biaya waktu saya rawat inap disini” jawab mas Agus sambil menoleh
“Tina ikut mas….”
Kugandeng tangan mas Agus yang berjalan bersama dua orang yang berjalan di depan mas Agus…
Pagi ini seperti biasa rumah sakit ini penuh dengan pengunjung dan orang-orang yang sedang berobat. mereka berjalan cepat menuju ke tempat rawat inap bagian poli juga.
Kami berjalan ke arah ruang administrasi dari jauh sudah terlihat beberapa orang yang sedang antri di dalamnya.
“Mas.. apa nggak sebaiknya kita cari dokter Joko dulu., karena mas Agus rawat inap tambahan kan atas inisiatif dokter Joko?”
“Iya mbak Tina.. memang atas saran dari dokter Joko, dan untungnya dokter Joko sudah bicara dengan bagian administrasi tentang tambahan hari rawat inap itu”
“Oh jadi sudah aman ya mas?”
“Heheh sudah aman kok mbak.. hanya saja tadi saya kan tanya dimana dan bagaimana keadaan dokter Joko, kedua orang itu kurang tau”
__ADS_1
“Kata mereka berdua kemungkinan besar dokter Joko dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar, karena pukulan di kepala itu menyebabkan gegar otak yang agak berat”
“Jadi dokter Joko tidak ada di rumah sakit ini mas?”
“Kata mereka berdua tidak ada mbak…”
“Eh mbak Tina ini kenapa sih jalannya kok dari tadi kayak terkaget-kaget dan selalu menghindari sesuatu gitu?”
“Nggak papa mas. hanya Tina agak ngantuk saja, mungkin kurang tidur mas”
Aku ndak cerita mas Agus kalau aku dari tadi berusaha menghindari mahluk-mahluk aneh yang berkeliaran disini.
Aku tidak mengira apabila di rumah sakit ini banyak ghaib yang berkeliaran, mereka pada umumnya berjalan tanpa arah.
Ini baru pagi hari.. belum malam hari… duh aku tidak bisa bayangkan kalau malam hari ada disini, untungnya nanti malam kami sudah tidak ada disini.
Tapi kalau tidak di rumah sakit ini kami harus ke mana?
“Mas.. apa mas Agus sudah memikirkan kita akan tinggal di mana setelah keluar dari rumah sakit ini?”
“Saya belum tau mbak Tina, nanti kita bicara dengan pak Paijo dulu… lagi pula tas ransel kita kan ada di kamar sepuluh mbak”
“Oh iya mas.. tas kita kan masih ada di kamar nomor sepuluh, nanti kita ambil ya mas… semoga tas kita masih ada disana mas”
Kami sekarang sudah ada di depan ruang administrasi..
Di dalam ruangan ini ternyata sudah penuh dengan orang yang sedang mengurus sesuatu.
“Pak Agus duduk dulu di situ, kami akan urus berkas berkasnya dulu “ kata orang yang tadi berjalan dengan mas Agus
Aku dan mas Agus duduk di kursi depan ruang administrasi. Entah kenapa mas Agus mendapat kemudahan dengan tidak antri seperti yang lainya.
“Mas.. tadi tentang pak Solikin,.... keterangan apa yang didapat dari Santi?”
“Nggak banyak mbak.. hanya tentang pak Solikin yang pamit untuk sholat di mushola, setelah itu tidak kembali kembali”
“Kejadianya kapan atau jam berapa itu mas, soalnya tadi kan Tina tidak sempat dengar apa yang dibicarakan Santi”
“Kejadianya itu malam mbak.. kata Santi itu sekitar jam sembilanan mbak..”
“Cukup aneh juga karena kata Santi, karena pak Solikin selama ini tidak pernah sholat di mushola rumah sakit”
“Nggak ada mbak Tina… kayaknya menurut saya, ada yang sedang disembunyikan Santi, hanya saja dia tidak mau cerita kepada kita”
“Iya mas..memang ada .. tadi Santi sempat bicara sama Tina sebentar, dia katanya tidak percaya dengan polisi .. dan percayanya malah sama Tina mas”
“Kok aneh ya mbak Tina… memangnya Santi ngomong apa mbak?”
“Dia bilang sebelum bapaknya ke mushola, ada dua orang yang riwa riwi di depan kamarnya, waktu itu Santi sedang duduk di kursi depan, dan dua orang itu tidak tahu kalau Santi itu anak dari Solikin”
“Dan salah satu dari mereka sempat bilang Solikin akan dibawa ke rumah penggergajian.. itu yang tadi Santi katakan ke Tina mas”
“Waduuhhh, kok gitu ya mbak.. terus mbak Tina bilang apa?”
“Tina suruh aja ngomong ke pak polisi.. Tina bilang kalau masalah kita juga banyak, jadi lebih baik lapor saja ke pak Paijo”
“Huufff ya sudah mbak… saya juga lagi bingung, apa yang harus kita lakukan setelah keluar dari sini”
“Kalau menurut Tina mas… kita ke rumah penggergajian saja, di sana untuk sementara ini akan aman, karena tidak ada yang berani mendekat ke sana setelah penggerebekan itu”
“Tidak mbak Tina.. saya trauma kalau harus ke sana, apalagi disana kita jauh dari apa-apa mbak.. kalau ada sesuatu disana gimana mbak?”
“Bukanya disana nanti ada Inggrid mas. kan dia bisa melindungi kita mas”
“Iya mbak… menurut saya, Inggrid bukan melindungi.. tapi sebagai informan apabila terjadi sesuatu disana”
“Eh mas… Tina mau ke warung depan lagi ya… tadi soalnya ramai sekali, Tina belum sempat bicara sama mbak Tini dan bu Saritem”
Ketika aku hendak berdiri..tiba tiba ada yang mendorongku ke depan.. untungnya aku tidak sampai jatuh.
Untung mas Agus memegang tanganku secepatnya…
ketika kulihat kebelakang …. ternyata di belakang kursi ada sosok tinggi besar berkulit putih dan berwajah Bule..
Sosok itu tertawa ketika aku jatuh kedepan..
Antara jengkel, kaget, dan marah menjadi satu… dan tidak sengaja kutatap mata sosok berwajah bule itu dengan kemarahan…
__ADS_1
tiba-tiba dia hilang begitu saja dari hadapanku.
Apa aku sekarang sudah bisa merasakan sentuhan makhluk halus?
Kenapa perubahan di dalam diriku ini bisa secepat ini?
Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan diriku?
“Mbak Tina tidak papa?”
“N…ndak papa mas.. tadi Tina terpeleset ketika akan berdiri”
“T…Tina pamit dulu ke warung dulu mas…”
Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan diriku.. apakah aku mengalami perubahan karena aku keturunan dari penduduk asli yang dulu tinggal di hutan itu?
Aku tidak masalah kalau hanya bisa melihat, dan semua itu hanya tinggal bagaimana kita membiasakan diri untuk melihat hal yang aneh.
Tapi tadi.. tadi aku bisa merasakan sosok tinggi besar putih berwajah bule itu mendorongku, dia jail sekali. dan anehnya dia tau bahwa aku bisa melihat dia dan merasakan sentuhan dia.
Aku berjalan menuju ke luar rumah sakit, dan sekali lagi aku harus menghindar tiap sosok yang tiba-tiba muncul di depanku, di jalan yang akan aku lalu menuju ke arah luar.
Terus lurus hingga aku sampai di depan ruangan penjaga rumah sakit…
Di dalam sana ada pak Majid, dua satpam dan beberapa sosok berkulit hitam tanpa kepala yang sedang berdiri di dekat lemari.
“Eh pak Majid… bisa antar saya ke warung depan sana?”
“Ada bu Agus.. bisa bu..ayo saya antar ke sana”
“Gimana pak.. apa ada orang yang mencurigakan lagi?”
“Sejauh saya tadi jaga di pos, belum ada orang yang mencurigakan sama sekali bu, hanya saja saya tadi liat di warung Saritem ada dua orang yang selalu mengawasi rumah sakit ini”
“Tapi hanya sebentar bu, tidak lama kemudian mereka pergi”
“Ya sudah pak, sekarang tolong antar saya ke tempat Saritem, karena ada beberapa pertanyaan yang harus saya ajukan”
Warung Saritem ternyata sudah tidak seramai tadi, tetapi yang ada disana hanya TIni saja, sedangkan pemiliknya yang bernama bu Saritem tidak nampak disana.
Aku menyeberang jalan bersama pak Majid, dan kemudian masuk ke dalam warung bu Saritem yang sudah agak sepi dari pada tadi pagi.
“Mbak Tini.. saya minta kopi susu ya .. ini pak Majid juga tolong ditanya mau minum apa”
“Dengaren pak Majid kesini..bisanya mana mau dia ke sini hehehehe”
“Wis talah Tin.. aku buatkan kopi hitam saja hehehe” kata pak Majid
“Eh mbak Tini saya ada sedikit pertanyaan untuk mbak Tini…
“Pertanyaan apa ya bu?”
“Begini mbak Tini.. kemarin pagi mbak Tini nganter makanan ke belakang kan…?”
“Iya….kemarin saya anter makanan untuk pak Waskito yang ada di kamar mayat hehehe”
“Waktu itu mbak Tini bertemu dengan siapa waktu di jalan samping rumah sakit?”
“Siapa ya.. kok saya lupa ya…” jawab Tini
“Hehehe masih muda kok sudah lupa sih mbak…”
“Mbak Tini tau dokter Joko?”
“Iya saya tau mbak.. kenapa?”
“Nah.. waktu akan berpapasan dengan dokter Joko.. yang ada di belakang dokter Joko witu siapa mbak”
“Kan mbak Tini sempat sapa orang itu mbak”
“Ooooh itu .. dua orang yang kadang ngopi dan makan di warung mbak”
“Saya tegur sapa mereka berdua karena masih punya hutang di warung sini, dan mereka tidak muncul lagi untuk bayar hutangnya heheheh”
"Oh gitu ya mbak Tini... tapi apa mbak Tini kenal sama meraka berdua? mereka sering kesini mbak?"
"Sering mbak"
__ADS_1
"Apalagi mereka beberapa kali kesini makan minum masih belum dibayar"